NovelToon NovelToon
Kehidupan Yang Tercuri

Kehidupan Yang Tercuri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Misteri / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Mata Batin
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.

Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Lampu Hijau Kebiruan

Arlan terhuyung keluar dari pintu samping restoran, menekan telapak tangannya ke dinding bata yang terasa sedingin es. Rasa mual akibat aroma polimer dan pemandangan jamuan memori masih mengaduk isi perutnya. Namun, begitu ia mengangkat wajah dan menatap jalanan, rasa sakit yang berbeda menyerang indranya. Penglihatannya seperti dihantam oleh ribuan jarum cahaya yang salah arah.

"Sial," desis Arlan, memejamkan mata erat-erat. Air mata mulai mengalir secara paksa, bukan karena duka, melainkan karena iritasi akut.

"Arlan? Apa yang terjadi? Detak jantungmu meningkat drastis," suara Dante di alat komunikasinya terdengar khawatir.

"Mataku... langitnya, Dante. Apa yang mereka lakukan pada lampunya?" Arlan mencoba membuka mata sedikit demi sedikit.

Dunia yang ia kenal telah kehilangan kehangatannya. Lampu-lampu merkuri yang biasanya berpendar putih kekuningan kini memancarkan spektrum hijau-kebiruan yang tajam dan asing. Cahaya itu seolah menghisap semua saturasi warna dari benda-benda di sekitarnya. Mantel cokelatnya kini tampak seperti abu-abu mati, dan bayangannya di aspal terlihat berwarna ungu gelap yang tidak alami.

"Itu aberasi kromatik sistematis, Arlan. Mereka baru saja mengaktifkan filter spektrum baru di seluruh distrik pusat. Para Peniru tidak bisa melihat dengan baik dalam cahaya spektrum manusia, jadi mereka mengubah atmosfer kota agar sesuai dengan mata perak mereka," jelas Dante dengan nada dingin yang teknis.

"Ini menyakitkan, Dante. Rasanya seperti melihat dunia melalui genangan air raksa."

"Gunakan filter lensa polarisasi di saku dalam tas kurirmu. Aku sudah memodifikasinya dengan lapisan anti-frekuensi. Itu akan mengunci saturasi warna asli dan menetralkan cahaya merkuri itu. Cepat, sebelum korneamu rusak permanen."

Arlan merogoh tasnya dengan tangan gemetar. Ia menemukan sebuah kotak kecil berisi lensa tipis yang tampak gelap. Dengan sisa-sisa koordinasi motoriknya, ia memasang lensa itu pada matanya. Seketika, rasa perih itu mereda. Dunia di balik lensa itu kembali memiliki warna—meskipun sedikit redup—memungkinkan Arlan melihat kenyataan di balik kabut hijau yang menyesakkan.

Gema di Balik Air Mancur

Arlan berjalan menyusuri trotoar menuju taman kota, berusaha tidak menarik perhatian patroli yang mulai berlalu-lalang. Di bawah cahaya hijau-kebiruan itu, para patroli tanpa wajah tampak lebih menakutkan; siluet mereka terlihat seperti lubang hitam di tengah cahaya yang berpendar. Arlan teringat bagaimana sebelumnya ia harus menggunakan trik audit suhu untuk melumpuhkan satpam yang mengejarnya di apartemen, namun sekarang, ancamannya jauh lebih masif.

Taman kota tampak sunyi. Kabut tipis yang berbau ozon menyelimuti bangku-bangku taman. Arlan melangkah menuju pusat taman, tempat sebuah air mancur tua masih memancarkan air yang terdengar statis karena fenomena hampa akustik di area tersebut.

Di sana, di bangku yang menghadap kolam, seorang gadis duduk sendirian. Ia mengenakan gaun tipis berwarna pucat, rambutnya tergerai menutupi sebagian wajahnya. Arlan berhenti beberapa meter di belakangnya. Ia melihat sesuatu yang aneh pada pantulan gadis itu di air kolam.

"Jangan terlalu lama menatap pantulanku, Arlan. Itu bisa membuat kepalamu pusing," suara gadis itu lembut, namun bergetar seperti dawai yang ditarik terlalu kencang.

Arlan tertegun. "Kau... kau tahu namaku?"

Gadis itu menoleh perlahan. Matanya besar, namun tampak lelah, seolah ia telah melihat terlalu banyak hal yang tidak seharusnya dilihat oleh manusia. "Aku mendengar langkahmu sejak kau berada di gerbang restoran. Langkahmu berisik, penuh dengan amarah dan sisa rasa mual."

