NovelToon NovelToon
Terjerat Benang Merah

Terjerat Benang Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Cintamanis / Romansa / Cintapertama / Konflik etika
Popularitas:70.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Ternyata, teori tentang benang merah itu memang ada. Sejauh dan selama apapun berpisah, jika ada yang belum selesai makan akan tetap bertemu dengan cara yang terkadang tak masuk dalam logika.

Siapa yang sangka, Bianca akan kembali bertemu , mantan tunangan yang dulu dijodohkan dengannya dalam keadaan Bianca yang sudah tidak seperti dulu lagi.

Tunangan yang dulunya pergi meninggalkannya karena alasan tidak mencintainya, kini justru selalu terlihat dalam hidup Bianca yang begitu pelik.

Padahal mantan tunangannya itu sudah memiliki wanita yang dicintai sejak dulu menjalin hubungan dengan Bianca.

"Bisakah kau melewatiku begitu saja saat melihatku? Jangan mendekat dan jangan ikut campur terlalu jauh ke dalam hidupku!" - Bianca -

Apa jadinya jika dua orang itu justru terikat oleh sebuah teori benang merah yang tidak pernah putus diantara mereka?

Apakah mereka akan kembali bersama meski benang merah sudah terlalu rumit mengikat mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masalah baru Bianca

"Kenapa kau datang ke sini dengan wajah seperti itu?" Elgard tak suka melihat wajah Kevin yang terus mengumbar senyumnya sejak tadi.

"Kalau kau gila, kau salah ruang periksa!" Cibir Elgard karena dia seorang dokter jantung bukan dokter kejiwaan.

"Siapa juga yang gila? Aku hanya sedang kasmaran!" Kevin terus melihat ponselnya, entah apa yang ada di dalam ponselnya hingga membuatnya terus tersenyum seperti itu.

"Kau jatuh cinta?"

"Hmm!" Angguk Kevin dengan tersipu. Wajah Kevin saat ini tampak begitu menggelikan menurut Elgard.

"Siapa lagi wanita yang menjadi korbanmu?"

"Kau bertanya seolah-olah aku ini penjahat wanita. Aku dari dulu tidak pernah berbuat memainkan mereka, aku hanya ingin memilih yang pas dengan hatiku, dan sepertinya aku sudah mendapatkannya!"

"Wanita mana lagi itu?"

"Ayolah, kau sudah tau siapa orangnya!"

Elgard langsung menatap Kevin dengan tajam, dugaannya tentu saja langsung mengarahkan pada satu orang.

"Jangan bilang itu Bianca!"

"Memangnya kenapa kalau dia? Lagi pula aku memang serius ingin menjalin hubungan dengannya. Aku bahkan sudah menyatakan niatku untuk mendekatinya!"

"Apa??!!" Elgard langsung berdiri.

Dia menghampiri Kevin kemudian mencengkeram kerah baju Kevin.

"Calm down Bro!" Kevin mendorong Elgard menjauh.

"Jangan dekati Bianca kalau kau hanya mempermainkannya saja! Kau tidak pantas mendapatkannya!" Kilat kemarahan terlihat jelas di mata Elgard hingga membuat Kevin semakin bertanya-tanya.

"Hey, ada apa denganmu? Kalau pun Bianca menerimaku menjadi kekasihnya, aku rasa itu bukan urusanmu sama sekali. Tingkahmu ini sungguh seperti orang yang sedang cemburu El. Kau harusnya ingat kalau kau sudah punya Meri!" Kevin berdiri merapikan kemejanya. Dia terheran-heran dengan sikap Elgard yang tak biasanya.

Sementara Elgard berbalik membelakangi Kevin. Dia mengusap kasar wajahnya. Dia sendiri bingung dengan apa yang baru saja dia lakukan. Kenapa dia harus semarah itu saat mendengar Kevin mengutarakan niatnya untuk mendekati Bianca. Kenapa dia bisa lepas kendali tanpa alasan seperti itu.

