NovelToon NovelToon
SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: DARAH DI PASIR PUTIH

​Keheningan malam di pulau pribadi itu pecah bukan oleh suara petir, melainkan oleh ledakan ranjau air di sisi timur dermaga. Cahaya oranye kemerahan membumbung tinggi ke langit, memantul di permukaan laut yang gelap seperti tumpahan tinta. Alana tersentak bangun, tangannya secara insting meraba ke bawah bantal, menggenggam erat pistol Kimber kustom pemberian Arkano. Napasnya teratur, matanya langsung awas menatap jendela kaca besar yang menghadap ke pantai.

​Di sampingnya, Arkano sudah berdiri. Pria itu tidak tampak terkejut sedikit pun. Ia justru terlihat sangat tenang, sebuah ketenangan yang mengerikan, seolah-olah ia memang sudah menunggu momen ini untuk mencabik-cabik siapa pun yang berani mengusik ketenangannya. Arkano mengenakan kaos hitam ketat yang menonjolkan otot lengannya, dengan sabuk perlengkapan taktis yang sudah melingkar di pinggang.

​"Mereka datang lebih cepat dari perkiraanku," ujar Arkano dengan suara bariton yang rendah dan bergetar karena amarah yang tertahan. Ia menoleh ke arah Alana, matanya berkilat penuh obsesi di bawah cahaya remang. "Tetap di belakangku, Alana. Biarkan pengawalku yang menyelesaikan ini. Kau cukup diam di dalam bunker kamar ini."

​Alana bangkit, mengokang senjatanya dengan bunyi klik yang mantap dan dingin. Ia menatap Arkano dengan tatapan yang tidak kalah tajam. "Kau tahu aku tidak akan melakukan itu, Arkano. Kau sendiri yang bilang, aku adalah permaisurimu. Dan seorang ratu tidak bersembunyi di balik punggung rajanya saat sarang mereka diserang oleh tikus-tikus klan rival."

​Arkano menatap istrinya selama beberapa detik. Ada percikan kemarahan di matanya karena Alana membangkang, namun rasa kagum yang jauh lebih besar menenggelamkan amarah itu. Ia menarik tengkuk Alana, mencium keningnya dengan kasar namun penuh perasaan, seolah sedang menandai miliknya sebelum pergi berperang.

​"Kalau begitu, jangan sampai kau tergores sedikit pun. Jika setetes saja darahmu jatuh ke pasir ini, aku bersumpah akan memastikan Leo mati perlahan dalam waktu tiga hari di tanganku sendiri," bisik Arkano dengan nada mengancam.

​Mereka keluar dari villa melalui pintu rahasia yang terhubung langsung ke hutan kecil di tengah pulau. Di luar, suasana sudah berubah menjadi medan perang yang sesungguhnya. Suara rentetan senjata otomatis memecah kesunyian malam, bersahutan dengan teriakan para pengawal. Kelompok tentara bayaran Leo, saudara dari Dante yang dendam, berhasil mendarat di sisi belakang pulau yang berbatu berkat data titik buta radar yang diberikan oleh Pak Hendrawan.

​"Marco, lapor!" Arkano menekan earpiece-nya sambil menembakkan pistolnya ke arah bayangan yang bergerak di antara pohon kelapa.

​"Tuan, mereka menggunakan granat asap termal! Kami kesulitan mendeteksi posisi mereka di antara pepohonan!" suara Marco terdengar statis di sela-sela desingan peluru yang membelah udara.

​Alana menyipitkan mata, mengamati pola serangan musuh dari balik batang pohon besar. Sebagai mantan agen elit yang dilatih langsung oleh Hendrawan, ia tahu ini bukan sekadar serangan mafia amatir. Ini adalah taktik pengepungan V-Shape yang terorganisir, sebuah manuver militer yang hanya diajarkan di unit khusus kepolisian.

​"Arkano, mereka menggunakan formasi taktis unit Brimob! Hendrawan tidak hanya memberi data, dia mengirim instruktur taktisnya untuk membantu Leo!" teriak Alana di tengah kebisingan ledakan. "Jangan lawan mereka dari depan! Kita harus memancing mereka ke area terbuka di sisi tebing utara, di mana angin laut akan membuyarkan asap termal mereka dan membuat kacamata infra-red mereka tidak berguna!"

