kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SABOTASE
Melihat reaksi Vion, Von Gardo segera meredakan tawa kecilnya, meski matanya masih menunjukkan binar geli. Ia bisa menebak bahwa Vion sedang mengomelinya.
"Tidak, Vion, jangan salah paham," ucap Von Gardo sembari mengambil kembali botol kulit yang telah kosong.
"Sejak Pangeran Alaric lahir hingga ia mencapai usia yang sama denganku sekarang, aku belum pernah sekali pun melihatnya bekerja sekeras ini. Baru kali ini ada pemandangan seperti ini, dan itu pun... kau yang melakukannya, bukan Yang Mulia Pangeran Alaric yang asli."
"Cckk," Vion berdecak kesal. Ia menarik satu kakinya ke atas kursi kayu itu, duduk dengan gaya santai yang sama sekali tidak mencerminkan tata krama bangsawan.
"Tuanmu yang manja itu wajib bilang terima kasih padaku. Kalau bukan karena aku, raga ini sudah jadi mayat di hutan tadi."
Keheningan sesaat menyelimuti mereka. Saat Vion menoleh, ia terkekeh kecil mendapati wajah Von Gardo yang berkerut dalam, tampak sangat bingung mencoba menerjemahkan istilah-istilah aneh yang keluar dari mulut Vion.
"Maksudku," Vion memperbaiki kalimatnya dengan nada lebih tenang,
"besok, jika jiwa Pangeran Alaric kembali ke raga ini dan aku pulang ke duniaku, dia harus mengucapkan terima kasih karena aku sudah melatih otot-ototnya yang lembek ini."
Mendengar penjelasan yang lebih masuk akal itu, Von Gardo mengulas senyum tipis yang tulus. "Itu sudah pasti, Vion. Dia berhutang nyawa padamu."
Tak lama kemudian, Master Hephaestus muncul di ambang pintu, membawa aroma harum rebusan daging yang menggugah selera.
"Sudah cukup bicaranya. Masuklah dan makan, hidangan sudah siap di atas meja."
Seruan lantang dari dalam pondok membuat Vion dan Von Gardo saling lempar pandang sejenak, sebelum akhirnya mereka bergegas bangkit dan melangkah masuk ke dalam bangunan batu yang pengap itu.
Sementara itu, di jalur setapak hutan yang jauh dari pondok, tujuh ksatria pengawal kiriman Von Gardo sedang memacu kuda mereka dengan fokus penuh. Debu beterbangan di bawah derap kaki kuda yang kencang.
Namun, tiba-tiba mereka menarik kekang hingga kuda-kuda itu meringkik keras; di depan sana, sekelompok orang bersenjata telah menutup jalan.
Wajah para penghadang itu tertutup kain gelap, dan di tangan mereka tergenggam pedang panjang yang berkilat tertimpa cahaya bulan. Tak ada kata-kata, tak ada peringatan.
Pertempuran pecah seketika. Denting baja yang beradu memecah kesunyian malam. Awalnya, jumlah mereka seimbang, dan para pengawal Von Gardo mulai mendominasi.
Namun, saat kemenangan hampir diraih, bala bantuan musuh muncul dari balik pepohonan bagaikan hantu.
Dengan gerakan yang anggun namun mematikan, Lady Elara muncul di tengah kekacauan. Ia dan pasukan elit pilihannya menghabisi sisa-sisa pengawal tersebut tanpa ampun. Darah merembes ke tanah hutan yang dingin.
"Silakan, My Lady," ucap Cedric, tangan kanan setianya, sembari membungkuk hormat di tengah hamparan musuh yang telah tumbang.
Cedric, ksatria bayangan itu, berlutut dengan satu kaki sembari menyerahkan gulungan perkamen yang baru saja ia rampas dari saku jubah salah satu pengawal Von Gardo yang tewas.
Lady Elara membuka segel surat itu perlahan. Sepasang matanya yang tajam menyapu setiap baris kalimat dengan serius di bawah temaram cahaya obor. Sesaat kemudian, ia meremas perkamen berharga itu hingga hancur dalam genggamannya.
"Jadi, pangeran lemah itu sedang bersembunyi di suatu tempat," gumamnya dengan nada suara yang bergetar karena kebencian yang mendalam.
"Sial. Dia cukup cerdik untuk tidak menuliskan lokasi persisnya di surat ini."
Elara melangkah pelan di atas tanah yang masih basah oleh darah, otaknya mulai merajut rencana baru yang lebih licik.
Satu tangannya bergerak perlahan, memainkan ujung rambut panjangnya yang tergerai melewati bahu jubah beludrunya.
"My Lady," Cedric mendekat dengan suara rendah yang licin.
"Mengapa kita tidak mengganti saja isi surat ini? Kita tulis ulang pesannya seolah-olah sang Pangeran sedang disekap oleh pemberontak. Biarkan Raja Valerius di Istana Valerius kalang kabut dan kehilangan akal sehatnya memikirkan putra mahkota tercintanya yang hilang."
