Revania Agatha, Ibu muda berusia 32 tahun yang sudah memiliki seorang putra. Terjebak dalam dilema antara bertahan atau pergi disaat rumah tangganya tak lagi membuatnya merasa diinginkan oleh suaminya sendiri.
Nathan Alexander, pria dewasa dan mapan yang masih betah melajang dan disibukkan dengan karir yang dibangunnya. Namun tanpa di duga dirinya justru tertarik pada wanita yang sudah bersuami.
Gimana ya kisahnya, yuk ikutin ceritanya. ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vennyrosmalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8
Nathan terus diam setelah pulang dari kediaman utama. Mommy Jane terus mencoba untuk menahannya agar tidak lagi pergi dari rumah dan kembali berkumpul bersama.
Tapi Nathan masih belum bisa menerima keputusan kedua orang tuanya yang tetap mendukung pernikahan Irene dan suaminya yang sudah beristri itu.
"Bos."
"Tutup mulutmu Bram, aku sedang tidak ingin mendengar ocehanmu."
Bram menahan mulutnya dengan satu tangan agar tidak mengeluarkan perkataan yang bersarang di otaknya.
Nathan memijat keningnya karena merasakan pusing di kepalanya. Masalah Irene ini benar-benar membuat Nathan tidak tahu harus bersikap bagaimana.
"Bram, coba cari tahu istri dari laki-laki brengsek itu." titah Nathan tiba-tiba.
Bram cukup terkejut dengan permintaan Nathan yang ingin mencari tahu istri dari suami Irene. Dulu saat awal permasalahan, Bram sempat mengusulkan hal ini pada Nathan. Namun Nathan yang menolak untuk mencari tahu seluk beluk riwayat suami Irene itu.
"Bos yakin? menurutku sekarang sudah bukan waktunya lagi." ucap Bram berpendapat.
"Tidak apa-apa, aku ingin membuat si Brengsek itu memilih antara istrinya atau Irene." jelas Nathan.
"Tapi Bos, Nona Irene kan sedang."
"Justru karena itu harus ada kejelasan untuk pernikahan adikku." seru Nathan tegas.
Nathan akan membuat suami Irene memilih salah satunya. Jika suami Irene berani meninggalkan istrinya, maka Nathan akan mencoba untuk menerima pernikahan mereka.
Tapi jika sebaliknya, maka jangan harap Nathan akan diam saja melihat Irene dijadikan istri kedua oleh laki-laki ba jingan itu.
"Baik Bos, secepatnya aku akan mencari tahu." jawab Bram.
.
.
Keesokan harinya.
Vania hari ini akan pergi bersama Resa untuk mendaftarkan Resa sekolah di taman kanak-kanak. Semalam saat Satria pulang, Vania sempat membicarakan sebentar mengenai sekolah Resa.
Ternyata suaminya sudah menyiapkan hal tersebut dan memberikan formulir pendaftaran pada Vania. Jadi Vania tinggal datang dan memberikan formulir yang sudah di isinya itu dengan menyertakan beberapa berkas yang di perlukan untuk mendaftar.
"Bunda, apa mulai hari ini Resa sekolah?" tanya Resa di sela kegiatan sarapan mereka.
"Belum sayang, kita akan pergi mendaftar dulu dan melihat keadaan sekolah Resa nanti." jawab Vania sambil menyuapi Resa makan.
Biasanya Resa sudah bisa makan sendiri meskipun masih sedikit berantakan. Berhubung Resa sudah berpakaian rapi dan mereka akan pergi, jadi Vania menyuapi Resa agar tidak mengotori pakaiannya.
"Ayah akan mengantar kami kan?" tanya Resa pada Satria yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.
"Ayah tidak bisa mengantar, tapi di depan sudah ada supir yang akan mengantar kalian." jelas Satria.
Resa sedikit kecewa karena dia berfikir jika ayahnya juga akan pergi bersamanya. Melihat kekecewaan di wajah Resa, Vania segera membujuk Resa agar mengerti dengan kesibukan Satria.
"Sayang, Ayah kan baru masuk kerja jadi tidak bisa sembarangan izin. Nanti saat Resa sudah masuk sekolah, Ayah pasti bisa mengantar Resa. Iyakan Yah?"
Satria menatap Vania yang juga kini sedang menatapnya. Melalui mata itu Vania seolah mengatakan untuk menyetujui perkataannya.
"Ya, akan Ayah usahakan." jawab Satria seadanya.
