NovelToon NovelToon
Menyusui Bayi Mafia

Menyusui Bayi Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan rahasia / Ibu Pengganti / Mafia / Duda / Konflik etika
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Adrina salsabila Alkhadafi

Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Bayang-Bayang Posesif di Lorong Kampus

​Pagi itu, kampus Universitas Pelita Bangsa tampak lebih sibuk dari biasanya. Mahasiswa berlarian mengejar kelas pagi, suara diskusi riuh di kantin, dan aroma kopi dari kedai kecil di pojok selasar memenuhi udara. Di tengah hiruk-pikuk itu, Aruna Salsabila berjalan dengan langkah yang lebih ringan. Ia mengenakan celana jins gelap yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan sweater rajut berwarna broken white yang membuatnya tampak segar dan jauh lebih muda dari beban hidup yang pernah dipikulnya.

​Namun, di balik penampilannya yang sederhana, ada sesuatu yang selalu mengikutinya. Di kejauhan, sebuah SUV hitam dengan kaca gelap terparkir diam di area yang seharusnya dilarang. Aruna tahu, di dalam sana, Marco—atau mungkin orang-orang pilihan Dante lainnya—sedang mengawasi setiap gerak-geriknya melalui teropong atau kamera pengawas.

​"Aruna! Tunggu!"

​Suara itu memecah lamunan Aruna. Ia menoleh dan mendapati Reno sedang berlari kecil mengejarnya. Reno tampak rapi pagi ini, dengan kemeja flanel biru dan tas ransel yang disampirkan di satu bahu. Senyumnya yang ramah selalu berhasil membuat suasana di sekitarnya terasa lebih santai.

​"Eh, Reno. Pagi," sapa Aruna sopan.

​"Pagi. Wah, kau tampak... berbeda hari ini. Lebih bersinar," ujar Reno tanpa ragu memberikan pujian. "Oya, soal praktikum kemarin, aku sudah merapikan datanya. Mau kita bahas di perpustakaan sebelum kelas Profesor handoko dimulai?"

​Aruna melirik jam tangannya. Masih ada waktu tiga puluh menit. "Boleh. Ayo."

​Mereka berjalan beriringan menuju perpustakaan pusat. Reno, yang memang tipe pria ekstrovert, terus bercerita tentang kesulitan mata kuliah Bioproses, sementara Aruna sesekali menanggapi dengan tawa kecil. Tanpa Aruna sadari, tangannya yang memegang buku catatan sempat bersentuhan dengan lengan Reno saat mereka melewati pintu putar perpustakaan.

​Sentuhan kecil yang biasa bagi mahasiswa normal, namun bagi pria yang sedang memantau melalui GPS dan kamera tersembunyi di kerah baju Aruna, itu adalah deklarasi perang.

​Baru saja Aruna duduk di kursi perpustakaan yang agak tersembunyi di balik rak buku referensi, ponselnya di atas meja bergetar hebat. Tidak ada nama yang muncul, hanya sederet angka yang Aruna hafal di luar kepala sebagai jalur pribadi Dante.

​Aruna menghela napas, ia memberi isyarat "sebentar" pada Reno, lalu mengangkat telepon itu.

​"Ya, Dante?" bisik Aruna pelan.

​"Jaraknya terlalu dekat, Aruna," suara di seberang sana sangat rendah, jenis suara yang sanggup membuat bulu kuduk siapa pun berdiri. Dante tidak berteriak, tapi otoritas dalam suaranya sangat menekan.

​"Dante, kumohon... kami sedang belajar," Aruna memutar bola matanya, mencoba tetap tenang.

​"Dua puluh centimeter. Itu bukan jarak belajar, itu jarak menggoda. Dan kenapa tanganmu menyentuh lengannya tadi?"

​Aruna tersentak. Ia menoleh ke sekeliling, mencari di mana letak kamera yang mungkin dipasang Dante di perpustakaan ini. "Kau gila! Kau memasang mata-mata di perpustakaan?"

​"Aku memiliki universitas itu, Aruna. Aku tidak perlu memasang mata-mata, aku hanya perlu mengakses CCTV-nya," suara Dante terdengar lebih santai sekarang, namun tetap dingin. "Suruh pria berambut berantakan itu menjauh, atau aku akan mengirim Marco untuk menjelaskan padanya arti 'ruang pribadi' dengan cara yang kasar."

