NovelToon NovelToon
The Atmaja'S Daughter

The Atmaja'S Daughter

Status: sedang berlangsung
Genre:Satu wanita banyak pria / Enemy to Lovers / Playboy / Tamat
Popularitas:159
Nilai: 5
Nama Author: Nur Sabrina Rasmah

Bintang Anastasya tidak pernah menyangka lulus SMA berarti harus menyerahkan kebebasannya. Atas perintah sang Ayah, ia harus kuliah di luar kota dan—yang paling buruk—tinggal di kediaman keluarga Atmaja. Keluarga konglomerat dengan tiga putra yang memiliki reputasi luar biasa.
Bagi Yudhoyono Atmaja, Bintang adalah permata yang sudah dianggap anak sendiri.
Bagi Andreas (26), sang dokter tampan, Bintang adalah adik perempuan manis yang siap ia manjakan.
Bagi Gading (16), si bungsu, Bintang adalah teman seru untuk membuat keributan di rumah.
Dan bagi Lingga (21), sang senior di kampus, Bintang adalah gangguan yang tak terduga. Sifat Bintang yang blak-blakan dan tingkahnya yang usil mengusik ketenangan Lingga. Ia bertekad membuat Bintang jera dan tidak betah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Kopi Maut Dua Korban"

Bintang berjalan mendekat, menyodorkan gelas plastik itu kepada Dea. "Ini, Kak, kopinya," ucapnya.

Dea menyambar kopi itu tanpa melihat. "Lama banget sih lo! Haus tahu!" ketus Dea. Ia langsung menyedot kopi itu dengan semangat.

Hanya butuh waktu tiga detik sampai mata Dea melotot sempurna. Wajahnya memerah, dan secara refleks...

BYUURRRRR!

Dea menyemburkan seluruh isi kopinya tepat ke arah samping, di mana Lingga sedang duduk santai sambil memperhatikan ponselnya. Kini, wajah tampan Lingga basah kuyup oleh cairan kopi bercampur air liur Dea.

"Kopi apa-apaan ini?! Asin banget! Lo sengaja ya mau ngeracunin gue?!" teriak Dea histeris sambil terbatuk-batuk, sementara Lingga membeku dengan mata terpejam, tetesan kopi mengalir dari ujung rambutnya ke hidung.

"Apa-apaan sih, De! Muka gue jadi basah semua!" bentak Lingga kesal sambil mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan telapak tangan.

Bintang memasang wajah terkejut yang sangat akting. "Loh? Nggak kok, Kak... masa sih asin? Perasaan tadi Mbak kantinnya bikinnya bener kok," sahut Bintang tanpa dosa. "Coba Kak Lingga minum, mungkin lidah Kak Dea lagi pahit karena belum sarapan."

Lingga yang masih emosi dan penasaran, menyambar gelas di tangan Dea dan meminumnya sedikit. Namun detik berikutnya...

"BYEHHH!! ANJIR!" Lingga ikut menyemburkan kopi itu ke lantai. "Ini bukan kopi! Ini mah air garam dikasih pewarna! Lo bener-bener ya, Bintang!"

Lingga berdiri dengan napas memburu, menatap tajam ke arah gadis itu. Namun, bukannya takut, Bintang justru menatap balik Lingga dengan senyum tengil yang sangat tipis, seolah sedang merayakan kemenangannya.

Mery yang melihat itu dari jauh hanya bisa membatin, Mampus lo, Bin. Singanya beneran bangun!

"Maaf ya Kak Lingga, Kak Dea... mungkin itu kopi khusus buat yang suka ngatur-ngatur orang, rasanya emang beda," ucap Bintang enteng sambil melangkah mundur, siap-siap melarikan diri jika Lingga meledak.

Bintang tidak menunggu sedetik pun untuk melihat kelanjutan amarah Lingga. Begitu melihat wajah Lingga yang basah kuyup dan merah padam, insting bertahan hidupnya langsung aktif.

"Ayo Mer, lari!" teriak Bintang sambil menyambar pergelangan tangan Mery sekuat tenaga.

Keduanya berlari sekencang mungkin menelusuri koridor gedung Administrasi Bisnis, meninggalkan Dea yang masih mengomel dan Lingga yang berdiri kaku menahan malu sekaligus dendam.

"AWAS AJA LO, BINTANG! JANGAN HARAP BISA PULANG DENGAN TENANG!" teriakan Lingga menggema di sepanjang lorong, membuat beberapa mahasiswa lain menoleh penasaran.

