hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘
Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.
Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.
kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Dansa yang Mengancam posisi
Suasana di ballroom Grand Hyatt mendadak sunyi, seolah-olah musik klasik yang dimainkan orkestra di sudut ruangan kehilangan suaranya. Perhatian ratusan tamu undangan, yang tadinya tertuju pada kue ulang tahun raksasa milik Maya, kini tersedot sepenuhnya ke sudut balkon yang remang-remang.
Di sana, Abian Alvarazka Byakta—pria yang dikenal sedingin es dan tak tersentuh—sedang berdiri sangat dekat dengan Safira. Pemandangan itu seperti sebuah anomali. Abian, yang biasanya menolak bersalaman dengan rekan bisnis ayahnya jika tidak dianggap perlu, kini sedang menatap seorang gadis dengan intensitas yang membuat siapa pun menahan napas.
"Namaku Abian," ulang pemuda itu, tangannya masih terulur di udara.
Safira menatap tangan yang kokoh itu. Ia tahu siapa keluarga Byakta. Di kehidupan sebelumnya, ia pernah mendengar bahwa Abian adalah sosok kejam di dunia bisnis, seorang jenius yang melipatgandakan kekayaan keluarganya dalam waktu singkat. Namun, Safira yang sekarang tidak merasa terintimidasi.
Safira akhirnya menyambut tangan Abian, namun hanya sebentar. "Safira. Dan seperti yang kubilang, jangan berharap banyak padaku, Abian."
Abian menarik sudut bibirnya tipis. "Aku lebih suka tantangan daripada kepatuhan, Safira."
Di tengah ruangan, Maya meremas gaun putihnya hingga kain sutra itu kusut. Wajahnya yang tadinya berseri-seri kini pucat pasi, lalu berubah merah padam karena amarah. Ini adalah malam ulang tahunnya! Harusnya dia yang menjadi pusat perhatian!
"Pa! Kenapa Kak Abian bicara sama dia?" bisik Maya dengan suara bergetar pada Raga. "Harusnya Kak Abian di sini, sama kita!"
Raga Maheswara tidak menjawab. Pikirannya sedang berputar cepat. Ia merasa bingung sekaligus terhina. Bagaimana mungkin Safira, anak yang ia anggap aib, bisa mengenal putra tunggal Abimanyu Byakta? Sejak kapan?
"Raka, kamu tahu mereka kenal?" tanya Raga pada putra tertuanya.
Raka menggeleng pelan, matanya tidak lepas dari Safira. "Tidak, Pa. Tapi aku sudah bilang... Safira belakangan ini sangat aneh. Dia punya rahasia yang tidak kita tahu."
Sementara itu, Nathan berdiri mematung di dekat meja minuman. Gelas di tangannya terasa berat. Melihat tangan Abian bersentuhan dengan tangan Safira membuat dadanya terasa seperti dihantam palu godam. Rasa posesif yang terlambat muncul mulai menggerogoti logikanya. Itu Safira-ku... batinnya egois, padahal ia sendiri yang membuang Safira selama bertahun-tahun.
"Nath, mending kita pergi ke sana deh. Gue penasaran mereka ngomongin apa," ajak Bagas yang juga penasaran.
Musik di ballroom berubah menjadi alunan waltz yang lebih lambat dan romantis. Ini adalah sesi dansa pembuka. Biasanya, Raga akan berdansa dengan Maya sebagai simbol ayah dan putri kesayangan.
Namun, sebelum Raga sempat melangkah menuju panggung, Abian melakukan sesuatu yang membuat seisi ruangan terkesiap.
Ia membungkuk sedikit, mengulurkan tangannya kembali pada Safira dengan gestur yang sangat formal dan elegan. "Nona Safira, maukah Anda berdansa denganku?"
Safira tertegun sejenak. Ia melirik ke arah pelaminan di mana keluarganya berdiri dengan wajah syok. Ia bisa melihat Maya yang hampir menangis dan Raga yang menatapnya dengan kemarahan yang tertahan.
