NovelToon NovelToon
MENAKLUKAN HATI SI JENIUS DINGIN

MENAKLUKAN HATI SI JENIUS DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Idola sekolah / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:126
Nilai: 5
Nama Author: alfphyrizhmi

"Kamu emang jenius, kenapa dingin banget sih?"
"Gapapa."
"Gapapa apanya? kamu tuh dingin kayak... Es krim ini."
"Iya. Es krim itu juga kan.... manis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfphyrizhmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB — 16

BAB 16 — Pengembalian Payung

Malam sebelumnya. Pukul 23.45.

Suara dengung hairdryer tua memenuhi ruang tamu sempit kontrakan Mayang. Alat itu panas, bodinya yang plastik sudah retak di bagian gagang, dililit lakban hitam agar tidak nyetrum.

Mayang duduk bersila di lantai ubin yang dingin. Di hadapannya, payung hitam merk Brigg itu terbuka lebar, memakan hampir separuh ruangan.

Hujan di luar sudah berhenti, menyisakan suara tetesan air dari talang yang bocor. Tes. Tes. Tes.

Mata Mayang sudah berat. Lima watt. Tapi tangannya tetap bergerak stabil. Dia mengarahkan moncong hairdryer ke setiap lipatan kain payung. Jaraknya dijaga konsisten—sepuluh sentimeter—agar panasnya tidak merusak serat kain kualitas militer itu.

“Belum tidur, Nduk?” suara Budhe Sumi terdengar serak. Wanita tua itu keluar dari kamar membawa gelas air putih. “Listriknya boros lho. Itu alat watt-nya besar.”

Mayang mematikan hairdryer sejenak. Suara dengung mati, digantikan keheningan malam.

“Sebentar lagi, Budhe. Mayang harus pastiin ini kering total. Kalau lembab sedikit aja, besok Mayang harus ganti rugi lima juta.”

Budhe Sumi melotot, nyaris tersedak air minumnya. “Lima juta? Payung emas apa piye? Itu payung atau motor bekas?”

“Payung orang kaya, Budhe. Buatan Inggris. Katanya gagangnya dari kayu pohon apa gitu, Mayang lupa. Mahal pokoknya.”

Budhe menggeleng-gelengkan kepala sambil mendekat. Dia menyentuh kain payung itu dengan ujung jari kasarnya.

“Halus ya. Beda sama payung pasar yang plastiknya kaku. Baunya juga beda. Bau... uang.”

Mayang tersenyum tipis. “Baunya bau cedarwood, Budhe. Kayu cendana.”

“Ya itulah. Bau orang yang nggak pernah kebanjiran.”

Budhe duduk di kursi rotan, menemani keponakannya.

“Cowok yang kasih ini... dia galak?” tanya Budhe.

Mayang menyalakan hairdryer lagi, menggunakan setelan angin dingin untuk pendinginan akhir.

“Galak, Budhe. Mulutnya pedes. Kalau ngomong nggak pake koma, langsung titik. Tapi...”

“Tapi apa?”

Mayang menatap gagang payung yang mengkilap itu.

“Tapi dia nggak pernah ngebiarin Mayang kehujanan. Naufal nawarin tumpangan, tapi Vino... Vino ngasih alat biar Mayang bisa jalan sendiri nembus hujan.”

Budhe tersenyum penuh arti. Orang tua lebih paham bedanya memanjakan dan mendewasakan.

“Ya sudah. Selesaikan. Jangan sampai ada noda. Orang kaya itu matanya jeli kayak elang. Debu sebutir aja kelihatan.”

Mayang mengangguk. Dia kembali bekerja. Dia mengelap ujung logam payung itu dengan kain flanel sisa jahitan. Menggosoknya sampai dia bisa melihat pantulan wajah lelahnya di sana.

Dia tidak sedang membersihkan payung. Dia sedang menjaga kepercayaan.

Keesokan paginya. SMA Pelita Bangsa.

Langit Jakarta cerah, seolah badai kemarin tidak pernah terjadi. Matahari pagi masuk melalui celah-celah ventilasi koridor, menciptakan garis-garis cahaya di lantai marmer.

Vino berdiri di depan lokernya.

