NovelToon NovelToon
MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.

Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 Batas Yang Tidak Di Paksa

Sejak hari Aluna mengetahui di mana rumah Naya berada, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya.

Anak kecil yang sebelumnya murung, enggan makan, dan selalu tampak kehilangan semangat, kini kembali menunjukkan cahaya kecil di matanya. Ia mulai menghabiskan makanannya, bahkan sesekali meminta tambah. Buku-buku les tambahan yang sebelumnya hanya tergeletak kini kembali dibuka, pensil-pensilnya kembali diraut.

“Luna mau belajar lagi, Oma,” katanya suatu sore, membuat Salma terdiam cukup lama.

Di sudut lain rumah, Sagara memperhatikan perubahan itu dengan perasaan campur aduk. Ia senang melihat putrinya kembali bersemangat, tapi di saat yang sama, hatinya justru diliputi kegelisahan yang tidak ia pahami sepenuhnya.

“Bu,” panggilnya akhirnya, saat mereka hanya berdua di ruang makan. “Luna kenapa tiba-tiba berubah?”

Salma meletakkan gelas di tangannya. Ia tahu pertanyaan itu akan datang.

Pelan, dengan suara yang dijaga tetap tenang, Salma menceritakan semuanya. Tentang pertemuan Aluna dengan Naya, tentang rumah yang mereka datangi, tentang cara Aluna memandangi perempuan itu dengan mata penuh harap.

Sagara terdiam lama setelah mendengarnya.

Dadanya terasa sesak.

Bukan karena cemburu, bukan karena marah—melainkan karena takut. Takut suatu hari nanti ia harus menjelaskan pada putrinya bahwa perempuan yang ia harapkan itu bukan ibunya.

Takut melihat cahaya di mata Aluna padam untuk kedua kalinya.

Bagaimana caranya menjelaskan kenyataan pada anak sekecil itu?

Sabtu sore, Aluna duduk menempel di sisi Salma, matanya berbinar.

“Oma,” katanya pelan tapi penuh semangat, “besok Luna boleh ke rumah Ummi, kan?”

Salma terdiam. Tangannya refleks mengusap punggung cucunya.

Ia ragu. Terlalu banyak pertanyaan yang belum punya jawaban. Terlalu banyak risiko untuk hati anak sekecil Aluna.

Tapi melihat wajah cucunya yang penuh harap, Salma akhirnya mengangguk pelan.

“Iya,” jawabnya lirih. “Besok.”

Aluna tersenyum lebar. Senyum yang membuat Salma justru menunduk, menyembunyikan kegundahan di wajahnya.

Minggu pagi, bahkan sebelum matahari benar-benar naik, Aluna sudah sibuk sejak tadi malam.

Ia tidur dengan pakaian yang sudah disiapkan rapi di kursi. Pagi itu, setelah mandi, ia berlari kecil menghampiri Salma.

“Oma, ayo… ayo kita ke rumah Ummi. Luna sudah siap,” katanya riang.

Salma tersenyum tipis. “Nanti, Nak. Ini masih pagi sekali. Tidak sopan bertamu terlalu pagi.”

Wajah Aluna langsung meredup. Bahunya turun, matanya berkaca-kaca, meski ia tidak menangis.

“Iya, Oma,” jawabnya pelan.

Di sisi lain kota, Naya baru saja mengantar Adit ke pintu depan.

“Aku berangkat dulu,” kata Adit sambil merapikan topinya. “Anak-anak kantor ngajak golf.”

Naya mengangguk. “Hati-hati.”

Ia sebenarnya diajak ikut, tapi menolak. Lapangan golf bukan tempat yang membuatnya nyaman. Ia lebih memilih rumah yang tenang, secangkir teh, dan pagi yang berjalan lambat.

Sekitar pukul sepuluh, saat Naya duduk santai di ruang tamu, bel rumah berbunyi.

Ting tong.

Naya bangkit. Begitu pintu dibuka, tubuhnya seketika membeku.

Di depannya berdiri seorang anak kecil—mata besar yang pernah menatapnya penuh harap—bersama seorang perempuan tua.

“Ummi…” suara kecil itu bergetar. “Maaf Luna datang tanpa bilang.”

Naya terkejut, tapi refleks kelembutannya lebih cepat bekerja. Ia tersenyum dan berjongkok.

“Masuk, Nak. Masuk,” katanya sambil mempersilakan. “Ibu juga silakan.”

Mereka duduk di ruang tamu. Naya memanggil Bi Inah untuk membuatkan minum.

“Maaf ya, Nak Naya,” ucap Salma canggung. “Aluna memaksa ingin ke sini.”

Naya menggeleng lembut. “Tidak apa-apa, Bu. Namanya juga anak-anak.”

Namun senyum Aluna perlahan memudar.

Pandangannya tertuju pada satu bingkai besar di dinding. Foto pernikahan. Wajah Naya tersenyum di sana, berdampingan dengan seorang pria yang tidak ia kenal.

