Olivia Nugraha, gadis 18 tahun yang baru lulus SMA, terpaksa menggantikan kakaknya, Olin, untuk menikah dengan Juna demi menjaga nama besar keluarga mereka. Ia mencoba melawan, namun Oma selalu selangkah lebih maju. Pernikahan tetap terjadi.
Sementara itu, keberadaan Olin masih menjadi tanda tanya. Benarkah ia kabur? Atau ada alasan lain di balik menghilangnya? Dan mengapa namanya kembali disebut saat ia resmi menjadi bagian dari dinasti?
Karena mungkin… Olivia tidak pernah benar-benar dipilih untuk menggantikan Olin, tapi ia dipilih karena seseorang sudah mengincarnya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Mobil hitam itu melaju halus membelah jalanan Zurich yang tertutup salju tipis. Bangunan-bangunan tua dengan fasad klasik berdiri anggun, danau memantulkan cahaya musim dingin yang pucat namun elegan.
Di dalam mobil, suasana jauh lebih sunyi. Olivia duduk tegak, mantel putihnya rapi, sarung tangan masih ia genggam erat. Napasnya teratur—bukan karena ia tidak gugup, tetapi karena ia sedang menahan semuanya agar tidak tumpah.
Juna meliriknya sebentar. Lalu tanpa banyak bicara, ia menyerahkan sebuah tablet.
“Baca ini.”
Olivia menerima tablet itu dengan alis terangkat. Di layar sudah terbuka dokumen lengkap.
Judulnya:
Opening Statement – Olivia Nugraha
Direktur Cabang Eropa.
Isinya terstruktur rapi. Poin-poin pembukaan. Visi jangka pendek. Penegasan nilai keluarga. Bahkan kemungkinan pertanyaan yang mungkin muncul.
Olivia menggeser layar perlahan. “Lu yang bikin, kak?”
“Gue dan tim legal. Disesuaikan dengan posisi lu.”
Olivia membaca beberapa baris dengan cepat, lalu menatapnya. “Lu pikir gue bakal gugup?”
“Bukan,” jawab Juna tenang. “Gue tau lu nggak akan gugup.”
Olivia mengerutkan kening.
“Dari kecil lu terbiasa bicara di depan umum,” lanjut Juna. “Pidato lomba sekolah. Presentasi. Acara keluarga. Lu selalu percaya diri.”
Olivia terdiam. “Lu tau dari mana?”
Juna menatap lurus ke depan. “Oma selalu sebut lu sebagai cucu yang paling berani.”
Kalimat itu membuat sesuatu menghangat di dada Olivia. Ia memang baru lulus SMA, tapi bicara di depan umum bukan hal baru baginya. Dari kecil ia sering diminta mewakili sekolah, memimpin acara keluarga, bahkan berdebat dengan om dan tentenya tanpa takut. Yang membuatnya gugup bukanlah panggung. Melainkan konsekuensinya.
Olivia menarik napas panjang. “Kalau gue improvisasi?”
“Silahkan.”
“Kalau gue keluar dari script?”
“Gue justru berharap begitu.”
Olivia menoleh cepat. “Hah?”
Juna tersenyum tipis. “Script itu cuma kerangka. Tapi mereka perlu lihat lu, bukan versi yang dibuat tim.”
Olivia memandang tablet itu lagi. Tiba-tiba rasa takutnya berubah bentuk. Bukan takut gagal, tapi takut berhasil.
Mobil melambat. Gedung kantor pusat keluarga berdiri megah di depan mereka. Kaca tinggi menjulang, desain modern dengan sentuhan klasik Eropa.
Berkelas. Dingin. Dominan.
Olivia menelan ludah. “Kak.”
“Hm?”
“Kalau gue nanti ngomong terlalu pede?”
“Gue bangga.”
“Kalau gue terlalu blak-blakan?”
“Gue dukung.”
“Kalau gue bikin mereka terdiam?”
Juna akhirnya menoleh padanya. “Itu tujuan lu.”
Olivia tersenyum kecil. Mobil berhenti. Sopir membuka pintu.
Udara dingin langsung menyapa wajahnya. Sebelum ia keluar, Juna menahan lengannya pelan. Bukan menahan untuk menghentikan. Hanya memastikan ia menoleh.
“Lu bukan hadiah,” ucapnya rendah. “Jabatan itu bukan sekadar balasan karena lu menggantikan Olin.”
Olivia menatapnya. “So?”
“Lu dipilih karena mampu.”
Hening sepersekian detik. Olivia merasakan sesuatu bergetar halus di dadanya. Bukan takut atau terpaksa. Tapi… dihargai.
Ia keluar dari mobil. Langkahnya mantap.Bahu tegak. Tatapan lurus. Namun saat mereka berjalan berdampingan menuju pintu utama—Olivia berbisik pelan,
“Kalau nanti gue sukses… jangan merasa tersaingi ya.”