Dia sedang tidak ingin diganggu. Headphone nirkabel Sony melingkar di lehernya, tapi tidak menyalakan musik. Dia sedang membaca grafik fluktuasi harga nikel di iPad-nya. Ayahnya sedang uring-uringan karena saham perusahaan tambang mereka turun 0,5 persen. Vino harus mencari penyebabnya sebelum sarapan nanti malam.

“Pagi.”

Suara itu pelan, sedikit sengau karena flu.

Vino tidak kaget. Dia sudah mencium aroma minyak kayu putih bercampur sabun bayi sejak sepuluh detik yang lalu. Aroma khas Mayang.

Vino menutup iPad-nya. Dia menoleh.

Mayang berdiri di sana. Wajahnya sedikit pucat, hidungnya merah. Dia memakai masker medis. Di tangannya, dia memegang bungkusan kain bermotif bunga-bunga norak yang membungkus sesuatu yang panjang.

Vino menaikkan alis sebelah.

“Apa itu? Lo bawa lontong sayur raksasa?” tanya Vino datar.

Mayang mendengus di balik maskernya. Suaranya terdengar lucu.

“Ini payung Kakak. Saya bungkus biar nggak kotor kena debu jalanan. Saya jahit sendiri sarungnya dari kain perca sisa jahitan Budhe.”

Vino menatap sarung bunga-bunga itu. Merah muda dan kuning. Sangat... kampungan. Sangat kontras dengan image Vino yang monokrom dan elegan.

“Lo bungkus payung Brigg lima juta pake kain bekas daster?” komentar Vino sinis.

“Kain perca, bukan bekas daster. Ini bersih, udah dicuci,” bela Mayang. Dia menyodorkan bungkusan itu. “Silakan diperiksa. Sesuai perjanjian: Tanpa setetes air pun.”

Vino menerima bungkusan itu.

Dia membuka ikatan talinya. Dia menarik payung hitam itu keluar dari sarung bunga-bunga.

Seketika, aura elegan payung itu kembali terpancar. Hitam pekat, gagang kayu mahoni yang mengkilap.

Vino melakukan inspeksi. Bukan sekadar melihat, dia memeriksa.

Dia membuka kancing pengikatnya. Klik. Dia meraba kainnya. Kering. Dia memeriksa jeruji besinya. Tidak ada karat. Dia bahkan memeriksa ujung ferrule logamnya. Mengkilap.

“Lo poles ujungnya?” tanya Vino, matanya menyipit curiga.

“Pake kain flanel. Kemarin ada bekas aspal dikit,” jawab Mayang jujur.

Vino terdiam. Dia tidak menyangka Mayang akan sedetail itu. Biasanya, orang yang meminjam barang hanya akan mengembalikan ala kadarnya.

“Standard Operating Procedure terpenuhi,” gumam Vino. “Kondisi barang: 99 persen seperti baru.”

“Seratus persen,” koreksi Mayang. “Satu persennya itu jejak tangan Kakak sendiri.”

Vino menahan senyum. Gadis ini mulai berani mendebat angka dengannya.

“Oke. Seratus persen. Lo lolos denda lima juta.”

Vino hendak memasukkan payung itu ke dalam loker.

“Tunggu,” kata Mayang. “Sarungnya?”

Vino memegang sarung bunga-bunga itu. Seharusnya, logikanya, dia membuang kain norak itu ke tempat sampah. Itu tidak sesuai estetika lokernya.

Tapi Vino malah melipat kain itu rapi. Kecil-kecil.

“Gue simpan,” kata Vino. Dia memasukkan sarung itu ke saku blazernya.

“Kenapa? Itu kan jelek. Motifnya norak,” Mayang heran.

“Fungsi di atas estetika,” jawab Vino ngeles. “Kain ini seratnya lembut. Bagus buat ngelap kacamata atau layar HP kalau darurat.”

Padahal Vino punya lusinan kain mikrofiber mahal di tasnya. Dia menyimpannya karena... entahlah. Mungkin karena itu buatan tangan Mayang.

“Sini, gue balikin flashdisk data lo,” kata Vino.

Dia merogoh saku celananya, mengambil flashdisk kecil milik Mayang.

Mayang mengulurkan tangan kanannya, telapak terbuka.

Vino mengulurkan tangan, hendak menjatuhkan flashdisk itu ke telapak Mayang.

