NovelToon NovelToon
Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Status: tamat
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Horror Thriller-Horror / Hantu / Horor / Tamat
Popularitas:50
Nilai: 5
Nama Author: SARUNG GAME

Kisah ini Terinspirasi dari Lengenda Urban Nenek Gerandong Di Banten Indonesia

Dulu kala Ada Ibu Muda yang sedang menyusui bayi, tiba tiba sosok nenek menyeramkan hadir membuat si ibu muda ketakutan dan pingsan. si nenek seram itu lalu menculik bayinya dan masuk ke dalam hutan dengan cara melayang

Jika bayi Ibu menyusui tak cepat ditemukan apa yang akan terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SARUNG GAME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Kembalinya Daeng Tasi

“Kapten, istirahat dulu. Badai tadi bukan main,” kata Kang Mamat, suaranya serak karena teriak sepanjang malam. Tapi Daeng Tasi tak menjawab. Matanya langsung tertuju ke arah daratan Banten, ke desa kecil yang tersembunyi di lereng bukit—rumahnya, Teh Sari, dan Lilis. “Ada yang salah,” gumamnya pelan, seperti doa yang tak selesai. “Aku rasain dari laut tadi malam.”

Mereka menyewa kuda cepat dari pelabuhan, berpacu menyusuri jalan tanah yang masih becek setelah hujan semalaman. Angin pagi membawa bau tanah basah dan sesuatu yang amis—bau kemenyan yang samar, seperti yang pernah diceritakan nenek moyangnya tentang roh-roh pendendam. Sepanjang perjalanan, Daeng Tasi tak bicara banyak. Pikirannya penuh gambar: Teh Sari menyusui Lilis di bale kayu, kebaya kuningnya terbuka sedikit, senyumnya yang lembut saat bayi tertidur di pelukannya. Gambar itu kini tercampur dengan firasat gelap: bayi yang hilang, pintu terbuka lebar, dan tawa serak dari hutan.

Ketika mereka tiba di Desa Durian Berduri, matahari sudah naik setinggi pohon kelapa, tapi desa terasa sepi seperti kuburan. Orang-orang bergerak pelan, wajah mereka pucat, mata merah karena kurang tidur. Beberapa anak kecil bersembunyi di balik kain sarung ibu mereka, tak berani bermain seperti biasa. Daeng Tasi langsung menuju rumah kecil di pinggir hutan. Pintu masih tertutup rapat, tapi ada pita kain merah di depan—tanda duka atau bahaya di desa ini.

Ia mengetuk keras. Tak ada jawaban. Kang Mamat mendorong pintu—tak terkunci. Di dalam, rumah kosong. Bale tidur berantakan, lampu minyak masih menyala redup, dan di lantai ada genangan air hujan yang belum kering. Bau kemenyan masih menempel di udara, seperti napas yang tertinggal.

“Teh Sari!” teriak Daeng Tasi, suaranya pecah. Ia berlari ke sudut ruangan, mencari tanda bayinya. Hanya selimut kecil Lilis yang tergeletak, masih berbau susu ibu. Daeng Tasi jatuh berlutut, tangannya memegang selimut itu erat-erat. “Lilis... Sari...”

Kang Mamat memegang bahu iparnya. “Daeng tenang. Mari kita cari tahu.”

Mereka keluar rumah, dan di jalan setapak bertemu Mbok Jum yang sedang membawa air dari sumur. Wajah tua itu langsung memucat melihat Daeng Tasi. “Daeng... anakku... kau pulang. Tapi... terlambat.” Mbok Jum warga desa, ia adalah wanita asal Magetan, dulu ia seorang gadis cantik yang di persunting seorang pemuda desa Durian berduri dan akhirnya menetap di desa itu setelah menikah.

Daeng Tasi mendekat, matanya menyala. “Apa yang terjadi, Mbok? Mana istriku? Mana Lilis?”

Mbok Jum menunduk, suaranya bergetar. “Malam tadi... Nenek Gerandong datang. Teh Sari pingsan, bayi Lilis diambil. Warga ronda nemuin dia tergelatak di lantai. Sekarang Sari dirawat di rumah Pak Kades. Mereka... mereka lagi di hutan cari bayi itu. Siti Aisyah ikut, karena dia... dia yang dulu lolos.”

Daeng Tasi membeku. Nama Siti Aisyah membuatnya ingat cerita lama yang diceritakan ayahnya: anak kecil yang diculik dukun hitam, diselamatkan warga, tapi kutukan itu tak pernah benar-benar hilang. “Mereka masuk hutan? Tanpa aku?”

Kang Mamat menggenggam golok di pinggangnya. “Kita ke sana sekarang, Daeng. Aku ikut.”

Daeng Tasi tak menjawab langsung. Ia berlutut sebentar di depan rumah, tangannya menyentuh tanah basah, seolah mencium aroma istrinya yang masih tersisa. Dalam hati, amarah bercampur rasa bersalah membara: “Aku di laut lawan monster, tapi monster sebenarnya ada di sini. Aku tinggalkan mereka sendirian. Kalau Lilis hilang... kalau Sari kenapa-kenapa... ini salahku.”

Ia berdiri, mata penuh tekad. Kita ke hutan. Aku tahu jalan pintas dari pinggir sungai. Dan kalau Nenek itu muncul... aku yang hadapi. Dia ambil anakku, dia harus balikin. Dengan cara apa pun.”

Mereka berdua berlari ke arah hutan, tapi sebelum berpisah jalan, Daeng Tasi berhenti di rumah Pak Kades—tempat Sari dirawat. Ia masuk pelan, melihat istrinya terbaring di bale, wajahnya pucat tapi masih bernapas. Sari membuka mata lemah, melihat suaminya, dan air matanya langsung jatuh.

“Daeng... Lilis... dia ambil Lilis...”

Daeng Tasi memeluk dan menciumi istrinya penuh rasa rindu dan penyesalan, setelah lima belas menit Daeng Tasi melepas pelukannya. Ia berjanji pada Istrinya akan membawa pulang bayi mereka.

Daeng Tasi dan Kak Mamat melanjutkan perjalanan ke hutan.

Ia dan ipranya meninggalkan desa yang kini terasa lebih sunyi. Di kejauhan, asap tipis dari obor rombongan Pak Kades masih terlihat samar di antara pepohonan. Daeng Tasi tahu: pertemuan ini bukan akhir, tapi awal dari badai yang lebih besar—badai antara manusia dan roh pendendam yang lahir dari pengkhianatan lama.

Dan di dalam hatinya, ia berjanji: “Aku pulang, Sari. Tunggu aku. Aku bawa Lilis pulang.”

\*\*\*

1
Pemuja Rahasia 001
baru bab awal tapi bagus penyusunan kata halus , terutama saat deskripsi tentang teh sari
Pemuja Rahasia 001
bab 3 ini bagus penyusunan katanya bagus terutama saat teh sari pingsan di lantai
Pemuja Rahasia 001: bab 3 tentang moster laut bagus
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!