Air mata Aluna jatuh tanpa suara.

“Ummi…” tanyanya lirih sambil menunjuk foto itu. “Yang di foto itu siapa?”

Naya mengikuti arah jari kecil itu. Ia tersenyum. “Itu suami Ummi. Namanya Om Adit.”

Aluna menggeleng pelan. Air matanya makin deras.

“Berarti Ummi punya Abi lain…” suaranya pecah. “Abi-nya Ummi bukan Abi Luna.”

Ia menoleh ke Salma. “Oma… kita pulang aja.”

Salma terpaku. Kata-kata terasa menghilang dari kepalanya.

Begitu pula Naya.

Salma akhirnya berdiri lebih dulu. Tangannya menggenggam jemari Aluna yang masih bergetar.

“Maafkan kami, Nak Naya,” ucapnya lirih. “Sepertinya kami harus pulang.”

Naya ikut berdiri. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba mengendap di dadanya, meski ia tahu tidak melakukan apa pun yang salah.

“Tidak apa-apa, Bu,” jawabnya pelan. Ia lalu menunduk sejajar dengan Aluna. “Luna… lain kali kalau mau main, bilang dulu, ya.”

Aluna tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, lalu berbalik, menempel lebih erat ke sisi Salma.

Pintu tertutup pelan di belakang mereka.

Naya berdiri cukup lama di ruang tamu yang kembali sunyi. Pandangannya tanpa sadar tertuju ke foto pernikahan di dinding. Baru kali ini, bingkai itu terasa begitu berat untuk dipandang.

“Aneh…” gumamnya pelan. “Kenapa anak itu…”

Ia menggeleng, seolah menolak pikiran yang terlalu jauh. Anak kecil, batinnya. Mungkin hanya kebetulan.

Namun perasaan tidak nyaman itu tetap tinggal.

Di dalam mobil, Aluna duduk diam. Tidak ada tangisan, tidak ada pertanyaan. Kepalanya bersandar ke jendela, matanya memandangi jalan yang bergerak mundur.

Salma sesekali melirik cucunya lewat kaca spion. Hatinya terasa seperti diremas.

Sesampainya di rumah, Sagara sudah menunggu.

“Luna,” panggilnya lembut. “Kamu sudah pulang?”

Aluna menoleh sekilas, lalu mengangguk. Ia menghampiri ayahnya, memeluk sebentar, lalu masuk ke kamar tanpa berkata apa-apa.

Sagara menatap Salma. “Bu?”

Salma menarik napas panjang. “Dia melihat foto pernikahan Naya.”

Sagara terdiam. Bahunya sedikit turun, seakan sudah menduga akhir cerita itu.

“Malam ini,” ucapnya akhirnya. “Biar aku yang bicara dengan Luna.”

Malam datang dengan sunyi yang berbeda.

Sagara duduk di sisi tempat tidur Aluna. Anak itu sudah berbaring, tapi matanya belum terpejam.

“Abi…” suara Aluna kecil sekali. “Ummi Luna bukan yang itu, ya?”

Sagara menelan ludah. Inilah yang sejak tadi siang ia takuti.

Ia mengusap rambut putrinya pelan. “Ummi Luna sudah tenang di surga, Nak.”

Aluna diam.

“Perempuan yang kamu temui hari ini,” lanjut Sagara hati-hati, “baik. Lembut. Tapi dia bukan ummi kamu.”

Air mata Aluna jatuh lagi, tanpa suara.

“Tapi dia mirip Ummi…” bisiknya.

“Iya,” jawab Sagara jujur. “Kadang ada orang yang mirip. Tapi bukan berarti mereka orang yang sama.”

Aluna mengangguk kecil, lelah. Tak lama kemudian, napasnya mulai teratur. Ia tertidur dengan sisa air mata di pipinya.

Sagara tetap duduk di sana lebih lama dari yang ia rencanakan.

Setelah Aluna terlelap, Sagara masuk ke ruang kerjanya. Lampu meja dinyalakan. Di sana, foto Alya—istrinya—masih berdiri di tempat yang sama.

Wajah yang selama ini menjadi satu-satunya bayangan perempuan dalam hidupnya.

Namun malam itu, entah kenapa, bayangan lain menyelinap masuk. Seorang perempuan yang belum pernah ia temui. Perempuan yang hanya ia kenal dari cerita—dan dari luka kecil di hati anaknya.

“Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya,” gumam Sagara pelan. “Tapi kenapa…”

Ia menghela napas panjang. Dalam hidupnya, ia tidak menyukai kebetulan. Dan pertemuan Aluna dengan Naya terasa terlalu rapi untuk disebut sekadar kebetulan

“Kenapa anak itu bisa berpikir seperti itu…” bisiknya pelan.

...----------------...

Selamat siang readers selamat membaca

Lambat up karena dadakan ngetiknya,,jadi kalau typo di maklumi saja.

Like komennya dong terimakasih

1
sherapine
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!