Stevi memutuskan untuk melupakan cintanya kepada Alex dengan menerima lamaran dari Thomas, yang tidak lain adalah adik Alex.
Tapi di saat Stevi dan Thomas akan menikah, prahara datang. Stevi di fitnah dan itu membuat Thomas pergi dan meninggalkan Stevi.
Orang tua Thomas yang malu akan kelakuan anak bungsunya, meminta Alex untuk menggantikan adiknya menikahi Stevi.
Alex tidak bisa menolak, namun dalam hatinya Alex sangat marah karena saat ini Alex sudah mempunyai kekasih.
Akankah Stevi bertahan dengan pernikahannya ataukah Stevi memilih untuk pergi dan menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 Berebut Perhatian
Sepuluh menit kemudian, Stevi keluar dengan tubuh yang sangat lemas dan wajahnya yang pucat.
"Stev, kamu sakit?" tanya Alex khawatir.
"Aku tidak apa-apa."
Stevi melangkahkan kakinya melewati Alex, tapi baru saja beberapa langkah tubuh Stevi oleng dan hampir jatuh kalau Alex tidak menangkapnya.
"Tidak apa-apa bagaimana? tubuh kamu lemas kaya gini," seru Alex.
Tanpa banyak bicara lagi, Alex pun mengangkat tubuh Stevi.
"Turunkan aku Kak, aku bisa jalan sendiri," lirih Stevi.
"Sudah diam, kamu itu sedang sakit."
Thomas kaget saat melihat Alex menggendong Stevi. "Stevi kenapa?" tanya Thomas khawatir.
"Sepertinya Stevi sakit, kita langsung ke hotel saja," sahut Alex.
"Dasar manja, pasti dia pura-pura sakit supaya bisa dapat perhatian dari Kak Alex dan Thomas, dasar wanita ular," batin Maya.
Mereka pun dengan cepat memesan taksi menuju hotel, mereka tidak sadar kalau dari tadi ada seseorang yang mengikuti mereka.
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di hotel. Alex kembali mengangkat tubuh Stevi dan segera membawanya ke kamar hotel.
"Tunggu Kak, apa Kakak mau satu kamar dengan Stevi?" tanya Maya.
"Memangnya kenapa? kita sudah menikah kok, memangnya ada yang salah?" sahut Alex.
"Kakak kan sudah janji gak bakalan satu kamar," kesal Maya.
"Ribet banget sih kamu, sudahlah lebih baik sekarang kalian pergi ke kamar kalian masing-masing," kesal Alex.
Thomas menyimpan koper Stevi di depan pintu kamar, dengan perasaan sakit Thomas langsung masuk ke dalam kamarnya yang berada tepat di depan kamar Alex dan Stevi.
Alex masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuh Stevi di atas tempat tidur, Maya dengan tidak tahu malunya ikut masuk ke dalam kamar itu.
"Stev, kamu memang tidak tahu malu ya. Pura-pura sakit supaya Kak Alex memperhatikanmu, ternyata kamu gak lebih murahan dari wanita-wanita kebanyakan," sindir Maya.
"Maya, cukup! keluar kamu dari sini dan aku putuskan kalau mulai hari ini kita tidak ada hubungan apa-apa lagi!" bentak Alex.
"Apa? maksud Kakak apa?" tanya Maya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku sudah muak denganmu Maya, kamu selalu mengekang ku dan yang paling utama kenapa aku sampai mutusin kamu karena aku sudah mulai jatuh cinta kepada Stevi dan aku akan memperjuangkan cintaku," seru Alex.
Stevi kaget dengan ucapan Alex, sedangkan Maya meneteskan air matanya sungguh saat ini hatinya begitu sangat sakit.
"Kamu jahat Kak."
Maya berlari keluar dan membanting pintu, Alex benar-benar sudah tidak peduli lagi dengan Maya. Alex menghampiri Stevi dan duduk di samping Stevi.
"Kita ke rumah sakit ya, soalnya wajah kamu terlihat pucat seperti itu," seru Alex.
"Tidak, ambilkan saja obat di dalam tas aku," sahut Stevi.
Alex segera mengambilkan obat di dalam tas selempang Stevi, Alex mengerutkan keningnya saat melihat obat yang dibawa oleh Stevi.
"Ini obat apa?" tanya Alex.
"Bukan obat apa-apa, hanya vitamin saja," sahut Stevi.
Stevi berusaha santai menjawab pertanyaan Alex karena dia takut Alex tahu akan kehamilannya. Alex mengambil air mineral yang Stevi bawa dan memberikannya bersama obat itu, Stevi langsung meminumnya.