​Arkano menatap Alana dengan pandangan tak percaya bercampur curiga yang semakin dalam. "Bagaimana kau bisa tahu formasi itu hanya dengan melihat sekilas dalam kegelapan, Alana?"

​"Nanti saja interogasinya! Sekarang, ikuti instruksiku jika kau ingin orang-orangmu selamat dan pulau ini tidak menjadi kuburan kita!" sahut Alana tegas, suaranya penuh otoritas yang membuat Arkano terpaku sesaat.

​Untuk pertama kalinya dalam sejarah klan Dirgantara, Arkano memberikan komando kepada orang lain. "Semua unit, dengarkan Nyonya! Mundur ke arah tebing utara! Sekarang! Itu perintah!"

​Pertempuran berpindah ke area tebing yang curam dan terbuka. Seperti prediksi Alana, angin laut yang kencang menyapu bersih asap buatan musuh. Kini, tentara bayaran Leo terlihat jelas seperti sasaran empuk. Arkano bergerak seperti mesin pembunuh yang haus darah, setiap tembakannya tidak pernah meleset, menjatuhkan musuh satu per satu dengan ketepatan yang mengerikan.

​Namun, perhatian Arkano terus terbagi. Ia terpesona, sekaligus ngeri, melihat bagaimana Alana bertarung.

​Alana melakukan sliding di atas tanah berpasir, menembak dua orang penyerang tepat di lutut dan bahu mereka dengan akurasi yang tidak masuk akal bagi seorang wanita sipil. Ia menggunakan batang pohon sebagai tumpuan untuk melakukan tendangan berputar, menjatuhkan musuh yang mencoba menyerangnya dari belakang dengan pisau. Gerakannya begitu efisien, begitu dingin, dan sangat... terlatih. Tidak ada keraguan di matanya saat ia menetralisir lawan.

​Siapa kau sebenarnya, Alana? Pelatihan macam apa yang Hendrawan berikan padamu hingga kau bisa bergerak seindah dan semematikan ini? batin Arkano. Kecurigaannya membuncah, namun melihat Alana bertarung mati-matian demi melindunginya membuat hatinya terasa seperti terbakar oleh gairah posesif yang aneh.

​Tiba-tiba, seorang pria bertubuh raksasa muncul dari balik semak-semak—itu Leo. Ia memegang senapan mesin ringan dan mengarahkannya langsung ke arah Arkano yang sedang mengganti magasin senjatanya.

​"Arkano, awas!" teriak Alana.

​Tanpa ragu, Alana melompat ke arah Arkano, menjatuhkan tubuh pria itu ke balik batu besar tepat saat peluru Leo menghujani tempat Arkano berdiri sebelumnya. Alana segera membalas tembakan, mengenai pergelangan tangan Leo hingga senjatanya terlepas dan pria itu mengerang kesakitan.

​Leo menatap Alana dengan dendam yang mendalam. "Kau... pelacur polisi! Hendrawan benar, kau adalah pengkhianat yang harus dimusnahkan bersama sampah mafia ini!"

​Mendengar nama Hendrawan disebut dengan nada menghina, mata Alana berkilat penuh amarah murni. Ia melangkah maju, namun Arkano lebih dulu bangkit dengan aura yang sangat gelap. Arkano berjalan mendekati Leo yang terluka, mencengkeram leher pria itu dengan satu tangan dan mengangkatnya hingga kaki Leo menggantung di udara.

​"Kau berani menghina istriku dengan mulut kotor itu?" suara Arkano terdengar sangat rendah, seperti suara dari kedalaman liang kubur. "Kau pikir kau bisa datang ke pulau pribadiku, mengusik ketenanganku, dan tetap bernapas setelah menghina nyawaku?"

​"Arkano, tunggu! Kita butuh dia untuk mencari tahu di mana tempat persembunyian Hendrawan yang sebenarnya!" Alana mencoba menenangkan suaminya, menyentuh lengan Arkano yang keras seperti batu.

