NovelToon NovelToon
Benih Titipan Milik Tuan Marco

Benih Titipan Milik Tuan Marco

Status: tamat
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Anak Genius / Anak Kembar / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:3.3M
Nilai: 5
Nama Author: kenz....567

"Kembalikan benihku yang Kamu curi Nona!"
....
Saat peluru menembus kaki dan pembunuh bayaran mengincar nyawanya, Mora Valeska tidak punya pilihan selain menerima tawaran gila dari seorang wanita tua yang menyelamatkannya untuk mengandung penerus keluarga yang tak ia kenal.

5 tahun berlalu. Mora hidup tenang dalam persembunyian bersama sepasang anak kembar yang tak pernah tahu siapa ayah mereka. Hingga akhirnya, masa lalu itu datang mengetuk pintu. Bukan lagi wanita tua itu, melainkan sang pemilik benih sesungguhnya—Marco Ramirez.

"Benihmu? Aku merasa tak pernah menampung benihmu, Tuan Cobra!" elak Mora, berusaha melindungi buah hatinya.

Marco menyeringai, tatapannya mengunci Mora tanpa ampun. "Kemarilah, biar kuingatkan dengan cara yang berbeda."

Kini, Mora harus berlari lagi. Bukan untuk menyelamatkan diri sendiri, tapi untuk menjaga anak-anaknya dari pria yang mengklaim mereka sebagai miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelarian Dan Tebusan

Malam di Spanyol.

"KEJAR DIA! Jangan biarkan dia lolos!"

Raungan perintah itu memecah kesunyian hutan pinus yang diselimuti kegelapan pekat. Di bawah naungan malam tanpa bulan, terlihat siluet seorang wanita berlari terhuyung-huyung, putus asa. Tangannya dicengkeram erat, berusaha menahan darah segar yang terus menetes membasahi tanah hutan. Peluru bersarang di betisnya, membuat langkahnya terseret paksa dan setiap gerakan menimbulkan rasa sakit yang menyayat.

Namun, di belakangnya, lima sosok pria, para pemburu tanpa ampun masih mengejarnya. Mereka adalah bayangan hitam yang tak terhindarkan, suara sepatu boot mereka berderap seperti hentakan kem4tian yang semakin mendekat.

Napas Mora memburu, terasa seperti api yang membakar paru-parunya. Matanya menyapu sekeliling, mencari celah, pohon yang bisa ia panjat, atau jurang yang bisa ia jadikan persembunyian. Tidak ada. Hutan itu hanya menawarkan kegelapan dan ancaman. Tepat saat ia berpikir dirinya sudah mencapai batasnya, sebuah tangan keriput namun kuat, tiba-tiba menarik lengannya.

"Cepat!" Suara itu berbisik nyaris tak terdengar.

Mora yang terkejut tak sempat melawan. Dalam kegelapan yang pekat, ia diseret menjauh dari jalur pengejaran. Orang tak dikenal itu membawanya masuk ke dalam sebuah rumah kecil yang tersembunyi, seolah menyatu dengan kegelapan hutan. Pintu kayu tipis segera ditutup dan dikunci rapat.

Saat mata Mora perlahan menyesuaikan diri dengan cahaya redup dari lampu minyak di dalam gubuk, ia akhirnya bisa melihat wajah penolongnya, seorang wanita tua dengan mata yang memancarkan kekhawatiran yang tulus.

"Oh, astaga! Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya wanita tua itu dengan nada panik, matanya tertuju pada d4rah di lengan Mora.

Mora menjatuhkan tubuhnya ke lantai kayu yang dingin, kehabisan tenaga. Rasa sakit di kaki dan tangannya tak tertahankan. Ia masih mencengkeram lukanya, berusaha menahan aliran darah yang tak mau berhenti.

Wanita tua itu bergerak cepat dan cekatan, tanpa menunggu jawaban. Ia mengambil kain bersih dari lemari tua dan mendekati Mora yang meringis kesakitan. "Saya akan keluarkan pelurunya. Tahan sebentar, Nak," ucapnya, suaranya tenang dan tegas, seolah ia sudah sering melakukan hal ini.

Tanpa basa-basi, tanpa anestesi, wanita tua itu menggunakan pisau bedah kecil yang entah dari mana ia dapatkan. Ia mulai mengeluarkan benda timah panas itu.

"AARRGHH!"

