Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Berlian di Balik Lumpur
Lokasi proyek CSR pertama adalah sebuah desa pesisir yang mulai kehilangan ekosistem mangrovenya akibat reklamasi liar. Udaranya panas, lembap, dan bau garam yang tajam menusuk indra penciuman. Sangat jauh dari kemewahan mansion Omerly.
Javian turun dari mobil off-road-nya, mengenakan kemeja kain yang lengannya digulung asal, namun tetap terlihat sangat berkuasa. Di sampingnya, Zerya berdiri mengenakan celana kain praktis dan sepatu bot lapangan. Tidak ada gaun sutra, tidak ada riasan tebal.
"Medannya lebih berat dari yang ada di laporan, Tuan Javian," ucap asisten Javian, namun Javian tidak menjawab. Matanya tertuju pada Zerya.
Zerya tidak menunggu instruksi. Ia langsung berjalan menuju kerumunan warga lokal yang terlihat skeptis dan tidak bersahabat. Mereka sudah bosan dengan janji-janji korporat yang hanya datang untuk mengambil foto demi citra perusahaan.
"Kami tidak butuh bibit pohon kalian! Kami butuh laut kami kembali!" teriak salah satu nelayan dengan nada emosional.
Zerya tidak mundur. Ia tidak tampak ketakutan seperti saat vas bunga pecah di kafe. Ia berdiri tegak, menatap nelayan itu dengan pandangan yang tenang dan penuh empati.
"Saya tidak ke sini untuk memberi bibit pohon dan pergi, Pak," suara Zerya jernih, membawa otoritas yang alami. "Saya ke sini karena saya tahu, tanpa mangrove ini, tahun depan rumah Bapak-bapak sekalian akan terendam air laut. Saya tidak bicara sebagai Omerly. Saya bicara sebagai orang yang ingin proyek ini berhasil karena saya tidak punya pilihan untuk gagal."
Zerya kemudian mulai menjelaskan teknis pembibitan dan skema pemberdayaan ekonomi warga dengan bahasa yang sangat sederhana namun cerdas. Ia berjongkok di tanah, menggambar skema di atas pasir dengan ranting pohon, menjelaskan bagaimana warga bisa mendapat keuntungan tanpa merusak alam.
Javian berdiri beberapa meter di belakangnya, bersandar pada mobilnya dengan tangan bersedekap. Ia memperhatikan bagaimana Zerya menangani konflik lapangan. Tidak ada keraguan. Tidak ada topeng "putri penurut". Di sini, di bawah terik matahari, Zerya terlihat sangat... hidup.
"Dia tahu apa yang dia bicarakan," gumam asisten Javian takjub.
"Dia bukan sekadar tahu," sahut Javian pelan, suaranya hampir tertelan angin laut. "Dia sedang berjuang untuk hidupnya sendiri."
Setelah hampir dua jam berdiskusi, warga akhirnya melunak. Mereka mulai menyalami Zerya, bahkan seorang ibu memberikan air kelapa muda padanya. Zerya tersenyum—dan untuk pertama kalinya, Javian melihat senyum yang tidak dilatih di depan cermin. Itu senyum yang lelah, tapi tulus.
Saat Zerya berjalan kembali menuju mobil, ia menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. Ia terkejut melihat Javian masih berdiri di sana, menunggunya.
"Anda tidak bosan menunggu di sini, Tuan?" tanya Zerya sambil mengatur napasnya yang terengah.
Javian menyodorkan sebuah sapu tangan bersih berwarna gelap. "Saya tidak pernah bosan melihat sesuatu yang berjalan sesuai rencana."
Zerya ragu sejenak sebelum mengambil sapu tangan itu. "Terima kasih."
"Anda sangat berbeda di sini," ucap Javian tiba-tiba, langkahnya mulai berjalan beriringan dengan Zerya menuju tepi pantai. "Di depan warga tadi, Anda tidak terlihat seperti seseorang yang butuh senjata. Anda terlihat seperti senjata itu sendiri."
Zerya terhenti. Ia menatap laut lepas, membiarkan angin mempermainkan helai rambutnya yang mulai berantakan. "Di sana, saya tidak punya pilihan selain menjadi kuat. Karena jika saya gagal, tidak akan ada pelukan yang menunggu saya di rumah. Hanya ada ruang hampa yang siap menelan saya."
Javian menatap profil samping wajah Zerya. Ada keinginan aneh di dalam dirinya untuk mengatakan sesuatu yang menenangkan, tapi ia menahannya. Ia tahu Zerya tidak butuh kata-kata manis.
"Kalau begitu, teruslah menjadi kuat," ucap Javian datar, namun matanya memancarkan intensitas yang tak terbantahkan. "Karena sebentar lagi, dunia akan mulai melihat apa yang selama ini ayah Anda coba sembunyikan."
Saat mereka hendak kembali ke mobil, ponsel Zerya berdering. Nama "Papih" tertera di sana. Zerya mematung, binar di matanya seketika padam, digantikan oleh bayangan dingin yang sudah sangat dikenal Javian.
Javian meraih ponsel itu dari tangan Zerya sebelum Zerya sempat mengangkatnya. Ia mematikan suaranya dan memasukkannya kembali ke saku tas Zerya.
"Jangan hancurkan momen ini hanya untuk suara yang tidak menghargai Anda," ucap Javian tanpa perasaan. "Ayo pulang. Mommy saya membuatkan pai apel, dan saya tidak suka makan sendirian."
Zerya terpaku. Ia diajak ke rumah Talandra? Ke tempat yang disebut Javian sebagai 'tempat tanpa topeng'?