Viera menikah dengan Damian selama bertahun-tahun dalam pernikahan yang terlihat sempurna. Hingga suatu hari, ia tahu suaminya berselingkuh.
Lebih kejam lagi, kehamilan yang ia perjuangkan lewat bayi tabung bukan berasal dari suaminya. Sp*rma itu milik Lucca, suami dari perempuan yang menjadi selingkuhan Damian.
Dalam kehancuran, Viera tidak memilih menangis... ia memilih berdiri tanpa goyah.
Ketika cinta baru datang tanpa paksaan, dan pembalasan berjalan tanpa teriakan... siapa yang benar-benar menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 15.
Keheningan malam di ruang rawat itu terasa berat, seolah udara sendiri enggan bergerak.
Lucca duduk di kursi di samping ranjang, punggungnya sedikit membungkuk, kedua tangannya saling menggenggam. Wajahnya letih—bukan hanya karena kejadian malam itu, tetapi karena bertahun-tahun keputusan yang akhirnya bermuara di satu titik... Viera terluka karena dirinya.
Viera tertidur, napasnya pelan dan teratur. Cairan infus menetes stabil. Wajahnya pucat, tetapi ada ketegaran yang bahkan obat penenang pun tidak bisa sepenuhnya memadamkan.
Pintu ruang rawat terbuka perlahan. Seorang perawat masuk untuk mengecek monitor, lalu menoleh pada Lucca.
“Janinnya stabil, Tuan. Tapi Nyonya Viera harus banyak istirahat, stres sedikit saja bisa berbahaya.”
Lucca mengangguk. “Saya mengerti.”
“Suaminya akan datang?”
Lucca menarik napas dalam. “Mereka sedang dalam proses cerai.”
Perawat itu terdiam sejenak, lalu hanya mengangguk singkat sebelum keluar.
Lucca kembali menatap Viera.
“Maaf,” bisiknya lirih. “Aku tidak akan menyentuh hidupmu lagi… kecuali kau sendiri yang memintanya.”
Malam itu menjadi titik balik yang tidak bisa dihapus dari hidup Viera.
Ia terbangun perlahan, kesadarannya kembali dalam potongan-potongan kabur. Bau antiseptik memenuhi inderanya, suara mesin monitor berdetak stabil di telinganya. Kelopak matanya terasa berat, tubuhnya seperti terikat oleh kelelahan yang tak wajar.
Hal pertama yang ia rasakan adalah nyeri tumpul di perut bawah.
“Anakku…” bisiknya refleks, suaranya serak dan nyaris tak terdengar.
Sebuah tangan segera menggenggam jemarinya.
“Tenanglah, Dokter bilang kondisinya stabil. Kau hanya harus banyak istirahat.”
Viera membuka mata sepenuhnya dan melihat Lucca.
Pria itu duduk di kursi di samping ranjangnya, jasnya sudah dilepas, kemeja putihnya kusut dan ternodai bercak darah kering—bukan darahnya sendiri. Mata hitam itu merah, bukan karena lelah semata, melainkan karena sesuatu yang lebih dalam tapi lebih personal.
“Sejak kapan kau di sini?” tanya Viera lirih.
“Sejak kau masuk IGD, aku tidak pergi.”
Viera menelan ludah. Ia ingin berkata terima kasih, ingin bertanya banyak hal, tapi tenggorokannya terasa tercekat. Ingatan tentang tangan kasar, ancaman pisau, rasa takut kehilangan anaknya—semua itu membuat dadanya sesak.
Lucca berdiri. Dengan hati-hati, ia membantu Viera sedikit duduk, menyelipkan bantal tambahan di punggungnya.
“Kau harus tenang,” katanya lembut. “Dokter bilang stres berlebihan bisa memicu kontraksi dini. Untuk sementara… kau tidak boleh sendirian.”
Viera terdiam. “Apa maksudmu?”
“Rumah sakit menyarankan rawat inap beberapa hari. Setelah itu, kau harus dalam pengawasan ketat. Kehamilanmu masuk kategori risiko tinggi sekarang.”
Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada ancaman pisau tadi.
“Risiko… tinggi?” suara Viera bergetar.
Lucca mengangguk pelan. “Ada sedikit perdarahan internal. Tidak parah, tapi cukup untuk membuat kita tidak boleh lengah.”
Kita.
Kata itu membuat jantung Viera berdegup aneh.
Ia memejamkan mata, air mata mengalir tanpa suara. Untuk pertama kalinya sejak kehamilan ini dimulai, ia merasa benar-benar… takut. Bukan pada Damian, bukan pada Calista. Tapi pada kemungkinan kehilangan sesuatu yang belum sempat ia peluk.
Lucca tidak berkata apa-apa. Ia hanya duduk di tepi ranjang, membiarkan Viera menggenggam lengannya sekuat yang ia mau. Dan Viera yang selama ini berdiri sendirian, akhirnya bersandar pada pria itu.
Hari-hari berikutnya berlalu seperti kabut tipis.
Viera jarang meninggalkan tempat tidur. Setiap beberapa jam, dokter datang memeriksa. Obat-obatan masuk ke tubuhnya. Tubuhnya melemah, emosinya naik turun.
Dan Lucca… selalu ada.
Ia datang pagi-pagi sekali, pergi larut malam. Kadang tertidur di kursi dengan laptop terbuka, kadang berdiri di jendela menelpon pengacaranya dengan suara rendah. Ia mengatur pengamanan, memastikan tidak ada orang asing yang mendekat, bahkan mengganti perawat atas permintaan Viera tanpa banyak tanya.
Ia tidak menyentuh Viera tanpa izin, tidak mengajukan pertanyaan personal, bahkan tidak memaksa percakapan.
Ia hanya hadir.
Pada hari keempat, saat hujan turun deras di luar jendela rumah sakit, Viera terbangun karena nyeri hebat di perutnya. Ia terengah, tangannya gemetar menekan bel panggil.
Lucca sudah berdiri sebelum perawat masuk.
“Tarik napas,” katanya tegas tapi lembut. “Ikuti aku.”
Ia memegang bahu Viera, membantunya mengatur napas. Tatapannya fokus penuh, seolah dunia lain tidak ada.
Setelah dokter memastikan hanya kontraksi palsu akibat stres, Viera kelelahan. Tubuhnya menggigil, air matanya jatuh lagi.
“Aku tidak kuat,” katanya lirih. “Aku benar-benar tidak kuat, David…”
Lucca menunduk sejajar dengannya. “Kau tidak harus kuat sendirian.”
Viera menatapnya, lalu ia bertanya tanpa nada defensif. “Kenapa kau melakukan semua ini?”
Lucca hanya tersenyum. “Karena aku bertanggung jawab, dan karena… aku sangat peduli padamu dan anak kita.”
Malam itu, Viera terlelap dengan jemarinya masih mencengkeram ujung lengan baju Lucca. Kalimat yang sempat meluncur dari bibir pria itu—anak kita, terus berputar di kepalanya bahkan saat matanya terpejam.
Sementara itu, di sisi kota yang lain, Calista kehilangan kendali atas sisa hidupnya.
Langkah terakhir yang ia ambil, menyewa orang untuk menakut-nakuti Viera menjadi kesalahan fatal. Salah satu penyerang tertangkap, dan kini dia tahu... ternyata Lucca lah orang yang berada di belakang Viera—melindungi wanita itu.