Sepuluh tahun lalu, hujan merenggut segalanya dari seorang gadis lima belas tahun. Tanah longsor menelan kedua orang tuanya tanpa jejak, memaksanya tumbuh sebelum waktunya. Sejak hari itu, Nala belajar satu hal: hidup bukan tentang memilih, tapi tentang bertahan.
Bersama adiknya, Niskala, ia pindah ke ibu kota dengan harapan masa depan yang lebih baik. Namun kenyataan jauh lebih kejam. Pendidikan dirampas, masa kecil dipaksa hilang, dan mereka harus berdiri di lampu merah menjual tisu demi bertahan hidup. Hingga suatu malam, dengan uang receh yang dikumpulkan diam-diam selama bertahun-tahun, Nala memilih kabur—membawa satu-satunya hal yang tak boleh hancur: mimpi adiknya.
Di kota yang tak pernah benar-benar peduli, Nala bekerja tanpa henti. Pagi sebagai kasir, siang di minimarket, malam menjadi barista, bahkan memasak mi di warnet sempit yang pengap. Tubuhnya lelah, perutnya sering kosong, tapi satu hal tak pernah goyah: Niskala harus tetap sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saqila nur sasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanpa Senyum
“nyatanya, aku semakin kehilangan arah dan lupa dimana harus pulang”
***
Sebagai cadangan yang baru diingat ketika diperlukan.
“Bapak mencari saya bertahun-tahun,” katanya pelan. “Dan saat akhirnya menemukan saya… yang Bapak tawarkan adalah kontrak?”
Baskara tidak menjawab langsung. Tatapannya tetap datar, terlalu rasional untuk situasi yang seharusnya emosional.
“Saya menawarkan masa depan yang lebih baik untukmu.”
“Masa depan siapa?” tanya Nala cepat. “Masa depan saya? Atau masa depan bisnis Bapak?”
Kalimat itu menggantung.
Untuk pertama kalinya, suara Nala terdengar tajam.
“Bapak tahu saya kesulitan. Bapak tahu saya butuh uang. Dan Bapak datang membawa angka besar… supaya saya setuju menggantikan anak yang Bapak besarkan dengan nyaman.”
Dadanya terasa perih. Lebih sakit dari kehilangan tas. Lebih sakit dari pertengkaran dengan Kala. Karena ini menyentuh sesuatu yang lebih dalam.
Harga diri.
“Arsha hidup dengan segala kemewahan,” lanjutnya lirih. “Dan saya hidup… seperti ini.”
Ia menatap apron yang masih melekat di tubuhnya.
“Lalu sekarang saya dipanggil bukan sebagai anak… tapi sebagai pengganti.”
Baskara tetap tenang. “Kamu akan diuntungkan.”
Kalimat itu justru membuat Nala semakin sakit. Ia berdiri perlahan dari kursinya.
“Bapak tahu apa yang paling menyakitkan?” suaranya tidak keras, tapi bergetar oleh luka yang jujur. “Bukan fakta bahwa saya punya saudara kembar. Bukan fakta bahwa ayah yang membesarkan saya bukan ayah kandung.”
Ia menatap Baskara lurus-lurus.
“Yang paling menyakitkan adalah Bapak memperlakukan saya seperti transaksi.”
Hening.
Lima puluh juta per bulan. Angka itu masih bergema di kepalanya. Ia tahu betul betapa angka itu bisa mengubah hidupnya. Tapi cara angka itu diberikan Seolah ia sedang dijual. Dan malam yang sudah penuh kehilangan itu kini menambahkan satu lagi:
Ilusi bahwa darah selalu berarti keluarga.
Baskara tidak terlihat tersinggung. Ia justru membuka map hitam yang sejak tadi berada di sampingnya. Dengan gerakan tenang, ia mengeluarkan beberapa lembar kertas dan menggesernya ke arah Nala.
“Kamu mungkin ingin melihat ini dulu.”