Namun, gerakan mereka tidak sinkron.

Mayang sedikit memajukan tangannya untuk menangkap, sementara Vino menurunkan tangannya.

Ujung jari-jari Vino bersentuhan dengan telapak tangan Mayang.

Kulit bertemu kulit.

Dan saat itu juga, terjadi sesuatu yang aneh.

Bzzt.

Ada sensasi sengatan kecil. Seperti listrik statis saat menyentuh gagang pintu di ruangan ber-AC dingin, tapi kali ini lebih tajam. Lebih... menyentak.

Sengatan itu menjalar cepat dari ujung jari Vino, naik ke lengan, menembus bahu, dan menghantam dada kirinya.

Jantung Vino—yang biasanya berdetak stabil di angka 60 bpm (detak jantung atlet)—tiba-tiba melonjak. Dug-dug. Dug-dug.

Vino menarik tangannya secepat kilat. Seolah dia baru saja menyentuh wajan panas.

Flashdisk itu jatuh ke lantai. Kling.

Mayang juga kaget. Dia memegang tangannya yang terasa kesemutan.

“Aduh... nyetrum,” gumam Mayang polos.

Hening.

Vino mundur satu langkah. Matanya menatap tangannya sendiri, lalu menatap Mayang dengan pandangan horor.

Wajahnya terasa panas. Telinganya berdengung.

Apa itu tadi? batin Vino panik. Listrik statis? Friksi? Kelembaban udara rendah?

Otaknya yang jenius langsung memproses data fisika.

Penyebab: Perbedaan potensial listrik antara dua isolator. Sepatu karet Mayang (isolator) bergesekan dengan lantai marmer (konduktor parsial). Tubuh Vino mengandung muatan positif berlebih karena stress kerja semalam.

Penjelasan fisika itu masuk akal. Sangat logis.

Tapi penjelasan itu tidak bisa menjawab satu hal: Kenapa jantungnya berdetak kencang sekali? Kenapa ada rasa ingin menyentuh lagi?

Logika Vino error. Layar biru. System Crash.

“Kak? Kak Vino?” panggil Mayang bingung melihat Vino yang mematung dengan wajah pucat. “Kakak sakit?”

Mayang membungkuk, mengambil flashdisk yang jatuh.

“Maaf, saya kayaknya kebanyakan ngeringin baju pake setrikaan, jadi banyak muatan listriknya.”

Mayang berdiri, menyodorkan flashdisk itu lagi. Kali ini dia memegangnya di ujung, hati-hati.

Vino menatap flashdisk itu. Dia takut menyentuhnya. Bukan takut listriknya. Takut rasanya.

“Taruh... taruh aja di meja situ,” kata Vino kaku, menunjuk meja piket di dekat loker. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.

“Lho? Kenapa?”

“Gue... tangan gue kotor. Abis megang duit,” bohong Vino. Alasan terbodoh yang pernah dia ucapkan.

Mayang mengerutkan kening. Tadi Vino memegang payung baik-baik saja.

“Oke...” Mayang meletakkan flashdisk itu di meja. “Udah saya bersihin virusnya juga.”

Vino tidak menjawab. Dia sibuk mengatur napas.

Inhale. Exhale. Fokus, Vino. Ini cuma fenomena biologi. Pelepasan dopamin dan norepinefrin. Bukan sihir.

“Mayang,” panggil Vino akhirnya. Dia berusaha mengembalikan wajah datarnya, meski gagal total karena telinganya merah padam.

“Ya?”

“Lo... lo udah minum obat flu?”

“Belum. Nanti siang.”

“Minum sekarang. Jangan nularin virus ke gue. Jarak aman interaksi sosial itu satu meter. Lo berdiri terlalu deket.”

Vino mundur lagi, memperlebar jarak.

Mayang merasa tersinggung. Tadi malam di balkon mereka dekat sekali. Tadi pagi Vino menerima payung juga biasa saja. Kenapa sekarang tiba-tiba jadi germophobe (takut kuman)?

“Saya pake masker, Kak. Nggak bakal nular.”

“Virus influenza bisa menular lewat aerosol mata. Udah sana. Pergi. Masuk kelas.”

Vino mengusir Mayang. Kasar.