"Aku juga sedang memikirkan hal yang sama, Cedric. Mari kita kembali ke penginapan untuk menyiapkan segalanya," ucap Lady Elara dengan senyum kemenangan.
Beberapa hari kemudian, sebuah surat dengan segel kerajaan yang telah dipalsukan sampai ke tangan Raja Valerius di Istana Valerius. Isi surat itu sangat menyayat hati:
“Ayahanda, aku kini terjebak dalam pelarian. Aku tidak mengenali wilayah hutan Utara ini dengan baik. Aku sempat disergap oleh sekelompok bandit di perbatasan. Mereka menyerang kami dengan brutal; Von Gardo tertangkap dan seluruh pengawal setia kita telah tewas di ujung pedang mereka.
Saat ini aku berada di sebuah tempat persembunyian yang aman, namun aku tidak bisa kembali karena jalur keluar dikepung. Jika Ayahanda masih mengasihi nyawaku, kirimkanlah pasukan kecil untuk menjemputku di penginapan 'The Iron Crow' sebelum mereka menemukanku. — Alaric.”
Usai membaca surat palsu tersebut, Raja Richard beranjak dari tahta kebesarannya dengan tubuh gemetar. Kedua matanya menyiratkan rasa khawatir yang teramat sangat.
Ia membayangkan putra mahkotanya, Alaric, yang lemah dan tidak bisa bela diri, kini harus meringkuk ketakutan di sebuah penginapan kumuh sementara para penjahat mengintai nyawanya.
"Kepala Pelayan! Jenderal!" teriak sang Raja dengan suara menggelegar, memenuhi aula istana yang dingin.
"Tentu, Yang Mulia Baginda Raja," sahut sang Kepala Pelayan Istana, berdiri di samping takhta dengan tubuh yang membungkuk rendah penuh takzim.
"Panggil Jenderal Cedric Wen ke aula utama sekarang juga!" perintah Raja Richard dengan suara yang tak terbantahkan.
"Segera, Yang Mulia," patuh sang pelayan. Ia melangkah mundur dengan teratur, lalu bergegas meninggalkan aula istana yang luas itu.
Jenderal Cedric Wen sebenarnya adalah wakil dari Von Gardo. Namun, sejak Von Gardo ditugaskan menjadi ksatria pelindung pribadi Pangeran Alaric, posisi komando pasukan utama diserahkan sementara kepada Cedric Wen.
Sebelum Von Gardo berangkat seminggu yang lalu, ia telah menyerahkan Plat Singa Emas—sebuah medali otoritas tinggi yang berfungsi untuk mengendalikan seluruh garnisun prajurit di Istana Valerius.
"Hamba menghadap, Yang Mulia Baginda Raja," ucap Jenderal Cedric Wen dengan suara lantang, berlutut dengan satu kaki tepat di hadapan Raja Valerius yang tampak gusar.
"Berdirilah," sahut sang Raja dengan cepat, tak sabar menunggu protokol formalitas.
"Terima kasih, Yang Mulia."
"Siapkan pasukan ksatria terbaikmu. Kirim mereka ke wilayah Utara sekarang juga untuk menjemput Putra Mahkota di sana!" perintah Raja Valerius sembari meremas pinggiran kursi takhtanya.
"Jangan kembali sebelum putraku berada dalam perlindungan pedangmu."
Kening Jenderal Cedric Wen berkerut dalam, rasa heran yang besar menyelimuti pikirannya. Ia ingat betul saat Von Gardo berpamitan malam itu di barak ksatria; mereka seharusnya menuju ke arah selatan, ke wilayah Hutan Blackwood, bukan ke Utara menuju wilayah dingin Northumbria. Namun, isi surat ini mengatakan hal yang sebaliknya.
"Seseorang telah dengan sengaja menggiring Alaric ke sana," lanjut Raja Valerius dengan nada getir, seolah bisa membaca keraguan di wajah jenderalnya.
Cedric Wen membungkuk hormat terlebih dahulu sebelum memberanikan diri untuk bersuara.
"Yang Mulia, bukankah Putra Mahkota pergi dengan dikawal ketat oleh Ksatria Agung Von Gardo? Bagaimana mungkin mereka bisa berada di wilayah yang salah?"
"Mereka terpisah," jawab Raja dengan suara yang berat, seolah menahan beban yang sangat besar di d**anya.
Jawaban sang Raja membuat kedua mata Cedric Wen membelalak sempurna. Ia terperangah, nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Terpisah? Bagaimana mungkin seorang ksatria sekelas Von Gardo—pria yang telah ia ikuti selama puluhan tahun dan dikenal sebagai 'Dinding Hidup' kerajaan—bisa membiarkan dirinya terpisah dari pangeran yang seharusnya ia lindungi?
"Itu benar-benar tidak mungkin..." gumam Cedric Wen dalam hati. Ia tahu betul loyalitas dan kemampuan Von Gardo.
Jika mereka terpisah, itu artinya terjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar serangan bandit biasa. Ada pengkhianatan yang lebih besar di balik semua ini.