Setelah kepergian sang ayah untuk selama nya, Clarisa mendapati satu kenyataan pahit bahwa suami nya telah mendua kan diri nya. Hal yang lebih menyakitkan adalah wanita yang menjadi selingkuhan nya adalah adik tiri nya.
Sang suami lebih memilih sang adik dan hal itu di dukung oleh ibu tiri nya, Clarisa kembali ke kampung halaman ibu nya dan tinggal bersama sang nenek setelah dia memilih berpisah dari pada di madu.
Tapi ternyata takdir berkata lain, Clarisa bertemu dengan seorang pria yang ternyata adalah bos dari sang mantan suami. Pria itu jatuh cinta pada Clarisa kemudian menikahi nya.
Suami baru Clarisa membawa nya kembali ke kota tempat di mana sang mantan suami dan keluarga nya berada, kedatangan Clarisa kali ini membuat dia mengetahui rahasia di balik kecelakaan yang merenggut nyawa ibu nya puluhan tahun yang lalu.
Ikutan kisah Clarisa yang membalas perbuatan orang yang menjadi dalang di balik kecelakaan yang di alami oleh ibu hingga membuat sang ibu meregang nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Risa hanya bisa menangis, sementara tangan nya di ikat dengan kain oleh orang - orang itu. Mulut nya juga di sumpal sehingga Risa tidak bisa berteriak.
"Ya Allah, aku mohon lindungi lah aku dari kejahatan merek!" Risa berdoa di dalam hati sementara air mata nya tidak berhenti mengalir.
Mereka membawa Risa menuju sebuah gedung yang terbengkalai yang berada tidak jauh dari jalan itu, mereka tertawa terbahak - bahak karena sudah berhasil mendapat kan Risa.
Mereka meletakkan Risa di salah satu sudut gedung yang sudah di tumbuhi rerumputan liar, Risa hanya bisa melihat ke kiri dan kekanan sementara tangan nya masih terikat.
"Silah kan bos, kami akan mengawasi keadaan. Setelah itu, baru giliran kami!" Ujar salah satu dari mereka.
Orang yang di panggil dengan sebutan bos tampak tertawa dan mulai melepas kan celana jeans yang dia kenakan, dia mulai mendekati Risa. Sementara Risa hanya bisa menangis sambil terus berdoa di dalam hati memohon keselamatan diri nya.
Laki - laki itu menarik paksa hijab yang melekat di kepala Risa dan membuang nya ke sembarang arah, tangan nya mulai membuka baju kemeja yang di kenakan oleh Risa.
Tapi sebelum aksi nya tersebut berhasil, tiba - tiba ke 3 anak buah nya tumbang ke tanah. Alvian menghajar ketiga orang yang ada di sana tanpa ampun, 3 lawan satu. Tapi tetap tidak bisa melumpuh kan Alvian, bahkan ada di antara mereka yang patah kaki dan tangan nya.
"Kurang ajar, cari mati kau rupanya!" Laki - laki yang berusaha melecehkan Risa itu segera mengunus berlati dari balik baju nya.
Dia menyerang Alvian dengan membagi buta, tapi Alvian dengan bisa menghindari serangan nya dengan lincah. Laki - laki itu terus menyerang Alvian walaupun selalu gagal, tapi rupa nya Alvian menguasai ilmu persilatan jadi dia bisa melumpuh kan laki - laki itu dengan mudah.
Satu serangan dari Alvian membuat tangan laki - laki itu patah, sehingga dia menjerit kesakitan.
"Polisi akan datang, kalian akan menginap di hotel prodeo!" Alvian berkata sambil mencengkram pipi laki - laki itu dengan keras.
"Ampun bang, saya tidak akan menganggu nya lagi. Jangan masuk kan saya ke dalam penjara!" Laki - laki itu memohon sambil menahan sakit pada tangan nya yang patah.
"Berani nya kalian menyentuh nya, itu arti nya kalian siap menanggung akibat nya!" Ujar Alvian dengan geram.
"Saya di bayar bang untuk melakukan nya, ampunilah saya bang!" Laki - laki itu memohon ampun pada Alvian.
Mendengar bahwa mereka di suruh untuk mencelakai Risa, seketika Alvian semakin emosi. Dia membanting tubuh laki - laki itu hingga membentur dinding yang sudah rapuh.
"Katakan siapa yang membayar kalian?" Alvian mencengkram kera baju laki - laki itu dengan kuat.
"Bu Erlin bang, dia yang membayar kami untuk melecehkan wanita itu lalu membunuh nya!" Pengakuan itu keluar begitu saja dari mulut preman itu karena takut pada Alvian.
