NovelToon NovelToon
Milikku Di Atas Net

Milikku Di Atas Net

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Karir / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Martha Wulan

Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.

Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.

"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."

Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.

Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Jangan Percaya Mantan

Gedung Adiwinata menjulang di tengah kepungan awan hitam Jakarta seperti pedang perak yang menghujam langit. Livia menatap puncak gedung itu dari dalam taksi dengan perasaan campur aduk. Namun, saat taksi itu berhenti di lampu merah dua blok sebelum tujuan, sebuah SUV hitam mewah memotong jalannya dengan manuver yang agresif.

Seorang pria keluar, mengetuk kaca jendela taksi Livia dengan gerakan santai namun penuh otoritas. Jantung Livia nyaris melompat keluar saat melihat wajah di balik kacamata hitam itu.

Mateo.

Mantan kekasihnya, sekaligus rival bebuyutan Rangga di dunia bulutangkis internasional sebelum cedera lutut menghancurkan karier Mateo dua tahun lalu. Pria yang selama ini dianggap sudah "menghilang" dari radar publik setelah skandal doping yang kabarnya juga melibatkan intrik keluarga Adiwinata.

"Keluar, Liv. Sebelum orang-orang Rangga menemukannya," suara Mateo terdengar tenang namun dingin melalui kaca yang sedikit terbuka.

Tanpa pikir panjang, didorong oleh insting bertahan hidup dan rasa penasaran yang membakar, Livia keluar dari taksi dan masuk ke dalam SUV Mateo. Bau parfum woody yang familier memenuhi kabin, membangkitkan memori masa lalu yang seharusnya sudah ia kubur dalam-dalam di bawah bayang-bayang Rangga.

"Kamu... kamu yang kirim email anonim itu?" tanya Livia dengan napas memburu saat mobil itu melesat membelah kemacetan Jakarta.

Mateo menyeringai, matanya tetap fokus pada jalanan. "Aku sudah mengawasimu sejak insiden di Solo. Rangga itu ceroboh, Liv. Dia pikir dia bisa mengurung macan betina sepertimu dalam kandang emas tanpa ada yang membantu macan itu keluar."

"Kenapa kamu membantuku, Teo?"

Mateo tertawa pahit. "Aku benci Rangga. Itu pasti. Tapi aku tidak akan membiarkan keluarga Adiwinata menghancurkan karier satu-satunya atlet yang masih punya nyali untuk menang di lapangan. Aku tahu soal skenario Ibu Ratna. Dan aku tahu soal suap di Pelatnas. Aku punya bukti aslinya, Liv."

Mateo membawa Livia ke sebuah penthouse pribadi di kawasan Jakarta Selatan yang sangat eksklusif, jauh dari jangkauan apartemen Senopati milik Rangga. Tempat itu sunyi, mewah dengan gaya minimalis yang maskulin. Mateo menuangkan dua gelas anggur merah dan meletakkan sebuah tablet di atas meja marmer.

"Di sini semua bukti transfer dan rekaman suara Ibu Ratna saat bernegosiasi dengan manajermu. Pakai ini untuk memukul balik mereka," ujar Mateo.

Livia menyentuh layar tablet itu, merasa seolah ia baru saja mendapatkan pedang untuk berperang. Namun, ada sesuatu yang terasa janggal. Tatapan Mateo terlalu... intens. Ia melangkah mendekat, memperpendek jarak di antara mereka hingga Livia bisa merasakan hembusan napas pria itu di keningnya.

"Kenapa kamu melakukan ini sekarang?" bisik Livia.

"Karena aku ingin kamu bebas, Liv. Bebas dari Rangga. Dan mungkin... kembali ke tempat di mana seharusnya kamu berada. Bersamaku." Mateo menyentuh dagu Livia, jemarinya mengusap lembut tanda merah di leher Livia yang ditinggalkan Rangga semalam. "Rangga sudah hancur, Liv. Dia cuma pengecut yang menyerah pada ibunya. Kamu butuh pria yang bisa melindungimu, bukan mengurungmu."

***

Sementara itu, Rangga benar-benar kehilangan kendali. Setelah mendapati guest house kosong dan mendapat laporan dari Hadi bahwa Livia terlihat masuk ke mobil Mateo, dunianya meledak. Ia mengendarai mobilnya seperti orang kesurupan menuju satu-satunya tempat yang ia tahu Mateo gunakan sebagai persembunyian.

Pintu penthouse Mateo tidak dikunci, seolah Mateo memang mengundangnya masuk untuk menyaksikan kehancurannya.

Rangga melangkah masuk dengan napas memburu, kemeja putihnya kusut, rambutnya berantakan, dan matanya merah menyala. Pemandangan di depannya adalah belati yang langsung menghujam jantungnya.

Livia sedang berdiri di dekat jendela besar dengan pemandangan kota, sementara Mateo berdiri tepat di hadapannya, tangan Mateo berada di pinggang Livia—sebuah posisi yang terlihat sangat intim dari sudut pandang pintu masuk. Di atas meja, ada dua gelas anggur yang sudah setengah kosong.

"Livia!" suara Rangga menggelegar, bergetar antara amarah dan luka yang dalam.

Livia tersentak, mencoba menjauh dari Mateo, tapi Mateo justru sengaja mempererat genggamannya di pinggang Livia, menahan wanita itu agar tetap di posisinya.

