Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Tamu dari Masa Lalu
Namira turun dari motor gede Ayyan dengan perasaan campur aduk. Rasa pedas seblak level 5 tadi masih membekas di bibirnya, membuatnya sesekali mendesis kecil. Namun, rasa penasarannya jauh lebih besar daripada rasa pedas itu.
"Mas, bibir aku nggak terlalu merah kan? Nanti dikira Abah aku habis tawuran sama cabe," bisik Namira sambil merapikan hijabnya di spion motor.
Ayyan melirik sekilas, lalu menghela napas pendek. "Merah sekali. Makanya kalau dibilangin jangan level lima, ya level lima. Pakai ini," Ayyan menyodorkan masker medis dari saku jaketnya. "Pakai dulu sampai masuk ke dalam, biar tidak terlalu kentara."
"Dih, Mas Ayyan mah nggak solutif! Masa ketemu tamu penting pakai masker, dikira aku lagi flu burung apa?" gerutu Namira, tapi tetap mengambil masker itu dan memakainya dengan terpaksa.
Mereka melangkah menuju ruang tamu utama Ndalem. Suasananya terasa lebih formal dari biasanya. Harum kayu gaharu tercium kuat, tanda bahwa tamu yang datang memang bukan orang sembarangan. Di sana, Abah Kyai sudah duduk berbincang dengan seorang pria muda berpakaian necis—setelan jas tanpa dasi yang terlihat sangat mahal.
"Nah, ini dia putra saya, Ayyan, dan istrinya, Namira," ucap Abah Kyai menyambut kedatangan mereka.
Pria itu berdiri. Begitu ia berbalik dan membuka kacamata beningnya, langkah Namira mendadak terhenti. Matanya membelalak di balik masker.
"R-Randi?" gumam Namira pelan, suaranya teredam masker tapi cukup jelas untuk membuat Ayyan menoleh dengan tatapan menyelidik.
Pria bernama Randi itu tersenyum lebar, senyum yang terlihat sangat percaya diri—atau lebih tepatnya, menantang. "Lama tidak jumpa, Namira. Oh, maaf... maksud saya, Ning Namira."
Ayyan merasakan ada aura yang tidak beres. Ia segera menggeser posisinya, berdiri sedikit lebih maju di depan Namira, seolah membangun benteng pelindung yang tak kasat mata.
"Mari duduk dulu," potong Ayyan dengan suara baritonnya yang dingin dan berwibawa. Tatapannya lurus mengunci mata Randi.
"Jadi, Nak Randi ini adalah putra dari Bapak Surya, pengusaha properti yang berniat mewakafkan sebagian tanahnya untuk pembangunan asrama baru di sini," jelas Abah Kyai dengan nada tenang, tidak menyadari ketegangan yang mulai memercik.
"Betul, Kyai. Tapi selain urusan wakaf..." Randi melirik Namira yang duduk gelisah di samping Ayyan, "...saya juga ingin memastikan kalau 'sahabat lama' saya ini bahagia di sini. Karena jujur saja, berita pernikahannya cukup mengejutkan bagi lingkungan kami di Jakarta dulu."
Namira meremas ujung gamisnya. Jiwa bawelnya mendadak terkunci. Randi adalah masa lalu yang ingin ia lupakan—pria yang dulu pernah mencoba melamarnya dengan kemewahan namun ditolak mentah-mentah karena sifatnya yang sombong.
"Bahagia atau tidaknya istri saya, adalah tanggung jawab saya sepenuhnya di hadapan Allah," sahut Ayyan tajam. "Dan sejauh yang saya tahu, istri saya sangat menikmati hidupnya di sini. Benar kan, Sayang?"
Ayyan sengaja menekankan kata 'Sayang' sambil meletakkan tangannya di atas punggung tangan Namira yang gemetar. Namira tersentak. Ini pertama kalinya Ayyan memanggilnya begitu di depan orang lain!
"I-iya! Mas Ayyan bener banget! Aku bahagia banget kok, apalagi kalau jajan seblaknya nggak dilarang-larang," jawab Namira cepat, mencoba mengembalikan kepercayaan dirinya meski suaranya agak cempreng karena grogi.
