Sifa (18 tahun) hanyalah gadis lulusan SMA yang 'kasat mata'. Di dunia yang memuja kekayaan dan penampilan, Sifa yang miskin, culun, dan polos adalah target empuk. Hidupnya adalah serangkaian kesialan: di-bully habis-habisan oleh duo sosialita kejam Rana dan Rani sejak sekolah, dikucilkan tanpa teman, dan harus bekerja serabutan demi ibunya. Tak ada yang spesial dari Sifa, kecuali hatinya yang seluas samudra.
Hingga suatu sore di taman kota, takdir melempar sebuah jam tangan butut ke pangkuannya.
Siapa sangka, benda rongsokan itu adalah "Chrono", asisten AI super canggih dari masa depan yang bisa melakukan apa saja—mulai dari memanipulasi data, mengubah penampilan, hingga meretas sistem perusahaan elit NVT tempat Sifa bekerja sebagai staf rendahan!
Dengan bantuan jam ajaib yang sarkas dan kocak itu, Sifa mulai membalas dendam pada Rana dan Rani dengan cara yang elegan. Namun, kekacauan dimulai saat Adi, CEO NVT yang tampan namun dingin, mulai menaruh curiga... sekaligus menaruh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafidz Irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Notifikasi Tengah Malam dan Stiker Koala
Malam semakin larut di Gang Senggol. Suara jangkrik di luar jendela kamarku bersahutan dengan suara dengkuran halus Ibu dari kamar sebelah. Ibu pasti tidur nyenyak sekali malam ini, mungkin efek martabak manis dan rasa lega karena anaknya sudah jadi karyawan tetap.
Aku berbaring telentang di atas kasur kapukku, menatap langit-langit kamar yang ditempeli stiker glow in the dark berbentuk bintang (sisa jaman SD). Di tanganku, secarik kertas SK Pengangkatan Karyawan masih kupegang erat, seolah takut kalau aku lepaskan, kertas itu akan berubah jadi asap.
"Asisten Manajer..." gumamku senyum-senyum sendiri. "Gajinya gede banget. Bisa beli skincare mahal biar glowing kayak artis Korea."
Aku berguling ke kanan, memeluk guling. Lalu berguling ke kiri, menendang selimut. Susah tidur. Adrenalin kebahagiaan masih mempompa darahku terlalu kencang.
Di meja kecil samping kasur, Chrono sedang dalam mode charging (mengisi daya) dengan stasiun pengisi daya tenaga surya mini yang kuletakkan di bawah lampu belajar.
"Detak jantung lo masih di atas 90 bpm. Lo mau tidur apa mau lari maraton?" suara Chrono terdengar malas di kepalaku.
"Nggak bisa tidur, Chrono. Seneng banget," jawabku sambil terkekeh.
"Coba itung domba. Atau itung berapa duit yang bakal lo abisin buat beli bakso minggu depan."
Tiba-tiba, HP-ku yang tergeletak di bantal bergetar pendek.
Drrt.
Layar menyala. Logo WhatsApp muncul.
Jantungku yang tadi 90 bpm, mendadak loncat jadi 150 bpm saat membaca nama pengirimnya.
Mas Adi CEO 👔
Aku langsung duduk tegak, menyambar HP secepat kilat. Jam menunjukkan pukul 23.15 WIB.
"Mas Adi? Ngapain nge-chat malem-malem?" bisikku panik.
Aku membuka pesannya dengan jari gemetar.
Mas Adi CEO 👔:
"Belum tidur, Bu Asisten Manajer? Atau lagi sibuk ngitungin duit bonus di dalem kaleng Khong Guan? 😜"
Aku membelalak. Dia pake emoji melet! CEO NVT yang berwibawa itu pake emoji melet! Dan dia tau soal kaleng Khong Guan?!
"Chrono! Kok dia tau kaleng biskuit aku?!"
"Gue nggak bocorin. Mungkin dia nebak. Itu tempat nyimpen duit paling umum buat rakyat jelata di Indonesia," jawab Chrono santai.
Aku buru-buru mengetik balasan. Hapus. Ketik lagi. Hapus lagi. Takut salah ketik atau kelihatan terlalu antusias.
Sifa:
"Belum, Mas... hehe. Belum ngantuk. Mas Adi kok belum istirahat? Kan besok kerja pagi? 😅"
Status Adi langsung berubah jadi Typing...
Cepat sekali balasnya. Jangan-jangan dia nungguin HP dari tadi?