Pekikan kesakitan Mora memecah kesunyian gubuk. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Wanita tua itu tidak gentar. Gerakannya profesional, cepat, dan presisi. Setelah peluru berhasil dikeluarkan, wanita itu membersihkan luka dengan cairan antiseptik dan dengan terampil membalut lengan Mora dengan kasa steril. Ia melakukan hal yang sama pada kaki Mora.

"Besok pagi, kita ke rumah sakit terdekat. Untuk sekarang, ini belum aman," ucap wanita tua itu, pandangannya mengarah ke pintu, mengisyaratkan bahwa para pengejar masih berada di luar sana.

Mora hanya diam, napasnya masih tersengal-sengal. Ia mengamati setiap tindakan wanita tua itu. Rumah kecil itu sangat sederhana, hanya diisi sebuah ranjang, lemari usang, dan meja kecil. Mora bertanya-tanya, mengapa wanita setua ini tinggal sendirian di tengah hutan terpencil.

"Terima kasih. Terima kasih telah menolongku," ucap Mora pelan, ketika wanita itu kembali menghampirinya dengan segelas air hangat.

Wanita tua itu tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Tentu saja, pertolongan tidak pernah gratis," ucapnya, kalimat yang tiba-tiba membuat Mora tersentak, kewaspadaan instingnya kembali bangkit.

Namun, ketika Mora menatap mata wanita tua itu, ia melihat bayangan kesedihan, putus asa, dan harapan yang samar. Tatapan itu entah mengapa membuat hati Mora bergetar, seolah ia sedang berhadapan dengan jiwa yang sangat rapuh.

"Mereka ada di luar, sedang mencarimu. Saya tidak akan menyerahkanmu pada mereka, asalkan kamu mau membayar saya," ucap wanita tua itu dengan suara rendah dan serius.

"Membayar?" tanya Mora, bingung.

"Saya akan membantu kamu kabur dari negara ini, menyediakan semua yang kamu butuhkan untuk menghilang," wanita tua itu menjelaskan, mendekat dan berbisik, "Tapi dengan satu syarat yang harus kamu penuhi, pinjamkan rahimmu untuk mengandung benih putra saya."

"Apa?!"

Mora terperanjat, syok. Matanya membelalak sempurna, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Permintaan gil4 macam apa ini? Ia, seorang pelarian, diminta menjadi ibu pengganti?

Namun, wanita tua itu tampak berkaca-kaca, kesedihan yang mendalam terpancar dari wajahnya. "Saya telah menolongmu, dan sekarang kamu harus menolong saya. Ada hal yang tidak bisa saya ceritakan saat ini, waktu saya tidak banyak. Besok, kita akan ke rumah sakit, kamu akan bertemu dengan teman saya yang akan melakukan inseminasi bayi tabung ke rahimmu. Tapi tidak kamu lakukan di negara ini,"

Wanita tua itu mencengkeram tangan Mora dengan kekuatan yang mengejutkan. "Saya tahu kamu orang baik. Kamu tidak akan lepas dari perjanjian ini, dari balas budi ini."

Mora terdiam, menatap sorot mata penuh harap dan putus asa dari wanita tua itu. Wajahnya tampak pucat pasi, seperti menanggung ketakutan dan beban yang sangat berat. Secara fisik, Mora bisa saja menyerang wanita tua ini, kabur, dan mencari pertolongan lain. Tetapi, hatinya terikat oleh rasa terima kasih dan balas budi yang tak terhindarkan. Wanita ini telah menyelamatkan nyawanya.

Dengan helaan napas yang sangat berat, pertanda ia menyerahkan nasibnya pada semesta, Mora menganggukkan kepalanya.

"Terima kasih. Terima kasih!" seru wanita tua itu, air mata akhirnya menetes. Ia menggenggam tangan Mora dengan erat. "Siapa namamu, Nak?"

"Mereka memanggilku, Catryn. Tapi nama asliku, Mora," jawabnya pelan.

"Nama yang cantik," Wanita tua itu tersenyum tulus, senyum pertama yang dilihat Mora darinya. "Setelah kamu hamil nanti, pergilah sejauh mungkin dari negara ini. Sembunyikan cucu saya. Terutama, jika bayi itu laki-laki, jangan pernah, jangan pernah membawanya kembali ke negara ini."

.

.

.

.

.

2 bulan kemudian, Amerika Hospital.

"Selamat ya, Mora. Akhirnya bayi tabungnya berhasil! Kamu dinyatakan hamil!"