"Rangga... dengerin aku dulu," suara Livia gemetar. "Ini nggak kayak yang kamu lihat!"

Rangga tertawa sumbang, langkahnya berat dan sempoyongan saat mendekati mereka. "Nggak kayak yang aku lihat? Aku kehilangan papaku hari ini, aku kehilangan impianku demi perusahaan ini, dan aku menemukan istriku di sini? Di apartemen pria ini?!"

Mateo menatap Rangga dengan senyum kemenangan yang memuakkan. Ia tidak melepaskan Livia, justru ia mencondongkan tubuhnya, seolah-olah baru saja membisikkan sesuatu yang mesra ke telinga Livia.

"Kenapa kamu marah padaku, Rangga?" Mateo bersuara dengan nada mengejek yang halus. "Harusnya kamu tanya pada istrimu. Siapa yang menghubungi siapa duluan."

Rangga membeku. "Apa maksudmu?"

Mateo menyeringai, matanya menatap Rangga dengan tatapan menghina. "Livia yang meneleponku semalam dari Solo. Dia bilang dia muak dengan 'hantaman' kasarmu di lapangan yang nggak punya perasaan itu. Dia memohon padaku untuk menjemputnya karena dia tidak tahan lagi hidup dengan pria pengecut yang cuma bisa tunduk sama kemauan ibunya."

Livia terperangah, matanya membelalak tak percaya. "Apa? Teo, kamu bohong! Aku nggak pernah—"

"Dia bilang dia rindu sentuhan pria yang benar-benar menghargainya sebagai wanita, bukan cuma sebagai lawan tanding di ranjang," potong Mateo lagi, suaranya dibuat seolah-olah penuh empati yang palsu. "Dia yang minta aku ke sini, Rangga. Dia yang ingin kita mengakhiri drama Adiwinata ini bersama-sama. Kamu cuma pengganggu sekarang."

Dunia Rangga seolah runtuh untuk kesekian kalinya dalam waktu kurang dari 24 jam. Ia menatap Livia dengan pandangan kosong, rasa sakit yang ia rasakan jauh lebih perih daripada kekalahan terburuknya di lapangan.

"Liv... itu benar?" suara Rangga bergetar, penuh kerapuhan yang membuat Livia tersiksa. "Semua yang kita lakukan semalam di bawah hujan... semua desahanmu... itu semua cuma akting supaya kamu bisa lari ke dia?"

"Nggak, Rangga! Dia manipulasi semuanya! Aku ke sini buat cari bukti pengkhianatan keluargamu!" teriak Livia, air mata mulai mengalir deras.

Tapi Mateo dengan cepat menarik Livia ke dalam dekapannya, memaksa wanita itu menghadapnya. "Jangan takut, Sayang. Kamu sudah aman sekarang. Biarkan dia pergi dengan sisa harga dirinya yang sudah hancur itu."

Rangga mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih. Amarah, cemburu, dan rasa dikhianati bercampur menjadi racun yang mendidih di otaknya. Ia maju satu langkah, mencengkeram kerah baju Mateo dengan kasar.

"Berengsek kamu, Mateo!" Rangga melayangkan pukulan mentah ke rahang Mateo hingga pria itu tersungkur ke sofa.

Rangga beralih ke Livia, mencengkeram bahunya dengan keras, matanya menatap tajam ke arah leher Livia yang masih memiliki bekas tanda merah buatannya. "Jadi benar? Kamu panggil dia ke sini buat menghapus bekas dariku?"

1
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
ngerinyee
Hafidz Nellvers
gak bahaya ta😂
Tulisan_nic
Badas kali Thor, tenang yang mematikan🫣
Tulisan_nic
wih promotenya keren nih ke Livia, tapi aku beda...🤭
Mentariz
Dari sinopsisnya aja udah menarik banget, terus pas baca bab 1 langsung masuk konflik seru abisss, dibuat penasaran terus sama bab selanjutnya, sangat rekomen 👍👍
Panda%Sya🐼
So far, semuanya menarik. Buat yang suka romance gelap dan, with a deeper meaning behind it. Di sini jawapannya.
Panda%Sya🐼
Kadang ini selalu jadi masalah, kalau enggak ceweknya pasti cowoknya. So damn proud of you, Rangga/CoolGuy/
Panda%Sya🐼
Takutnya nanti ada yang nangis, kan susah itu/Facepalm/
j_ryuka
wah bahaya ini
Tulisan_nic
Thats true Rangga, stand applouse buat kamu
Tulisan_nic
Body spek jam pasir apa gitar spanyol nih Livia🤭
chas_chos
rangga sedikit posesif ya
chrisytells
Malah jadi Berita Utama lagi
chrisytells
Mantap sekali Livia, sanggahan anda👍
chrisytells
Wah... wah... wah... gawat nih Livia!
Nadinta
LIVIA sumpah ya... bikin gregetan/Facepalm/
Mentariz
Panassss, kok panas ya bacanyaa 🤣
Mentariz
Aakkhh pengen teriakkk, aku mau ranggaaa 😍
Mentariz
Adududu~~~ berbahaya niihh 🤣
Mentariz
Badaasss sekaleee 😁👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!