Nala menatapnya curiga, lalu menurunkan pandangan ke dokumen itu. Logo kampus tercetak jelas di bagian atas. Tangannya langsung gemetar. Itu surat tunggakan biaya kuliah Kala.Angkanya tercetak tebal di bagian bawah. Puluhan juta. Jauh lebih besar dari yang Kala katakan padanya. Di bawahnya, ada satu lembar lagi.
Surat peringatan.
Satu SP terakhir.
Kalimatnya jelas dan dingin: Jika tunggakan tidak dilunasi dalam batas waktu yang ditentukan, mahasiswa atas nama Niskala Aryaputra akan dikenakan sanksi Drop Out.
Jantung Nala seperti dihantam sesuatu yang berat. Tanggal batas pembayaran… tinggal beberapa hari lagi.
Beberapa hari.
Ia bahkan baru saja kehilangan pekerjaan paruh waktunya. Tasnya dijambret. Tabungannya nyaris tak ada.
“Bagaimana Bapak bisa ” suaranya tercekat.
“Saya sudah bilang,” potong Baskara tenang. “Saya tahu kehidupanmu.” Ia menatap Nala lurus-lurus.
“Kamu bukan hanya kehilangan pekerjaan hari ini. Kamu juga kehilangan akses ke tabunganmu. Tanpa ponsel. Tanpa kartu. Tanpa uang tunai.”
Setiap kalimatnya terasa seperti pengingat bahwa Nala sedang berdiri di ujung jurang.
“Dan adikmu,” lanjutnya, “hanya tinggal selangkah lagi dikeluarkan dari kampus.” Nala menatap angka tunggakan itu lagi. Kala yang keras kepala. Kala yang selalu pura-pura kuat. Kala yang memaksakan kuliah di kampus mahal karena ingin cepat sukses.
Kala yang sore tadi bertengkar dengannya. Dadanya kembali sesak.
“Bapak menyelidiki kami?” tanyanya pelan.
“Saya memastikan keputusan saya berdasarkan data.”
Data.
Bukan perasaan.
Bukan rindu.
Data.
Baskara melipat tangannya di atas meja.
“Lima puluh juta per bulan. Semua tunggakan akan saya lunasi besok. Adikmu aman. Hidupmu stabil. Kamu tidak perlu lagi bekerja sampai larut malam.”
Ia berhenti sejenak.
“Sebagai gantinya, kamu hanya perlu menjalankan peranmu.”
Hanya. Kata itu terdengar begitu ringan. Padahal artinya sebesar hidup seseorang. Nala menatap surat DO itu lama. Ia membayangkan wajah Kala jika benar-benar dikeluarkan. Semua mimpinya runtuh. Semua perjuangan mereka sia-sia. Ia membayangkan kontrakan mereka. Tagihan listrik. Uang makan. Ia membayangkan dirinya… sendirian menghadapi semuanya tanpa pekerjaan, tanpa tabungan.
Dan di depannya sekarang ada solusi. Solusi yang menyakitkan harga dirinya.
“Bapak tahu ini pemerasan terselubung?” suaranya bergetar, tapi tidak lagi karena bingung. Karena marah.
“Saya menawarkan pilihan,” jawab Baskara dingin. “Saya tidak memaksa.”
“Pilihan?” Nala tertawa kecil, getir. “Saat saya terpojok seperti ini?”
Hening sejenak.
“Dunia tidak berjalan dengan perasaan, Nala,” kata Baskara. “Ia berjalan dengan keputusan.”
Nala menatap pria itu.
Ayah kandungnya.
Yang berdarah sama dengannya.
Yang kini duduk rapi dengan jas mahal, menawarkan keselamatan adiknya sebagai bagian dari kesepakatan. Air mata menggenang di sudut matanya, tapi ia menahannya keras. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapannya. Satu sisi dirinya berteriak untuk menolak. Sisi lainnya… teringat Kala. Teringat batas waktu yang hanya tinggal hitungan hari. Untuk pertama kalinya malam itu, Nala benar-benar merasa terhimpit.
Bukan oleh kemiskinan.
Tapi oleh pilihan yang keduanya sama-sama melukai.
Baskara melihat jam di pergelangan tangannya.