Setelah merasa cukup jauh dan bersembunyi di balik pilar besar aula, Bintang berhenti dengan napas tersengal-sengal. Ia memegangi lututnya sambil tertawa puas di sela-sela napasnya yang memburu.

"Fyuhhh... gila, Mer! Puas banget gue liat muka si Kucing Garong basah gitu. Semoga aja nanti sisa ospek ini kita nggak ketemu dia lagi," kata Bintang sambil mengipasi wajahnya dengan tangan.

Mery menatap Bintang dengan pandangan datar, seolah baru saja melihat orang paling bodoh sedunia. "Nggak ketemu pala lo!" sahut Mery ketus. "Bin, bangun! Lo sama dia itu satu prodi, satu jurusan! Lo mau ngumpet ke lubang semut pun, jam berikutnya kita pasti ketemu dia lagi di kelas besar!"

Bintang terdiam seketika. Tawanya berhenti, digantikan oleh ekspresi horor yang sangat nyata. Ia menepuk jidatnya sendiri dengan keras.

"Anjir... gue lupa! Kita kan satu prodi!" seru Bintang panik. "Mampus gue, Mer! Habis ini ada sesi materi dari Himpunan Mahasiswa Jurusan, kan? Dan siapa ketuanya?"

"Lingga Atmaja," jawab Mery singkat sambil melipat tangan di dada. "Siap-siap aja lo dikuliti hidup-hidup di depan maba lain."

Bintang merosot lemas ke lantai. "Aduh, bego banget sih gue. Kenapa dendam gue menutup ingatan gue soal prodi..."

Belum sempat Bintang bangkit, suara pengeras suara dari aula utama sudah berbunyi, memanggil seluruh mahasiswa baru Administrasi Bisnis untuk berkumpul. Dan Bintang tahu, di atas panggung sana, sudah ada Lingga yang menunggu dengan tatapan ingin menerkamnya.

Para mahasiswa baru prodi Administrasi Bisnis mulai memadati aula besar. Suasana yang tadinya riuh mendadak sunyi saat barisan senior dari Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) naik ke atas panggung. Di barisan paling depan, Lingga berdiri tegak dengan almamater yang sudah kering, namun sorot matanya masih menyimpan dendam yang membara.

Mery menyenggol bahu Bintang yang sedang berusaha sembunyi di balik punggung mahasiswa bertubuh tinggi di depannya. "Bin, liat tuh... tu dia orangnya," bisik Mery sambil menunjuk ke arah panggung dengan dagunya.

Bintang memberanikan diri sedikit mengintip. Benar saja, Lingga sedang mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru aula, seolah sedang mencari mangsa.

"Liat deh, Bin. Matanya udah kayak mau lepas gitu saking melototnya cari lo. Serem banget, berasa lagi dicari malaikat maut," lanjut Mery dengan nada konyol.

Seketika, pertahanan Bintang runtuh. Bayangan mata Lingga yang melotot dipadukan dengan ucapan Mery terdengar sangat lucu di telinganya. Bintang menutup mulutnya rapat-rapat, namun suara tawa kecilnya tetap lolos. "Pfft... hahahaha! Mery, diem nggak lo! Jangan bikin gue ketawa sekarang!" bisik Bintang sambil bahunya terguncang hebat karena menahan tawa.

Sialnya, gerakan bahu Bintang yang heboh dan suara tawanya yang tipis itu justru menarik perhatian. Di atas panggung, mata Lingga berhenti tepat pada titik di mana Bintang berada.

Lingga menyipitkan mata, rahangnya mengeras saat menyadari maba yang baru saja mengerjainya itu malah sedang tertawa-tawa di barisan tengah. Ia mengambil mikrofon, suaranya yang berat menggema di seluruh aula.

"Itu... mahasiswa yang di barisan tengah nomor tiga dari kiri. Yang dari tadi asyik tertawa sendiri," ucap Lingga dingin melalui pengeras suara. "Bisa maju ke depan sekarang? Sepertinya ada hal yang lebih lucu yang bisa dibagikan ke semua maba di sini."

Tawa Bintang langsung mati seketika. Mery menoleh dengan wajah pucat. "Mampus lo, Bin. Mata yang mau lepas itu sekarang beneran ngunci lo."

Bintang menelan ludah dengan susah payah. Ia berdiri perlahan di tengah tatapan ratusan pasang mata, sementara di depan sana, Lingga memberikan senyum miring yang paling menakutkan yang pernah Bintang lihat seumur hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!