Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.
Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.
Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.
Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.
Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranti Septriharaira M.T (202130073), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Dua garis, satu pelarian
Pagi menyelinap ke dalam sebuah rumah yang cukup megah dengan cara paling sunyi.
Jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit ketika Bela terbangun. Tidak ada mimpi buruk yang membangunkannya, tidak pula suara keras atau sentakan tiba-tiba. Ia terjaga begitu saja, seperti seseorang yang dipanggil oleh sesuatu yang tak terlihat, namun terlalu nyata untuk diabaikan.
Kamar masih temaram. Tirai belum dibuka. Udara pagi dingin dan lembap, menyisakan rasa ganjil di dada Bela tapi bukan nyeri, bukan sesak, melainkan sesuatu yang menggantung, tak bernama. Ia menatap langit-langit cukup lama, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tidak beraturan.
Sudah hampir tiga bulan.
Angka itu terus berputar di kepalanya, seperti jarum jam yang macet di satu titik. Tiga bulan tanpa datang bulan. Tiga bulan dengan rasa cemas yang sengaja ia tekan setiap kali muncul. Ia terlalu sibuk menyangkal, terlalu takut untuk memastikan.
Perlahan, Bela bangkit dari ranjang. Kakinya menyentuh lantai dingin. Ia berjalan menuju lemari pakaian, langkahnya pelan dan ragu, seolah setiap pijakan bisa mengubah sesuatu yang belum siap ia hadapi.
Pintu lemari dibuka.
Di balik tumpukan pakaian yang jarang ia pakai, ada sebuah benda kecil yang selama ini ia simpan terlalu lama. Terbungkus plastik tipis, masih utuh, seolah menunggu waktu yang tepat atau keberanian yang cukup.
Test pack.
Bela jongkok di depan lemari, mengambil benda itu dengan jemari yang sedikit gemetar. Ia menatapnya lama sampai dadanya terasa semakin berat.
“Kalau bukan sekarang,” gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar, “gue bakal kepikiran terus.”
Kalimat itu terdengar lebih seperti pembenaran daripada keputusan.
Ia tahu waktu terbaik untuk melakukan tes itu. Pagi hari. Setelah bangun tidur. Ia tahu semua itu, sama seperti ia tahu bahwa hasilnya—apa pun itu akan mengubah segalanya.
Bela berdiri dan melangkah ke kamar mandi. Lampu dinyalakan. Cahaya putih yang menyilaukan membuat wajahnya di cermin tampak pucat. Mata itu menyimpan kelelahan yang tak bisa disembunyikan.
Ia menarik napas dalam-dalam.
“Cuma buat mastiin,” katanya pada pantulan dirinya sendiri. “Abis itu… ya udah.”
Kata *ya udah* terdengar kosong, tanpa janji apa pun di belakangnya.
Ia membuka kemasan test pack dengan gerakan kaku, hampir mekanis. Setiap langkah dilakukan tanpa pikir panjang, seolah tubuhnya bekerja sendiri sementara pikirannya berusaha menjauh dari kenyataan.
Beberapa menit kemudian, benda itu diletakkan di tepi wastafel.
Bela duduk di lantai kamar mandi, punggung bersandar pada dinding yang dingin. Lututnya ia tarik mendekat, lengannya melingkar erat, seolah mencoba melindungi diri dari sesuatu yang akan datang.
Ia menunggu.
Detik terasa memanjang. Napasnya pendek-pendek. Tangannya mencengkeram kain celana tidur.
Awalnya, hanya satu garis yang terlihat samar.
Jantung Bela berdegup kencang. Ia berdiri, mendekatkan wajahnya ke arah wastafel, berharap itu hanya kesalahan pembacaan.
“Belum tentu,” gumamnya cepat. “Belum tentu apa-apa.”
Namun harapan itu runtuh perlahan, hampir kejam, ketika garis kedua muncul—tipis, tapi jelas. Tidak bisa disangkal. Tidak bisa ditarik kembali.
Dua garis.
Bela membeku.
Dunia seolah berhenti bergerak. Tidak ada suara. Tidak ada waktu. Hanya dua garis merah muda yang berdiri tegak, dingin, dan mutlak.
“Enggak…” katanya lirih, hampir tak bersuara.
“Ini salah.”
Ia meraih test pack itu, menggenggamnya seolah tekanan di tangannya bisa menghapus hasilnya. “Salah,” ulangnya, lebih keras. “Lo salah.”
Tentu saja, tidak ada yang berubah.
Benda itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai. Suaranya kecil, namun terdengar begitu nyaring di ruang sempit itu.
