Di dunia yang tunduk pada Mandat Langit, kultivasi bukan sekadar kekuatan, melainkan belenggu. Setiap embusan qi dikenakan pajak oleh langit, dan mereka yang membangkang akan dikutuk dalam kehancuran. Di tengah tatanan tiran ini, hiduplah Li Shen, seorang yatim piatu fana dengan meridian cacat yang dianggap sampah oleh dunia.
Namun, penolakannya terhadap anugerah langit justru menarik perhatian Dewa Xuan Taiyi.
Selama seratus tahun, Li Shen ditempa dalam isolasi dimensi Taixu Shengjing, mengasah Kehendak Murni yang tidak mampu diintervensi oleh dewa mana pun. Ia bangkit kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai Penolak Takdir.
Perjalanan panjangnya di mulai dari Perkumpulan Tanpa Mandat, sebuah gerakan revolusi rakyat kecil Lianzhou yang muak dengan penindasan langit. Bersama Yan Shuhua (Hua'er), gadis pembunuh bayaran yang setia, dan Ru Jiaying, penjinak binatang roh misterius, Li Shen memulai perang mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Keributan di Alun-Alun Hongluo
Alun-alun Hongluo sore itu tidak seperti biasanya. Teriakan kasar memecah hiruk-pikuk pedagang dan pejalan kaki. Beberapa orang berhenti, menoleh, lalu cepat-cepat menjauh, berpura-pura tak melihat apa pun. Di tengah lapangan batu yang dipenuhi jejak kaki, seorang pria kurus terjatuh tersungkur.
Itu Luo Pang. Tubuhnya meringkuk, kedua lengannya melindungi kepala, sementara dua pria bertubuh kekar bergantian menendang rusuk dan pahanya tanpa ampun.
“Bayar utangmu, dasar bangsat!”
“Tiga hari! Kau janji tiga hari!”
Salah satu tendangan mengenai perutnya. Pang memuntahkan udara dengan suara tercekik, tapi masih sempat meringis sambil tertawa kecut. “Heh… sabar… sabar sedikit… .”
“Masih berani bercanda?!”
Sebuah sepatu menghantam punggungnya, membuat tubuh Pang terguling ke samping. Dari saku bajunya, beberapa keping koin tembaga berhamburan, memantul di tanah dengan bunyi kemiskinan.
Jelas terlihat, ia baru saja kalah taruhan. Lagi.
Keributan itu akhirnya memancing suara lain, lebih nyaring dan lebih tajam.
“BERHENTI!”
Suara perempuan setengah baya membisukan alun-alun. Bicaranya kelewat cerewet. Madam Luo menerobos kerumunan dengan langkah cepat. Tubuhnya tidak besar, tapi auranya membuat dua pria penagih utang itu otomatis berhenti menendang.
Di belakangnya, seorang gadis muda mengikuti dengan wajah masam. Gadis itu bernama Mei Lan. Usianya sekitar delapan belas tahun. Rambut hitamnya dikepang rapi ke belakang, lengan bajunya digulung karena kebiasaan bekerja di dapur Selendang Merah. Wajahnya manis, tapi sorot matanya galak, terutama saat menatap Pang.
“Luo Pang!” Madam Luo menunjuknya dengan jari. “Kau ini manusia atau tikus got, hah?! Baru berapa lama kau bersumpah padaku?!”
Pang mengerang, lalu berusaha duduk. “Madam… ini cuma salah paham… .”
“Salah paham kepalamu!” Madam Luo langsung menampik. “Kau janji! Kau BERJANJI tidak akan menyentuh hal-hal kotor lagi!”
Pang menyeringai sambil mengusap bibirnya yang berdarah. “Aku janji tidak mabuk, Madam. Itu saja. Soal berjudi… itu kan… ,” Ia mengangkat bahu. “Ekhm… sedikit sulit dihentikan.”
Mei Lan yang sejak tadi menahan diri akhirnya meledak. Ia melangkah maju, menunjuk Pang dengan sendok kayu yang entah dari mana ia bawa. “Kau tahu tidak, Pang-Ge? Gara-gara kau, aku harus mencuci piring dua kali lipat kemarin!” bentak Mei Lan. “Kau kalah taruhan lagi dengan pelanggan di depan, lalu kau membawa mereka ke dapur untuk makan gratis sebagai bayaran kekalahanmu! Dan kau? Kau malah kabur lewat jendela sebelum semua piring kotor itu menumpuk!”
“Hei, dengar dulu! Aku melakukan itu demi riset!” Pang membela diri dengan wajah meringis, tangannya bergerak panik di udara. “Aku bertaruh untuk menentukan menu apa yang paling laku besok! Aku sedang memikirkan strategi bisnis kita, tahu!”
“Mencari makan gratis untuk orang asing itu BUKAN strategi bisnis, itu kebodohan!”
Keduanya langsung saling membentak, suara mereka naik turun, menarik perhatian lebih banyak orang. Pang dan Mei Lan memang seperti itu, ke mana pun mereka pergi, selalu membawa keributan. Aneh tapi nyata, mereka cepat akrab, mungkin karena sama-sama tidak mau mengalah.
“CUKUP!”
Madam Luo bertepuk tangan dua kali. Suaranya kembali menguasai alun-alun. “Aku tidak punya waktu mendengar omong kosong kalian.” Ia menoleh ke dua pria penagih utang. “Berapa?”
Salah satu pria menyebutkan angka. Tidak kecil, tapi jelas bukan jumlah yang membuat Madam Luo gentar.
Dengan wajah masam dan mulut terus mengomel, Madam Luo mengeluarkan kantong uang dan melemparkannya. “Ambil dan pergi. Kalau pria bodoh ini berjudi lagi, patahkan saja kakinya, tapi jangan di depan Selendang Merah.”
Dua pria itu tertawa puas, menghitung uangnya, lalu menatap Pang dengan ancaman terakhir. “Ini yang terakhir, Luo Pang. Lain kali, kami ambil yang lebih dari sekadar uang. Mungkin jarimu?”
Mereka pun pergi.
Begitu mereka menghilang, Pang langsung berlutut, dahi hampir menyentuh tanah. “Terima kasih, Madam! Aku akan—”
“Diam!” sela Madam Luo. “Kalau kau berani bilang janji lagi, aku sendiri yang akan melemparmu ke sungai!”
Mei Lan mendecak, lalu menjewer telinga Pang tanpa ampun. “Ayo pulang! Kau pikir kami punya waktu mengurus bangkai hidup sepertimu?!”
“Aduh—pelan—pelan!” Pang merengek sambil diseret. “Aku cuma tidak minum sampai Tuan Shen datang! Aku tidak pernah bilang akan berhenti berjudi!”
Kalimat itu membuat Madam Luo hampir tersedak.
Namun tepat pada saat itulah sebuah suara tenang yang familiar terdengar dari belakang mereka. “Jujur saja, aku cukup terkejut kau tidak mabuk lagi selama aku pergi.”
Langkah mereka terhenti bersamaan. Madam Luo, Pang, dan Mei Lan menoleh serempak.
Seorang pemuda berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Pakaiannya sederhana, tubuhnya tampak lebih segar dari sebelumnya, posturnya tegak. Senyuman tipis terukir di wajahnya, tenang, nyaris lelah. Di punggungnya tergantung sebuah bundel panjang yang dibungkus kain gelap. Dari bentuknya, jelas berisi lebih dari satu senjata. Pedang… dan tombak.
“Tu—Tuan Li Shen?” Pang melongo.
Li Shen menatapnya, senyum itu tidak berubah. “Sepertinya Hongluo masih seramai dulu.”