"Siapa kau?" Arlan mendekat, tangannya secara insting meraba koin perak di sakunya.

"Namaku Mira. Dan kau... kau adalah orang yang membawa koin-koin itu, kan? Koin yang berisi suara-suara yang mereka coba bungkam."

Arlan menatap pantulan Mira di air. Di sana, ia melihat sebuah fenomena yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang mencapai ambang frekuensi tertentu. Bayangan Mira di air tidak bergerak selaras dengan tubuh aslinya. Ada jeda sekitar dua detik. Saat Mira mengedipkan mata, bayangannya di air masih menatap Arlan dengan mata terbuka lebar.

"Kau seorang Echo Seer," gumam Arlan, teringat penjelasan Dante tentang orang-orang yang mampu melihat sisa-sisa realitas yang tertinggal.

"Dan kau adalah Kurir yang tersesat," Mira tersenyum pahit. "Lihatlah lampu-lampu itu, Arlan. Mereka menyebutnya kemajuan. Tapi bagiku, itu adalah cara mereka menghapus jejak kaki kita dari bumi."

Dialog dalam Spektrum yang Salah

"Kenapa kau ada di sini sendirian? Tempat ini tidak aman," tanya Arlan, duduk di ujung bangku yang sama, menjaga jarak aman.

"Keamanan adalah ilusi yang mereka jual di restoran tadi, bukan?" Mira menunjuk ke arah gedung restoran di kejauhan dengan dagunya. "Aku di sini karena di taman ini, gema dari masa lalu masih terasa hangat. Kau bisa merasakannya?"

Arlan mencoba memfokuskan indranya. Di tengah suhu yang dingin akibat endotermik lokal yang diciptakan oleh sistem kota, ia merasakan sedikit kehangatan yang samar dari arah air mancur. "Sedikit. Seperti sisa panas dari sebuah pelukan."

Mira mengangguk. "Itu adalah memori kolektif yang terjebak di molekul air. Para Peniru tidak bisa menghapusnya sepenuhnya karena air memiliki memori sendiri. Itulah sebabnya bayangan kita di sini selalu tertinggal. Air menolak untuk menyalin kebohongan mereka dengan cepat."

"Dante mengirimku untuk menemuimu. Dia bilang kau bisa membantuku melihat apa yang tidak bisa ditangkap oleh lensa ini," Arlan menyentuh pinggiran matanya.

"Dante selalu bicara tentang 'melihat'. Tapi masalahnya bukan pada matamu, Arlan. Masalahnya ada pada hatimu. Kau masih mencoba memproses dunia ini sebagai tempat yang bisa diperbaiki," Mira menatap Arlan dengan tajam. "Dunia ini tidak sedang rusak. Dunia ini sedang diganti."

Tiba-tiba, suara dengung rendah terdengar dari langit. Sebuah drone pemindai milik faksi penyusup melintas di atas taman, menyorotkan cahaya merkuri yang pekat ke bawah.

"Tahan napasmu, Arlan! Sinkronkan dengan napas manual," bisik Mira dengan nada mendesak.

Arlan segera mengatur dadanya agar tidak bergerak. Ia merasakan panas dari sorotan lampu drone itu menyapu punggungnya. Melalui lensa polarisasinya, ia melihat bagaimana cahaya itu mencari tanda-tanda panas biologis.

"Kenapa mereka mencarimu?" tanya Arlan setelah drone itu menjauh.

"Mereka tidak mencariku. Mereka mencari 'anomali'. Dan di kota yang dicat dengan warna hijau ini, menjadi manusia yang masih bisa berdarah adalah sebuah anomali terbesar."

Arlan menatap tangannya yang tampak keabu-abuan di bawah cahaya lampu. Ia teringat luka lama yang ia temukan pada dirinya untuk membuktikan identitas aslinya. "Lalu apa langkah kita? Aku tidak bisa terus bersembunyi di balik lensa ini."

"Kita harus pergi ke tempat di mana cahaya ini tidak bisa menjangkau. Ke tempat di mana kata-kata masih memiliki berat," Mira berdiri, gerakannya anggun namun terlihat rapuh. "Tapi sebelum itu, kau harus membuktikan padaku bahwa kau bukan sekadar kurir yang membawa barang. Kau harus membuktikan bahwa kau sanggup memikul duka yang ada di dalam koin-koin itu."