Stevi bangkit tapi Alex menahannya. "Kamu mau ke mana?" tanya Alex.
"Mau pindah kamar."
"Kenapa? aku sengaja memesan kamar yang besar supaya kamu nyaman."
"Aku tidak mau satu kamar denganmu, Kak."
"Kenapa? apa kamu takut aku menyakitimu lagi? tenang saja, aku akan tidur di kasur satunya lagi. Aku sengaja memesan kamar dengan double bad karena aku sudah tahu kalau kamu tidak akan mau tidur satu ranjang denganku. Sekarang kamu istirahatlah, karena besok pagi-pagi kita akan menghadiri meeting penting," seru Alex.
***
Keesokan harinya...
Stevi bangun dan berlari ke kamar mandi, dia merasa mual dan muntah di sana. Alex yang mendengar Stevi muntah, langsung menyusul Stevi ke kamar mandi.
"Kamu kenapa?" tanya Alex khawatir.
"Aku tidak apa-apa," lirih Stevi.
Alex memijat tengkuk leher Stevi, Stevi ingin menolak tapi rasanya dia tidak kuat untuk berdebat dengan Alex. Setelah selesai, Stevi pun bangun dan dibantu oleh Alex.
"Sebentar aku pesankan minuman hangat ya untukmu," seru Alex.
Alex dengan cepat menghubungi pelayanan hotel supaya mengantarkan minuman hangat dan makanan ke kamarnya.
"Kalau kamu sakit, kamu tidak usah ikut meeting saja," seru Alex.
"Tidak, meeting itu sangat penting dan aku harus datang," sahut Stevi.
"Tapi kamu kelihatan sedang tidak sehat."
"Jangan sok tahu, aku baik-baik saja," sahut Stevi dingin.
Alex tidak menyangka kalau Stevi wanita yang keras kepala, terlihat sekali kalau saat ini Stevi sedang tidak sehat tapi Stevi berusaha menunjukan kalau dia baik-baik saja.
Tidak lama kemudian pelayanan hotel pun datang dan membawa pesanan Alex.
"Kamu minum teh hangat ini dan sarapan dulu, habis itu minum obat. Aku mau mandi dulu."
Alex mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi, Stevi memperhatikan Alex dan teringat akan ucapannya kemarin yang mengatakan kalau dia sudah mulai jatuh cinta kepada Stevi.
"Apa itu benar? tapi aku tidak mau baper, takutnya Kak Alex hanya main-main saja," batin Stevi.
Setelah sarapan, ternyata membuat Stevi lebih segar dan bertenaga lagi. Stevi pun bergantian masuk ke dalam kamar mandi, sementara itu di kamar hotel Maya terlihat sangat acak-acakan karena Maya ngamuk semalaman.
"Aku semakin membencimu, Stevi. Lihat saja, apa yang akan aku lakukan kepadamu," geram Maya.
Keempatnya sudah siap, mereka pun memesan dua taksi. Alex bersama Maya dan Stevi bersama Thomas, selama dalam perjalanan Stevi tampak diam membuat Thomas tidak berani mengajak Stevi berbicara.
Sedangkan pria yang dari kemarin mengikuti mereka terus saja mengikuti Stevi dan yang lainnya, dia mengambil foto di setiap kesempatan entah untuk apa dan untuk siapa yang jelas pria itu juga menginap di hotel yang sama dengan Stevi.
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di tempat meeting. Stevi terpaksa bersikap mesra dengan Alex karena peserta meeting kebanyakan tahu kalau Alex dan Stevi sudah menikah. Rekan bisnis Bobby berada di mana-mana, bahkan sampai ke luar negeri.
"Astaga, kenapa aku cepat lapar ya, padahal tadi aku sudah sarapan banyak," batin Stevi dengan mengusap perutnya.
"Kamu kenapa?" bisik Thomas.
"Aku lapar."
"Memangnya tadi kamu tidak sarapan dulu?"
Thomas berdiri dan meminta izin kepada semua peserta meeting untuk keluar sebentar bersama Stevi.
"Ayo, Stev," ajak Thomas dengan menarik tangan Stevi.
Alex menatap tajam Thomas, tapi Thomas tidak memperdulikannya. Thomas dan Stevi keluar dari ruangan meeting dan mencari restoran yang dekat dari sana.
"Thomas mau bawa Stevi ke mana?" batin Alex dengan geramnya.
Alex sebenarnya ingin sekali menyusul mereka tapi Maya menahannya karena memang saat itu sedang meeting dan Alex pun mau tidak mau harus tetap diam di sana walaupun hatinya begitu sangat panas melihat Thomas membawa Stevi.