Bagaimana rasanya kembali ke masa lalu?Mia dan Dania kembali ke masa lalu, namun... cerita mereka sedikit berbeda... Makam kuno yang mereka lihat membawa mereka kembali ke masa kejayaan Dinasti Song. Dinasti yang kala itu berdiri dengan megah yang menjadi tonggak kemajuan zaman.
"Dimana ini?"
Kalimat yang sering Mia dan Dania ucapkan setelah menjadi target "Kilatan Waktu"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ami Greenclover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Yang Sunyi
“Kemana mereka?”
Zhang Wei mencari keberadaan Mia dan Dania.
“Zhang Wei!”
Mia melambaikan tangannya.
Mereka kemudian menghampiri Zhang Wei.
“Kau sudah boleh pulang?”
“Ya.”
Mereka masuk ke dalam kereta kuda.
“Kau punya kekasih?”
Mia bertanya pada Zhang Wei sambil memerhatikan wajahnya. Zhang Wei tak menjawab.
“Kau kenapa bertanya padanya? Kau mau menjadikan dia pacarmu?”
Dania heran.
“Dia tampan, boleh saja ku jadikan pacarku hahhaha.”
Mia tertawa.
“Lalu, bagaimana dengan pemuda itu? Siapa itu namanya aku lupa?”
“Siapa?”
“Ituloh yang pernah kita temuin di lomba sepakbola itu.”
“Wu Fei?”
“Nah! Wu Fei!”
“Dia ajah udah menghilang gitu.Mending cari yang baru.”
“Iya benar juga ya… Zhang Wei lebih ganteng dan lebih pintar.”
“Mengapa kalian bicara seolah-olah aku mau menikah dengan salah satu dari kalian?”
Zhang Wei tiba-tiba menyambung percakapan.
“Kau tenanglah, kau memang tipe idamanku tapi aku lebih suka melajang.”
Mia menjawab.
“Mia benar, eh maksudku Xiao Ning benar. Menjomblo adalah hal yang terbaik.”
“Baguslah.”
Zhang Wei membaca bukunya.
“Zhang Wei, ajarkan aku menulis.”
“Bukankah kau bilang kau seorang yang terpelajar?”
Mia mencubit lengan Zhang Wei.
“Kau kira aku lahir dan besar di negeri ini?!Aku berasal dari tanah asing yang aksaranya jauh berbeda dengan milik kalian ini.”
“Untuk apa kau ingin belajar?”
“Kau ini bodoh ya? Bagaimana aku bisa menulis buku yang akan kau pahami jika aku tak bisa menulis karakter Hanzi yang kalian gunakan?”
“Baiklah, aku akan mengajarimu. Tapi sesuai dengan kesepakatan kau harus membagi pengetahuan yang kau punya kepadaku.”
“Tenang saja, itu hal yang mudah!”
“Kau bisa menemuiku tiap jam 7 malam.”
“Mengapa harus malam?”
Dania heran.
“Aku hanya memiliki waktu di malam hari. Aku memiliki jadwal yang padat.”
“Baiklah.”
Mereka setuju untuk berbagi pengetahuan.
Setibanya di gerbang kediaman Zhang, Zhang Wei,Mia dan Dania turun dari kereta kuda. Terlihat dari arah berlawanan ada Zhang Rui yang memperhatikan mereka kemudian menghampiri mereka.
“Kalian dari mana?”
“Kami habis ikut ke istana bersama Zhang Wei.”
Dania menjawab.
“Ke istana? Untuk apa?”
“Kami hanya ingin melihat istana.”
“Oh.”
“Kau dari mana?”
Mia bertanya pada Zhang Rui.
“Aku baru pulang dari kantor pos.”
“Kau mengirim surat?”
“Ya.”
“Untuk siapa? Apakah untuk kekasihmu?”
“Aku tak memiliki kekasih. Aku mengirim surat ke perbatasan.Lagipula aku tak akan pernah mengirim surat hanya untuk seorang wanita.”
Zhang Rui pergi begitu saja.
“Dia aneh.”
Dania memperhatikan Zhang Rui dengan seksama.
“Keluarga ini semuanya aneh.”
Mendengar itu Zhang Wei melirik ke arah Mia.
“Apa? Memang benar kan? Kau, Zhang Rui dan Zhang Lin memiliki sikap yang aneh. Semuanya anti wanita.”
Zhang Wei berjalan meninggalkan mereka tanpa mempedulikan perkataan Mia.
“Mereka memang aneh.”
Dania menggelengkan kepalanya.
“Sudahlah, ayo kita menemui nona Zhang.”
Mereka mencari nyonya Zhang dan menemukan dia sedang menyulam sebuah baju.
“Nyonya, kau sedang apa?”
“Aku sedang menyulam baju.”
Mia dan Dania melihat dari dekat kemampuan nyonya Zhang dalam menyulam.
“Nyonya, kau hebat sekali.Hasil sulaman mu sangat rapih sekali.”
“Benarkah?”
“Ya, aku mungkin tak bisa menyulam serapih dirimu.”
“Kau terlalu memuji.”
“Pujian itu pantas kau dapatkan.”
“Mari, aku perlihatkan pada kalian cara menyulam yang benar.Kalian duduklah.”
“Baik!”
Mereka berdua mengamati dan juga belajar menyulam. Mereka tampak kesulitan karena mereka belum pernah menyulam sebelumnya.
Setelah belajar dengan sungguh-sungguh mereka dapat menyulam dengan sedikit rapih. Setelah selesai dengan masalah persulaman,mereka kembali ke kamar mereka.
