Dikhianati dan dipermalukan, Nafiza Azzahra, wanita bercadar yang lembut, mendapati pernikahannya hancur berantakan. Dipaksa memulai hidup baru, ia bertemu Zayn Al Malik, CEO muda yang dingin dan tak tersentuh, Namun, sesuatu dalam diri Nafiza menarik Zayn, membuatnya mempertanyakan keyakinannya. Di tengah luka masa lalu, benih-benih asmara mulai bersemi. Mampukah Zayn meluluhkan hati Nafiza yang sedang terluka? Dan bisakah mereka menemukan cinta sejati di tengah badai pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Farhan menyusuri koridor menuju apartemen Riana, begitu sampai di depan pintu ia memasukkan kode yang seharusnya menjadi simbol cinta mereka. Tapi kini, angka-angka itu terasa hambar di lidahnya. Biasanya, begitu pintu terbuka, aroma manis parfum Riana langsung menyambutnya, membangkitkan hasrat dan kerinduan. Tapi kali ini, hanya keheningan yang menyesakkan.
Ruangan itu terasa aneh, terlalu rapi. Seperti ruang pamer yang dingin dan tidak berpenghuni. Vas bunga di meja sudut menarik perhatiannya rangkaian lily putih yang besar dan mewah, bunga ke sukaan Riana. Aroma bunganya terlalu kuat, menusuk hidung dan memicu firasat buruk yang dingin.
Jantung Farhan berdebar semakin kencang saat ia mendekati kamar tidur Riana. Suara lirih percakapan terdengar dari balik pintu, seperti bisikan ular yang menggerogoti keyakinannya. Ia ingin mendobrak pintu, meluapkan kemarahan yang mulai membara. Tapi sesuatu menahannya. Instingnya berteriak agar ia tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Ia menempelkan telinganya ke pintu, mencoba menangkap setiap kata yang terucap.
"Bodohnya Farhan. Dengan mudahnya dia kita perdaya," suara Riana terdengar sinis, seperti pisau es yang mengiris daging. Farhan mengepalkan tangannya erat-erat, kuku-kukunya menancap di punggung tangan. Perasaan bingung, dikhianati, dan marah bercampur aduk menjadi satu.
"Iya, sayang. Dia benar-benar idiot! Ia begitu aja percaya dengan sandiwara kita!" sahut suara pria yang sangat ia kenali: Andre sepupu yang Riana perkenalkan padanya, tersenyum lebar di depannya, menepuk pundaknya dengan sok akrab. Pengkhianatan ini terasa seperti ditusuk dari belakang.
"Dan yang paling lucu, dia percaya kalau aku hamil anaknya. Padahal, yang ada di perutku ini adalah anakmu, sayang," lanjut Riana, diikuti tawa rendah yang mengejek. Tawa itu seperti ribuan jarum yang menancap di dada Farhan, meruntuhkan semua ilusi yang pernah dibangunnya.
"Hahaha ... benar-benar bodoh. Kita bisa mendapatkan semua yang kita inginkan dari dia," Andre ikut tertawa, suaranya penuh kemenangan. "Setelah kita mendapatkan semua hartanya, kita tinggalkan saja dia dan anak itu. Kita bisa hidup senang tanpa harus bekerja keras."
Napas Farhan tercekat. Dunia terasa berputar, seperti lantai yang tiba-tiba menghilang di bawah kakinya. Ia telah dibutakan oleh cinta, oleh keinginan untuk percaya bahwa Riana adalah wanita yang tepat untuknya. Sekarang, ia hanya merasa jijik pada dirinya sendiri.
Tanpa sadar, tangannya sudah meraih kenop pintu. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan gemetar di tangannya. Tapi amarahnya terlalu kuat untuk dibendung. Dengan satu gerakan kasar, ia mendorong pintu hingga membentur dinding, membuat engselnya menjerit protes.
Pemandangan di dalam kamar membuat darahnya mendidih. Riana duduk di pangkuan Andre, gaun tidurnya berbahan satin merah menyala tersingkap hingga ke paha. Andre merangkul pinggang Riana, matanya menyipit licik menatap Farhan.