"Kau sebenarnya kenapa? Jangan bilang kalau kau juga tertarik dengan Bianca!"

Kevin langsung menyeringai karena Elgard tak bisa menjawabnya.

"Ingat El, dulu kau membuangnya begitu saja. Sekarang kau mau memungutnya lagi sesuka hatimu. Apa kau pikir dia tidak terhina dengan sikapmu itu? Dia pasti berpikir kalau kau memperlakukannya bagaikan barang yang bisa kau buang dan kau pungut begitu saja!" Kevin menepuk baju Elgard.

"Ingat juga kekasihmu itu. Katanya kau akan segera bertunangan dengannya. Tapi memang kata orang, godaan sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius itu lebih kencang. Tapi aku yakin kau tidak akan meninggalkan kekasihmu yang sudah begitu lama itu hanya untuk wanita yang menjadi mantan tunanganmu kan?"

Kevin kembali menepuk bahu Elgard kemudian pergi dari ruangan sahabatnya itu. Dia tak menyangka saja kalau tanggapan Elgard akan seperti tadi. Meski Kevin merasa ada yang janggal dengan sikap Elgard, tapi dia tetap tidak akan menyerah untuk mendapatkan Bianca.

Meski banyak sekali wanita di sekitar Kevin yang jauh lebih cantik dan juga latar belakang setara dengannya, tapi melihat tatapan mata Bianca yang terlihat sudah tak peduli pada apa pun itu, justru menyentuh hati Kevin.

"Huhhh!" Bianca memijat tengkuk dan keningnya yang terasa begitu berat.

Sudah beberapa kali Bianca merasakan seperti itu karena dia meneguk minuman beralkohol. Dia mencoba minuman itu bukan karena menyukainya, bukan juga sebagai pelarian untuk semua masalahnya. Tapi terkadang, ada beberapa tamu yang sengaja memberikan tip untuk Bianca asal Bianca mau minum bersama mereka.

Bianca tak akan menolak karena dia juga butuh uang, asalkan mereka tidak bertindak di luar batas kepadanya.

"Kau yakin bisa pulang sendiri?" Tanya rekan kerja Bianca yang waktu itu meminta Bianca untuk menggantikannya.

"Hmm, aku sudah biasa!"

"Baiklah, aku pergi dulu!"

Bianca hanya mengangguk, meski rekan kerjanya itu terkadang mengeluarkan ucapannya yang cenderung pedas, namun hanya dia yang mau mengajak Bianca bicara.

Dengan langkah gontai, Bianca keluar dari club barunya yang barunya yang baru dua minggu menjadi tempatnya bekerja.

Dia menuju ke tempat pemberhentian bus, hari ini dia selesai bekerja tidak terlalu malam, jadi masih ada bus yang beroperasi saat ini.

Tapi Bianca merasa ada orang yang mengikutinya dari belakang. Meski dalam keadaan sedikit mabuk, tapi Bianca bisa menyadari hal itu. Dia berusaha untuk tetap tenang, sembari mencari cara bagaimana dia menghadapi orang yang mengikutinya itu.

Sampai di tempat yang benar-benar sepi, Bianca semakin mendengar langkah yang tepat berasa di belakangnya. Bukan hanya satu, tapi ada langkah kaki lain setelah kaki satunya lagi.

Bianca semakin panik, dia mulai berjalan dengar cepat agar cepat biasa menghindari orang itu.

Srettt...

"Hmmbbtt..!!"

Namun terlambat, orang itu lebih dulu membekap mulut Bianca dengan sapu tangan yang sepertinya sudah disiapkan oleh orang itu.

"Hmmbbtt!" Bianca ditarik menuju ke lorong yang gelap di sekitar sana.

Brak...

Bianca di dorong hingga menabrak pintu pagar besi sebuah bangunan.

"Akhirnya aku bisa bertemu lagi bocah tengik!"