Juna tertawa rendah menanggapinya.
Pintu kaca otomatis terbuka. Sejumlah eksekutif sudah berdiri menyambut. Semua mata tertuju pada Olivia. Direktur muda. Istri Juna. Cucu Oma Dewi.
Ia melangkah masuk. Ruang rapat besar sudah menunggu. Namun tepat sebelum pintu ruang utama dibuka—salah satu anggota keluarga senior mendekat dan berkata pelan,
“Semoga Anda siap, Nona Nugraha. Karena agenda hari ini bukan hanya tentang cabang Eropa.”
Olivia mengerutkan kening. “Maksudnya?”
Pria itu tersenyum tipis. “Hari ini juga akan diumumkan siapa penerus utama grup ini.”
Langkah Olivia terhenti sepersekian detik. Ia menoleh pada Juna. Juna tidak terlihat terkejut sama sekali.
Olivia bertanya dalam hati—apakah ia hanya dipersiapkan menjadi direktur cabang…atau sedang diposisikan sebagai calon pewaris? Dan kalau iya—apakah Juna sudah tahu sejak awal?
***
Ruang rapat besar itu sunyi, hanya terdengar suara langkah Olivia di lantai kayu yang berkilau. Semua mata tertuju padanya: para eksekutif, penasihat keluarga, bahkan Oma Dewi yang tak terlihat puas namun tetap menahan ekspresi. Olivia menahan napas, merapikan blazer putihnya, dan menatap podium.
Tablet di tangannya sudah berisi skrip pidato, namun pandangan Olivia berhenti sejenak pada wajah Oma. Ia menelan ludah.
“Ini bukan sekadar pidato bisnis,” gumamnya dalam hati. “Ini juga panggungku untuk menunjukkan siapa aku sebenarnya.”
Ia menarik napas panjang, lalu mulai berbicara dengan suara yang mantap, tegas, dan berkelas dengan bahasa inggris yang fasih.
“Selamat pagi, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, dan para eksekutif terhormat.
Hari ini saya berdiri di sini bukan hanya sebagai wakil keluarga, tapi sebagai bagian dari visi masa depan grup Nugraha.
Visi kami adalah menciptakan jaringan cabang yang bukan hanya efisien, tapi juga berorientasi pada inovasi, keberlanjutan, dan keberanian mengambil risiko.
Sebagai direktur cabang Eropa, saya berkomitmen untuk memastikan setiap langkah kami selaras dengan nilai keluarga, sambil membuka peluang baru bagi semua anggota tim untuk berkembang.
Kami akan mengutamakan kolaborasi, bukan hierarki; keberanian, bukan ketakutan; dan integritas, bukan sekadar formalitas.
Dan meski saya baru lulus SMA, saya percaya bahwa kemampuan bukan hanya soal pengalaman, tapi soal keberanian untuk mengambil langkah, meski penuh tantangan.
Hari ini saya berdiri bukan untuk membuktikan diri saya, tapi untuk membuktikan bahwa visi keluarga bisa dijalankan dengan keberanian, kejujuran, dan hati yang terbuka.”
Seluruh ruang rapat hening beberapa detik. Olivia menatap tamu, kemudian menoleh ke arah Oma yang terlihat sedikit tercengang, namun tetap tegas.
Di luar skrip, Olivia melanjutkan:
“Dan meski hadiah berupa perjalanan ke Zurich tampak mewah, bagi saya ini bukan tentang jet pribadi atau kemewahan. Ini tentang tanggung jawab—tanggung jawab untuk menunjukkan bahwa keluarga ini bisa dipercaya, dan bahwa kita bisa menjaga nama baik sambil tetap jujur pada diri sendiri.”
Ia menutup tablet, menatap lantai sebentar, lalu mengangkat kepalanya dengan penuh percaya diri.
Applaus pecah. Tepuk tangan bukan sekadar formalitas, tapi penuh pengakuan. Eksekutif berdiri, memberikan hormat.
Olivia tersenyum tipis, dada berdebar kencang. Ia menjawab semua pertanyaan dengan tegas dan sepertinya mereka puas dengan jawaban Olivia. Ia pun turun dari podium, langkahnya mantap, dan kembali duduk di samping Juna. Tanpa kata, Juna menggenggam tangannya. Hangat. Mantap.
“Lu keren,” bisiknya pelan.
Olivia menatap tangannya yang tergenggam, hatinya benar-benar menghangat. Ia merasa dihargai dan diakui. Bukan hanya sebagai pengganti Olin, tapi sebagai dirinya sendiri.
Namun, kegembiraan itu hanya bertahan sesaat ketika giliran Oma naik ke atas podium.