NovelToon NovelToon
CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ais_26

Ia berlutut pelan di depan ibunya.

“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.

Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.

Butuh dua detik untuk menyadari.

“Ara?”

Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.

“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”

Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.

“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak

Ara langsung panik setengah jengkal

“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 MASAK BESAR

Beberapa jam kemudian, masakan hampir siap. Panci besar berisi sayur dan daging tersusun rapi. Ara mulai merasa bangga melihat hasil kerja dia dan Ibunya.

“Cukup nggak ya buat semua?” tanya Ara dengan nada sedikit khawatir

“Cukup. Kalau kurang, tambahin nasi yang penting kebersamaan” jawab Ibu ringan

Mereka membawa masakan ke kandang, dibantu Ayah dan beberapa pegawai. Bangku panjang sudah disusun. Suasana terasa ramai dan hangat

“Wah Ara pulang dari Jakarta langsung turun dapur!” goda salah satu pegawai.

Ara tersenyum malu “Masih belajar Pak”

Ibu menatapnya bangga “Nah jangan cuma jadi anak kota”

Tak lama, syukuran kecil dimulai. Ibu membagikan piring, Ara membantu menyajikan lauk

“Ayo makan dulu semuanya” kata Ibu dengan nada ceria

Saat mengambil sambal, Ara mencicipi sedikit “Bu, pedas banget nggak sih?”

“Namanya sambal harus pedas” jawab Ibu sambil tertawa

Ara diam-diam menambahkan sedikit air. Namun tangannya hampir terpeleset dan panci sedikit menetes ke lantai.

“Astaga! Hampir tumpah” serunya panik.

Pegawai yang melihat justru tertawa “Santai Ara!”

Ara ikut tertawa, meski pipinya memerah. Ia segera membersihkan lantai.

Tak lama, semua duduk makan bersama. Angin siang berhembus pelan, membawa aroma rumput dan tanah. Suara tawa bercampur denting sendok.

“Enak Bu!” seru salah satu pegawai.

“Itu Ara yang bantu” kata Ibu bangga.

Ara menggeleng cepat “Cuma bantu sedikit kok selebihnya yang masak Ibu”

Ayah tersenyum “Sedikit-sedikit lama-lama bisa”

Hati Ara terasa hangat. Ia menatap sekeliling—langit biru, sapi merumput, wajah-wajah yang tersenyum tulus.

“Bu… ternyata seru ya” bisiknya

Ibu menoleh lembut “Karena ini rumahmu, Nak”

Ara tersenyum. Ia teringat kehidupan di Jakarta yang sibuk dan bising. Di sini, semuanya terasa lebih sederhana, tapi lebih penuh.

Salah satu pegawai bercanda “Nanti kalau sudah menikah, jangan lupa bikin sambal begini ya”

Ara tersedak kecil “Ih, Bapak ini…”

Semua tertawa. Ara pura-pura fokus ke piringnya tapi dalam hati ia teringat rencana minggu depan.

Setelah selesai makan, ia membantu membereskan piring—kali ini tanpa insiden.

Saat kembali ke rumah membawa panci kosong, langkahnya terasa ringan.

“Bu… makasih ya udah bangunin aku tadi” katanya pelan.

Ibu tersenyum lembut “Iya karena suatu hari nanti, kamu akan kangen momen seperti ini”

Ara terdiam. Angin siang menyentuh wajahnya.

Langkah mereka pelan menyusuri jalan setapak menuju rumah. Panci-panci kosong bergoyang ringan di tangan Ara, beradu pelan setiap kali ia melangkah. Matahari mulai condong ke barat, cahayanya lebih lembut dibanding pagi tadi.

Sesampainya di dapur, Ibu langsung merendam peralatan masak. Ara ikut membantu tanpa diminta membilas piring besar, mengelap meja, lalu menyusun kembali kursi yang tadi dipakai.

“Tumben nggak langsung kabur ke kamar? Apa gak capek?" goda Ibu sambil tersenyum.

Ara tertawa kecil “Gak ah biar cepet selesai takut Ibu ngomel kalo gak bantuin. Capek sih… tapi enak capeknya”

Ibu berhenti sejenak, menatap Ara dengan mata lembut “Capek karena berbagi itu memang beda rasanya”

Ara mengangguk pelan. Ia sendiri merasakannya lelahnya bukan karena terpaksa, tapi karena ikut ambil bagian.

