NovelToon NovelToon
ISTRI GENDUT MILIK DUKE

ISTRI GENDUT MILIK DUKE

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:85.9k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.

Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.

Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.

Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.

"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."

Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.

Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32. PERUBAHAN DRASTIS

Alaric masih membeku.

Pelukannya perlahan mengendur, seolah otaknya belum sepenuhnya menerima apa yang matanya lihat. Kedua tangannya terlepas dari punggung istrinya, lalu berpindah ke bahu Liora, memegangnya dengan hati-hati, seakan takut tubuh itu rapuh dan bisa menghilang bila disentuh terlalu keras.

Alaric mundur setengah langkah.

Menatap Liora.

Dari wajah, ke leher, ke bahu, ke pinggang, lalu kembali lagi ke wajah.

Sekali.

Dua kali.

Berkali-kali.

"Sa-sayang?" suara Alaric terdengar tidak seperti dirinya, gugup, panik, nyaris gemetar. "Kenapa kau jadi kurus seperti ini?"

Liora berkedip, masih tersenyum, sedikit heran melihat reaksi suaminya.

"Apa kau tidak makan selama aku pergi?" Alaric melanjutkan cepat, napasnya berat. "Para pelayan memperlakukanmu buruk? Siapa yang berani melakukannya sampai kau kurus seperti ini?!"

Nada suara Alaric meninggi di akhir kalimat.

Beberapa pelayan refleks menunduk. Sasa menegang.

Namun Liora justru tertawa kecil. Tawa yang ringan. Tenang. Tidak tertekan.

"Tidak ada yang memperlakukanku buruk," kata Liora sambil menggeleng pelan. "Aku makan dan istirahat dengan cukup."

Alaric menatapnya tidak percaya.

"Kalau kau makan dengan cukup, lalu kenapa kau jadi kurus seperti ini?" ia menggeleng keras. "Aku akan panggil Aldren sekarang juga. Ia harus memeriksa kesehatanmu."

Ia sudah hendak berbalik.

Namun tangan Liora segera menahan lengannya.

"Alaric," kata Liora sambil tertawa kecil. "Aku sehat. Aku benar-benar baik-baik saja."

Alaric berhenti.

Liora melanjutkan dengan nada santai, "Selama kau pergi, aku diet dan berolahraga. Tabib Aldren yang membantu mengontrol makananku. Dan kau ingat penawar racun yang tanamannya kau ambilkan langsung dari wilayah timur? Itu benar-benar ampuh menghentikan racun penggemukanku."

Alaric menatap istrinya lama.

Terlalu lama.

Pria itu mencari tanda kebohongan; kedutan mata, napas tidak stabil, bahasa tubuh yang gelisah. Namun tidak ada.

Liora berdiri di hadapannya dengan tenang. Percaya diri. Sehat.

Alaric menghela napas panjang, berat, seolah baru saja melepaskan ketegangan yang menumpuk sejak ia turun dari kereta.

Tangannya terangkat, mengelus pipi Liora dengan lembut, gerakan yang sangat hati-hati, hampir posesif.

"Aku jadi takut. Sekarang kau kurus seperti ini," ucap Alaric.

Liora mengerutkan kening. "Takut kenapa?"

Alaric menjawab tanpa berpikir panjang, "Semua pria akan menatapmu. Mereka akan menganggumi kecantikanmu."

Nada suara Alaric datar, tapi rahangnya mengeras. "Aku tidak suka."

Liora tertawa kecil. "Kau ini ada-ada saja."

Namun Alaric tidak ikut tertawa.

"Membayangkan para pria menatapmu saja sudah membuatku kesal. Apa aku harus mengurungmu saja di kamar ... untukku sendiri?" kata Alaric serius.

Liora memukul dada suaminya pelan dan berkata, "Hentikan sifat posesifmu itu."

Alaric menunduk, menatap Liora dengan ekspresi memelas, sangat jarang terlihat dari Duke Ravens.

"Dulu kau sudah cantik," kata Alaric lirih. "Sekarang kau jadi sangat, sangat cantik. Aku yakin semua mata pria akan melihatmu."

Liora tersenyum geli.

Alaric mendengus pelan lalu berkata, "Ini mengingatkanku pada kucing liar dari Oberyn yang begitu ingin sekali melihatmu. Kurasa aku tidak akan mengizinkan."

Liora mengerjap bingung. "Kucing liar?"

Sebelum Alaric sempat menjawab, suara berdeham terdengar.

