"Aku yang menghancurkan keluargaku sendiri."
"Aku yang membuat semua orang mengetahui tentang hubungan gelap kalian."
"Aku yang membuatmu berlutut meminta ampun saat ini."
Fransisca menikahi seorang milyarder yang mengalami cacat mental hanya untuk membalaskan dendam kematian ibunya. Menganggap lebih baik hidup sebagai pengasuh pria cacat, tapi mendapatkan kekuasaan mutlak.
Karena cinta baginya hanya... Bullshit!
Tapi mungkin tanpa disadarinya mata pria yang dianggapnya mengalami cacat mental itu hanya tertuju padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mau Sekarang
Malam ini benar-benar tidak banyak kegiatan yang dilakukan olehnya. Seperti biasanya dirinya memilih memesan makanan delivery.
Turun menuju lantai satu guna mengambil pesanan di pos security. Mata semua orang tertuju padanya. Seperti...amuba? Tapi dirinya tidak ambil pusing karena menganggap orang-orang ini adalah makhluk purba.
Hingga setelah dirinya mengambil pesanan, langkahnya terhenti mendengar kalimat dari Mira.
"Ibu mertua, kak Fransisca memang seperti itu. Sama sekali tidak mengetahui bagaimana hidup susah hingga dapat begitu boros. Selalu memesan makanan tidak sehat dari luar. A...aku sudah menasehati...tapi.... sebagai sepupu jauh dari keluarga biasa aku punya hak apa?" Ucap Mira menghela napas, menikmati lobster yang dimasakkan oleh koki pribadi.
Baik! Ini tidak apa-apa, tingkat kesabarannya baru diuji pada level 1. Kembali dirinya melangkah, tapi hanya sekitar dua langkah.
"Memang... lulusan luar negeri dan lulusan UI beda kelas. Lulusan luar negeri tentu lebih mengetahui makanan sehat itu adalah makanan yang dibuat di rumah. Bukan yang dibeli sembarangan secara online." Naya menghela napas seperti heran, menikmati salad buah.
Johan menghela napas, dirinya tidak boleh terlalu bersiteru dengan Fransisca."Fransisca ikutlah makan bersama kami."
"Benar! Jangan terlalu banyak memakan-makananan tidak sehat." Doni menghela napas kasar, menikmati kerang.
"Kalian jangan mengajaknya makan satu meja. Nanti aura busuknya tercemar." Ucap Naya memandang penuh hina.
"Ibu mertua... meskipun Fransisca tidak menyukaiku, tidak baik berkata seperti itu padanya. Bagaimanapun setelah kematianku, Doni akan kembali bersama Fransisca. Jika bukan karenaku, mereka sudah bersama..." Lirih Mira pelan, air matanya mengalir secara alami, bagaikan iklan pipa air yang mengalir sampai jauh.
"Kamu akan sembuh sayang." Naya menenangkan."Fransisca berhentilah membuat Mira sedih!"
"Apa aku berkata sesuatu? Dari tadi aku hanya berdiri di sini, mendengar kalian mengoceh." Fransisca mengangkat sebelah alisnya.
"Fransisca...aku tau kamu tidak menyukaiku, tapi---" Kalimat Mira disela.
"Itu tau!" Ucap Fransisca dengan nada keras."Aku memang tidak menyukaimu."
"Fransisca! Mira sedang sakit!" Bentak Doni, berusaha menenangkan istrinya.
"Lalu?" Fransisca menghela napas.
"Kamu seharusnya menghiburnya dan menunjukkan sikap baik padanya!" Kembali Doni meninggikan nada bicaranya.
"Menghiburnya? Aku bukan badut taman bermain. Lagipula badut taman bermain pun dibayar ketika menghibur. Tapi aku hanya dapat hikmahnya untuk menghibur orang sekarat ini." Fransisca menatap jenuh.
"Keberadaanmu di rumah ini hanya membuat masalah. Benar-benar berbeda dengan Mira yang lulusan luar negeri." Sindir Naya.
"Kakak ipar berkata makanan di mejamu lebih sehat? Kalian memakan seafood begitu banyak tidak takut kolesterol? Dan jika dibandingkan dengan buah melon segar yang aku beli. Aku yakin salad buah yang belepotan mayones, keju, coklat dan kental manis, lebih cepat mengantarkan kalian untuk suntik insulin (pengendali gula) setiap hari." Fransisca menghela napas menatap meja makan."Lulusan luar negeri memang luar biasa."
"Setidaknya, tidak boros sepertimu!" Kembali Naya tidak mau kalah.
"Hari ini aku hanya memesan ayam panggang dan Cesar salad. Menghabiskan uang kurang dari 50.000 rupiah. Kalian...porsi sebanyak itu di meja makan memang habis? Satu ekor lobster mentah saja harganya sudah ratusan ribu rupiah." Fransisca sedikit melirik ke arah bagian pangkal paha Doni."Memang kerang paling baik untuk seseorang yang impoten. Mira... selamat berjuang."