Tubuh Bela meluncur turun hingga punggungnya membentur dinding kamar mandi. Lututnya tertekuk, tangannya mencengkeram rambut sendiri, seolah dengan itu ia bisa menarik kembali waktu.
“Enggak… enggak…,” ucapnya berulang, suaranya serak dan pecah. “Gue nggak minta ini. Gue nggak siap.”
Tangannya bergetar hebat. Ia memukul pahanya sendiri, lalu dadanya—bukan untuk melukai, tapi karena rasa sesak itu tidak menemukan jalan keluar. Air mata jatuh tanpa jeda, panas dan menyakitkan, membuat penglihatannya buram.
Di kepalanya, suara-suara lama kembali hidup. Pertengkaran orang tuanya. Mamahnya yang memilih diam. Papahnya yang selalu punya alasan. Selalu ada perempuan lain. Selalu ada kebohongan yang dibungkus rapi.
“Jangan kayak mereka,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Jangan jadi perempuan bodoh yang harus nerima semuanya sendirian.”
Namun kenyataan berdiri tegak di hadapannya, dingin dan kejam. Dua garis itu bukan sekadar tanda. Itu adalah pintu yang tertutup rapat di belakangnya.
Bela menunduk, dahinya menyentuh lutut. Napasnya tersengal, seperti seseorang yang baru saja berlari jauh tanpa tahu ke mana arah pulangnya. Ada rasa hampa yang menelan semua ketakutan, membuatnya nyaris mati rasa.
Di balik tangis itu, ingatan-ingatan buruk menyusup tanpa izin. Malam itu. Ruangan itu. Kehilangan kendali. Semua yang ia coba yakini sebagai mimpi buruk kini berdiri nyata di hadapannya, terwujud dalam dua garis tipis yang tak bisa ia hapus.
“Gue nggak siap,” bisiknya. “Gue nggak bisa.”
Tangisnya perlahan mereda, berganti dengan kelelahan yang menyesakkan. Ia duduk bersandar di dinding, napasnya tersengal, matanya perih.
Lalu, satu wajah muncul di benaknya.
Mamahnya.
Perempuan yang selama ini berdiri tegar meski hidupnya retak. Perceraian. Luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Cara Mamahnya tetap bangun setiap pagi, seolah semuanya baik-baik saja.
“Gue nggak bisa nambahin beban mamah,” ucap Bela pelan. “Nggak bisa.”
Pandangan matanya kembali jatuh pada test pack di lantai. Dua garis itu kini terlihat lebih jelas, lebih nyata dari sebelumnya.
Di saat itulah keputusan itu muncul—bukan hasil pertimbangan matang, melainkan dorongan putus asa yang lahir dari ketakutan.
Ia harus pergi.
Sekarang.
Bela bangkit dengan tubuh yang masih gemetar. Ia mencuci wajah sekadarnya, tidak peduli pada mata merah atau pipi basah. Waktu terasa menekan. Setiap detik yang berlalu seolah memperbesar kemungkinan ia berubah pikiran.
Ia kembali ke kamar dan mengambil tas ransel besar. Pakaian dimasukkan asal-asalan. Tidak ada perencanaan. Tidak ada tujuan jelas. Hanya kebutuhan untuk menjauh.
Ia berhenti sejenak di tengah kamar, menatap sekeliling. Dinding-dinding itu menyimpan terlalu banyak kenangan—tentang rumah, tentang aman, tentang kehidupan yang kini terasa begitu jauh.
“Maaf,” katanya lirih, entah kepada siapa.
Dari laci meja, ia mengambil dompet dan ponsel. Uang tunai tidak banyak, tapi cukup untuk pergi entah ke mana. Ia tidak memikirkan hari esok. Yang ia tahu hanya satu: ia tidak bisa tetap di sini.
Langkahnya terhenti di depan pintu kamar Mamahnya.
Tangannya terangkat, nyaris mengetuk. Hanya satu ketukan, dan semuanya bisa berubah. Ia bisa menangis di sana. Bisa menceritakan semuanya. Bisa runtuh sepenuhnya.
Namun tangan itu perlahan turun kembali.
Ia tahu, jika pintu itu terbuka, ia tak akan sanggup pergi.
Bela berbalik.
Ia melangkah pelan menuju pintu depan, membukanya tanpa suara. Udara pagi menyambutnya—dingin, segar, dan kejam dalam ketidakpeduliannya.
Ia berdiri sejenak di ambang pintu, lalu melangkah keluar.
Pintu tertutup perlahan di belakangnya.
Di dalam rumah itu, semuanya tetap diam, tidak tahu bahwa pagi ini, satu rahasia besar telah pergi bersama seorang anak perempuan yang memilih menghilang demi melindungi satu-satunya orang yang ia cintai.