Vania memejamkan mata sejenak setelah mendengar jawaban Satria yang kurang meyakinkan. Vania kembali harus memendam rasa kecewa pada Satria yang selalu menomorduakan keluarganya.
"Resa dengarkan, Ayah pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk Resa." tutur Vania dengan penjelasan yang ingin tetap membuat Resa senang.
"Baiklah Bunda, Resa mengerti."
Vania tersenyum melihat putranya yang begitu pengertian. Tidak seperti Ayahnya sendiri yang selalu seenaknya membuat keputusan.
"Ya sudah cepat habiskan sarapannya supaya tidak terlambat." titah Vania dan dijawab anggukan oleh Resa.
.
.
Vania dan Resa kini sudah sampai di Taman kanak-kanak tempat Resa akan bersekolah. Vania sempat salah mengira dengan tempat yang di datanginya saat ini.
"Pak, apa benar ini sekolahnya?" tanya Vania pada supir yang mengantar mereka.
"Benar Nyonya, sekolah ini yang diberitahukan oleh Tuan Satria." jawab supir itu.
Vania mengangguk paham setelah supir itu menjelaskannya. Namun, Vania tidak menyangka jika Satria mendaftarkan Resa di sekolah yang elite seperti ini. Apalagi ini hanya Taman kanak-kanak, namun Vania bisa melihat kemewahan dari sekolah tersebut.
Tidak mau berfikir yang berlebihan, Vania mengajak Resa untuk turun dan segera masuk ke dalam untuk mendaftar.
Vania melihat ada cukup banyak ibu dan anak yang akan mendaftar di sekolah ini. Dilihat dari gaya berpakaian ibu-ibu disana, Vania juga menaksir orang yang mendaftar di sekolah ini bukan kaum mendang mending.
"Mas Satria tidak bilang padaku kalau mendaftar si sekolah elit seperti ini." gumam Vania sambil menunggu giliran untuk pendaftaran.
Saat sedang menunggu tiba-tiba ada yang menepuk pundak Vania dari belakang. Tentu saja Vania langsung menoleh dan ternyata ada seorang wanita asia yang terlihat seusianya tersenyum padanya.
"Apa kamu dari Indonesia?" tanya wanita itu."
Vania terkejut, ternyata ada juga yang menyapanya dengan menggunakan bahasanya.
"Iya benar, apa kamu juga sama?" tanya Vania antusias.
Wanita itu mengangguk senang dan mengulurkan tangannya pada Vania.
"Kenalkan namaku Liliana." ucap wanita bernama Liliana itu.
Vania langsung menyambut uluran tangan itu dengan baik.
"Aku Revania, kamu bisa panggil Vania saja."
Vania cukup senang bertemu dengan orang yang sama-sama berasal dari Indonesia. Setidaknya Vania bisa lebih mudah berbaur dengan Liliana sekarang.
Mereka terus saja saling berbincang sampai pendaftaran sekolah anak mereka selesai. Liliana memang tidak datang bersama putrinya yang seusia dengan Resa.
Tapi mereka sudah saling bertukar nomor ponsel untuk bisa saling berkabar saat nanti akan masuk sekolah.
"Jangan lupa kabari aku ya, nanti kau harus mampir ke rumahku." cerocos Liliana.
Satu hal yang Vania senangi juga dari Liliana. Dia orang yang cukup ekspresif dan banyak bicara, jadi bisa membuat Vania lebih membuka diri untuk saling mengenal.
"Tentu aku akan menghubungimu nanti." jawab Vania.
Mereka pun berpisah dan masuk ke dalam mobil masing-masing.
"Bunda, kapan Resa mulai masuk sekolah?" tanya Resa saat dalam perjalanan pulang.
"Minggu depan sayang, Resa sudah tidak sabar ingin sekolah ya?" tanya Vania.
"Iya Bunda, tadi Resa juga sudah banyak berkenalan dengan beberapa teman, tapi Resa sedikit tidak paham dengan ucapan mereka." keluh Resa.
Vania terkekeh, Resa pasti sedikit terkendala dengan bahasa, tapi lambat laun putranya pasti akan terbiasa. Apalagi nanti juga akan ada putri Liliana, jadi Resa bisa sedikit terbantu karena keluarga Liliana sudah tinggal cukup lama disini.
"Nanti Resa juga akan bisa mengerti dan berkomunikasi dengan baik bersama teman-teman ya." ucap Vania menenangkan.
......................