Aroma melati yang merebak di gedung itu terasa mencekik paru-paru Rina. Harusnya, hari ini menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya. Namun, di balik riasan bold dan kebaya putih mewah yang melekat di tubuhnya, ada hati yang sedang hancur berkeping-keping.
Di sampingnya, duduk Gus Azkar. Pria itu tampak tenang, nyaris tanpa cela. Dua bulan lalu, saat Azkar datang melamar ke rumahnya, Rina tak punya kuasa untuk menolak keinginan orang tuanya. Azkar adalah menantu idaman—seorang ustadz muda yang dihormati, santun, dan memiliki garis keturunan pemuka agama yang terpandang.
Tapi bagi Rina, Azkar adalah orang asing yang memisahkan dunianya dengan Bian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29 Pesan dari Masa Lalu
Gus Azkar masih terduduk di samping ranjang Rina, menjaga setiap hembusan napas istrinya yang kini tertidur pulas setelah peristiwa mencekam tadi. Di tengah keheningan malam yang mulai larut menuju subuh, layar ponsel Rina yang tergeletak di nakas tiba-tiba menyala, memberikan getaran pelan yang memecah kesunyian.
Azkar mengerutkan kening. Ia mengambil ponsel itu, khawatir ada panggilan darurat atau kabar penting. Namun, saat ia melihat layarnya, bukan nama orang lain yang tertera di sana, melainkan sebuah notifikasi pesan terjadwal yang dikirim oleh sistem untuk pemilik ponsel itu sendiri.
Azkar menyentuh layar itu dengan ragu. Pesan itu rupanya adalah pengingat otomatis yang dibuat Rina untuk dirinya sendiri, yang diatur untuk terkirim setiap satu minggu sekali. Sebuah "surat cinta" dari Rina untuk jiwanya yang sering kali merasa lelah.
Azkar membacanya dengan dada yang berdenyut nyeri:
"Tetap semangat jangan pantang menyerah, dan tetap sabar dan ikhlas dengan jalan takdirmu sendiri wahai diriku. Ingat, kopi itu pahit tapi karena ada gula makanya manis, sama halnya dengan garis takdirmu wahai diriku. Percayalah Allah tak akan menguji hambanya di luar batas kemampuan hambanya,jika hamba-nya mampu dan memang sangat kuat."
Air mata Azkar jatuh tepat di atas layar ponsel itu. Ia seolah bisa mendengar suara Rina yang sedang menyemangati dirinya sendiri di saat-saat paling gelap, di saat tidak ada seorang pun—termasuk Azkar—yang merangkulnya.
Gula di Tengah Kepahitan
"Ya Allah..." Azkar menutup mulutnya, menahan isak. "Selama ini dia berjuang sendirian. Dia menjadi 'gula' untuk pahitnya hidup yang aku berikan padanya."
Pesan itu menjadi bukti betapa kuatnya iman dan mental Rina di balik kerapuhan fisiknya. Rina tidak pernah benar-benar ingin menyerah; ia hanya kelelahan. Ia terus memotivasi dirinya sendiri untuk bertahan dalam takdir pernikahan yang awalnya terasa seperti penjara.
Azkar menatap Rina yang masih terpejam. Pesan singkat itu mengubah seluruh pandangannya. Ia menyadari bahwa istrinya adalah wanita yang jauh lebih hebat dari siapapun yang pernah ia temui. Rina adalah pejuang sejati yang berusaha mencintai takdirnya yang pahit, hingga akhirnya takdir itu membawanya pada titik antara hidup dan mati.
"Mas janji, Rin..." bisik Azkar sambil menggenggam ponsel itu erat di dadanya. "Mulai sekarang, Mas yang akan jadi gulanya. Mas yang akan pastikan hidupmu nggak akan sepahit kemarin lagi. Kamu nggak perlu lagi menyemangati dirimu sendirian."
____________________________________________________
Pesan tersebut menjadi tamparan keras sekaligus sumber kekuatan baru bagi Gus Azkar untuk lebih menghargai keberadaan Rina.
____________________________________________________
Gus Azkar masih merasa tersentuh dengan pesan motivasi tadi. Rasa ingin tahunya sebagai suami mulai muncul; ia ingin mengenal lebih dalam sisi lain dari istrinya yang selama ini tertutup rapat. Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, ia mulai menggeser layar galeri di ponsel Rina.
Awalnya, ia hanya menemukan kumpulan kutipan doa, kata-kata penyemangat, dan foto-foto Rina yang tampak manis dan imut dengan hijabnya. Namun, semakin jauh ia menggulir ke bawah, ke arah folder yang tersembunyi atau foto-foto lama, napas Azkar tiba-tiba tertahan.
Matanya membelalak tak percaya. Di sana, di dalam folder pribadi yang tersimpan rapi, ia melihat sisi Rina yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan. Foto-foto itu diambil saat Rina masih duduk di bangku SMP.