​"Dante Valerius! Jika kau melakukan sesuatu pada Reno, aku bersumpah tidak akan pulang ke Sanatorium malam ini!" Aruna mematikan telepon dengan kesal dan membantingnya ke atas meja.

​Reno menatapnya dengan bingung. "Ada masalah, Aruna? Wajahmu merah sekali."

​"Bukan apa-apa, Reno. Hanya... ada 'atasan' yang sangat cerewet di rumah," jawab Aruna sambil mencoba fokus kembali ke buku laporannya.

​Puncak dari kecemburuan Dante terjadi saat kelas bioteknologi sedang berlangsung. Profesor Handoko sedang menjelaskan tentang rekayasa genetika saat tiba-tiba pintu kelas terbuka. Seluruh mahasiswa menoleh, termasuk Aruna yang duduk di barisan tengah bersama Reno.

​Dua orang pria tegap dengan setelan jas hitam yang sangat rapi masuk membawa beberapa kotak besar bermerek restoran bintang lima. Di belakang mereka, sosok yang sangat Aruna kenali melangkah masuk dengan gaya yang begitu dominan.

​Dante Valerius.

​Ia tidak mengenakan jas lengkap pagi ini, hanya kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewah dan aura kekuasaan yang tak terbantahkan. Ia mengenakan kacamata hitam, meski berada di dalam ruangan.

​"Maaf mengganggu, Profesor," ujar Dante dengan nada yang sama sekali tidak terdengar menyesal. "Saya dengar kelas ini akan berlangsung sampai siang, jadi saya membawakan makan siang untuk istri saya dan rekan-rekan kelasnya."

​Seluruh kelas riuh. Mahasiswi-mahasiswi berbisik histeris melihat ketampanan Dante yang tampak seperti model majalah dewasa namun dengan aura berbahaya. Aruna hanya bisa menelungkupkan wajahnya di atas meja karena malu.

​Dante berjalan lurus ke arah kursi Aruna. Ia mengabaikan tatapan semua orang. Saat sampai di samping Aruna, ia sengaja melirik Reno yang duduk di sebelah Aruna dengan tatapan meremehkan.

​"Kau tampak lapar, Sayang," Dante mengusap rambut Aruna di depan semua orang, lalu meletakkan satu kotak makan siang khusus di depan Aruna. "Dan kau... siapa namamu? Roni? Rano?" tanya Dante pada Reno dengan nada yang sangat merendahkan.

​"Re-Reno, Pak," jawab Reno terbata-bata.

​"Ah, Reno. Makanlah yang banyak. Kau butuh tenaga untuk berhenti menempel pada istri orang lain," ujar Dante sambil menepuk bahu Reno dengan kekuatan yang membuat pria itu sedikit meringkuk.

​Dante kemudian membungkuk, membisikkan sesuatu di telinga Aruna yang hanya bisa didengar oleh wanita itu. "Aku menunggumu di mobil. Jangan terlambat satu menit pun, atau aku akan masuk lagi dan menggendongmu keluar dari sini."

​Setelah Dante pergi, suasana kelas tidak pernah sama lagi. Profesor Handoko pun tampak canggung untuk melanjutkan penjelasan. Aruna hanya bisa menatap kotak makanan mewah itu dengan perasaan antara ingin marah dan ingin tertawa melihat tingkah konyol pria yang biasanya memerintah dunia bawah tanah itu.

​Saat kuliah selesai, Aruna berjalan menuju area parkir dengan langkah cepat. Ia menemukan Dante sedang bersandar di pintu SUV-nya, sedang mengisap cerutu tipis. Begitu melihat Aruna, ia mematikan cerutunya dan membukakan pintu untuk Aruna.

​"Kau benar-benar keterlaluan, Dante! Kau mempermalukanku di depan Profesor dan teman-temanku!" teriak Aruna begitu mereka berada di dalam mobil yang mulai melaju.