Randi terkekeh sinis. "Seblak? Kamu masih suka makanan pinggiran itu, Namira? Saya pikir setelah jadi istri Gus, seleramu akan naik sedikit."
Mendengar kata "pinggiran", jiwa "senggol bacok" Namira langsung bangkit. Ia menarik maskernya ke bawah dagu, memperlihatkan bibirnya yang masih merah membara.
"Heh, Randi! Biar kata pinggiran, seblak itu punya filosofi! Pedasnya bikin jujur, kerupuknya bikin sabar! Daripada kamu, selera tinggi tapi hobi gangguin istri orang pakai kirim bunga mawar nggak jelas!" semprot Namira tanpa rem.
Ruang tamu mendadak hening.
Abah Kyai berdehem kecil, terkejut. Ayyan hampir saja tersedak harga dirinya sendiri, namun dalam hati ia merasa bangga melihat istrinya kembali mode "galak".
"Oh... jadi kamu yang mengirim 100 buket bunga itu?" tanya Ayyan. Suaranya kini tidak lagi dingin, tapi sudah berada di level membekukan.
Randi menyandarkan tubuhnya ke kursi jati, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Ia malah tersenyum tipis sambil merapikan jam tangan mahalnya.
"Hanya sekadar ucapan selamat, Gus. Saya dengar Namira sekarang jadi influencer besar. Bukankah wajar kalau penggemar lama memberi apresiasi?" ujar Randi enteng, matanya masih saja melirik Namira dengan cara yang membuat Ayyan tidak nyaman.
Ayyan memperbaiki posisi duduknya, aura "singa podium"-nya mulai keluar. "Apresiasi itu baik jika tempat dan caranya tepat. Tapi mengirim bunga tanpa nama ke kampus istri orang, dengan pesan yang provokatif... di tempat kami, itu namanya kurang adab."
Wajah Randi sedikit berubah saat mendengar kata 'kurang adab'. Ia tidak menyangka ustadz muda di depannya ini bisa bicara sefrontal itu.
Abah Kyai yang mulai menangkap situasi tidak enak ini segera menengahi. "Sudah, sudah. Nak Randi, soal wakaf tanah itu tentu kami terima dengan tangan terbuka untuk kemaslahatan santri. Tapi soal urusan pribadi, sepertinya sudah cukup jelas ya?"
"Tentu, Kyai," jawab Randi sambil berdiri. Ia menatap Namira lekat-lekat. "Saya pamit dulu. Oh ya Namira, dres yang kamu posting di medsos kemarin... sangat cantik. Cocok kalau dipakai di acara pembukaan hotel baru Papa bulan depan. Datang ya?"
Namira baru saja mau membuka mulut untuk membalas dengan kalimat pedas, tapi tangan Ayyan yang besar sudah merangkul bahunya dengan protektif.
"Insyaallah, kalau saya ada waktu untuk mengantar istri saya," sahut Ayyan pendek, menutup segala celah bagi Randi.
Setelah Randi keluar dari ndalem diantar oleh salah satu santri, suasana hening sejenak. Abah Kyai hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Namira, kamu kenal baik dengan Nak Randi itu?" tanya Abah lembut.
Namira meringis, rasa takutnya muncul lagi kalau-kalau Abah marah. "Dulu temen satu organisasi pas masih di Jakarta, Bah. Tapi dia emang agak... ya gitu deh, Bah. Suka maksa. Mira nggak pernah nanggepin kok, beneran!"
Abah Kyai tersenyum. "Ya sudah, tidak apa-apa. Ayyan, jaga istrimu baik-baik. Sepertinya 'ujian' untuk kamu bukan cuma hafalan kitab, tapi juga menjaga perhiasan dunia yang satu ini," goda Abah sambil melirik Namira.
Ayyan mengangguk takzim. "Nggih, Bah. Ayyan pamit bawa Namira kembali ke kamar."
Begitu pintu kamar tertutup, Namira langsung melepaskan kerudungnya dengan gerakan heboh. Ia segera berbalik menatap Ayyan yang sedang melepas kacamata hitamnya di depan meja rias.