Mas Adi CEO 👔:
"Gimana bisa tidur? Perut saya masih kenyang banget gara-gara martabak. Kayaknya saya kebanyakan makan yang rasa keju deh. Kamu sih, nyuapinnya kebanyakan tadi. 🤔"
Wajahku memanas. Tadi di rumah, emang sempet ada insiden aku nyodorin potongan martabak ke piring Adi, tapi dia malah langsung nyaplok dari tanganku.
Sifa:
"Lho, kok nyalahin Sifa? Kan Mas Adi yang lahap banget makannya. Katanya enak? 😶"
Mas Adi CEO 👔:
"Emang enak. Apalagi makannya sambil diliatin kamu. Rasanya jadi manis semua, padahal itu martabak keju asin. Aneh ya? 😆"
Aku menjerit tertahan ke bantal. "KYAAAAA!"
"Gombal! Mas Adi gombal banget!" kakiku menendang-nendang udara.
"Peringatan: Level keju dalam chat ini melebihi batas toleransi server gue. Gue mau muntah digital," komentar Chrono julid. "Balas yang elegan, Fa. Jangan kelihatan murahan."
Aku menarik napas, mencoba menenangkan diri.
Sifa:
"Mas Adi bisa aja. Itu efek micin martabak kali Mas, bukan efek Sifa. Hahaha. 😂"
Mas Adi CEO 👔:
"Mungkin. Oh ya, Fa. Saya lagi liat kemeja putih saya yang tadi siang dipake ngantor nih."
Dahiku berkerut. Kemeja?
Sifa:
"Kenapa kemejanya, Mas? Kena noda soto pas makan siang?"
Mas Adi CEO 👔:
"Bukan. Ada bekas bedak nempel di bagian dada. Samar-samar sih. Tapi baunya wangi melati. Wangi kamu."
Deg.
Darahku berhenti mengalir. Bekas bedak? Di dada?
Itu pasti pas kejadian "Kecoa Terbang" tadi siang! Pas aku meluk dia erat banget sambil nempelin muka ke dadanya!
Mas Adi CEO 👔:
"Saya jadi inget kejadian tadi siang. Ternyata kamu kalau kaget, meluknya kenceng juga ya. Tenaga kuli panggul pasar keluar semua. Sesak napas saya dikit. 💪🐨"
Dia pake emoji otot dan... KOALA?!
Dia beneran nyindir pose aku yang nempel kayak koala!
Aku menutup wajah dengan selimut karena malu setengah mati. Rasanya ingin menghilang dari muka bumi. Mas Adi ternyata se-usil ini!
Sifa:
"Maaaaas! Jangan dibahas lagi dong! Sifa malu banget tau! Itu kan refleks gara-gara Chrono iseng! 🙈🙈🙈"
Mas Adi CEO 👔:
"Hahaha. Iya, iya. Nggak dibahas. Tapi jujur, itu highlight hari ini buat saya. Selain liat celana Pak Surya meledak tentunya. 🤣"
Mas Adi CEO 👔:
"Btw, Fa. Saya mau protes."
Sifa:
"Protes apa lagi, Mas? Nasi gorengnya kurang pedes?"
Mas Adi CEO 👔:
"Bukan. Protes soal Profile Picture (DP) WhatsApp kamu. Itu gambar apaan sih? Bunga Raflesia Arnoldi? Burem banget."
Aku mengecek foto profilku. Itu foto bunga mawar di pot Ibu yang aku foto pake HP jadulku yang kameranya 2 megapixel. Emang pecah sih gambarnya.
Sifa:
"Itu mawar, Mas! Bukan Raflesia! HP Sifa kan kentang, jadi gambarnya burem... 👉👈"
Mas Adi CEO 👔:
"Ganti dong. Pake foto muka kamu. Saya kan save nomor kamu biar bisa liat muka kamu kalau lagi kangen, eh maksudnya kalau lagi butuh koordinasi kerjaan. Masa yang muncul bunga burem? Nanti saya kira saya lagi chat sama tukang kebon. 😛"
Lagi kangen?!
Dia bilang lagi kangen?! Walaupun diralat, tapi dia ngetik itu!
"Deteksi modus operandi: 100%. Dia minta foto selfie lo secara halus. Dasar buaya korporat," analisis Chrono.
Aku bingung. "Ganti pake foto apa? Aku nggak punya foto bagus. Adanya foto pas aku masih pake kacamata lakban."
"Pake kamera gue aja. Gue ambil foto lo sekarang. Cahaya kamar lo remang-remang estetik kok. Senyum dikit."
