Xiao Chen kehilangan seluruh keluarganya akibat sebuah rumor tentang Buku Racun Legendaris yang sebenarnya tidak pernah ada. Keserakahan sekte-sekte besar dan para pendekar buta membuat darah tak bersalah tumpah tanpa ampun.
Dihantam amarah dan keputusasaan, Xiao Chen bersumpah membalas dendam. Ia menapaki jalan terlarang, memilih menjadi pendekar racun yang ditakuti dunia persilatan.
Jika dunia hancur karena buku racun yang tak pernah ada, maka Xiao Chen akan menciptakannya sendiri—sebuah kitab racun legendaris yang lahir dari kebencian, kematian, dan dendam abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Sumpah di Atas Pusara
Kegelapan perlahan memudar, digantikan oleh cahaya matahari yang menusuk kelopak mata Xiao Chen yang bengkak.
Rasa sakit yang tajam menghantam dadanya setiap kali ia mencoba menarik napas. Ingatan tentang kejadian kemarin menghantamnya seperti gelombang pasang—pedang raksasa, bau amis darah, dan kepala ayahnya yang diam membeku.
Xiao Chen tersentak bangun, namun tubuhnya yang remuk memaksanya kembali terjerembap ke tanah yang dingin.
"Ibu... Ayah..." bisiknya dengan suara parau yang nyaris tidak terdengar.
Ia menoleh ke samping. Mayat kedua orang tuanya masih di sana, kini sudah dikerubungi lalat di bawah terik matahari yang mulai meninggi.
Kehangatan yang ia rasakan dua hari lalu kini telah berubah menjadi pemandangan yang menghancurkan jiwa. Xiao Chen menangis tanpa suara; air matanya sudah mengering, menyisakan perih yang membakar.
Dengan menyeret kakinya yang mati rasa, Xiao Chen merangkak. Ia tidak boleh membiarkan orang tuanya seperti ini. Dengan tangan kosong dan sebilah kayu patah, ia mulai menggali tanah di belakang rumah mereka yang kini telah hancur.
Kuku-kukunya pecah dan berdarah. Ujung jarinya terkelupas karena menghantam akar pohon dan batu keras, namun Xiao Chen seolah tidak merasakan sakit lagi. Rasa sakit di hatinya jauh lebih mematikan.
Setelah berjam-jam menggali hingga matahari hampir terbenam, dua liang lahat yang dangkal akhirnya selesai. Satu per satu, ia mengumpulkan potongan tubuh orang tuanya dengan gemetar, membungkus mereka dengan kain sisa tirai rumah yang masih utuh.
"Ayah, Ibu... maafkan aku. Aku belum bisa memberikan pemakaman yang layak," ucapnya sambil menimbun tanah sedikit demi sedikit.
Di atas gundukan tanah itu, ia menancapkan papan kayu sederhana tanpa nama. Ia tidak ingin para pembunuh itu kembali dan merusak tempat peristirahat terakhir orang tuanya jika mereka tahu siapa yang dikubur di sana.
Xiao Chen berlutut, bersujud hingga dahinya menyentuh tanah yang masih basah.
"Dunia ini tidak mengenal belas kasihan bagi mereka yang lemah," gumamnya dengan nada yang dingin, jauh berbeda dari suaranya yang ceria kemarin. "Mereka membunuh demi sebuah buku kosong. Maka, aku akan mengisi kekosongan itu dengan nyawa mereka."
Xiao Chen kembali ke puing-puing rumahnya. Di sana, ia menemukan buku kosong yang sempat dibuang oleh para pendekar sekte besar itu. Buku itu kini kotor terkena noda darah ibunya. Ia memungutnya dan mendekapnya erat.
Ia sadar, ia tidak memiliki bakat bela diri yang luar biasa untuk mengalahkan ribuan pendekar dengan pedang. Namun, ia teringat kata-kata ayahnya tentang Kitab Racun. Jika pedang tidak bisa menjangkau mereka, maka racun akan merayap ke dalam darah mereka tanpa mereka sadari.
Tanpa bekal apa pun selain dendam dan buku kosong itu, Xiao Chen mulai berjalan meninggalkan desa. Langkahnya pincang, namun matanya menatap tajam ke arah hutan terlarang yang dikenal sebagai Lembah Kabut Beracun—tempat di mana tanaman paling mematikan tumbuh, dan tempat di mana tidak ada manusia normal yang berani menginjakkan kaki.
"Untuk menjadi ahli racun, aku harus menjadi racun itu sendiri." bisiknya pada diri sendiri.
Sepanjang perjalanan, ia mulai memperhatikan alam dengan cara yang berbeda. Ia melihat serangga yang mati setelah menggigit daun tertentu, atau jamur yang mengeluarkan uap berwarna keunguan. Ia mulai mencatat setiap detail kecil itu di dalam pikirannya.
Xiao Chen tahu, perjalanannya akan sangat panjang dan menyakitkan. Ia harus belajar bagaimana mengekstrak maut dari tumbuhan, bagaimana mencampur kegelapan menjadi cairan, dan bagaimana bertahan hidup di dunia yang ingin melihatnya mati.
Di bawah rembulan yang pucat, sosok kecil Xiao Chen menghilang ke dalam kegelapan hutan. Dunia mungkin telah kehilangan seorang anak petani yang malang, tapi malam itu, dunia melahirkan seorang monster yang akan menghantui setiap sekte di masa depan.
Silat Nusantara • Kultivasi • Dunia Purba • Dimensi
MC tidak naif.
Kekuatan dibangun dari raga, napas, dan kehendak.
👉 Jika suka progres nyata & cerita panjang,
jangan lupa favorit & komentar.