Gerakannya tenang. Terukur. Seolah pembicaraan barusan hanyalah satu agenda dalam jadwal padatnya hari ini.
Ia berdiri.
Nala masih duduk, jemarinya mencengkeram lembar tunggakan kuliah Kala sampai kertas itu sedikit kusut. Tanpa banyak kata, Baskara mengambil sebuah kartu dari saku dalam jasnya. Ia menyodorkannya ke depan Nala.
Kartu nama itu tebal. Elegan. Hurufnya tercetak timbul.
Baskara Andhikara
CEO — Andhikara Group
Sederhana. Tapi berkuasa.
“Saya tunggu kabarmu,” ucapnya datar.
Tidak ada nada lembut. Tidak ada permohonan. Tidak ada “nak”. Hanya pernyataan. Ia lalu melirik kembali surat tunggakan yang masih berada di tangan Nala.
“Batas waktunya tidak lama lagi,” tambahnya. “Jangan sampai kamu terlambat mengambil keputusan.”
Kalimat itu tidak terdengar seperti ancaman. Tapi justru itulah yang membuatnya terasa lebih menekan. Nala mengangkat wajahnya perlahan. Ia ingin melihat setidaknya sedikit keraguan di mata pria itu.
Sedikit rasa bersalah. Sedikit tanda bahwa di balik jas mahal itu ada seorang ayah yang merasa kehilangan. Namun yang ia lihat hanya ketegasan dan perhitungan. Baskara merapikan jasnya.
Tanpa pamit.
Tanpa senyum.
Tanpa satu kalimat pun yang bersifat pribadi.
Ia berbalik dan melangkah keluar dari kafe. Pintu kaca terbuka, lalu tertutup kembali dengan bunyi pelan. Dan begitu saja Ia pergi. Seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan negosiasi bisnis. Bukan seperti ayah yang baru bertemu anak kandungnya setelah bertahun-tahun.
Nala masih diam di kursinya. Tangannya kini memegang dua hal Surat yang bisa menghancurkan masa depan adiknya. Dan kartu nama pria yang bisa menyelamatkannya… dengan harga dirinya.
Lampu cafe terasa terlalu terang.
Suara mesin kopi kembali terdengar.
Deby yang sejak tadi memperhatikan dari jauh terlihat ingin mendekat, tapi mengurungkan niatnya.
Nala menatap kartu nama itu lama.
Baskara Andhikara.
Nama yang seharusnya memberinya identitas. Tapi malam ini justru terasa seperti mengambil sesuatu darinya. Ia menghembuskan napas pelan.
Hari ini ia kehilangan pekerjaan.
Kehilangan tas.
Kehilangan kepastian tentang ayahnya.
Dan sekarang, Ia harus memilih antara mempertahankan harga dirinya… atau menyelamatkan satu-satunya keluarga yang ia miliki. Tangannya perlahan mengepal. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Nala menyadari satu hal yang pahit
Terkadang pilihan tidak datang dalam bentuk benar atau salah.
Tapi dalam bentuk…
Siapa yang rela kamu korbankan.
Nala berdiri perlahan dari kursinya.
Ia melipat surat itu rapi. Terlalu rapi untuk tangan yang sebenarnya gemetar.
Kartu nama Baskara ia selipkan ke saku apron. Seolah benda kecil itu tidak berarti apa-apa. Padahal beratnya seperti batu.
Ia kembali ke balik meja kasir.
Ke mesin kopi.
Ke rutinitas.
Tanpa sepatah kata pun.
Deby sempat meliriknya. Wajahnya jelas ingin bertanya. Tapi melihat sorot mata Nala yang kosong dan lelah, Deby memilih diam.
Hanya sesekali terdengar,
“Nala pesanan latte satu.”
“Nala, meja tiga minta tambah gula.” Dan Nala menjawab singkat.
“Iya.”
“Sebentar.”
Tidak lebih.
Tangannya tetap bekerja otomatis. Menggiling kopi. Mengukus susu. Menyusun pesanan.Tapi pikirannya jauh.