NovelToon NovelToon
Benci Tapi Menikah?

Benci Tapi Menikah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Konflik etika
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fareed Feeza

Gian pergi ke desa untuk menghilangkan penat di kota. Tapi saat menikmati keindahan desa, dia bertemu dengan Anisa, wanita galak dengan paras alami yang cantik.
Pertemuannya dengan Anisa membuat Gian ingin cepat-cepat kembali ke kota, tapi suatu kejadian mengharuskan Gian untuk tetap bertahan di desa dan sering bertemu dengan Anisa.
Sampai suatu ketika, Anisa dan Gian terpergok oleh beberapa warga sedang berdua di sebuah gubuk di tengah sawah dengan minim pakaian, warga pun marah dan memaksa Gian dan juga Anisa untuk menikah.
Mereka menjalani pernikahan masih dengan perasaan saling membenci, bagaimana kelanjutan pernikahan mereka? Berpisah atau bertahan? Stay tuned!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fareed Feeza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Sore harinya, setelah mengantongi izin dari Lulu dan juga Akbar ... Gian dan juga Nisa berhasil keluar rumah dengan tujuan makan malam intimate di sebuah resto dengan pemandangan lampu kota.

"Indah banget."

"Di desa gak ada ya?" Ledek Gian.

"Di desa emang gak ada, tapi udaranya segar dan tidak banyak polusi."

"Hm iya deh iya ... Yaudah makan dulu."

Nisa melihat beberapa hidangan yang sudah tersedia di mejanya, tak terbayangkan olehnya semua makanan ini akan masuk ke dalam perutnya dan juga Gian.

"Kenapa di liatin aja? Makan sayang." Perintah Gian dengan nada pelan.

Aku masih gak nyangka ... Seorang yang awalnya aku benci sekarang dia menjadi suamiku dan berbicara dengan nada pelan seperti ini. Sepertinya .... Aku benar-benar sudah mulai jatuh cinta.

"I-iya sayang." Sahut Nisa terbata.

"Makan yang banyak." Tangan Gian sibuk mengambil satu persatu lauk yang tersedia ke atas piring Nisa yang masih kosong.

"Jangan terlalu banyak takut tidak habis."

"Makan yang banyak." Ucap Gian lagi tak ingin di bantah.

Setelah masing-masing perut mereka sudah terasa penuh, Gian tak langsung mengajak Nisa pulang ... Dia masih menggenggam sebelah tangan Nisa yang terulur di meja. "Cantik ... Hotel yuk!"

"Hotel? Mau apa?"

"Masih berusaha menjadi seorang ayah."

Nisa tersenyum di balik ke khawatirannya, dia masih ingat betul rasa sakit kala Gian melakukannya untuk pertama kali. Dengan wajah menunduk Nisa pun menjawab. "Sejujurnya ... Aku takut se sakit kemarin."

"Itu tidak akan terjadi sayang, aku sudah banyak mempelajari banyak hal mengenai itu, percayalah." Mata Gian memandang Nisa dalam-dalam agar Nisa percaya dengan apa yang dia katakan dan membuang rasa kekhawatirannya.

"Bagaimana? Hm?" Ucap Gian lagi saat Nisa belum juga menjawab.

"Sayang?"

Nisa pun menegakan wajahnya yang sedari tadi menunduk. "Iya sayang, baiklah."

"Ternyata istriku ini cantiknya nambah banyak banget kalau menurut dan tidak galak seperti dulu, padahal dari dulu saja kita menikah ... Saat aku mengotori pakaianmu dulu." Kata Gian menggoda.

"Ih gombal." Nisa berusaha menyembunyikan senyum dengan melihat ke arah sisi lainnya.

.

.

Sampai di sebuah hotel yang cukup mewah, Gian sudah tak sabar lagi ... rasa ingin menyentuh Nisa amat sangat menggebu.

Dia mendorong Nisa hingga menempel ke dinding, tangannya dengan sigap melindungi punggung Nisa agar tidak terbentur, dengan lahap bi bir nya melahap beberapa titik wajah Nisa.

"Ss-sayang ... Pelan-pelan, kendalikan diri kamu."

Gian otomatis melepas ciu man nya dan mengambil nafas dalam-dalam. "M-mmaaaf sayang maaf ... Aku kurang bisa mengendalikan."

"Tak apa sayang, bisa di coba lagi." Kata Nisa tak ingin merusak suasana.

Gian pun dengan perlahan mendekat pada Nisa dan melakukan hal yang sama dengan lembut tapi tetap menuntut, kakinya pelan-pelan mengajak Nisa untuk berjalan ke arah tempat tidur ... Dengan pelan tanpa melepas pautannya, Gian dan juga Nisa duduk bersama di ujung kasur.

Tangan Gian tak tinggal diam, dia mem bu ka resleting di bagian belakang tu buh Nisa dengan perlahan tapi pasti, hingga dress yang Nisa kenakan saat ini terjatuh ke bagian pinggangnya.