"A...apa maksudmu!?" Bentak Doni hendak bangkit gelagapan dengan kata-kata Fransisca yang terdengar menusuk.
"Doni, perutku sakit..." Lirih Mira pelan.
Doni menatap ke arah Fransisca yang masih menaiki tangga. Kemudian kembali beralih pada Mira.
"Doni..." Lagi-lagi Mira merintih.
Dengan cekatan Doni mengangkatnya menggendong ala bridal style.
"Hati-hati anaknya keluar! Lalu dia mati!" Teriak Fransisca masih berjalan menapaki tangga.
"Fransisca!" Bentak Naya yang tengah menghubungi dokter keluarga. Namun, belum tersambung.
Fransisca tidak menjawab sama sekali. Ini menyebalkan, dirinya sudah berusaha tidak bicara maupun terlibat dengan mereka. Tapi mereka selalu sengaja memprovokasinya. Kemudian Mira akan bersikap seolah-olah menjadi korban.
Jika dirinya benar-benar menikah dengan Doni. Sudah pasti dirinya akan diperas bagaikan cucian setengah kering.
Matanya sedikit melirik ke arah lantai satu. Benar saja kala Mira tengah digendong ala bridal style oleh Doni. Wanita jelmaan kuntilanak itu, melirik penuh senyuman mengejek.
"Ambillah pria miskin bodoh itu..." Gumam Fransisca dengan suara kecil.
Tidak peduli bagaimana dirinya berucap. Tapi tetap saja Doni tidak percaya beasiswa ke luar negeri yang diterima Mira adalah kuotanya.
Setelahnya dirinya berusaha keras menghibur Doni yang patah hati. Kala Mira mengakhiri hubungan. Pada akhirnya cintanya berbalas, hati Doni tersentuh selama beberapa tahun.
Hanya beberapa tahun. Kala Mira kembali, maka Mira merebut segalanya.
Kembali Fransisca melangkah, tidak peduli dengan keributan di lantai satu. Satu yang disadari olehnya, betapa sepi rumah ini bagi Arkan Zoya. Ternyata orang yang bagaikan berperan sebagai kepala keluarga, hanya hidup seorang diri. Mereka tidak pernah tulus mencintainya.
Perlahan Fransisca membuka pintu. Pemuda itu terlihat tengah bermain menyusun lego, seperti anak kecil yang polos. Jika dulu dirinya takut pada sosok Arkan Zoya, kali ini tidak. Dirinya merasa iba.
"Arkan, ayo kita makan. Mau kak Fransisca suapi?" Tanya Fransisca membuka bungkus makanan.
"Arkan mau!" Teriaknya dengan nada ceria.
Mengurus anak kecil di tubuh orang dewasa bukan hal sulit sama sekali. Hanya perlu memandikannya dan membantunya makan. Walaupun Fransisca sering berpikir, wanita yang memang bahkan tidak pernah menonton film biru ini. Menyipitkan matanya.
"Apa ukurannya memang sebesar itu?" Batinnya mengingat saat dirinya membantu Arkan mandi.
"Kak Fransisca lihat apa?" Tanya Arkan dengan mulut dipenuhi makanan.
"Bu...bukan apa-apa!" Ucap Fransisca berusaha untuk tersenyum. Tidak mungkin dirinya berpikir untuk melecehkan anak berusia 5 tahun ini. Lebih tepatnya hanya mentalnya yang 5 tahun, tapi tubuhnya... menggunggah selera.
"Jadi... bagaimana caranya membuat anak? Apa harus menyiapkan tepung?" Tanya Arkan terdengar polos.
"Tidak, bagaimana kalau kita ke dokter saja. Dokter akan membantu kak Fransisca untuk memiliki anak dengan Arkan." Fransisca tersenyum, kembali menyuapi. Mulai terpikirkan tentang bayi tabung.
"Tidak boleh! Arkan harus buat sendiri! Tidak boleh dibantu dokter. Kalau tidak...Ka...kalau tidak...Huaaaa!" Tangisan Arkan Zoya memekik. Benar-benar kencang membengkakan telinga.
Astaga! Anak ini merajuk membuat telinganya sakit.
"Kak Fransisca ingkar janji! Kak Fransisca jahat! Kakak benar...kak Fransisca jahat!" Teriaknya lagi, membuat Fransisca tidak dapat berkata-kata.
Pada akhirnya memeluk tubuh Arkan. Kemudian berucap pelan menenangkannya."Arkan tenang ya? Nanti kita buat sama-sama. Biar kak Fransisca ajari. Tidak akan ingkar janji."
Perlahan Arkan mengangguk, terdengar lebih tenang. Menghapus air matanya sendiri. Apa benar ini sosok Arkan Zoya yang terkenal sebagai pria tidak tersentuh? Raja neraka dalam dunia bisnis?
"Jadi bagaimana caranya! Arkan mau sekarang! Arkan mau sekarang!"