Setelah dapur kembali rapi, Ibu menyeduh teh hangat. Mereka duduk berdampingan di ruang makan yang kini lebih sunyi. Dari luar terdengar suara sapi di belakang rumah walaupun jauh jaraknya tapi suaranya terdengar sampai sini dan sesekali angin menyapu dedaunan.

“Ara” Ibu membuka percakapan pelan “kamu senang hari ini?”

Ara memutar cangkir tehnya sebentar sebelum menjawab “Senang, Bu. Ternyata hal sederhana begini bikin hati penuh”

Ibu tersenyum tipis “Hidup itu memang bukan soal besar kecilnya acara tapi soal kebersamaan”

Ara menatap meja kayu di depannya. Ia teringat pagi tadi saat ia mengeluh malas bangun. Sekarang rasanya seperti momen itu jauh sekali.

“Bu… dulu waktu aku kecil, kita sering begini ya?” tanyanya tiba-tiba

Ibu tertawa pelan “Sering. Kamu malah dulu paling semangat kalau ada acara di kandang. Lari-lari ke sana ke mari”

Ara tersenyum mengenang “Sekarang malah kebanyakan tidur”

“Namanya juga sudah besar” sahut Ibu lembut

Kalimat itu membuat Ara terdiam sejenak.

Sore makin turun. Cahaya jingga masuk dari jendela, memantulkan bayangan mereka di lantai. Rumah terasa tenang, hangat, dan akrab.

Ara berdiri lalu memeluk Ibu dari samping.

“Bu… makasih ya”

Ibu terkejut kecil, lalu membalas pelukan itu “Untuk apa?”

“Untuk semuanya”

Ibu tersenyum, menepuk punggung Ara perlahan.

Malamnya, setelah mandi dan berganti pakaian, Ara duduk di tepi tempat tidurnya. Tubuhnya lelah, tapi hatinya ringan.

Ia membuka jendela sedikit. Udara malam kampung masuk perlahan, membawa aroma tanah dan suara jangkrik yang bersahutan.

Hari itu sederhana. mata, senyum kecil masih terukir di wajahnya.

Pulang kampung kali ini terasa berbeda—bukan sekadar kembali ke tempat lama, tapi kembali ke bagian dirinya yang dulu.

Dan malam itu, ia tidur dengan perasaan damai.

Sore mulai merayap. Matahari menurun, menyisakan cahaya hangat di jendela ruang tamu. Ara duduk di sofa sambil menyandarkan kepala ke sandaran, masih tersenyum lelah setelah repot membawa panci dan bekal. Ibu duduk di sebelahnya, Ayah di kursi favoritnya. Televisi menyala, menayangkan acara hiburan ringan yang kadang membuat mereka tertawa tanpa alasan.

“Ah… akhirnya bisa duduk santai juga. Rasanya kaki aku pegal semua” gumam Ara sambil mengibaskan kaki.

Ayah menoleh ke Ara dengan alis terangkat “Eh… gimana motor kamu, Nak? Udah beres belum?”

Ara menoleh, tersentak sedikit “Hah… oh iya, lupa! Aku belum kabari Danu…” gumamnya sambil menutup wajah dengan tangan.

Ibu menatap Ara dengan mata setengah geli, setengah menegur “Heh! Main panggil nama doang, Nak! Yang sopan dong, ada embel-embel ‘Mas’ atau ‘Abang’ atau apa gitu, keh!”

Ara menunduk, setengah tersipu “Hahaha… iya, Bu… maaf”

Ayah ikut menertawakan Ara “Lagian, Danu kan pasti senang kalau kamu panggilnya sopan”

Ara mengangguk sambil menepuk jidatnya sendiri. “Huff… iya, iya… aku panggil Mas Danu besok. Janji deh”

1
Irmha febyollah
ko di ulang2 kk
Irmha febyollah
lah kmren si Danu ngantarin gorengan ini ngantar motor SMA karyawan blg gak tau rumah si Ara.
Wati Anja
ko ga ada lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!