​Arkano menoleh ke arah Alana. Wajahnya yang tampan kini tercoreng noda tanah dan darah musuh, namun matanya menatap Alana dengan cinta yang sangat posesif dan gila. "Dia menyebutmu dengan kata-kata hina, Sayang. Tidak ada satu pun manusia di bumi ini yang boleh menghinamu dan diizinkan untuk melihat matahari esok hari."

​KRAK!

​Dengan satu gerakan tangan yang penuh tenaga, Arkano mematahkan leher Leo di depan mata Alana. Ia membuang mayat itu seolah-olah hanya tumpukan daging tak berguna. Para tentara bayaran yang tersisa, melihat pemimpin mereka tewas dengan cara yang begitu brutal di tangan sang iblis Dirgantara, segera membuang senjata dan menyerah kepada Marco.

​Setelah pertempuran usai, fajar mulai menyingsing di ufuk timur, memberikan warna merah muda pada langit yang baru saja menyaksikan pertumpahan darah. Pasir putih pulau itu kini ternoda oleh bercak darah dan lubang bekas ledakan. Arkano berjalan mendekati Alana yang sedang duduk di atas sebuah batu besar, mengatur napasnya yang masih memburu.

​Arkano berlutut di depan Alana, mengabaikan statusnya sebagai bos mafia besar. Ia mengambil tangan Alana yang sedikit gemetar karena sisa adrenalin dan mencium telapak tangannya dengan sangat dalam, seolah sedang memuja dewi.

​"Taktik kepolisian tingkat tinggi, kemampuan membaca strategi musuh, dan cara kau menetralisir lawan tanpa membunuh mereka..." Arkano menatap mata Alana, jemarinya mengusap pipi Alana yang kotor oleh debu mesiu. "Kau bukan sekadar lulusan terbaik, Alana. Kau dididik untuk menjadi mesin intelijen oleh Hendrawan. Kenapa pria pengecut itu mengirim permata seberbahaya dirimu ke tanganku?"

​Alana menatap suaminya dengan jujur, tidak ada lagi yang perlu disembunyikan soal kemampuannya. "Karena dia pikir aku adalah bidak catur yang akan hancur begitu kau menyentuhku, Arkano. Dia meremehkanku, sama seperti dia meremehkan kekuatan cintamu yang gila ini."

​Arkano menarik Alana ke dalam pelukan yang sangat erat, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, Alana akan menghilang. "Dia melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Dia memberiku alasan terkuat untuk menghancurkannya berkeping-keping. Karena sekarang, bukan hanya wilayahku yang diganggu, tapi dia mencoba mengambil jantung dari dadaku."

​Arkano berdiri, mengangkat Alana kembali dalam gendongannya. "Ayo kita pergi dari sini. Pulau ini sudah ternoda. Aku akan membawamu ke markas pusat, tempat di mana tidak ada satu pun polisi atau klan rival yang bisa menjangkaumu. Kau akan menjadi rahasiaku yang paling mematikan, Alana."

​Alana menyandarkan kepalanya di dada Arkano yang bidang. Ia tahu, kecurigaan Arkano tentang jati dirinya semakin dalam, namun cinta pria itu juga tumbuh menjadi sesuatu yang lebih gelap, posesif, dan tidak tergoyahkan. Di atas pasir yang berdarah itu, ia menyadari bahwa dunianya sekarang bukan lagi tentang lencana polisi, melainkan tentang Arkano Dirgantara.

1
Leebit
hehehe..
makasih ya udah mampir, semoga betah ya😁
Gheya Giyani
ikut deg deg kan kak
Siti Patimah
semoga badai cepat berlalu, dan kalian bisa hidup bahagia
Leebit
terima kasih😍
Diana
😍
Murni Dewita
👣👣
Murni Dewita: sama-sama thor
total 2 replies
Leebit
siap!!! mari kita hancurkan, hehe..
makasih ya udah dukung karya ku😊
Siti Patimah
hayo tetap bersatu hancurkan para musuh,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!