Tanda tangani ini, dan semua hutangmu dianggap lunas," ucap Minghua Zhang sambil melemparkan kontrak pernikahan ke atas meja yang penuh puntung rokok. Chen Song menatap angka di kertas itu, lalu menatap wajah dingin Luna di pojok ruangan. Baginya, ini bukan pernikahan, ini adalah tiket keluar dari neraka—yang tanpa ia sadari, justru akan membawanya ke neraka jenis baru.
Chen Song adalah seorang pria dari kelas menengah ke bawah yang memiliki kecanduan judi yang parah. Dalam sebuah permainan berisiko tinggi di kasino bawah tanah, ia kehilangan segalanya. Ternyata, lawan mainnya adalah seorang kolektor hutang kejam yang bekerja untuk relasi bisnis keluarga Zhang. Chen Song berhutang dalam jumlah yang mustahil ia bayar miliaran yuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon richard ariadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pernikahan kontrak
Tanda tangani ini, dan semua hutangmu dianggap lunas," ucap Minghua Zhang sambil melemparkan kontrak pernikahan ke atas meja yang penuh puntung rokok. Chen Song menatap angka di kertas itu, lalu menatap wajah dingin Luna di pojok ruangan. Baginya, ini bukan pernikahan, ini adalah tiket keluar dari neraka—yang tanpa ia sadari, justru akan membawanya ke neraka jenis baru.
Chen Song adalah seorang pria dari kelas menengah ke bawah yang memiliki kecanduan judi yang parah. Dalam sebuah permainan berisiko tinggi di kasino bawah tanah, ia kehilangan segalanya. Ternyata, lawan mainnya adalah seorang kolektor hutang kejam yang bekerja untuk relasi bisnis keluarga Zhang. Chen Song berhutang dalam jumlah yang mustahil ia bayar miliaran yuan.
Minghua Zhang, sang ibu mertua yang sangat dominan, mendengar tentang situasi Chen Song. Keluarga Zhang saat itu sedang butuh "suami formalitas" untuk Luna. Ada beberapa alasan kuat di balik ini.
Melindungi Reputasi Luna mungkin baru saja mengalami skandal atau patah hati hebat.
Wasiat Keluarga Ada harta warisan yang hanya bisa cair jika Luna menikah sebelum usia tertentu.
Minghua melunasi semua hutang judi Chen Song dengan satu syarat mutlak Chen Song harus masuk ke keluarga Zhang sebagai suami yang patuh dan siap dihina.
Adegan pernikahan ini menjadi momen paling memalukan bagi Chen Song, di mana ia bukan diperlakukan sebagai pengantin pria, melainkan sebagai "barang" yang dibeli untuk menutupi aib atau memenuhi syarat administratif keluarga Zhang.
Pernikahan digelar di aula mewah kediaman Zhang, namun suasananya tidak terasa seperti pesta. Tidak ada teman-teman Chen Song yang diundang. Tamu yang hadir hanyalah anggota inti klan Zhang yang menatap Chen Song dengan pandangan merendahkan. Chen Song mengenakan setelan jas mahal yang dibelikan Minghua, namun ia merasa seperti badut di dalamnya.
Saat pendeta atau penghulu bertanya, Luna Zhang menjawab dengan suara datar, tanpa sedikit pun menoleh ke arah Chen Song. Matanya sembab, menunjukkan bahwa ia telah menangis berhari-hari karena harus menikahi seorang pecandu judi. Saat giliran Chen Song, suaranya bergetar bukan karena terharu, melainkan karena tekanan dari tatapan tajam Minghua di barisan depan.
Setelah prosesi sah, tradisi minum teh atau pemberian restu menjadi ajang perundungan verbal dari anggota keluarga Zhang:
Paman Luna "Chen Song, ingatlah posisimu. Kamu hanya anjing penjaga di rumah ini. Tanpa uang Minghua, kepalamu mungkin sudah hanyut di sungai karena hutang judimu itu."
linda zhang sepupu luna "Jangan pernah bermimpi namamu akan setara dengan marga Zhang. Kamu tetaplah sampah, hanya saja sekarang sampahnya dibungkus kain sutra."
Luna Zhang Saat mereka hanya berdua di depan tamu, Luna berbisik dengan nada muak, "Jangan pernah menyentuhku. Kamu hanya selembar kertas legalitas bagiku. Tidurlah di lantai jika perlu."
Minghua mendekat, merapikan dasi Chen Song dengan gerakan yang kasar. Di depan semua orang, ia berkata dengan suara yang cukup keras agar didengar semua kerabat:
"Aku sudah membayar mahal untuk nyawamu, Chen Song. Di rumah ini, kau tidak punya hak bicara. Tugasmu hanya satu: menyenangkan hati kami dan jangan membuat masalah. Jika kau berani berjudi lagi menggunakan uang kami, aku sendiri yang akan mematahkan tanganmu."
Penghinaan yang bertubi-tubi dari keluarga Zhang, terutama dari Minghua yang begitu dominan dan cantik namun kejam, mulai menumbuhkan rasa dendam yang terdistorsi dalam diri Chen Song.
Bukannya sadar diri, ia justru merasa
Karena selalu dianggap "anjing," ia ingin membuktikan bahwa ia bisa "menaklukkan" wanita-wanita di rumah itu.
Rasa benci terhadap ibu mertuanya perlahan berubah menjadi rasa penasaran yang sakit. Ia mulai merasa bahwa melihat kelemahan Minghua (seperti saat mandi) adalah caranya "membalas dendam" atas semua penghinaan tersebut.