Ah, menarik, pikir Safira. Jika ia menerima ini, ia akan menghancurkan pesta Maya sepenuhnya. Dan bukankah itu tujuan kecilnya malam ini? Menunjukkan pada mereka bahwa ia bukan lagi bayangan?
Safira meletakkan tangannya di atas telapak tangan Abian. "Dengan senang hati, Abian."
Abian menuntun Safira menuju tengah lantai dansa. Kerumunan orang otomatis membuka jalan bagi mereka. Lampu sorot yang tadinya diarahkan ke Maya, kini perlahan mengikuti gerak langkah Abian dan Safira.
Mereka mulai berdansa. Gerakan Safira sangat luwes, mengikuti ritme Abian dengan sempurna. Gaun hitam Safira berkibar indah, menciptakan kontras yang tajam dengan lantai dansa yang serba putih. Di bawah lampu kristal, Safira terlihat seperti ratu kegelapan yang sedang menaklukkan cahaya.
"Kau berdansa dengan sangat baik untuk seseorang yang mengaku bukan 'pajangan' pesta," bisik Abian sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Safira.
"Aku belajar banyak hal saat orang-orang mengabaikanku," jawab Safira tenang. "Termasuk belajar bagaimana cara tetap tegak meski dunia ingin aku jatuh."
Abian menatap mata Safira. Ia melihat luka, kekuatan, dan kecerdasan yang berkumpul menjadi satu. "Keluargamu menatap kita seolah mereka ingin membunuhku... atau membunuhmu."
Safira tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat sangat imut namun menyimpan belati. "Biarkan saja. Mereka sedang menonton kehancuran rencana mereka sendiri."
Setelah dansa berakhir, tepuk tangan riuh terdengar dari para tamu, meski keluarga Maheswara tetap diam seribu bahasa. Abian mengantar Safira kembali ke tepi, namun Raga Maheswara sudah tidak bisa menahan diri lagi. Ia berjalan cepat menghampiri mereka, diikuti oleh Ratih dan Maya.
"Tuan Muda Abian," sapa Raga dengan suara yang dipaksakan ramah. "Maaf jika putri saya, Safira, mengganggu waktu Anda. Dia memang anak yang suka cari perhatian."
Abian berbalik, menatap Raga dengan tatapan yang seketika berubah menjadi sedingin kutub utara. "Mengganggu? Justru kehadiran Safira adalah satu-satunya hal menarik di pesta membosankan ini, Tuan Maheswara."
Raga tersedak kata-katanya sendiri. Wajahnya memerah karena malu di depan kolega bisnisnya yang mulai berbisik-bisik.
"Tapi Kak Abian," sela Maya dengan suara manja yang gemetar. "Ini pesta ulang tahunku. Kak Safira bahkan nggak pakai baju yang Papa suruh. Dia cuma mau bikin kacau acara ini!"
Safira melangkah maju, berdiri sejajar dengan Abian. Ia menatap Maya dari atas ke bawah. "Acara ini sudah kacau sejak kamu memutuskan untuk memamerkan kemewahan di atas penderitaan orang lain, Maya. Dan soal baju? Aku tidak butuh kain pilihan ibumu untuk terlihat berharga."
"Safira! Jaga bicaramu!" bentak Ratih, tidak peduli lagi ada Abian di sana. "Berani sekali kamu menghina saya di depan tamu!"
"Aku hanya mengatakan kebenaran," jawab Safira datar.
Abimanyu Byakta kemudian muncul di samping putranya. Ia tersenyum tipis melihat kekacauan yang terjadi. "Raga, sepertinya putrimu yang satu ini memiliki karakter yang sangat kuat. Aku sangat terkesan."
Raga mencoba tersenyum. "Ah, ya... Safira memang... unik."
"Sangat unik," timpal Abimanyu. "Bahkan aku terpikir, mungkin hubungan keluarga kita bisa menjadi lebih erat jika Safira dan Abian lebih sering menghabiskan waktu bersama."