​Dante tetap diam, ia hanya fokus mengemudi. Namun, saat mobil berhenti di lampu merah, ia tiba-tiba menarik rem tangan dan berbalik ke arah Aruna. Ia mencengkeram dagu Aruna dengan lembut namun memaksa wanita itu menatap matanya yang berkilat penuh emosi.

​"Aku tidak peduli tentang rasa malumu, Aruna. Aku peduli tentang milikku. Melihat pria itu tertawa bersamamu, melihat dia mencoba menyentuhmu... itu membuatku ingin membakar seluruh gedung kampus itu," suara Dante serak, penuh dengan kejujuran yang mentah.

​Aruna terdiam. Ia melihat ada ketakutan di mata Dante—ketakutan kehilangan yang sangat dalam. Pria ini telah memiliki segalanya, namun ia merasa terancam hanya oleh seorang mahasiswa biasa.

​"Dante... aku di sini. Aku bersamamu. Reno tidak ada artinya bagiku," bisik Aruna, tangannya merayap ke leher Dante, mengusap rahangnya yang tegas.

​Dante memejamkan mata, ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Aruna, menghirup aroma tubuh wanita itu yang selalu menjadi candunya. "Berjanjilah padaku, Aruna. Jangan pernah membiarkan pria lain menatapmu seperti itu."

​"Aku berjanji, dasar Mafia cemburuan," Aruna tertawa kecil, ia menarik kepala Dante dan menciumnya.

​Ciuman itu dimulai dengan rasa posesif yang meledak-ledak, namun perlahan berubah menjadi lembut dan penuh kasih. Di dalam mobil yang berjalan menembus kemacetan kota, Dante menyadari bahwa kekuatannya tidak lagi terletak pada senjata atau uang, melainkan pada wanita yang ada di pelukannya ini.

​Sesampainya di Sanatorium, suasana kembali damai. Sari tampak lebih segar dan senang mendengar cerita Aruna tentang kampusnya (meskipun Aruna menyembunyikan bagian tentang Dante yang mengacau di kelas).

​Malam itu, Dante membantu Aruna mengerjakan tugas di perpustakaan pribadi mereka. Aruna duduk di meja besar, dikelilingi buku-buku tebal, sementara Dante duduk di sofa tak jauh dari sana, pura-pura membaca laporan bisnis namun matanya tak pernah lepas dari Aruna.

​"Dante, bisakah kau membantuku memahami grafik ini?" tanya Aruna, sengaja ingin melibatkan pria itu.

​Dante berjalan mendekat, ia berdiri di belakang Aruna dan membungkuk, tangannya memegang meja di kedua sisi tubuh Aruna, mengurungnya dalam pelukan tak langsung. Ia mulai menjelaskan grafik bioproses itu dengan kecerdasan yang luar biasa. Aruna lupa bahwa Dante adalah lulusan terbaik sekolah bisnis internasional sebelum ia dipaksa memimpin organisasi Valerius.

​"Kau pintar sekali," puji Aruna tulus.

​Dante mengecup bahu Aruna yang terbuka. "Aku harus pintar untuk menjaga wanita sepertimu tetap di sisiku."

​Mereka menghabiskan sisa malam itu dengan berbicara tentang masa depan. Dante mulai terbuka tentang keinginannya untuk melepaskan beberapa bisnis ilegalnya dan fokus pada investasi teknologi medis yang bisa membantu lebih banyak orang seperti Sari.

​"Kau mengubahku, Aruna. Perlahan tapi pasti," bisik Dante saat mereka bersiap untuk tidur.

​Aruna tersenyum, ia memeluk pinggang Dante erat. "Dan kau menyelamatkanku, Dante. Lebih dari yang kau tahu."

​Di balik jendela kaca Sanatorium yang megah, di bawah sinar rembulan yang pucat, dua jiwa yang berbeda ini akhirnya menemukan frekuensi yang sama. Seorang mafia kejam dan seorang mahasiswi yang gigih, kini mulai menulis cerita mereka sendiri—cerita tentang cinta yang tumbuh dari paksaan, namun berakhir dengan kesetiaan yang abadi.

1
adrina salsabila alkhadafi
sungguh novel yang bagus sekali,aku menantikan bab selanjutnya,jangan lama2 ya up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!