"Kalian semua akan mempertanggung Jawab kan perbuatan kalian di dalam penjara!" Alvian berkata sambil melayang kan tinju nya pada wajah laki - laki itu hingga darah segar bercucuran dari hidung nya.
Suara sirine mobil polisi terdengar di depan gedung tua itu, Alvian segera memeluk Risa dan membuang kain yang menyumpal mulut nya. Setelah itu, Alvian pun membuka tangan Risa yang terikat dengan kuat.
Risa menangis di dalam pelukan Alvian, tampak ketakutan yang teramat sangat terlihat di wajah nya Risa. Polisi sudah datang ke tempat itu dan langsung meringkus ke empat penjahat itu. Sementara Alvian membawa Risa keluar dengan cara menggendong tubuh Risa.
Alvian membawa Risa ke rumah sakit terdekat untuk mengobati luka nya, Risa tidak berhenti menangis karena merasa masih trauma dengan kejadian itu.
"Pak Alvian, kaki nya bu Risa cedera. Ada sendi kaki nya yang terlepas, jadi untuk sementara waktu bu Risa belum bisa berjalan. Ibu Risa harus menjalani pengobatan rutin!" Dokter yang menangani Risa memberi tahu Alvian setelah mengobati luka - luka nya.
"Lakukan yang terbaik untuk Risa dok, berapa pun biaya nya saya akan membayar nya!" Alvian berkata dengan tegas.
"Baik pak Alvian!" Jawab dokter itu sambil mengangguk kan kepala nya.
Alvian terus berada di sisi Risa, tidak sedetik pun dia meninggal kan Risa.
"Pak Alvian, saya mau pulang saja. Saya mau di rawat di rumah saja!" Risa memberikan tahu Alvian apa yang dia ingin kan.
"Kamu terluka Risa, jadi kamu harus mendapat kan perawatan medis!" Alvian menolak keinginan Risa.
"Saya merasa aman kalau saya berada di rumah, jadi biar kan saya pulang dan menjalani perawatan di rumah saja, saya mohon pak!" Risa memohon pada Alvian sambil menangis.
Melihat wanita yang sangat dia sayangi itu menangis, Alvian merasa tidak tega.
"Baik lah, saya akan urus kepulangan kamu secepat nya. Tapi kamu harus janji, jika tiba waktu nya kamu kontrol perkembangan kaki mu kamu tidak boleh menolak!" Alvian berkata dengan tegas.
"Iya, baik lah!" Jawab Risa sambil mengangguk kan kepala nya.
Alvian pun segera mengurus proses kepulangan Risa, setelah itu dia sendiri yang mengantar kan Risa untuk pulang ke rumah. Motor Risa yang Rusak akibat di serempet oleh preman tadi sudah dia bawa ke bengkel oleh orang - orang nya Alvian.
Mobil Alvian berhenti di depan rumah nya nek Asih, Alvian segera mengeluarkan kursi roda dari bagasi mobil nya. Setelah itu dia menggendong Risa untuk naik ke atas kursi roda itu.
Nek Asih yang melihat cucu nya pulang dalam keadaan tidak baik - baik saja seketika langsung menjerit histeris.
"Risa, ada apa dengan mu nak?" Nek Asin yang terkejut langsung memeluk tubuh cucu nya yang kini duduk di atas kursi roda.
"Risa tidak papa nek!" Jawab Risa berusaha menyembunyikan semua nya pada sang nenek.
"Nak Alvian, apakah yang terjadi pada cucu nenek nak?" Kini nek Asih beralih pada Alvian setelah dia tidak mendapat kan jawaban yang memuaskan dari Risa.
"Risa tadi mengalami kecelakaan motor nek, tapi Risa ditolong sama pak Alvian nek!" Dengan cepat Risa menjawab pertanyaan nenek dari nenek nya sebelum Alvian sempat menjawab nya.
"Ya Allah nak, kenapa semua ini bisa terjadi?" Tangisan nek Asih seketika kembali pecah setelah mendengar apa yang menimpa cucu nya.
"Nek, sekarang Risa sudah tidak papa nek!" Risa berusaha tersenyum pada sang nenek.
Alvian mendorong kursi roda Risa masuk ke dalam rumah nek Asih dengan hati- hati, Alvian tidak rela melihat wanita yang dia cintai dalam diam kini harus mengalami hal yang tidak di ingin kan.
Sambil duduk di ruang tamu rumah nek Asih, Alvian menghubungi pengacara nya agar segera memberes kan kasus ini. Alvian tidak ingin menunda lagi, dia ingin Erlin di tangkap malam ini juga.