"Yang Mulia," Gideon berkata sopan namun dengan senyum tipis yang penuh makna. "Akan lebih baik jika Anda membawa Nyonya Duchess masuk ke dalam. Anda membuatnya berdiri cukup lama."

Alaric tersadar. Ia melirik sekeliling, pelayan, kesatria, semua memerhatikan.

Alaric langsung menggenggam tangan Liora.

"Ayo masuk," kata Alaric lembut. "Kita bicara di dalam."

Liora mengangguk.

Saat mereka berjalan masuk, Gideon bergumam pelan di samping Sasa, "Aku benar-benar terkejut. Nyonya Duchess bisa berubah sedrastis itu. Seperti orang lain saja."

Sasa tersenyum bangga. "Nyonya bekerja keras. Dia bahkan tidak pernah meninggalkan olahraga pagi."

Colton dan para kesatria berdiri kaku, mata mereka tak lepas dari sosok Liora yang berjalan anggun di sisi Alaric.

"Sungguh luar biasa," gumam salah satu kesatria.

"Aku tahu Nyonya Duchess sudah cantik ... tapi tidak menyangka akan secantik ini," ucap kesatria lainnya.

"Seperti bukan manusia," timpal yang lain.

Gideon menyilangkan tangan.

"Tentu saja Nyonya Duchess sangat cantik. Ibunya berasal dari Aurelion, tanah para wanita cantik dan cerdas. Sama seperti Permaisuri kita," beritahu Gideon. Lalu melanjutkan, "Walau tetap saja ... perubahan ini mengejutkan."

Para kesatria mengangguk paham.

Namun tidak satu pun dari mereka menyadari, atau mungkin baru samar-samar merasakannya, bahwa perubahan Duchess Ravens ini bukan hanya akan mengundang decak kagum.

Melainkan ... keributan.

Keributan yang tidak biasa.

Dan yah, itu benar ...

Langkah mereka bergema pelan di lorong utama kediaman Duke.

Alaric sama sekali tidak melepaskan Liora. Tangannya melingkar di pinggang istrinya, seolah memastikan bahwa perempuan di sisinya ini nyata, bukan ilusi yang muncul karena rindu berbulan-bulan.

Namun yang membuat Liora geli sekaligus risih adalah ... tatapan itu.

Alaric terus menatap Liora.

Tanpa malu. Tanpa jeda.

Bahkan saat mereka menaiki beberapa anak tangga kecil menuju ruang dalam, mata pria itu masih mengikuti setiap gerakannya, seakan ia sedang mencoba menghafal ulang istrinya dari awal.

"Kenapa kau terus menatapku seperti itu?" Liora akhirnya bertanya, melirik ke samping.

Alaric tidak menjawab langsung.

Alaric mendekatkan wajahnya sedikit, menatap pipi Liora dengan ekspresi serius, terlalu serius untuk sekadar candaan.

"Aku merindukan pipi gembulmu," kata Alaric datar.

Liora berhenti melangkah. Ia menoleh tajam.

"Alaric," tegur Liora.

Alaric tersenyum kecil dan mencubit pelan pipi Liora seraya berkat, "Yang dulu. Yang kalau aku cubit begini terasa menyenangkan."

Liora menepis tangan Alaric cepat. "Berhenti mencubit pipiku."

Alaric tertawa pelan.

Tawa yang rendah, hangat, dan penuh rasa puas karena berhasil membuat istrinya bereaksi. Alaric menunduk, mencium pipi Liora dengan gemas, bukan kecupan formal bangsawan, tapi ciuman cepat yang penuh rindu.

"Aku merindukanmu," kata Alaric jujur.

Wajah Liora melunak seketika. Ia tersenyum, kali ini tanpa sebal.

"Aku juga merindukanmu," jawab Liora.

Alaric menarik Liora lebih dekat, merangkul Liora dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengusap punggung istrinya dengan gerakan menenangkan, kebiasaan lama yang tak pernah berubah.

Beberapa langkah kemudian, mereka memasuki ruang duduk pribadi, ruangan yang jarang dipakai kecuali untuk keluarga inti.

Alaric akhirnya berhenti. Ia menunduk sedikit agar sejajar dengan wajah Liora.

"Tidak ada masalah selama aku pergi, kan?" tanyanya santai, terlalu santai untuk ukuran Alaric.

Liora tersenyum.

Namun senyum itu ... membeku.