Mayang menatap Vino dengan tatapan terluka. Dia tidak mengerti perubahan sikap yang drastis ini.

“Baik. Terima kasih sudah minjemin payungnya. Permisi.”

Mayang berbalik dan berjalan cepat meninggalkan koridor itu. Langkah kakinya terdengar kecewa.

Vino melihat punggung Mayang menjauh.

Setelah Mayang hilang di belokan, Vino merosot. Dia bersandar pada pintu lokernya yang dingin.

Dia mengangkat tangannya yang tadi bersentuhan dengan Mayang. Dia melihat ujung jarinya. Masih terasa panas.

“Sialan,” umpat Vino pelan.

Dia meletakkan telapak tangannya di dada kiri. Detaknya masih kencang. Tidak mau melambat.

“Aritmia lagi,” gumam Vino mencoba mendiagnosis diri sendiri. “Gue harus cek ke dokter jantung. Atau psikiater.”

Dari arah berlawanan, Naufal berjalan dengan lesu. Dia melihat Vino yang sedang bersandar lemas di loker sambil memegang dada.

Naufal berhenti.

“Lo kenapa, Vin? Serangan jantung?” tanya Naufal, setengah khawatir setengah berharap iya.

Vino menegakkan tubuhnya instan. Mode robot kembali aktif.

“Nggak. Cuma... ada bug di sistem gue,” jawab Vino dingin.

“Bug apaan?”

“Variabel tak terduga. Anomali data. Sesuatu yang nggak seharusnya ada di persamaan.”

Naufal bingung. “Lo ngomongin matematika lagi?”

“Selalu,” kata Vino. Dia mengambil tasnya, membanting pintu loker Bam!

“Minggir, Fal. Gue mau ke lab. Gue butuh ngerjain kalkulus buat nenangin saraf.”

Vino berjalan pergi dengan langkah lebar dan cepat, seolah sedang dikejar hantu.

Hantu bernama perasaan.

Di Kelas X-1.

Mayang duduk di bangkunya, masih kesal.

“Aneh banget sih dia,” gumam Mayang pada dirinya sendiri. “Tadi baik, terus tiba-tiba jadi kayak orang ketakutan.”

Vivie, yang duduk di depan, memutar kursinya.

“Ngomong sama siapa lo? Setan?” sindir Vivie.

Mayang menatap Vivie. Hari ini dia malas berdebat.

“Ngomong sama rumus fisika,” jawab Mayang asal.

Vivie mendengus. “Halah. Paling lagi ngehalu soal Vino. By the way, May, gue denger nilai ujian Matematika Wajib dibagiin hari ini. Siap-siap aja ya nilai lo terjun bebas. Kemarin kan lo sibuk pacaran sama arsip di gudang, mana sempet belajar.”

Mayang tersenyum tipis di balik maskernya.

Dia memang sibuk di gudang. Tapi Vivie tidak tahu, di sela-sela menyusun arsip, Vino sering melempar pertanyaan-pertanyaan matematika tingkat tinggi untuk mengetes logikanya.

“Arsip tahun 2010 ilang 15 persen. Total ada 500 buku. Berapa buku yang sisa?” “Kalau anggaran naik 20 persen tapi inflasi 5 persen, berapa nilai riil kenaikannya?”

Secara tidak sadar, Vino sudah memberinya les privat matematika terapan paling intensif di dunia.

“Kita liat aja nanti, Vie,” jawab Mayang tenang.

Pintu kelas terbuka. Pak Hendra masuk membawa tumpukan kertas ulangan. Wajahnya datar seperti biasa.

Tapi kali ini, saat dia meletakkan kertas di meja, matanya melirik ke arah bangku belakang. Ke arah Mayang.

Ada kilatan aneh di mata guru killer itu. Kilatan yang jarang terlihat.

Penghargaan.

Mayang merasakan firasat. Firasat yang sama seperti sengatan listrik tadi pagi. Sesuatu yang besar akan terjadi.

Dan benar saja. Di kertas paling atas tumpukan itu, ada nama Mayang Sari.

Dengan angka 98 tertulis tebal dengan spidol merah.

Mayang tidak tahu, bahwa angka itu akan menjadi pemicu perang dunia ketiga di kelas X-1.

Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!