Arlan terdiam, merasakan berat dua koin perak di balik kain mantelnya. Pertanyaan Mira bukan sekadar tantangan, melainkan sebuah peringatan tentang harga yang harus dibayar untuk sebuah kebenaran. Di sekitar mereka, taman kota semakin terasa mencekam; pepohonan yang tersiram cahaya hijau-kebiruan tampak seperti instalasi kawat berduri yang kaku.

"Aku sudah melihat mereka yang 'menguap', Mira," ucap Arlan, suaranya parau. "Aku melihat seorang gadis bernama Laila menjadi residu perak di lantai gudang. Jika duka adalah syaratnya, maka aku sudah tenggelam di dalamnya sejak lama."

Mira mendekat, langkahnya tidak menimbulkan suara di atas rumput yang kini terasa seperti karpet sintetis. "Melihat kematian adalah satu hal, Arlan. Merasakan kehidupan yang mereka tinggalkan adalah hal lain. Koin itu... mereka bukan sekadar data. Mereka adalah bagian dari jiwa yang tidak sempat pamit."

"Lalu apa yang kau inginkan dariku? Dante bilang kau punya akses ke frekuensi yang tidak bisa dijangkau radio kami," Arlan menatap mata Mira yang kini tampak berkaca-kaca di bawah filter lensa polarisasinya.

"Aku ingin kau mendengarkan apa yang tidak terdengar. Di taman ini, di bawah lampu yang menyakitkan ini, ada sebuah pesan yang tertinggal dari ayahmu."

Jantung Arlan berdegup kencang. Nama itu selalu menjadi luka terbuka dalam ingatannya. "Ayahku? Bagaimana kau bisa tahu tentang dia?"

"Dia adalah salah satu dari sedikit orang yang tahu bahwa kota ini sedang dikuliti. Sebelum dia hilang dalam kebakaran tahun dua ribu dua belas, dia meninggalkan sesuatu di bawah air mancur ini. Sebuah frekuensi yang terkunci," Mira mengulurkan tangannya, menunjuk ke arah pusat kolam.

Frekuensi yang Terkubur

Arlan melangkah perlahan menuju tepian air mancur. Ia berlutut di atas semen dingin yang permukaannya mulai retak, menunjukkan pola yang tidak alami—seolah bangunan ini adalah organisme yang sedang sakit. Ia mencelupkan tangannya ke dalam air. Dinginnya air itu bukan lagi dingin alami, melainkan dingin endotermik yang menyerap panas dari kulitnya.

"Gunakan koin perakmu, Arlan. Tempelkan pada dasar kolam," instruksi Mira.

Arlan mengeluarkan koin milik Pak Suryono. Begitu logam perak itu menyentuh dasar kolam, sebuah getaran hebat menjalar hingga ke bahunya. Tiba-tiba, fenomena hampa akustik di taman itu pecah. Suara statis yang memekakkan telinga memenuhi kepalanya, diikuti oleh suara yang sangat ia kenali.

"Arlan... jika kau mendengar ini, berarti spektrum cahayanya sudah berubah."

Itu suara ayahnya. Suara yang lebih jernih daripada rekaman apa pun yang pernah ia miliki.

"Ayah?" Arlan berbisik, air matanya kini benar-benar jatuh, mengaburkan pandangannya di balik lensa.

"Jangan percaya pada apa yang kau lihat di bawah lampu merkuri. Mereka sedang menulis ulang sejarah melalui cahaya. Cari buku yang belum sempat kehilangan tintanya. Cari perpustakaan yang masih menyimpan bau debu manusia," suara itu mulai memudar, tertelan oleh dengung drone yang kembali melintas di atas mereka.

"Dia bicara tentang Perpustakaan Pusat," gumam Arlan setelah suara itu menghilang. "Dia tahu mereka akan menghapus sejarah kita."

"Bukan hanya menghapus, Arlan. Mereka menggantinya dengan narasi baru di mana kita tidak pernah ada," Mira menyentuh bahu Arlan. Tangannya terasa hangat, sebuah anomali nyata di tengah lingkungan yang membeku. "Lampu hijau itu... itu adalah alat pencuci otak massal. Orang-orang yang menatapnya terlalu lama akan lupa bahwa mereka pernah memiliki masa lalu yang tidak sempurna."

Lari dari Cahaya Palsu

Sinyal di telinga Arlan mendadak pecah oleh statis yang tajam. "Arlan! Keluar dari sana! Sensor termal mereka mendeteksi aktivitas frekuensi di air mancur! Satu unit penindak cepat sedang menuju posisimu!" suara Dante terdengar panik.

