Enam tahun pengabdian dan cinta jarak jauh (LDR) berakhir sia-sia bagi Aurora. Ia didepak begitu saja lewat pesan singkat, diblokir dari seluruh aspek kehidupan sang mantan, dan digantikan oleh sosok "penjual kesedihan" yang ahli memanipulasi simpati. Luka itu dibawa pulang ke Medan, terkubur di balik kesuksesan yang ia bangun dalam diam.
Tiga tahun berlalu, ego sang mantan akhirnya runtuh. Di bawah tekanan kebutuhan penelitian S3 ibunya di pedalaman Bukit Lawang yang keras dan rawan, ia terpaksa menelan ludah sendiri (mengubungi kembali nomor yg dulu ia blokir). Ia mengharapkan bantuan, mungkin sedikit rasa iba.
Namun, yg ia temukan bukanlah mantan kekasih yg meratapi nasib.
Aurora menerima permintaan itu dengan senyum paling tenang. Bukan dengan amarah, ia menyambut mereka dengan kemewahan yg tak pernah mereka bayangkan. Sebuah Hiace VVIP dengan kursi pijat elektrik menanti di bandara, dikawal oleh sahabat2 loyal dan seorang fotografer yg siap mengabadikan penyesalan sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan Di Tengah Sejuknya Berastagi
Suasana di warung Penatapan itu kembali riuh saat rombongan duduk melingkar mengelilingi meja kayu panjang yang penuh dengan kotak makanan. Udara yang semakin dingin justru membuat selera makan mereka meningkat tajam.
"Ra, ini dimsum kejunya juara banget!" seru Rico sambil menyumpit potongan kedua.
"Kejunya masih lumer meskipun kena angin gunung. Kamu pakai keju apa sih?"
Aurora tertawa kecil sambil menuangkan sisa jahe susu ke gelas Nenek.
"Itu rahasia dapur, Rico. Tapi kuncinya ada di teknik kukusnya supaya tekstur kulitnya nggak keras."
"Adrian, kamu kok diam saja? Ayo dihabiskan sandwich-nya, ini daging asapnya kan pilihan kamu kemarin," ujar Ibu Adrian sambil menyodorkan kotak roti ke arah putranya.
Adrian yang sejak tadi asyik memperhatikan Aurora, langsung tersadar.
"Eh, iya Ma. Ini mau makan kok. Enak banget, Ra. Rasanya persis kayak yang dulu sering kamu buatkan kalau kita lagi nugas bareng di kampus, cuma yang ini lebih premium."
Firan yang duduk tepat di sebelah Aurora hanya tersenyum tipis mendengar nostalgia Adrian. Ia meraih sepotong sandwich varian egg mayo.
"Aku setuju soal rasanya. Tapi sepertinya ada bumbu baru ya, Ra? Rasanya lebih kaya daripada yang biasa kamu buatkan di kantor."
Bram yang sedang sibuk mengunyah tempe mendoan langsung menyahut,
"Wah, jadi Pak Firan sudah sering ya nyobain masakan Aurora? Curang nih, saya baru kali ini ngerasain dimsum legendaris ini."
Firan terkekeh, melirik Aurora sekilas.
"Ya, sesekali kalau lembur di kantor, Aurora suka bawa bekal lebih."
"Duh, yang bos mah beda ya nasibnya," goda Bram yang membuat suasana semakin cair.
Sherly yang sedari tadi mencoba terlihat "asik" akhirnya ikut bicara.
"Ra, aku boleh minta resep saladnya nggak? Selada iceberg-nya kok bisa tetap garing banget ya? Padahal sudah dicampur saus dari tadi subuh."
"Kuncinya di suhu air saat mencucinya, Sher. Harus pakai air es," jawab Aurora ramah, membuat Sherly manggut-manggut seolah benar-benar paham.
"Siska, itu dimsum terakhir jangan dimakan semua! Bagi aku dong!" seru Rico saat melihat Siska hendak melahap potongan dimsum goreng terakhir.
"Siapa cepat dia dapat, Rico! Kamu kan sudah makan lima tadi!" balas Siska sambil menjulurkan lidah dan langsung melahapnya, membuat semua orang tertawa terbahak-bahak.
Nenek Adrian yang sejak tadi diam menikmati jagung bakarnya, tiba-tiba bersuara.
"Sudah, jangan ribut soal makanan. Ini jagungnya masih banyak. Tapi Nenek mau tanya, Ra... nanti di Berastagi, kita nggak cuma beli jeruk kan? Nenek mau cari bunga juga buat ditaruh di kamar villa nanti."
