Definisi takdir yang tidak bisa kita tebak.
Kehidupan terus berjalan, hanya bersama ketika bersekolah di sekolah menengah pertama, itupun menjadi musuh yang tidak berujung damai meskipun sudah lulus.
Lama tak jumpa, tanpa kabar, tanpa melihat sosial media, karena sama-sama merasa tidak perlu.
Suatu hari seperti biasanya, gadis bernama Kenzie itu pulang ke rumah ibunya karena libur akhir pekan, namun, kepulangannya kali ini justru berbeda, ia harus menerima pernikahan yang tidak ia inginkan, karena dijodohkan dengan musuhnya saat SMP.
Keduanya sama-sama memiliki kekasih, apa mereka menerima pernikahan tanpa cinta itu?
Kalaupun pernikahan itu terjadi, bagaimana kelanjutan hubungan mereka dengan kekasihnya masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cimai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Dijodohin Sama Dia?
Laras berada di kamarnya, menatap fotonya bersama dua malaikat kecil yang tumbuh dengan segala cerita.
"Maafkan Ibu, nak." ucapnya lirih.
"Ibu tidak bisa menjadi contoh yang baik untuk kalian. Tapi, Ibu harus memastikan bahwa masa depanmu tidaklah serumit Ibu,"
Rumah tangganya yang berakhir dengan ketidakpastian itu menyisakan rasa sakit yang mendalam. Ketika sudah berlalu begitu lama, Laras baru berani membuka lembaran baru dan sempat mengalami arah yang mengecewakan. Sampai saat ini, ketika ditanya mengenai rumah tangga, ia masih sangat ragu.
Kenzie sedang memilih pakaian di lemarinya. Ia bingung pakaian yang pantas untuk dikenakan sesuai selera ibunya, sementara ia lebih nyaman dengan kaos.
"Dih, masa jadi bayangin baju pacarnya manusia itu!" gerutu Kenzie ketika tiba-tiba terbayang seseorang yang menabraknya di bioskop.
Gadis itu memang terlihat sangat cantik, badan yang ideal dengan pakaiannya yang modis.
"Kenzie, sudah selesai belum?" tanya Laras setelah mengetuk pintu kamar putrinya.
"Sebentar lagi Bu,'' jawab Kenzie sedikit menaikkan volume suaranya.
"Oh, ya sudah, kayaknya sebentar lagi tamunya datang," balas Laras.
"Iya Bu,"
Laras langsung bergegas ke depan setelah mendengar suara mobil yang masuk ke halaman rumahnya.
Tiga orang turun dari mobil itu, Laras langsung ke teras dan menyambutnya.
"Assalamu'alaikum ..," ucap wanita yang masih tetap cantik itu meskipun usianya tak lagi muda.
"Wa'alaikumussalam," balas Laras dengan hangat.
"Mari, silahkan masuk." lanjutnya.
"Oh iya, terima kasih Mbak Laras." balas Zaky.
Sementara putranya tampak malas, setelah lengannya disenggol oleh ayahnya baru ia ikut masuk.
"Eh, itu si??" bathin Kenzo.
Kenzo langsung memerhatikan foto-foto yang menempel di dinding dan mengenali sosok tersebut.
"Ini rumahnya dia?"
"Apa jangan-jangan gue mau dijodohin sama anak itu? dih!" lanjutnya masih dalam hati.
Perasaan dan pikirannya menjadi semakin tidak tenang. Rencananya yang sudah ia bulatkan untuk bersedia mendatangi rumah ini menjadi buyar.
Dug!
"Si4lan pake kesandung!" gerutu Kenzo sembari mengusap lututnya.
"Hati-hati dong jalannya, nggak usah grogi gitu." ujar Zaky.
"Apa sih, Pa." protes Kenzo.
Laras hampir tertawa melihat Kenzo yang menahan malu dan menahan sakit.
"Saya sudah masak, lho. Ayo langsung makan dulu, masih hangat semuanya." ujar Laras mengalihkan rasa malu yang dirasakan oleh Kenzo.
"Waduh Ras, kamu benar-benar masak buat kita. Jadi enak kalau gitu, hihi." balas Mia.
"Nggak tiap hari ini, Mbak." balas Laras.
"Apa sih emak-emak ini! sok asik semua!" bathin Kenzo.
Meskipun Mia berperan sebagai bosnya, tetapi ia tidak mau dipanggil ibu oleh Laras. Karena sudah cukup akrab dan usianya tidak jauh, panggilan mbak sudah dirasa paling nyaman.
Kenzo masih berpikir bahwa foto itu bukan foto musuh lamanya, tetapi seseorang yang kebetulan hanya mirip.
"Sebentar saya panggilkan anak saya, dia sedikit malu-malu kalau sama orang baru kenal," ujar Laras.