Arlan berdiri, menarik Mira untuk ikut bersamanya. "Kita harus pergi. Sekarang!"

"Ke mana? Seluruh distrik ini sudah disiram cahaya hijau. Kita akan terlihat seperti noda di atas kain putih," Mira menatap ke arah gerbang taman di mana lampu sorot kendaraan patroli mulai terlihat.

Arlan melihat ke sekeliling. Strategi pelarian biasa tidak akan berhasil. Sensor mereka terkunci pada panas tubuh biologis yang berpendar di bawah spektrum hijau. Ia melihat sebuah truk tangki air milik dinas pertamanan yang terparkir di dekat gudang alat.

"Mira, kau bilang air menolak menyalin kebohongan dengan cepat, kan?" Arlan menarik Mira menuju truk tersebut.

"Apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan menggunakan sifat air yang menyerap frekuensi. Kita masuk ke dalam tangki itu. Airnya akan menyerap panas tubuh kita sehingga sensor drone akan menganggap kita sebagai benda mati yang dingin."

"Tapi itu air limbah sistem, Arlan! Itu sangat dingin!"

"Lebih baik membeku sesaat daripada menguap selamanya," Arlan memanjat tangga truk dan membuka katup atasnya. Ia membantu Mira masuk terlebih dahulu, lalu menyusul ke dalam air yang sedingin es.

Di dalam kegelapan tangki, mereka berdua terendam hingga leher. Arlan bisa mendengar langkah-langkah berat para Peniru yang mendekati truk tersebut. Cahaya hijau merembes masuk melalui celah kecil katup, menciptakan garis-garis aneh di permukaan air.

"Tahan napasmu, Mira. Ikuti ritmeku," bisik Arlan di tengah sunyi yang menekan.

Mereka berdua mematung. Di luar, Arlan mendengar suara detektor yang menyapu permukaan truk. Detik-detik berlalu seperti jam yang berkarat. Arlan merasakan tubuh Mira menggigil hebat, namun gadis itu tetap diam, matanya menatap Arlan dengan kepercayaan yang belum pernah ia temukan pada siapa pun sebelumnya.

Setelah apa yang terasa seperti keabadian, suara kendaraan patroli itu menjauh. Arlan menghela napas panjang, uap napasnya terlihat pekat di dalam tangki.

"Kita selamat," bisik Arlan. "Untuk sekarang."

"Kau benar-benar seorang kurir, Arlan," Mira menggigil, bibirnya membiru. "Kau selalu tahu cara mengantarkan nyawa ke tempat yang aman."

Arlan membantu Mira keluar dari tangki. Mereka berdiri di kegelapan gang di belakang taman, basah kuyup dan gemetar. Arlan menatap kembali ke arah langit kota yang masih berpendar hijau-kebiruan.

"Kita akan ke perpustakaan itu besok," ucap Arlan dengan tekad yang baru. "Aku harus menemukan apa yang ayahku tinggalkan sebelum seluruh sejarah dunia ini menjadi lembaran kosong."

Mira menatap Arlan, bayangannya di genangan air di bawah kaki mereka tampak tersenyum, meski wajah asli Mira masih menunjukkan ketakutan. "Aku akan ikut dengannya. Karena hanya kau yang bisa melihat bayanganku yang sebenarnya."

1
prameswari azka salsabil
tetap berjuang arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
semangat arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
novel.misteri yang unik
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
wah gimaba nih. di mana yang aman
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan ungkap misterinya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
,wuih maduk ruang mayat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan semangat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
misteri yang bagus
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
tetap semabgat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
gigi susunya dulu😄
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
kondisi yang sungguh misteriys
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 4 replies
prameswari azka salsabil
ayo tetap semangat arlan
Indriyati: mantap deh
total 3 replies
prameswari azka salsabil
cerianya bagus dan tanpa horor mistis
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
wah benar benar misteri yang kebtal
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
oh tokih seorang kurir ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 7 replies
Indriyati
novel ini memberikan nuansa misteri yang kuat sejak awal. ddan nuansa misterinya bukan mengarah ke horor sehingga cocok untuk pembaca yang tidak suka novel horor yang seram. cerita di.novel ini sungguh membuat saya penasaran mengenai apa yang terjadi sebemarnya. novel ink cukup menghibur dan tidak membosankan. semoga penulis tetap membuat karya yang bagus dan menarik. semangat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 11 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!