Kalimat Abimanyu Byakta itu seperti bom atom yang meledak di tengah Grand Hyatt. Menjodohkan Arkan Sudarso dengan Safira? Bukan Maya?
Maya hampir pingsan di tempat. Nathan yang mendengar itu dari kejauhan merasa dunianya runtuh. Jika Safira menjadi milik keluarga Byakta, maka Nathan tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk meminta maaf, apalagi memilikinya kembali.
"Papa bicara apa?" bisik Abian pada ayahnya, namun ia tidak terlihat marah. Justru ada sedikit binar ketertarikan di matanya saat ia melirik Safira.
Safira hanya mengangkat alisnya. Perjodohan? Di kehidupan lalu, ia dipaksa menikah dengan pria tua bangka hanya untuk melunasi hutang perusahaan papanya. Di kehidupan ini, ia tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling berpengaruh di kota ini?
"Terima kasih atas tawaran Anda, Tuan Byakta," suara Safira terdengar jernih dan tegas. "Tapi aku bukan barang yang bisa ditukarkan untuk mempererat hubungan bisnis. Aku adalah pemilik diriku sendiri."
Keheningan kembali melanda. Menolak secara halus tawaran dari Abimanyu Byakta di depan umum? Safira benar-benar sudah gila di mata orang-orang. Namun, bagi Abimanyu dan Byakta, jawaban itu justru menjadi bukti bahwa Safira adalah sosok yang mereka cari.
Setelah drama di lantai dansa, Safira memutuskan untuk meninggalkan pesta lebih awal. Ia tidak butuh kue ulang tahun atau ucapan selamat palsu. Ia berjalan menuju pintu keluar, mengabaikan teriakan Bima yang memanggilnya.
Di area lobi hotel yang megah, Nathan mengejarnya.
"Safira! Tunggu!" teriak Nathan.
Safira berhenti dan berbalik. "Ada apa lagi, Kak Nathan? Bukankah seharusnya Kakak di dalam, menghibur Maya yang sedang patah hati?"
Nathan mengatur napasnya. "Kenapa kamu berubah jadi sekasar ini? Kenapa kamu harus dekat dengan Abian Alvarazka Byakta? Kamu tahu kan dia pria yang berbahaya?"
Safira tertawa, tawa yang terdengar sangat sedih sekaligus sinis. "Berbahaya? Bagiku, tidak ada yang lebih berbahaya daripada orang yang memberikan harapan palsu lalu membuangnya saat tidak lagi berguna. Dan itu adalah kamu, Kak."
"Fira, aku minta maaf... aku..."
"Simpan maafmu untuk orang yang masih peduli, Nathan. Bagiku, kamu hanyalah bagian dari masa lalu yang sudah kukubur dalam-dalam bersama rasa sakit yang kamu berikan."
Safira berbalik dan masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya. Nathan hanya bisa berdiri terpaku, menatap lampu belakang taksi yang menjauh. Di dalam taksi, Safira menyandarkan kepalanya ke jendela. Air mata tidak turun. Ia sudah berjanji tidak akan menangis lagi.
Di sisi lain, Abian sedang berdiri di balkon hotel, menatap jalanan di bawah. Ia melihat taksi Safira pergi.
"Dia menolak tawaran Papa," ucap Abian pada ayahnya yang berdiri di belakangnya.
"Dan itu artinya dia bukan gadis biasa, Abian," sahut Abimanyu. "Gadis yang tidak bisa dibeli dengan kekuasaan adalah gadis yang paling layak diperjuangkan."
Abian menatap langit malam yang mendung. "Aku tidak akan memperjuangkannya karena perintah Papa. Aku akan melakukannya karena aku ingin tahu, apa yang membuat matanya begitu dingin sekaligus begitu memikat."
Pesta Maheswara malam itu berakhir dengan rasa pahit bagi Raga, kehancuran bagi Maya, dan kegelisahan bagi Raka. Namun bagi Safira, ini adalah awal dari babak baru di mana ia bukan lagi bidak, melainkan pemain utama.
...****************...
Guyssss jangan lupa like nya ya, kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti, biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas