NovelToon NovelToon
CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ais_26

Ia berlutut pelan di depan ibunya.

“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.

Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.

Butuh dua detik untuk menyadari.

“Ara?”

Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.

“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”

Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.

“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak

Ara langsung panik setengah jengkal

“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 GRATIS

Sore mulai merayap. Matahari menurun, menyisakan cahaya hangat di jendela ruang tamu. Ara duduk di sofa sambil menyandarkan kepala ke sandaran, masih tersenyum lelah setelah repot membawa panci dan bekal. Ibu duduk di sebelahnya, Ayah di kursi favoritnya. Televisi menyala, menayangkan acara hiburan ringan yang kadang membuat mereka tertawa tanpa alasan.

“Ah… akhirnya bisa duduk santai juga. Rasanya kaki aku pegal semua” gumam Ara sambil mengibaskan kaki.

Ayah menoleh ke Ara dengan alis terangkat “Eh… gimana motor kamu, Nak? Udah beres belum?”

Ara menoleh, tersentak sedikit “Hah… oh iya, lupa! Aku belum kabari Danu…” gumamnya sambil menutup wajah dengan tangan.

Ibu menatap Ara dengan mata setengah geli, setengah menegur “Heh! Main panggil nama doang, Nak! Yang sopan dong, ada embel-embel ‘Mas’ atau ‘Abang’ atau apa gitu, keh!”

Ara menunduk, setengah tersipu “Hahaha… iya, Bu… maaf”

Ayah ikut menertawakan Ara “Lagian, Danu kan pasti senang kalau kamu panggilnya sopan”

Ara mengangguk sambil menepuk jidatnya sendiri. “Huff… iya, iya… aku panggil Mas Danu besok. Janji deh”

Malam mulai turun, cahaya lampu kuning di ruang makan membuat suasana hangat. Setelah makan malam yang sederhana tapi penuh canda Ayah sesekali menyelipkan komentar kocak, Ibu menimpali dengan tawa Ara menepuk perutnya pelan.

“Aduh… perut kenyang, capek juga” gumamnya sambil menepuk perut.

Ibu tersenyum sambil mengelap tangan “Hahaha… Nak, habis makan jangan langsung tidur, nanti kembung. Ke kamar dulu, rapihin barang-barang, terus santai.”

Ara mengangguk, menyeret langkah ke kamar. Sesampainya di kamar, Ara menaruh tas di lantai, membuka jendela agar udara malam masuk. Ia menatap langit gelap dengan bintang-bintang yang mulai bermunculan. Suasana sunyi, tapi hatinya terasa hangat setelah seharian penuh aktivitas dan tawa bersama keluarga.

Tiba-tiba, Ibu muncul dari pintu kamar, tersenyum nakal sambil membawa satu gelas air hangat. “Hahaha… Nak, jangan lupa minum ini sebelum tidur. Capek banget kan hari ini?”

Ara menoleh, tersenyum sambil menerima gelas itu. “Iya, Bu… makasih”

Setelah itu, Ibu pamit ke ruang tamu, meninggalkan Ara yang mulai menata diri untuk tidur. Ara merebahkan diri di kasur, menarik selimut, dan menutup mata sambil tersenyum.

Hari yang panjang, repot, tapi seru membuatnya sedikit lega. Ia mengambil ponsel dari meja samping.

“Huff… sebelum tidur, mending kabarin Danu dulu nanya motor udah jadi belum” gumam Ara sambil menyalakan layar ponselnya.

Dengan jari masih sedikit gemetar karena capek, Ara mulai mengetik chat:

Ara: Mas Danu… motornya udah bisa diambil belum ya? Hehe… lupa kabarin tadi

Ia menatap layar sebentar, lalu tersenyum kikuk.

Beberapa menit kemudian, ponsel bergetar. Pesan masuk dari Danu

Danu: Iya, Ara… motornya udah beres. Bisa diambil kapan aja

Ara tersenyum lega, mengetik cepat balasan untuk Danu.

Ara: Oke, nanti besok aku ambil ya. Hehe…

Beberapa detik kemudian, ponsel bergetar lagi. Pesan masuk dari Danu

Danu: Siap

Ara menaruh ponsel di sisi tempat tidur “Huff… akhirnya selesai juga urusan motor. Besok tinggal jemput aja. Gampang banget kan?” gumamnya sambil menutup mata sebentar, tersenyum lagi sambil membayangkan motor yang siap pakai.

Keesokan harinya, siang. Ara sudah siap di kamar, mengenakan jaket dan helm. Ia menatap cermin sebentar, lalu menghela napas

“Huff… siap juga akhirnya. Tinggal naik ojek ke bengkel, ambil motor, beres deh” gumamnya sambil memeriksa tas kecilnya

Ibu muncul dari ruang tamu sambil tersenyum nakal. “Nak, hati-hati ya. Jangan sampai bingung lagi nanti kalau ketemu Nak Danu!”

Ara menepuk jidatnya sambil tersenyum “Hahaha… iya, Bu… tenang aja"

Ayah mengangkat alis sambil tersenyum “Ingat sopan sama Mas Danu. Jangan panggil nama doang, Nak!”

Ara mengangguk “Iya, iya… aku inget Bu. Hehe...”

Ia berjalan keluar rumah, membuka pintu… dan tiba-tiba ada orang berdiri di depan pintu, membuat Ara tersentak.

“Oh! Eh… Mas Danu?!” seru Ara sambil menatap Danu yang tersenyum santai di depannya

Ara menatap motor yang sudah terparkir rapi di depan rumah, setengah kaget, setengah kesal “Loh… kok bawa ke sini? Motornya kan aku mau ambil sendiri. Aku sudah siap naik ojek, lho!”

Danu tersenyum lagi, santai “Hehe… aku pikir nanti kamu ribet jadi aku anterin aja"

Ara menahan senyum, sambil mengerutkan dahi “Hahaha… Mas Danu, serius deh. Aku sudah siap pergi, eh… motornya malah udah di sini. Jadi aku nggak ada kerjaan sekarang”

Danu mengangkat bahu sambil tertawa kecil "Hehe… namanya juga bantuin. Lagian aku juga kesini sama karyawan soalnya gak tau rumah kamu sama sekalian mau nganter motor ora juga soalnya orangnya gak bisa ngambil ”

Ara menatap Danu sambil tersenyum, setengah geli, setengah kesal “Hahaha… iya deh… tapi lain kali kabarin dulu, ya. Aku bisa kaget, lho!”

Danu masih tersenyum, menyerahkan kunci motor ke Ara “Tenang, nggak apa-apa. Motor sudah aman, kamu tinggal pakai dan pergi. Nggak usah repot lagi”

Ara mengambil kunci, menepuk jidatnya sendiri sambil tersenyum “Huff… tapi… makasih, Mas Danu. Lumayan nggak perlu naik ojek”

Ara menatap motor yang sudah diperbaiki dan di sampingnya ada motor danu yang lagi dinaiki oleh orang mungkin karyawannya lalu menoleh ke Danu sambil mengerutkan alis “Eh… ini totalnya berapa yang harus dibayar buat benerin motor aku?” tanyanya sambil tersenyum kikuk

Danu menggeleng santai, tangan masih menyentuh setang motor “Gak usah… sedikit yang diperbaiki aja. Gak banyak kok” ucapnya tenang

Ara menatap Danu, setengah kesal tapi setengah geli “Heh… gak boleh gitu, Mas! Namanya usaha, masa gratis? Nanti karyawan harus digaji juga, kan? Gak enak aku kalau cuma numpang senang doang” ucap Ara sambil tertawa kecil, nada bercandanya tapi masih terasa ada rasa sungkan

Danu tersenyum ringan, mengangkat bahu “Iya sih… tapi ini bener-bener gak banyak yang diperbaiki. Lagian aku senang bisa bantu, kan?”

Ara pura-pura menepuk jidatnya, setengah dramatik. “Huff… Mas Danu, kamu ini… serius deh, aku jadi nggak enak. Masa aku nggak bayar sama sekali?”

Danu menatap Ara, tersenyum santai “Ya udah… aku pamit pulang dulu, Nak” ucapnya

Ara menoleh, setengah tersipu, setengah geli “Iya… hati-hati di jalan, Mas Danu. Jangan kebut-kebutan ya” katanya sambil menyeringai

Danu mengangkat tangan, melambaikan sedikit.

Motor perlahan menjauh dari halaman rumah, suara mesinnya mengecil hingga akhirnya hilang di tikungan ujung jalan. Ara masih berdiri di depan

pagar, memutar kunci motornya di jari, senyum kecil belum juga hilang dari wajahnya.

Mesin terdengar halus saat dinyalakan sebentar untuk memastikan semuanya benar-benar beres. Rasanya ringan, nyaman, beda dari sebelumnya.

Ia mematikan mesin dan menepuk jok pelan.

“Akhirnya sehat lagi kamu,” bisiknya pada motor itu.

“Hmm… orangnya santai banget,” gumamnya pelan.

Lalu ia masuk begitu langkahnya memasuki ruang tamu, Ibu yang sedang duduk menyulam di kursi rotan menoleh, matanya langsung menangkap Ara. “Loh… kok cepet banget pulangnya, Nak?” suara Ibu terdengar setengah terkejut, setengah penasaran.

Ara tersenyum ringan, meletakkan helm di rak “Iya, Bu… motornya udah dianterin sama Mas Danu dan karyawannya”

Ibu menurunkan sulaman, matanya menatap Ara lebih seksama. “Wah… baiknya. Nak Danu itu kan orangnya sopan dan rajin baik lagi"

Ara tersenyum kikuk, menunduk sebentar “Iya, Bu… tapi aku nggak enak soalnya gratis. Aku nggak bayar apa-apa”

Ibu terhenti sejenak, menahan reaksi terkejutnya. “Loh… kok bisa gitu Nak?”

“Padahal kan dia harus bayar karyawannya Bu” kata Ara, matanya menatap lantai seakan menahan rasa bersalah “Dia nggak mau diterima. Katanya memang bagian dari bantu-bantu teman”

Ibu menepuk meja rotan pelan, wajahnya menampakkan ekspresi setengah geli, setengah prihatin “Nak… kadang hal-hal baik nggak perlu dibayar dengan uang. Tapi kalau hati kamu nggak enak, nggak apa-apa kok bilang. Itu wajar”

Ara menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri “Iya sih, Bu… tapi rasanya nggak enak. Aku jadi merasa kayak… merepotkan mereka. Mereka kan capek, terus harus urus biaya karyawannya juga”

1
Irmha febyollah
lah kmren si Danu ngantarin gorengan ini ngantar motor SMA karyawan blg gak tau rumah si Ara.
Wati Anja
ko ga ada lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!