Bianca terperanjat ketakutan ketika melihat pria berkepala plontos dengan alis yang terpotong menjadi dua bagian karena bekas luka. Dia adalah Grek, rakan Davis yang juga sama-sama pengedar dan pemakai obat-obatan terlarang. Karena pria di depannya itu juga, Davis menjadi pencandu dan kini mendekam di penjara.

"Ada urusan apa kau denganku? Seharusnya semua masalah kau selesaikan sendiri dengan Kakakku!".Bianca tak suka dengan pria yang membawa pengaruh buruk pada Kakaknya itu.

"Jasi menurutmu, aku harus berurusan dengan orang yang sudah ada di dalam penjara begitu?"

"Itu urusanmu!"

Grek langsung mencengkeram dagu Bianca dengan kuat hingga membuat wajahnya terasa terjepit tangan besar dengan cincin disemua jarinya itu.

"Dengar bocah ingusan! Kalau kau tidak membayar hutang Kakakmu itu, aku akan menjualmu. Sepertinya organ tubuhmu masih sangat sehat!"

Siapa yang tak takut mendengar ancaman seperti itu apalagi saat ini Bianca seorang diri.

"Atau, kau mau membayarnya dengan tubuhmu?" Grek mencolek dagu Bianca yang langsung ditepis oleh Bianca dengan kasar.

"Aku tidak sudi disentuh olehmu!" Bianca sebenarnya merasa takut, bagaimana nanti kalau Grek benar-benar menerkamnya. Di sana dia seorang diri berhadapan dengan pria tinggi besar itu.

"Ha..ha..ha..!" Grek malah terbahak dengan penolakan Bianca.

"Kita lihat saja, uangku kembali atau nyawamu yang akan kau gunakan untuk membayar hutang Kakakmu itu!" Masih dengan tertawa, Grek pergi meninggalkan Bianca sendirian di tempat sepi itu.

Tubuh Bianca merosot hingga dia terduduk lemas di tempat itu. Untung saja dia kembali lolos dari Grek hari ini, setelah beberapa waktu dia mencoba menghindar dengan jarang pulang ke apartemen.

1
Herman Lim
yg jelas El ingin bee punya karya sdr tanpa pake nama org
rinny
nggak apa apa Bianca, terima bantuan dari eigard . mungkin itu akan menjadi jalanmu menuju kesuksesan
Cahaya
lanjut
Tyara Inasti
wah Thor dari awal baca smpe sini udh keren dan udh seseru ni mantap
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
bagus thor, bianca berkata jujur buar el tau
Hanima
👍👍
Nureliya Yajid
semangat thor
Ari Atik
ok...
lanjut....
Nureliya Yajid
semangat thor
Nureliya Yajid
lanjut thor
Agnezz
wah visi Elgard jauh ke depan ya, agar Bee parfum Bee punya nama sendiri. Tapi apakah Roy mau tersaingin Bee. Dengan mengajari Bee, bukan tidak mungkin kelak parfum Bee lebih terkenal.
Esther Lestari
semangat Bee.
baguslah kamu sudah menceritakan kelakuan Meriana ke Elgard dengan jujur
Ikaaa1605
Semangat up mba othor
🌷Vnyjkb🌷
ell benar, klu berkolaborasi , bee hya dompleng nama meski itu racikan bee, tp klu bee bljar lg dan siapin smua dr awal d atas kaki sendiri dan d mentorin, maka bee pya hak paten sendiri👍👍💪💪💪💪😍😍
🌷Vnyjkb🌷
yesssss💪💪💪💪langkah suksesssss,,semangatttt bee😍 jg Siapin amunisimu u menghadapi Tagihan elll🤭🤣🤣
🌷Vnyjkb🌷
👍👍ini br cerita seruuu, hrs terBuka, ngapain d sembunyiin klakuan buruk meri anak bebek tu
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
semangat Bee💪💪💪
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
bagus,jangan ada yang disembunyikan..
Aprisya
eeeehhh jalang teriak jalang
Agnezz
pasti si Meriana, udah acuhkan saja lebih baik Bee pergi menemui ahli peracik parfum. Gak penting meladeni si Meriana.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!