"Mas Farhan?!" Riana terlonjak kaget, matanya membulat ketakutan. Ia mencoba melepaskan diri dari Andre, tapi pria itu justru semakin mengeratkan pelukannya, seolah menantang Farhan. Senyum sinis tersungging di bibir Andre.
Mata Farhan menyipit, menatap Riana dan Andre dengan tatapan dingin. "Jadi, selama ini aku hanya jadi ATM berjalan untuk kalian berdua?" tanyanya dengan suara rendah, nyaris berbisik. Namun di balik nada tenangnya, tersimpan amarah yang siap meledak.
"Aku bisa jelaskan Mas!" Riana berusaha menetralkan suaranya, meskipun terlihat jelas bahwa ia panik. Ia turun dari pangkuan Andre, merapikan gaun tidurnya yang tersingkap. "Ini tidak seperti yang kau pikirkan."
"Oh ya? Lalu seperti apa, Riana?" Farhan maju selangkah, tatapannya mengunci mata Riana. Ia bisa melihat ketakutan di sana, tapi juga kebohongan yang sudah menjadi topengnya.
"Apa kau akan mengatakan bahwa ini hanya kesalahpahaman? Atau mungkin, kau akan menyalahkanku karena tidak memberimu cukup uang?"
Andre tertawa sinis, menghembuskan nafasnya ke udara. "Sudahlah, sayang. Tidak perlu berbohong lagi. Dia sudah tahu semuanya." Ia bangkit dari kursi, berjalan mendekat ke Farhan dengan angkuh. "Memang benar, kami memanfaatkanmu. Kau terlalu bodoh untuk menyadarinya, sama persis seperti mantan istri Soleha kamu itu."
Farhan mengepalkan tangannya semakin erat. Ucapan Andre seperti bahan bakar yang menyulut api amarahnya. Ia ingin sekali menghajar wajah sombong itu, tapi ia berusaha menahan diri. Ia tidak ingin turun ke level mereka.
"Jadi anak itu juga bagian dari rencana busuk kalian?!" tanya Farhan, suaranya bergetar. Ia menunjuk perut Riana dengan tatapan terluka.
Riana terdiam, menundukkan kepalanya. Ia tidak berani menatap mata Farhan.
"Jawab aku, Riana!" bentak Farhan, membuat Riana tersentak kaget.
"Itu ... itu anak Andre," bisik Riana, suaranya nyaris tidak terdengar.
Hati Farhan hancur berkeping-keping. Ia tahu, ternyata sesakit ini di khianati sama orang yang selama ini kita percayai. "Jadi sesakit ini yang di rasakan Nafiza saat itu," batin Farhan semakin sesak.
"Kau benar-benar menjijikkan," desis Farhan, meludah ke lantai di dekat kaki Riana. "Aku tidak menyangka kau bisa serendah ini."
Ia berbalik, berjalan menuju pintu. Ia tidak ingin berada di ruangan itu lebih lama lagi. Ia merasa seperti tercekik, seolah udara di sekitarnya dipenuhi dengan racun.
"Kau mau ke mana, Farhan?" tanya Andre, suaranya mengejek. "Kau tidak ingin mengucapkan selamat tinggal pada kekasihmu dan anakmu. Eh! Anak kami maksudnya?"
Farhan menghentikan langkahnya di ambang pintu, tanpa berbalik. "Aku tidak ingin melihat wajah kalian lagi," jawabnya dingin. "Mulai sekarang, jangan pernah muncul lagi di hadapanku!"
"Kau akan menyesal, Farhan!" teriak Andre. "Kau akan kehilangan segalanya!"
Farhan tertawa sinis. "Aku sudah kehilangan segalanya," jawabnya. "Tapi setidaknya, aku tidak kehilangan harga diriku di hadapan manusia rendahan seperti kalian!"
Ia keluar dari apartemen itu, meninggalkan Riana dan Andre yang terpaku di tempat mereka berdiri. Ia berjalan menyusuri koridor dengan langkah gontai, seperti orang yang kehilangan arah. Ia tidak tahu ke mana harus pergi, atau apa yang harus dilakukan, yang ia tahu hidupnya benar-benar hancur sekarang.
Bersambung ....