Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Badai Fitnah dan Tangisan di Balik Maket
Tekanan hidup Zea benar-benar mencapai titik didih. Di studio, dia baru saja menemukan lokernya ditempeli tulisan-tulisan kasar dari kertas koran: "Cewek matre," "Nggak pantes buat Bagaskara," hingga "Pemuja Dosen." Belum lagi grup angkatan yang kembali heboh karena sebuah unggahan anonim di forum kampus.
Raka, yang sudah dikuasai rasa iri dan dendam, menggunakan keahlian digitalnya. Dia menyebarkan foto editan yang sangat rapi—memperlihatkan sosok mirip Zea dengan pakaian sangat minim di dalam mobil yang interiornya identik dengan Tesla Antares, serta latar belakang balkon yang jelas-jelas adalah apartemen suaminya. Foto itu terlihat begitu nyata hingga sulit dibedakan.
Pecahnya Pertahanan Zea
Malam harinya, apartemen Antares tidak lagi terasa hangat. Zea duduk di lantai tengah, di antara tumpukan kain gaun yang baru datang dan maket villa-nya yang masih setengah jadi. Ponselnya terus bergetar menampilkan notifikasi hujatan.
Saat pintu apartemen terbuka dan Antares masuk, pertahanan Zea runtuh total.
"Mas Antaaaaar! Hwaaaaaa!"
Zea menangis kencang, benar-benar seperti anak kecil yang es krimnya jatuh ke selokan. Dia tidak peduli lagi dengan imej "anak gaul" atau mahasiswi arsitektur yang kuat. Dia melempar penggaris besinya ke sembarang arah dan menelungkupkan wajahnya di atas bantal sofa.
Antares yang baru saja meletakkan tas kerjanya langsung menghampiri. Dia berlutut di depan Zea yang sedang sesenggukan hebat sampai bahunya naik-turun.
"Hey, hey... kenapa ini? Kok rumah saya jadi kayak ada konser tangisan?" tanya Antares tetap tenang, bahkan ada nada geli di suaranya.
"Mas jahat! Mas masih bisa nanya?! Liat nih!" Zea menyodorkan ponselnya dengan tangan gemetar. "Siapa sih yang jahat banget edit foto aku kayak gitu? Terus di loker tadi ada surat kaleng yang bilang aku nggak pantes buat Mas! Belum lagi maket ini... atapnya patah lagi, Mas! Terus aku harus milih bunga buat resepsi... aku pusing! Aku mau resign aja jadi istri Mas Antar!"
Antares terdiam sejenak melihat foto editan Raka. Rahangnya mengeras sebentar—tanda dia sudah menandai siapa pelakunya—namun saat melihat Zea yang ingusnya mulai keluar dan matanya sembap, rasa gemas justru mengalahkan amarahnya.
"Resign? Memangnya ini kantor?" Antares menarik Zea ke dalam pelukannya. Zea memukul-mukul dada Antares pelan sambil terus meracau.
"Tega banget... hiks... aku capek... kuliah susah, nikah susah... mending aku jadi cilok aja sekalian!" rengek Zea sambil mengusap air matanya ke kemeja mahal Antares.
Antares terkekeh rendah, tangannya mengusap kepala Zea dengan lembut. Dia tidak terlihat panik sedikit pun, seolah semua fitnah Raka itu hanya sekadar debu kosmik yang tidak berarti.
"Dengar, Zea Anora," Antares mengangkat dagu Zea, menatap mata istrinya yang merah. "Soal foto itu, besok pagi orang yang menyebarkannya akan berlutut di depan kamu. Tim IT Bagaskara sudah melacak sumbernya sejak satu jam yang lalu. Itu cuma editan amatir yang bisa saya hancurkan dalam sekejap."
"Tapi orang-orang percaya, Mas..."
"Biarkan saja orang bodoh dengan pikirannya. Yang penting saya tahu kamu yang asli ada di pelukan saya sekarang, bukan di foto itu," ucap Antares mantap. "Soal loker, mulai besok asisten pribadi saya yang akan berjaga di depan studio. Siapa pun yang berani nempel kertas lagi, akan langsung berurusan dengan hukum."
Zea masih sesenggukan, tapi mulai tenang. "Terus maket aku gimana? Besok kumpul jam 8 pagi..."
Antares melirik maket yang atapnya patah itu, lalu tersenyum gemas. Dia mencium kening Zea lama. "Sudah, kamu mandi, pakai baju yang hangat, terus tidur. Maket ini... biar saya yang selesaikan. Anggap saja ini kompensasi karena suamimu ini terlalu terkenal sampai kamu ikut kena repot."
"Beneran, Mas?" Zea menatap Antares nggak percaya. "Mas nggak capek abis dari kampus?"
"Capek saya hilang kalau liat kamu berhenti nangis jelek kayak tadi," goda Antares sambil mencubit pipi Zea. "Sana mandi. Atau mau saya mandikan?"
"MAS ANTAR! MESUMNYA JANGAN KELUAR DULU!"
Zea akhirnya bangkit sambil mengerucutkan bibirnya, berjalan menuju kamar mandi dengan langkah yang masih lemas tapi hatinya sudah jauh lebih ringan. Antares memperhatikan punggung istrinya sambil tersenyum miring, lalu mengambil ponselnya.
Dia menelepon seseorang. "Halo, tim hukum? Siapkan tuntutan pencemaran nama baik untuk mahasiswa bernama Raka. Pastikan dia tidak punya celah untuk meminta maaf secara kekeluargaan. Saya mau dia merasakan 'gravitasi' keluarga Bagaskara yang sebenarnya."
Malam itu, Antares beneran begadang. Bukan buat liatin bintang, tapi buat nempelin stik es krim di maket villa istrinya sambil merancang kehancuran buat siapa pun yang berani bikin Zea menangis.