NovelToon NovelToon
SURAT HATI

SURAT HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah langit California yang selalu cerah, keluarga Storm adalah simbol kesempurnaan. Namun, di dalam kediaman megah mereka, dua badai yang berbeda sedang bergolak.
Luna Storm adalah anak emas. Cantik, lembut, dan selalu menempati peringkat tiga besar dalam daftar pesona konglomerat kota. Hidupnya adalah rangkaian jadwal ketat antara balet dan piano, sebuah pertunjukan tanpa henti untuk memuaskan ambisi sang ayah. Di balik senyum porselennya, Luna menyimpan rahasia patah hati dari masa SMA dengan Zayn Karl Graciano, satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa hidup, namun pergi karena Luna lebih memilih tuntutan keluarga daripada cinta.
Di sisi lain, ada Hera Storm. Kembaran tidak identik Luna yang mewarisi fitur wajah tajam ibunya dan jiwa pemberontak sejati. Hera adalah antitesis dari Luna, ia jomblo sejati, penunggang motor sport, dan lebih suka bergaul di bengkel daripada di aula dansa. Ia bebas, sesuatu yang sangat dicemburui oleh Luna.
.
.
SELAMAT BACA DEAR 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#29

Malam semakin larut di apartemen Zayn. Cahaya lampu kota yang masuk melalui jendela besar menciptakan bayangan panjang di dinding. Luna sudah menghabiskan biskuitnya, dan kini ia merasa kantuk yang luar biasa mulai menyerang, efek samping dari hormon kehamilan dan kelelahan emosional yang ia lalui seharian.

Saat Luna hendak beranjak dari sofa, Zayn menahan pergelangan tangannya. Matanya yang kelabu tampak redup, memancarkan permohonan yang begitu dalam.

"Menginaplah di sini malam ini, Sayang. Kumohon," bisik Zayn. suaranya parau, seolah jika ia melepaskan Luna sekarang, gadis itu akan menguap seperti mimpi. "Hera ada di bawah, aku akan memberitahunya agar dia pulang duluan dan menjagamu di sini bersamaku. Hanya satu malam."

Luna terdiam, menatap Zayn yang tampak begitu rapuh. Keangkuhan Singa Betina yang ia tunjukkan di kampus tadi benar-benar luruh. "Tapi, Zayn..."

"Aku merindukanmu sampai rasanya gila, Luna. Dan sekarang ada mereka di sana," Zayn menyentuh perut Luna lagi, gerakannya begitu posesif namun lembut. "Biarkan aku menjagamu malam ini."

Luna akhirnya mengangguk pelan. Setelah Luna mengirim pesan pada Hera dan memastikan adiknya itu pulang dengan aman, Zayn menuntun Luna ke arah tempat tidur. Ia membantu Luna melepaskan jaket dan sepatunya. Saat Zayn bergerak untuk mengganti pakaiannya sendiri menjadi kaos oblong santai, Luna kembali tertegun.

Saat Zayn menyingsingkan lengan bajunya, di bagian lengan bawahnya, tepat di atas urat-urat tangan yang menonjol terdapat tulisan kecil dengan koordinat lokasi. Luna mendekat dan membacanya. Itu adalah koordinat taman belakang mansion Storm, tempat mereka pertama kali berjanji untuk bersama. Di bawah koordinat itu, terukir inisial L.S.

"Zayn... ini..."

Zayn tersenyum pahit, lalu ia duduk di tepi ranjang dan menyingsingkan celana jeans-nya hingga ke betis. Di sana, di bagian belakang otot betisnya, terdapat tato lambang bunga Lily, bunga favorit Luna dengan tulisan Latin di bawahnya: Mea Luna artinya Bulanku.

"Seluruh tubuhku sudah penuh dengan namamu, Luna," ucap Zayn pelan, matanya menatap lantai dengan tatapan kosong. "Setiap kali aku merasa ingin menyerah, aku melihat tato-tato ini. Aku menghukum diriku sendiri dengan rasa sakit jarum tato agar aku tidak lupa bahwa aku pernah memilikimu."

Luna menutup mulutnya dengan tangan, air mata kembali menggenang. Ia merasa sangat berdosa karena sempat mengira Zayn sudah berpaling.

Zayn mendongak, menatap Luna dengan kejujuran yang menyakitkan. "Sejujurnya... aku benar-benar kecewa padamu waktu itu, sayang. Sangat kecewa sampai hidup rasanya mau mati saja."

Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir sesak di dadanya. "Malam pemakaman Ayah... aku berdiri di sana sendirian. Mami masih tertahan urusan bisnis di London yang kacau karena kematian mendadak Ayah. Aku benar-benar tidak punya siapa-siapa saat itu. Aku menunggu di depan pintu pemakaman, berharap mobil mewah milik keluargamu lewat dan kau turun untuk memelukku."

Zayn tertawa sumbang, sebuah suara yang terdengar seperti pecahan kaca. "Tapi kau tidak datang. Berjam-jam aku menunggu sampai tanah makam Ayah sudah kering, kau tetap tidak ada. Aku benar-benar sendiri, Luna. Dunia rasanya gelap, dan orang yang paling kuandalkan justru menghilang tanpa kabar. Kau sangat jahat waktu itu."

Mendengar pengakuan jujur itu, pertahanan Luna hancur total. Ia tidak peduli lagi soal Zella si anjing atau kata-kata bosan yang Zayn lontarkan kemarin. Ia hanya melihat seorang pria yang pernah ia tinggalkan di titik terendahnya.

Luna langsung menghambur ke pelukan Zayn, melingkarkan lengannya erat-erat di leher pria itu. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Zayn yang hangat.

"Aku minta maaf, Zayn... aku minta maaf," tangis Luna pecah. "sepulang dari Les piano, Aku diculik oleh pengawal Ayah malam itu. Ponselku dihancurkan, aku dikurung dikamar selama tiga hari agar aku tidak bisa menemuimu. Aku ingin datang, Zayn! Aku berteriak memanggil namamu sampai suaraku hilang, tapi Ayah... Ayah begitu kejam."

Zayn membeku. Ia baru tahu kenyataan ini sekarang. Selama ini ia mengira Luna memilih untuk patuh pada ayahnya dan meninggalkannya karena takut hidup susah. Ternyata, gadisnya pun berjuang di dalam sangkar emasnya.

"Aku minta maaf... I'm so sorry, Zayn," isak Luna lagi.

Zayn membalas pelukan itu dengan kekuatan yang luar biasa. Ia mencium puncak kepala Luna berkali-kali, menghirup aroma vanila yang sangat ia rindukan. "Maafkan aku juga, sayang. Aku tidak tahu kau juga menderita. Aku malah menghinamu dengan kata-kata kasar tempo hari."

Mereka berpelukan dalam waktu yang lama, membiarkan semua rasa sakit di masa lalu menguap bersama udara malam. Zayn kemudian menuntun Luna untuk berbaring di dadanya. Tangan Zayn yang besar terus mengusap perut buncit Luna dengan penuh rasa syukur.

"Tidurlah," bisik Zayn lembut di telinga Luna. "Tidak akan ada yang bisa menyentuhmu malam ini. Tidak Ayahmu, tidak juga bayangan Zella yang konyol itu."

Luna tersenyum di dalam dekapan Zayn, tangannya menggenggam tangan Zayn yang bertato namanya. Ia merasa aman. Untuk pertama kalinya dalam sebulan ini, mualnya tidak terasa menyiksa. Ia merasa damai karena tahu bahwa di dalam rahimnya, anak-anak mereka sedang mendengarkan detak jantung ayahnya yang selalu menyebut nama ibu mereka di setiap tarikan napasnya.

"Zayn?" panggil Luna pelan sebelum matanya benar-benar tertutup.

"Hm?"

"Besok... ajak aku bertemu Zella yang asli ya? Aku ingin minta maaf karena sudah menyebutnya sampah di kantin."

Zayn tertawa kecil, suara bas yang sangat menenangkan. "Tentu, sayang. Zella pasti senang. Dia jauh lebih ramah daripada kau saat sedang marah."

"Zayn!"

"Tidur, Luna. Sayang kalian semua."

Malam itu, di apartemen kecil yang hangat, dua hati yang sempat asing itu kembali menyatu, dipersatukan oleh sebuah kebenaran, sebuah tato, dan dua garis merah yang akan mengubah takdir mereka selamanya.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
durrotul aimmsh
i just can say...wow
shabiru Al
apa yang akan terjadi ya jika ayahnya luna tau kehamilan ini
shabiru Al
mampir ya thor,, kayaknya menarik nih ceritanya
ros 🍂: Happy Reading 🥰
total 1 replies
Nurhasanah
ini fl nya luna apa hera ?? lebih suka hera sih badas nggak menye2 😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!