NovelToon NovelToon
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."

Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.

Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.

Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Batas Kesabaran dan Segelas Air Penawar

Sinar matahari pagi masuk melalui celah jendela ruang makan, namun suasana di meja makan masih terasa seperti musim dingin.

Hana duduk dengan kepala tertunduk, fokus pada nasi gorengnya. Kejadian "rambut tergerai" semalam masih berputar di kepalanya, membuatnya merasa malu bahkan hanya untuk sekadar menatap mata Arlan.

Arlan, yang menyadari kegelisahan Hana, berdehem pelan untuk memecah keheningan.

"Hana, hari ini Bi Ina akan mulai bekerja lagi. Kemarin dia cuti seminggu karena ada urusan di kampungnya."

Hana mendongak sedikit, lalu mengangguk.

"Oh, iya... Bi Ina. Saya ingat, Mas."

Hana mengenal Bi Ina. Asisten rumah tangga Arlan itu adalah sosok paruh baya yang energinya seolah tidak pernah habis. Dia ceria, lucu, dan selalu punya cerita untuk memecah kekakuan. Hana merasa sedikit lega, setidaknya keberadaan Bi Ina nanti akan menjadi "jembatan" yang mengurangi kecanggungan di antara mereka berdua.

Namun, ketenangan pagi itu hancur berantakan saat suara pagar dibuka dengan kasar terdengar dari depan. Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka tanpa ketukan. Siska masuk dengan langkah angkuh, wajahnya tampak tidak bersahabat.

"Mas Arlan! Aku mau ambil barang-barang Mbak Inggit sekarang. Koleksi tas, baju-baju bermereknya, dan perhiasannya. Daripada tidak terpakai dan malah cuma dipakai sama 'orang baru' di sini, lebih baik aku yang simpan!" seru Siska tanpa basa-basi.

Hana yang sedang memegang gelas, tersentak. Ia hanya bisa terdiam melihat Siska mulai membuka lemari pajangan di ruang tengah dengan serakah.

Arlan bangkit dari duduknya, ia masih mencoba mengontrol emosi. Laki-laki itu hanya berdiri diam mematikan, memperhatikan Siska yang mulai memasukkan beberapa tas mahal ke dalam kantong besar yang ia bawa.

Puncaknya adalah saat Siska meraih sebuah kotak beludru biru dari laci nakas di ruang tengah. Kotak itu berisi cincin pernikahan Arlan dan Inggit yang sengaja disimpan Arlan sebagai kenangan.

Saat itulah, aura di ruangan itu berubah drastis. Sisi dingin Arlan yang biasanya hanya muncul saat ia sedang sangat kecewa, kini mencuat ke permukaan.

"Letakkan kembali kotak itu, Siska," suara Arlan rendah, namun begitu tajam hingga membuat Siska berhenti bergerak.

"Cuma cincin, Mas Arlan. Daripada tidak ada gunanya..."

"Saya bilang letakkan!" Arlan melangkah mendekat. Ia tidak memaki, tidak pula berteriak, namun tatapannya seolah mengunci pergerakan Siska.

"Seluruh pakaian dan tas Inggit akan saya sedekahkan ke panti asuhan dan orang yang membutuhkan. Tidak akan ada satu pun yang tersisa untuk kalian jual kembali."

Siska terbelalak, wajahnya memerah karena marah.

"Semua itu Inggit beli menggunakan uangnya sendiri! Kamu tidak punya hak."

"Semua itu dibeli menggunakan uang saya," potong Arlan dengan suara dingin yang menusuk.

"Inggit adalah istri saya, dan nafkah yang saya berikan adalah haknya. Sekarang dia sudah tidak ada, dan sebagai suaminya, saya yang berhak menentukan ke mana barang-barang itu pergi. Sekarang, keluar dari rumah saya."

Siska menghentakkan kakinya kesal, ia membanting kantong tas yang sudah ia kemas tadi ke lantai dan pergi begitu saja sambil menggerutu. Pintu tertutup dengan dentuman keras.

Keheningan kembali menyergap, namun kali ini terasa menyesakkan. Arlan kembali ke meja makan, duduk dengan bahu yang tampak tegang. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut hebat, matanya terpejam rapat untuk meredam amarah yang masih tersisa di dadanya.

Hana yang sejak tadi hanya menjadi saksi bisu, merasa hatinya mencelos melihat beban yang dipikul pria di depannya. Tanpa suara, Hana bangkit menuju dapur, menuangkan air putih sejuk ke dalam gelas, lalu berjalan perlahan menghampiri Arlan.

"Minum dulu, Mas," ucap Hana lembut, menyodorkan gelas itu ke depan Arlan.

Arlan membuka matanya, menatap gelas itu lalu beralih menatap wajah Hana. Ia menerima gelas itu, meminumnya hingga separuh, lalu menghela napas panjang yang terasa sangat berat.

"Maaf," ucap Arlan tiba-tiba.

Suaranya sudah melembut, jauh berbeda dari nada dinginnya pada Siska tadi.

Hana mengerutkan kening, tampak bingung.

"Maaf? Untuk apa, Mas?"

Arlan menatap Hana dalam-dalam, ada gurat penyesalan di matanya.

"Maaf karena seharusnya kamu tidak perlu melihat saya marah-marah seperti tadi. Saya tidak ingin kamu merasa takut atau tidak nyaman di rumah ini hanya karena sikap saya."

Hana tertegun. Di tengah amarahnya pada keluarga yang serakah, Arlan masih sempat memikirkan perasaan Hana. Hana memberikan senyum kecil yang menenangkan.

"Saya tidak takut, Mas. Malah... saya terima kasih karena Mas sudah bersikap tegas," jawab Hana tulus.

Momen itu menjadi titik balik kecil bagi mereka. Arlan menyadari bahwa Hana bukan hanya orang yang harus ia lindungi, tapi juga seseorang yang bisa memberikan ketenangan di saat dunianya sedang bergejolak.

***

Hai Teman-teman terima kasih sudah membaca cerita saya sejauh ini yaa hehehehe

jangan lupa tinggalkan like dan koment nya yaaaa

Oiya, yukk baca cerita aku lainnya sambil nunggu cerita ini Up

1
Noona Rara
Aku mampir juga kak
Ai_Li: Terima kasih kakak🥰
total 1 replies
falea sezi
arlan pengecut amat yak
falea sezi
nyimakkk
Ai_Li: Terima kasih sudah mampir kak
total 1 replies
Ai_Li
🥰🥰
Ai_Li
Terima kasih sudah mampir ya🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!