Nisa tersenyum saat Gian berhasil memperlakukan dirinya dengan pelan dan juga lembut, terlihat Gian sangat berusaha mengendalikan itu semua karena nafasnya yang sangat menggebu.

Ingin menunjukan rasa terimakasihnya pada Gian, Nisa tanpa aba-aba mendorong tubuh Gian hingga pria itu tidur terlentang. "S-sayang ... " Gian dibuat heran dengan apa yang di lakukan istrinya itu.

Nisa perlahan merayap ke atas tubuh Gian dan mengambil alih semuanya, satu kali berhubungan saja bisa langsung di mengerti oleh Nisa ... Apa yang di butuhkan seorang lelaki terhadapnya istrinya.

"Aku ketuanya." Ucap Nisa, rasa sungkan pun langsung hilang saat itu ... Nisa berubah menjadi wanita yang seakan handal dan itu membuat Gian makin bersemangat.

Gian menarik sebelah tangan Nisa, wanita itupun terjatuh tepat di atas da da Gian dan wajah mereka saat ini saling berhadapan dengan kedua ujung hidung saling menempel. "I love you." Bisik Nisa, lalu men ci um bi bir Gian lebih dulu dengan lembut.

Ah ... Apa ini, aku seperti berada di atas awan. Batin Gian.

Nisa memegang kendali kali ini, sedangkan Gian terus menggiring Nisa untuk melakukan apa yang dia inginkan. "Terus sayang, lebih kencang lagi." Ucapnya sambil sesekali melenguh.

Beberapa saat kemudian, tenaga Nisa sudah habis terkuras, tapi tidak dengan Gian, pria itu langsung membalikan tubuh Nisa dan mengambil kembali kendalinya. "Giliranku." Ucap Gian, tubuhnya sudah lembab dengan peluh yang keluar dari pori-pori kulitnya.

Dua jam berlalu, keduanya saling memandang satu sama lain di bawah selimut yang sama. "Makasih istriku ... Pintar sekali malam ini, besok lagi ya." Ucap gian sambil mengusap pipi Nisa lembut dengan ibu jarinya.

Nisa tersenyum dan mengangguk, rasa malunya mulai datang saat membayangkan apa yang tadi dia lakukan, karena sungguh itu belum pernah terbayangkan dalam benaknya, hal itu muncul secara otodidak.

"Sedari tadi ponsel kita bergantian berbunyi, sepertinya Ayah dan Ibu khawatir."

"Ah biarkan saja, toh kita sudah menikah ... Bebas untuk melakukan apapun."

"Bukan seperti itu, mungkin mereka takut terjadi hal-hal yang tidak di inginkan."

"Baiklah aku kabari lewat pesan chat. Hm ... Mau berfoto berdua? Biar aku kirim pada ibu sekalian?" Ledek Gian.

"Ish ... Ngaco!" Nisa menepuk pelan tangan Gian.

Setelah berkabar pada Lulu, akhirnya Gian dan juga Nisa melanjutkan tidurnya dengan posisi terbaik mereka.

***

Di dalam rumah saat Nisa dan Gian baru memunculkan wajah mereka di hadapan Akbar dan juga Lulu.

"Awalnya sih nolak terus yah, tapi sekarang malah pengen berduaan terus sama Nisa, Ibu aja sampe gak bisa sedekat dulu karena Gian selalu saja ada alasan buat memisahkan." Ucap Lulu pada Akbar.

Nisa tersenyum, sedangkan Gian memasang wajah datar ... sambil tangannya menggenggam tangan Nisa kuat.

"Tuh yah ... Liat aja, istrinya di pegangin terus, kayak takut di ambil aja gitu, padahal dulu pernah setidak peduli itu."

"Ibu sudahlah, tidak usah di bahas." Protes Gian.

"Sudah Bu ... Sudah." Kata Akbar yang sebenarnya sedang menahan senyum karena perkataan istrinya itu.

"Baiklah baiklah."

"Kamu ga bekerja?" Tanya Akbar.

"Malas, sudah siang."

"Apaaaa?! Baru kali ini loh Ibu dengar kamu bilang malas ... Nisa kamu harus hati-hati ... Pasti ini ada maksud lain." Goda Lulu lagi.

"Apaan sih Bu, Gian cuma lagi capek kok."

"Kayaknya habis 10 ronde semalam di hotel, iya kan yah? Kayak kita dulu pas baru menikah hahaha."

"Ayah bisa tolong lakukan itu lagi pada ibu? Sepertinya ibu menginginkannya!" Celetuk Gian yang membuat Lulu bungkam seketika.

"Hahahaha, kami tidak bisa sekuat dulu, iya kan Bu?"

"Ayah! Apaan sih?!" kata Lulu kesal.

Gian tertawa terbahak saat bisa mengalahkan ledekan ibunya yang sedari tadi membuatnya kesal.

.

.

Di dalam kamar.

"Gila kamu! Kenapa harus aku?" Ucap Gian saat seseorang menghubunginya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!