Sangat singkat.

Hanya sepersekian detik.

Tapi cukup.

Cukup bagi Alaric tahu ada sesuatu.

Pandangan Liora beralih ke samping, menghindari tatapan suaminya.

Alaric menyipitkan mata.

"Oh?" kata Alaric perlahan, senyum tipis muncul di sudut bibirnya, senyum yang biasanya membuat para bangsawan ketakutan. "Aku mengenal wajah itu."

Liora berdeham kecil. "A-aku baik-baik saja. Tidak ada apa-apa."

Alaric tidak menjawab. Ia hanya menghela napas kecil, lalu berkata dengan nada ringan tapi penuh tuntutan,

"Liora Ravens," panggil Alaric.

Nada itu.

Nada suami.

Nada Duke.

Nada pria yang tahu istrinya sedang menyembunyikan sesuatu.

"Apa yang terjadi saat aku tidak ada?" tanya Alaric.

Liora menelan ludah.

Udara terasa mendadak lebih hangat ... atau mungkin itu hanya perasaannya.

Alaric mengangkat tangannya, memegang dagu Liora dengan lembut namun tegas, memaksanya menatapnya.

"Apa yang kau lakukan saat aku tidak ada, Sayang?" ulang Alaric pelan.

Liora bisa bersumpah jantungnya hampir melompat keluar.

Wajahnya memanas. Telapak tangannya dingin.

Liora tertawa kecil, terlalu kecil.

"Tidak ... tidak melakukan apa-apa" jawab Liora.

Alaric mengangkat alis. "Liora."

Wanita itu menyerah.

"Baik," kata Liora cepat. "Aku mungkin ... sedikit ... melakukan sesuatu."

"Sedikit apa?" Alaric bertanya, masih tenang. Terlalu tenang.

Liora menutup mata sejenak, lalu membuka kembali.

"A-aku hanya," Liora mengangkat telunjuknya sedikit, seolah itu bisa memperkecil dampaknya. "menendang Marquess minggu lalu."

Sunyi.

Sangat sunyi.

Alaric membeku.

Tangan Alaric masih di dagu Liora, tapi genggamannya mengendur perlahan. Wajahnya, yang sejak tadi penuh senyum, rindu, dan kecemasan, kini kosong seketika.

"Marquess?" ulang Alaric pelan.

Liora mengangguk kecil. Salah tingkah. "Sedikit saja. Tidak keras. Maksudku ... cukup keras. Tapi dia tidak mati. Dan juga ...."

Alaric menurunkan tangannya.

Ia menatap kosong ke depan selama dua detik penuh.

Marquess.

Salah satu teman masa kecil Alaric.

Seseorang yang tumbuh bersamanya di istana.

Pria yang cukup ia percayai.

Alaric menoleh perlahan ke arah Liora.

"Kenapa," katanya datar, terlalu datar, "istriku ... menendang seorang Marquess?"

Liora tertawa kaku. "Kalau aku bilang ... dia pantas, kau akan marah?"

Alaric menghela napas panjang.

Sangat panjang.

"Oh, Sayang," kata Alaric akhirnya, suara rendah dan berbahaya, "kau benar-benar membuat kepulanganku menjadi sangat menarik."

Liora menelan ludah, tahu kalau ia dapat masalah kali ini dari suaminya.

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐨𝐡 𝐭𝐚𝐦𝐚𝐭 😭😭😭
Lala Kusumah
yaaaaaa tamat, tapi gapapa happy ending, bahagianya 😍😍😍
tapi nanti ada cerita lanjutan anak-anak ya 🙏🙏🙏🫰🫰👍👍
Ir
sampai ketemu di next cerita calon bandit kerjaan 🤭🤭
Lala Kusumah
tegaaaanng pisan 🫣🫣😵‍💫😵‍💫
Jelita S
terimakasih thor atas ceritamu,,lnjut y cerita Elala🤣🤣
Miss Typo
keren 👍👍👍
Miss Typo
kok tau² tamat thor????
happy ending 👏👍