Tanpa aba-aba, jam tanganku menembakkan kilat flash kecil.
Cekrek.
"Done. Gue kirim ke galeri HP lo. Buruan ganti."
Aku membuka galeri. Fotonya... wow. Sifa di foto itu terlihat natural. Rambutnya tergerai sedikit berantakan di bantal, senyumnya malu-malu, matanya berbinar kena pantulan layar HP. Cantik banget. Makasih, Chrono!
Dengan tangan gemetar, aku mengganti DP WhatsApp-ku dengan foto itu.
Semenit kemudian.
Mas Adi CEO 👔:
"Nah... ini baru bener. Cantik. ❤️"
Ada emoji hati merah.
HATI MERAH.
Bukan kuning, bukan biru. MERAH.
Aku membeku. Jantungku rasanya mau meledak keluar dari rusuk.
Mas Adi CEO 👔:
"Eits, kepencet. Maksudnya 👍. Tapi ya udah lah, anggap aja bonus. Anggep aja jempol saya lagi jujur."
"AAAAAA!" Aku menggigit guling sekuat tenaga biar nggak teriak.
"Tanda-tanda vital lo bahaya, Nona. Oksigen menipis. Tarik napas!" peringatan Chrono mulai bising.
Aku berusaha mengetik balasan dengan sisa-sisa kewarasan.
Sifa:
"Mas Adi mah suka gitu... bikin Sifa jantungan. Tanggung jawab lho kalau Sifa nggak bisa tidur! 😤"
Tiba-tiba status Adi berubah jadi Recording audio...
Dia ngirim Voice Note (VN)!
Durasi VN-nya cuma 5 detik. Aku mendekatkan HP ke telinga, memutar volumenya pelan-pelan takut kedengeran Ibu.
Aku memencet tombol play.
Suara bariton Adi yang berat, rendah, dan sedikit serak (husky voice) terdengar jernih di telingaku, seolah dia berbisik tepat di samping bantal.
🎙️ (Suara Adi): "Kalau nggak bisa tidur, telepon saya aja. Saya dongengin. Tapi jangan mimpiin kecoa lagi ya. Mimpiin saya aja. Goodnight, Koala-ku."
Lalu terdengar suara kekeh pelan di akhir rekaman.
Klik. VN berakhir.
Aku melempar HP-ku ke kasur.
Aku menarik selimut sampai menutupi seluruh kepala. Tubuhku melungker seperti udang. Wajahku panas, telingaku panas, hatiku panas.
"Koala-ku..." bisikku di dalam selimut. "Dia manggil aku Koalaku..."
Rasanya ada ribuan kupu-kupu terbang di dalam perutku. Rasanya aku ingin melayang menembus atap.
"Oke, fix. Lo udah gila," kata Chrono pasrah. "Gue mau mode sleep aja. Nggak kuat liat drama percintaan norak ini. Besok pagi jangan lupa bangunin gue, 'Koala'."
Aku tidak mempedulikan ejekan Chrono. Aku mengambil HP-ku lagi, memutar VN itu sekali lagi. Lalu sekali lagi.
Goodnight, Koala-ku.
Malam itu, Sifa tidur dengan senyum yang tidak bisa hilang dari bibirnya. Mimpi indahnya bukan lagi tentang terlepas dari kemiskinan atau punya motor baru. Mimpinya sederhana: berada di pelukan Adi, menjadi koala yang paling bahagia di dunia.
Sementara di seberang sana, di kamar mewahnya, Adi juga menatap layar HP-nya sambil tersenyum lebar. Dia menatap foto profil baru Sifa.
"Cantik," gumamnya.
Dia meletakkan HP di dada, menatap langit-langit kamar. Rumah besar ini tidak lagi terasa sepi. Karena di dalam saku digitalnya, ada koneksi ke seseorang yang membuat hatinya penuh.
Adi tidak sabar menunggu matahari terbit. Bukan untuk memimpin rapat, bukan untuk mengecek saham. Tapi untuk melihat gadis koala itu lagi di kantor, membawakan bekal nasi goreng, dan mungkin... mencari alasan untuk memeluknya lagi.
Siapa sangka, CEO yang ditakuti itu bisa jadi sebucin ini cuma lewat chat WhatsApp?
Dan begitulah, babak baru hubungan mereka dimulai. Bukan di lantai dansa mewah, tapi di layar chatting dengan stiker koala dan emoji hati yang "kepencet".