"Tentu saja, Nek. Nanti kita mampir ke pasar bunga juga. Di sana bunganya segar-segar sekali, ada Krisan, Aster, sampai mawar berbagai warna," jawab Aurora lembut.
"Asyik! Nanti biar Bram yang bawain belanjaan bunga Nenek, ya?" goda Bram sambil mengedipkan mata ke arah Nenek Adrian.
"Boleh, asal kamu nggak minta upah jeruk ya!" canda Nenek yang disambut tawa serempak dari seisi meja.
Minuman jahe dan teh mereka kini sudah mulai mendingin, menyisakan uap tipis di udara.
Mereka pun mulai merapikan kotak-kotak makanan yang sudah kosong dengan rasa puas yang terpancar dari wajah masing-masing.
Pintu geser otomatis Hiace mewah itu tertutup dengan suara yang sangat halus.
Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi pijat dengan perasaan yang sangat puas.
Untuk pertama kalinya sejak keberangkatan dari Jakarta, ia merasa tembok es yang selama ini dibangun Aurora perlahan mulai retak dan runtuh.
Kali ini, formasi kursi berubah.
Adrian, Firan, dan Bram duduk sejajar dalam satu baris, menciptakan suasana seperti "tiga serangkai". Sementara itu, Aurora, Sherly, dan Siska duduk tepat di baris depan mereka, memunggungi para pria.
"Gimana, Dri? Punggung aman?" tanya Firan membuka obrolan sambil menyalakan fitur pijat di kursinya.
"Aman, Fir. Lebih baik setelah kena udara segar tadi," jawab Adrian dengan nada yang jauh lebih bersahabat.
"Tapi ya itu, besok pas main jetski di Toba, mungkin aku nggak bisa terlalu atraktif dulu."
Bram tertawa kecil sambil menyilangkan kakinya.
"Tenang saja, Dri. Kalau soal jetski, biar aku yang bagian tarik gas. Kamu bagian bonceng Aurora saja kalau berani, gimana?"
Adrian terkekeh, melirik tengkuk Aurora yang ada di depannya.
"Wah, kalau itu sih tergantung izin dari sang 'Manajer Perjalanan' kita ini. Tapi rencana BBQ besok malam sudah oke kan, Fir?"
"Sudah," sahut Firan tenang.
"Aku sudah cek list-nya sama Rian. Kita punya stok daging steak premium yang dibawa Aurora tadi, plus karaoke. Aku harap suaramu lebih bagus daripada suara mesin Hiace ini ya, Bram?"
"Sialan kamu, Fir! Suaraku ini kualitas festival tahu!" balas Bram yang disambut tawa oleh Firan dan Adrian.
Sementara para pria sibuk membahas logistik dan rencana "seru-seruan" pria, suasana di barisan depan tak kalah ramai. Tiga wanita itu sedang sibuk menatap layar ponsel mereka yang menampilkan referensi gaya pakaian.
" Kak Rora, besok pas kita di atas kapal feri ke Samosir, kamu pakai apa?" tanya Siska antusias sambil menunjukkan foto gaun pantai di Pinterest.
Aurora menoleh sedikit ke arah Siska.
"Aku sih rencananya pakai long dress bahan linen yang warna putih atau krem. Biar kontras sama warna biru danau. Kamu bawa yang floral kan?"
"Bawa dong! Biar foto-foto kita makin estetik," sahut Siska.
Sherly, yang tidak ingin ketinggalan momen, ikut menimpali dengan nada yang jauh lebih bersahabat dari sebelumnya.
"Eh, kalau aku pakai dress warna merah menyala kira-kira terlalu berlebihan nggak sih? Takutnya malah jadi pusat perhatian monyet di sana, bukan pusat perhatian kalian."
Aurora tertawa mendengar gurauan Sherly.
"Nggak apa-apa, Sher! Merah itu bagus kalau difoto, apalagi kalau latar belakangnya hijau pegunungan di sekitar danau. Pasti cantik."
"Beneran ya? Oke, fiks aku pakai yang merah!" ujar Sherly senang.
"Terus kalau malam BBQ, kita pakai tema apa? Jangan bilang pakai daster ya?"
"Ya ampun Sher, daster?" Siska terbahak.
"BBQ night itu waktunya casual chic. Aku sih mau pakai sweater tipis sama celana kulot saja, Medan-Toba itu dingin banget kalau malam."