Ucapan gembira dari Dokter paruh baya itu membuat Mora menatap layar monitor dengan tatapan tak percaya. Ia melihat bintik kecil, pergerakan awal janinnya. Ia tak pernah berpikir akan menjadi seorang ibu. Dunianya selama ini hanya berputar pada kekejaman, kecurangan dan pertumpahan d4rah. Tapi kini, ia akan menjadi seorang ibu, mengandung dua janin yang suci.

"Seperti yang kamu lihat, janinnya kembar," Dokter wanita itu melanjutkan, matanya berkaca-kaca. "Kamu harus menjaganya, oke? Karena ini adalah harta berharganya, harta berharga seseorang yang sudah saya anggap sebagai kakak sendiri. Terima kasih, Mora."

"Dokter," Mora menyela, penasaran. "Di mana Nyonya Lucia?"

Setelah kejadian malam itu, Mora terbang ke Amerika untuk melakukan bayi tabung bersama seorang dokter yang wanita tua itu katakan sebagai temannya. Ia tidak tahu, mengapa wanita yang dirinya panggil dengan sebutan Nyonya Lucia tak ikut bersamanya.

Dokter tersebut menggeleng pelan, raut wajahnya berubah serius. "Saya tidak tahu. Kami putus kontak setelah kita berada di Amerika. Tapi, dia meninggalkan satu pesan penting untukmu, Mora. Tolong dengarkan baik-baik."

Dokter itu mendekat, suaranya dipenuhi peringatan. "Dia berpesan: Jangan dekati keluarga Ramirez. Apapun yang terjadi. Besarkan anakmu dengan penuh tekad dan kekuatan. Setelah itu ... biarkan anakmu kembali ke keluarga besar itu untuk mengambil hak milik mereka."

Mora mengangguk, nama keluarga Ramirez kini terpatri di benaknya sebagai bahaya yang harus dihindari. Ia tidak akan pernah mau memberikan bayi miliknya pada pemilik benih itu, pada keluarga misterius itu. Ya, mungkin ia melanggar kesepakatan. Namun, naluri keibuannya sudah muncul. Jiwanya sebagai seorang ibu tentu tidak mau anaknya terjerumus ke dalam masalah yang tidak mereka ketahui.

"Ramirez ... aku perlu menghindar dari keluarga itu serta ... pria pemilik benih ini," lirihnya, memegang perutnya yang kini menjadi rumah bagi dua nyawa tak berd0sa, siap memulai babak baru hidupnya sebagai seorang ibu pelarian.

_________________________________

Ada action tipis tipis ini🤣

1
M Raihan Afif Siahaan
top markotop
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
langsung kayang kamu Ke langit klo di minum
Rasnah rasnah
astaga aku baca uda serius banget sampai tegang ee sampai diparagraf ini langsung ngakak,,ada2 ajkamu rakael 🤣🤣 ini lebih parah dri rentenir 🤣🤣
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
aku juga gitu kalau musim dingin maka nya klo hujan aku lebih baik didalem rumah sambil selimutan
Hafifah Hafifah
kan emang anaknya Jack yg miriplah
nia maryana
Yaahh ga liat bpakmu🤭🤭
nia maryana
🤣🤣🤣🤣Ga taunya itu bapakmu
nia maryana
🤣🤣🤣
nia maryana
🤣🤣🤣
bundanya anak
lagian duit banyak ,.koq gak ada cemilan atau snack2 dirumah, aneh aja, gak masuk akal, kita yg hdp biasa aja, tp krn punya anak2, selalu sedia camilan dirumah dan anak2 tdk pernah jajan diwarung...
nia maryana
🤭🤭Laka cenang cekali momy ga pelgi lagi
Hafifah Hafifah
ternyata si mora bertabrakan dengan si Marco
nia maryana
🤭🤭🤭Rakael..
nia maryana
🤭🤭Paling suka kalau dah ktemu anak lucu masil cadel
Hafifah Hafifah
wah tabrakan ama siapa nih si mora
Hafifah Hafifah
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Hafifah Hafifah
🤣🤣🤣🤣 lw tau tuh anak adalah anaknya si mora pasti si xyro dengan senang hati jadi tempat penitipan anak
Hafifah Hafifah
jadi xyro yg dititipin raka
Hafifah Hafifah
siapa nih yg dibilang mirip tukang parkir
Dhina Ragil
cpt to..ih tulungi dek Raka..😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!