*tok tok tok
Baru mereka menutup pintu tiba-tiba ada yang mengetuk pintu mereka. Dania membukakan pintu. Ternyata itu Zhang Wei.
“Ada apa?”
Dania bertanya.
“Xiao Ning dimana?”
Mendengar Zhang Wei mencarinya Mia langsung menemui Zhang Wei.
“Ada apa?”
Zhang Wei memberikan sebuah buku pada Mia.
“Ini, kau bisa belajar menulis beberapa karakter dasar di buku ini.”
Mia mengambil buku itu.
“Baiklah, terimakasih.”
Zhang Wei langsung pergi.
Mia dan Dania membuka buku itu.
“Karakter Hanzi memang sulit.”
Mia menggelengkan kepalanya.
“Aku aneh loh, kenapa orang China punya banyak karakter Hanzi kaya gini?Apa mereka gak pusing ngebedain karakter-karakternya?”
“Aku juga heran.”
“Udahlah, ayo kita belajar!”
“Ayo!”
Mereka berdua belajar dengan sungguh-sungguh. Mereka biasanya malas, namun karena memiliki motivasi untuk belajar mereka menjadi bersemangat.
Mereka belajar sampai tengah malam. Mata mereka sudah mulai satu karena menahan rasa kantuk.
“Yang semangat, yang semangat.”
“Maneh we sorangan, aing mah embung. Aduhh ngantuk banget woilah!”
“Tidur dulu sebentar kali ya.”
“Bolelah, kita tidur besok kita belajar lagi.”
“Oke!”
Mereka mengemaskan buku-buku yang berserakan di atas meja. Mereka kemudian menyiapkan tempat tidur mereka lalu mereka berbaring disana.
“Enaknya kasur ini.”
Mia memeluk bantal.
“Udahalah, ayo tidur.”
Mereka berdua tertidur.
Malam begitu sunyi, suara jangkrik yang biasanya terdengar malam ini mereka memilih untuk tak bersuara. Semakin larut, semakin sunyi di dalam kediaman.
“Hmm, pengen kencing.”
Mia terbangun. Dia menoleh ke arah Dania yang sedang pulas tertidur.
“Dania, Dania! Bangun!”
Mia menggoyang tubuh Dania.
“Apasih…”
Dania tak membuka matanya.
“Anterin aku cari WC, aku pengen kencing.”
“Cari sendirilah, aku ngantuk nih…”
Dania menolak. Karena sudah tak tahan Mia turun dari ranjangnya dan keluar dari kamarnya.
“Aduhhh… WC dimana ya?”
Dia bingung mencari WC. Dia berlari dengan kencang.
*brak!
Dia menabrak seseorang sampai terjatuh.
“Aduh… bokongku…”
Bokong Mia sakit.
“Hei! Apa yang kau lakukan malam-malam begini?!”
Ternyata itu Zhang Wei, Zhang Wei juga terjatuh akibat ulah Mia.
“Aduh, Zhang Wei maafkan aku.”
Mereka berdua berdiri.
“Lain kali berhati-hatilah.”
Zhang Wei ingin pergi.
“Eh! Tunggu!”
Mia menghentikan Zhang Wei.
“Ada apa?”
“Aku ingin ke WC, dimana WC?”
“WC berada di dekat dapur.”
“Di dekat dapur? Dimana itu?”
“Kau belok saja ke kaaa! ”
Mia menarik tangannya.
“Kau antarkan aku.”
“Lepaskan tanganku!”
“Aku tak mau, aku takut kau kabur.”
“Tidak etis pria dan wanita berpegangan tangan di malam hari.Apalagi ini tengah malam.Apa kau tak takut menjadi bahan gunjingan?”
“Kau diamlah, aku tak peduli dengan pendapat orang lain.”
“Lepaskan tanganku, jika kau tak melepaskan tanganku aku tak akan membawamu kesana.”
“Baiklah, baiklah!Cepat kau tunjukkan jalannya.”
Mia melepaskan tangan Zhang Wei, Zhang Wei menuntun Mia.
WC itu berada jauh dari kamar Mia.
“Sudah sampai, aku pergi dulu.”
“Eh! Jangan pergi! Kau tunggulah sebentar.”
“Aku sedang sibuk saat ini.”
“Kau tunggulah sebentar! Jika kau tak mau menungguku aku akan teriak!”
Zhang Wei tampak tak peduli. Dia melangkah pergi.
“Zhang Wei! Tolonglah… aku takut sendirian disini.”
“Tak ada hantu disini, kau bisa buang air dengan tenang.”
“Zhang Wei, aku takut!”
Mia merengek. Zhang Wei menghela nafas.
“Baiklah.”
“Kau tunggu disini.”
Mia menyuruhnya menunggu di depan pintu.
“Bukankah itu terlalu dekat?”
“Cepatlah!”
Zhang Wei terpaksa menunggu di depan pintu. Mia hanya buang air kecil, jadi tak butuh waktu lama untuknya keluar dari kamar kecil.
“Terimakasih!”
Mia berterimakasih pada Zhang Wei. Zhang Wei beranjak pergi, Mia mengikutinya dari belakang. Zhang Wei berbalik.
“Kau mengapa mengikutiku?”
“Aku takut. Antarkan aku kembali ke kamar.”
Zhang Wei menghela nafasnya lagi.
“Baiklah.”
Zhang Wei mengantar Mia kembali ke kamarnya.