"Setuju," timpal Aurora.
"Yang penting nyaman. Oh iya, kalian bawa jaket lebih kan? Suhu di Parapat malam-malam bisa turun drastis."
Mendengar obrolan di depannya, Adrian tiba-tiba mencondongkan tubuh ke depan, berbisik di antara celah kursi Aurora dan Sherly.
"Dengar-dengar ada yang mau pakai baju merah ya? Hati-hati, nanti dikira umpan pancing di danau."
"Ih, Adrian! Berisik banget sih!" protes Sherly sambil memukul pelan bahu Adrian, sementara Aurora hanya tersenyum lebar melihat interaksi mereka.
Perjalanan itu terus berlanjut dengan tawa yang bersahut-sahutan antara baris depan dan belakang, menghapus sisa-sisa kecanggungan yang sempat ada di meja makan tadi pagi.
Suasana di dalam Hiace yang mewah itu mendadak hening, hanya terdengar suara dengkur halus dan deru AC yang stabil.
Guncangan mobil yang sangat lembut serta fitur kursi pijat benar-benar menghipnotis seluruh rombongan hingga terlelap pulas.
Adrian tertidur dengan kepala bersandar di headrest, sementara Firan tampak tenang dalam tidurnya dengan tangan bersedekap, dan Aurora menyandarkan kepalanya ke bahu kursi, terlihat sangat lelap setelah bangun sejak jam tiga subuh.
Juna, yang tetap terjaga mendampingi Rian menyetir, melihat papan selamat datang di Kota Berastagi. Udara di luar sudah mulai berkabut tipis dan aroma khas pasar buah mulai tercium.
"Bang... Bang Rian," bisik Juna sambil menyenggol lengan Rian yang sedang fokus menatap jalanan padat di depan pasar.
"Kita sudah sampai di pusat pasar buah. Bangunkan mereka, Bang. Kasihan kalau terlewat momen belanjanya."
Rian mengangguk pelan, lalu menekan tombol untuk meredupkan volume musik instrumen dan sedikit menaikkan lampu kabin.
"Ehem... Selamat siang semuanya. Maaf mengganggu mimpinya, kita sudah sampai di Pasar Buah Berastagi," ujar Rian dengan suara baritonnya yang sopan namun cukup untuk membangunkan seisi mobil.
Adrian adalah yang pertama membuka mata. Ia mengerjap-ngerjap, berusaha mengumpulkan nyawa.
"Wah, sudah sampai ya? Tidurku nyenyak sekali."
Firan terbangun tepat setelahnya, langsung memperbaiki posisi duduknya dengan sigap.
"Luar biasa kursinya, Ra. Aku sampai tidak sadar kita sudah lewat jalur berkelok tadi."
Aurora mengucek matanya pelan, tampak sangat manis saat baru bangun tidur.
"Hoammm... Sudah sampai ya? Jam berapa sekarang, Juna?"
"Sudah jam sebelas lewat, Kak," jawab Juna ramah.
Siska dan Sherly bangun dengan ekspresi kaget.
"Aduh! Dandanku berantakan nggak?" tanya Sherly panik sambil buru-buru mencari cermin di tasnya.
"Nggak, Sher. Tetap cantik kok, cuma sedikit... berminyak," goda Rico yang langsung mendapat lemparan bantal leher dari Siska.
"Ayo semuanya turun!" seru Bram yang sudah sangat bersemangat.
"Nenek, ayo bangun. Janji Mangga Udang-nya sudah di depan mata ini!"
Nenek Adrian terbangun dengan senyum cerah.
"Wah, sudah sampai? Ayo, ayo! Nenek sudah siap tempur menawar harga!"
"Ingat ya semuanya," Aurora mengingatkan sambil merapikan rambutnya.
"Tetap berkelompok, jangan sampai ada yang terpencar. Rico, bawa kameramu, pasar ini sangat fotogenik!"
"Siap, Bos!" sahut Rico penuh semangat sambil membuka pintu geser otomatis.
Seketika, udara dingin Berastagi yang segar menyerbu masuk ke dalam kabin, membawa aroma harum jeruk madu, stroberi, dan bunga-bunga krisan yang sedang mekar sempurna di sepanjang jalan pasar.
aurora ni kepribadian ganda ato gimana sih kadang dingin kadang welcome😭
nyesel banget deh tu si adrian lebih milih ulet bulu kaya sherly
semoga endingnya aurora gak usah balikan sama adrian deh...