terimakasih thor 🙏, selalu sukses dgn karya-karyanya di novel dan tunggu cerita para bocil cadel juga Rowan 😍
Eli Rahma
ehhh,..beneran tamat nih thor..tp tar ada kelanjutanyya kan ..ttg para bocil..
Miss Typo
tunggu saat waktunya tiba Elara bisa mengendalikan sihir itu
Miss Typo
belum saatnya Elara menggunakan kekuatannya
Ir
hmm gampang ini mah kalo misal nya mau bikin Elara meratakan dunia pancing aja emosi nya pasti segel nya Arram bakalan hancur, jangan sampe aja di manfaatkan sama orang² jahat, sekarang tinggal Evan kak keajaiban apa yang Evan punya ga adil kalo Elara doang yang di spill 🤣🤣
Archiemorarty: Hahaha....Evan sama kayak bapak emaknya dia 🤭
total 1 replies
Jelita S
Lanjut thor
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐢𝐭𝐮 𝐢𝐧𝐝𝐞𝐫𝐚 𝐤𝐞 𝟔 𝐭𝐡𝐨𝐫? 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐡 𝐤𝐥𝐨 𝐝𝐢 𝐫𝐞𝐢𝐤𝐢 𝐚𝐝𝐚 𝐢𝐬𝐭𝐢𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐭𝐮𝐩 𝐚𝐮𝐫𝐚 ...

𝐚𝐮𝐫𝐚 𝐝𝐢 𝐫𝐞𝐢𝐤𝐢 𝐢𝐧𝐢 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐮𝐫𝐚 𝐭𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐦𝐚𝐤𝐡𝐥𝐮𝐤 𝐠𝐚𝐢𝐛 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐠𝐚𝐫 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐫𝐬𝐛𝐭 𝐛𝐬 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐨𝐛𝐚𝐭𝐢 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 😁😁
Jelita S
wah msih lnjut rupanya sang penyihir hitam y
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐡𝐫𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐚𝐬𝐚𝐡 𝐠𝐤 𝐬𝐢𝐡 𝐤𝐞𝐦𝐚𝐦𝐩𝐮𝐚𝐧 𝐄𝐥𝐚𝐫𝐚 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐝𝐢𝐡𝐢𝐥𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧?? 😕😕😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐚𝐧𝐤𝐪𝐮 𝐲𝐠 𝐬𝐮𝐥𝐮𝐧𝐠 𝐩𝐚𝐬 𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐥𝐢𝐭𝐚 𝐛𝐬 𝐧𝐠𝐨𝐛𝐫𝐨𝐥 𝐝𝐠𝐧 𝐦𝐚𝐤𝐡𝐥𝐮𝐤 𝐡𝐚𝐥𝐮𝐬 𝐭𝐡𝐨𝐫😭😭 𝐭𝐩 𝐩𝐚𝐬 𝐮𝐝𝐡 𝐦𝐚𝐬𝐮𝐤 𝐓𝐊 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐤 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐞 𝐬𝐤𝐫𝐧𝐠 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐝𝐞 𝐝𝐢𝐚 𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐠𝐤 𝐛𝐬 𝐥𝐡𝐭 𝐦𝐚𝐤𝐡𝐥𝐮𝐤 𝐡𝐥𝐬 𝐥𝐠 😕😕
total 2 replies
Ir
akhhh aku bari mau mikir monster selanjutnya Evan yang bikin kejutan, ternyata emak nya, ini dua bocil Alaric harus di ajarin mengendalikan diri ini, kalo engga hancur dunia
Archiemorarty: Baru tiga tahun udah duarrrr 🙄
total 1 replies
Ir
elara dapet ini pasti dari leluhur nya yang dulu² pasti kan, soalnya Alaric ga bisa sihir, Lior juga ga punya, kak pokoknya harus di jelasin sih dari mana Elara sama Evan dapet kekuatan itu
Archiemorarty: Ohoho...siap siap 🤭
total 1 replies
Miss Typo
di bab brpa tuh ya saat Alaric dan pasukannya menyerah monster hampir menyerah dan Liora datang bersama pasukannya membantu, trs ada anak yg bilang itu lho, bingung ngomongnya. matahari dan bulan kalau gak salah anak kembar Liora. berarti Elara matahari nya panas membara dengan sihir nya, apa Evan yg akan merendam nya saat Elara kehilangan kendali dari kekuatan sihirnya. aaahh gak tau lah 🤣
Archiemorarty: boleh boleh 🤭
total 3 replies
Miss Typo
berarti yg matahari Elara ya thor, wah kekuatan Elara keluar karna melihat kakaknya berdarah gak sadarkan diri karna monster itu, dan pas monster mendekat mau menyerang dia gak rela semua terluka seperti Rowan
Miss Typo: mantep nih 😁
total 2 replies
Jelita S
Liora selalu jdi penyelamat bagi keluarganya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!