Distrik Gou Tun City menjadi saksi bisu betapa terasingnya keluarga kecil ini dari pusat kekuasaan klan Zhang. Tinggal jauh dari kediaman megah sang kepala keluarga, Tibet Zhang, dan istrinya Yoana Zhang, memberikan privasi yang lebih longgar bagi Chen Song, namun juga menciptakan tekanan batin yang berbeda di bawah atap yang sama dengan mertuanya.
Mansion ini mewah, namun terasa sunyi. Luna hampir selalu mengabaikan keberadaan Chen Song, sementara Minghua terus mengawasinya dengan mata elang. Di sini, Chen Song tidak dianggap sebagai menantu, melainkan sebagai asisten rumah tangga yang "diberi status" suami.
Percakapan dengan Tun Zhang (Mertua Laki-laki)
Berbeda dengan Minghua yang meledak-ledak, Tun Zhang cenderung lebih tenang namun sinis. Dia adalah pria yang sudah lama tunduk di bawah kendali istrinya (Minghua) dan otoritas ayahnya (Tibet Zhang).
Suatu sore di beranda belakang, Chen Song mencoba mendekati Tun Zhang yang sedang membaca koran.
Chen Song: "Ayah... apakah ada yang bisa saya bantu? Mungkin teh hangat?"
Tun Zhang: (Menurunkan korannya perlahan, menatap Chen Song dengan tatapan kosong)
"Jangan panggil aku ayah jika tidak ada orang luar, Chen Song. Di rumah ini, kau hanya bayangan. Kau pikir karena kita tinggal jauh di Gou Tun, kau bisa bersantai? Ayahku, Tibet Zhang, punya mata di mana-mana. Jika dia tahu Luna menikahi pecandu judi sepertimu, bukan hanya kau yang habis, tapi kami juga bisa didepak dari silsilah keluarga."
Chen Song: (Menunduk, berpura-pura patuh) "Saya mengerti, Tuan Tun. Saya hanya ingin berguna di sini."
Tun Zhang: (Tersenyum miring) "Berguna? Kalau mau berguna, tutupi lubang hutangmu dan jangan membuat Luna menangis setiap malam. Tapi aku tahu tipe pria sepertimu... kau tidak akan tahan lama hanya diam. Ingat, kau di sini karena kami 'membelimu'. Jangan sekali-kali menyentuh apa yang bukan milikmu."
Setelah percakapan yang merendahkan itu, Chen Song merasa semakin terpojok. Dia merasa tidak ada satu pun pria di rumah itu yang menghargainya, termasuk Tun Zhang yang dianggapnya lemah karena selalu diatur oleh Minghua.
Chen Song mulai berpikir, "Jika kalian menganggapku anjing, maka aku akan bertingkah seperti binatang."
Dia memperhatikan betapa dominannya Minghua atas Tun Zhang. Chen Song mulai memiliki fantasi gelap: jika dia bisa memegang "rahasia" atau melihat sisi rapuh Minghua (seperti saat mandi), dia merasa memiliki kekuatan untuk memeras atau menjatuhkan harga diri wanita yang selalu menghinanya itu.
Setiap sore, ketika Luna belum pulang kerja dan Tun Zhang berada di ruang kerjanya, Minghua biasanya membersihkan diri setelah sesi yoga atau perawatan kecantikan. Inilah saat di mana Chen Song mulai melancarkan aksinya—berjalan mengendap-endap di koridor lantai dua menuju kamar mandi utama.
Dalam keheningan Mansion Gou Tun yang megah namun dingin, Chen Song mulai menjalankan rencana gelapnya. Setiap sore, ketika suasana rumah terasa lengang, ia memanfaatkan celah keamanan di rumah tersebut untuk memuaskan obsesinya yang terdistorsi.
Chen Song sudah mempelajari rutinitas Minghua Zhang. Ia tahu tepat setelah sesi perawatan diri sore hari, Minghua akan menghabiskan waktu lama di kamar mandi utama yang memiliki desain mewah dengan pintu kaca buram dan celah ventilasi yang sedikit terbuka. Dengan langkah seringan kucing, Chen Song mengendap-endap di koridor lantai dua, memastikan Tun Zhang sedang berada di ruang kerja dan Luna belum kembali dari kantornya.
Saat suara kucuran air shower mulai terdengar, jantung Chen Song berdegup kencang—bukan karena cinta, melainkan karena sensasi bahaya dan nafsu. Melalui celah kecil yang ia temukan, ia mulai mengintip. Di dalam sana, Minghua Zhang yang selalu tampak ketat, galak, dan penuh otoritas, kini tampak sangat rapuh dan alami.
Chen Song menikmati setiap detik pemandangan tersebut. Baginya, melihat ibu mertuanya dalam keadaan tanpa pertahanan adalah cara ia "menghancurkan" martabat wanita yang selalu menghinanya itu di dalam pikirannya sendiri.
Sambil terus mengintai, sebuah senyum miring muncul di wajah Chen Song. Ia merasa bahwa dengan mengetahui sisi paling pribadi dari Minghua, ia seolah-olah memiliki kendali atas wanita itu. Ia membayangkan bagaimana wajah sombong Minghua akan berubah jika tahu bahwa "menantu sampah" yang ia benci sedang memperhatikannya dengan penuh nafsu dari balik pintu.
Di tengah keasyikannya menikmati pemandangan tersebut, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di tangga kayu mansion. Chen Song tersentak, peluh dingin membasahi dahinya. Dengan cepat, ia menarik diri dan berpura-pura sedang memeriksa lampu di koridor saat seorang pelayan melintas.
Meskipun hampir tertangkap, rasa takut itu justru memberi Chen Song adrenaline rush yang membuatnya ketagihan. Ia tidak merasa menyesal sebaliknya, ia mulai merencanakan kapan ia bisa melakukannya lagi dengan lebih berani, bahkan mungkin merekamnya untuk dijadikan senjata di kemudian hari.