"Mas! Mas Ayyan tadi lihat kan?! Si Randi itu emang nyari gara-gara banget! Mas nggak marah kan sama aku?" tanya Namira bertubi-tubi sambil mengekor di belakang Ayyan.
Ayyan diam saja. Ia berjalan menuju lemari, mengambil baju ganti.
"Mas? Kok diem? Ih, jangan mode kulkas lagi dong! Tadi di depan Randi keren banget panggil aku 'Sayang', kok sekarang jadi beku lagi?" Namira menarik-narik lengan baju Ayyan, bibirnya sudah maju lima senti.
Ayyan berhenti melangkah, lalu berbalik tiba-tiba sehingga Namira hampir menabrak dada bidangnya. Ayyan menatap Namira dengan tatapan yang sulit diartikan—antara cemburu dan gemas.
"Jadi... siapa lagi yang belum saya tahu?" tanya Ayyan rendah.
"Maksudnya?" Namira mengerjap polos.
"Randi, si pengirim bunga, fans di TikTok... berapa banyak laki-laki yang harus saya hadapi setiap hari, Namira?" Ayyan melangkah maju, membuat Namira mundur sampai punggungnya membentur pintu lemari.
Namira menelan ludah. "Ya... ya kan itu resiko punya istri cantik dan imut kayak aku, Mas. Lagian kan aku milihnya Mas Ayyan, bukan mereka!"
Ayyan meletakkan kedua tangannya di lemari, mengurung tubuh mungil Namira. Aroma parfum kayu cendana dari tubuh Ayyan mulai membuat Namira salah tingkah.
"Tapi saya tidak suka milik saya diganggu," bisik Ayyan tepat di depan wajah Namira. "Apalagi sampai mengirim bunga dan memuji dres yang kamu pakai."
Namira malah nyengir, rasa takutnya hilang berganti rasa ingin menggoda suaminya. "Ciye... Mas Ayyan cemburu ya? Mengakulah wahai Gus-ku yang tampan!"
Ayyan membuang muka, mencoba menyembunyikan senyum yang hampir pecah. "Tidak. Saya cuma... menjaga kewibawaan."
"Halah! Bohong! Tadi aja panggil 'Sayang' di depan Abah. Coba panggil lagi sekarang kalau berani!" tantang Namira sambil menaikkan alisnya.
Ayyan menatap mata lentik Namira lama. Suasana mendadak jadi sangat romantis dan intens. Ayyan mendekatkan wajahnya, membuat jantung Namira berdegup kencang seperti mau copot.
"Sayang," ucap Ayyan lembut, suaranya terdengar sangat tulus di telinga Namira.
Namira mematung. Wajahnya yang tadi sudah merah karena seblak, sekarang makin merah karena baper maksimal. "I-iya, Mas?"
"Besok-besok, kalau ada yang kirim bunga lagi..." Ayyan menggantung kalimatnya.
"Kenapa? Mas mau buang?"
"Bukan. Saya yang akan beli toko bunganya, biar kamu tidak perlu menerima pemberian dari orang lain," ucap Ayyan dengan wajah datar, tapi kata-katanya membuat Namira ingin berteriak kegirangan.
"MAS AYYAN! SEJAK KAPAN JADI SULTAN GOMBAL BEGINI?!" teriak Namira sambil memukul lengan Ayyan pelan.
Ayyan terkekeh, akhirnya tawanya pecah juga. Ia mengacak puncak kepala Namira yang masih tertutup ciput. "Sudah, cepat hapus bumbu seblak di bibirmu itu. Kita harus lanjut setoran kitab Jurumiyah. Ingat janji tadi?"
Namira langsung lemas. "Yah... baru juga mau baper-baperan, udah balik ke Jurumiyah lagi. Bisa nggak seblaknya di-refund aja biar nggak usah setoran?"
"Tidak bisa. Satu setengah bab, atau dres impianmu saya simpan di gudang," ancam Ayyan sambil tersenyum kemenangan.
"IHHH JAHAT BANGET!"