Setelah mengetuk pintu, Kenzie langsung keluar dan mengikuti langkah ibunya menuju meja makan.
"Ayo sapa Pak Zaky sama Bu Mia, ada putranya juga, seumuran kamu." titah Laras.
Ketiganya kompak menoleh, dan seketika membuat Kenzie melotot tak percaya dengan seseorang yang berada dirumahnya.
"Kamu!!"
"Lu!!"
Keduanya langsung saling menunjuk.
"Sstt, tenang-tenang, Ibu Laras sudah capek-capek masak, kita makan dulu sebelum dingin." ujar Zaky masih tetap berusaha santai menghadapi putranya itu.
"Tapi, Pa."
"Sstt, diam dulu, dosa mengabaikan makanan yang sudah disajikan!" bisik Zaky.
Kenzo berdecak kesal, ia melirik tajam pada gadis yang duduk di kursi yang berhadapan.
"Apa ini maksudnya? kenapa dia? ada apa? ini benar-benar mencurigakan!" bathin Kenzie yang belum mengerti tujuan dari kedatangan mereka.
"Gue dijodohin sama dia? OGAH! POKOKNYA OGAH!" bathin Kenzo.
"Maaf hanya hidangan sederhana," ucap Laras.
"Wah, ini sudah istimewa sekali." jawab Mia yang disetujui oleh Zaky.
"Harus dihabiskan, belajar menghargai." ujar Zaky berbisik pada Kenzo.
"Ck! enteng banget nyuruh orang belajar menghargai, dia sendiri nggak bisa menghargai!" bathin Kenzo.
Meskipun dengan raut muka yang kesal, Kenzo dan Kenzie tetep menyantap makanan di piringnya.
"Boleh juga nih masakan," bathin Kenzo.
"Halah! palingan juga ibunya doang yang ngerjain, dia pasti ongkang-ongkang kaki!" lanjutnya.
"Apaan itu? lapar atau doyan?" bathin Kenzie.
"Dasar mun4fik jadi manusia! dasar sombong!" imbuhnya.
Meskipun mereka sama-sama sibuk dalam pikiran dan hatinya, makanan yang mereka ambil pun tetap dihabiskan.
Sekitar 30 menitan mereka selesai makan dan Kenzo langsung keluar dan duduk di ruang tamu.
"Ibu ajak tamunya ke depan, biar aku aja yang beresin," ujar Kenzie mencari alasan agar tidak bertemu dengan Kenzo.
"Ya sudah, tapi, nanti nyusul ke depan ya." balas Laras.
Kenzie mengangguk.
"Sepertinya ini nggak akan mudah, Mbak." ujar Laras sedikit berbisik dengan Mia.
"Serahkan ke kami, mereka pasti setuju." jawab Mia.
"Tapi, mereka terlihat saling benci, Mbak." ujar Laras masih khawatir.
"Mbak Laras, jangan berpikiran yang macam-macam dulu ya, kita belum berusaha." timpal Zaky.
Laras mengangguk lalu ke ruang tamu, terlihat Kenzo sudah ada di sana dengan ponselnya.
"Biarin! aku lama-lamain nih beres-beresnya sampai mereka pulang!" gerutu Kenzie.
Kenzie memindahkan sisa makan mereka ke wadah untuk dimasukkan ke kulkas.
"Dimana toiletnya?" tanya Kenzo yang sudah tidak bisa menahan untuk buang air.
"Dari ruang makan tadi kelihatan kok, samping dapur. Ada panah penunjuknya," jawab Laras.
"Oh, makasih." jawab Kenzo lalu meletakkan ponselnya.
Kenzo langsung bergegas ke belakang daripada keluar di celana. Sesampainya di dapur, ia dan Kenzie saling melempar tatapan tajam. Karena sudah terburu-buru, Kenzo langsung fokus pada tujuan utamanya.
"Ngapain sih anak itu harus ke sini!" gerutu Kenzie seraya mengelap meja makan agar kembali bersih.
Saat tengah fokus, ibunya ke belakang lagi.
"Nanti tolong buatkan teh 4 gelas ya, eh 5 ya." pinta Laras.
Kenzie menarik napas dalam-dalam, ia ingin menolaknya, tetapi, masih memikirkan bagaimana perasaan ibunya jika ia langsung sembunyi, dan akhirnya ia terpaksa harus mengangguk.
"Iya Bu," jawab Kenzie.
Setelah menyampaikan, Laras kembali ke depan.
Empat gelas sudah Kenzie siapkan, ia tidak menuruti untuk membuat 5 gelas.
"Lu pasti sudah tau rencana mereka 'kan?"
"Aa-!"
Kenzo langsung membungkam mulut Kenzie dengan telapak tangannya agar tidak berteriak.
"Lu jangan teriak, gblg!"
"Arrg!"
Saking kesalnya, Kenzie menggigit tangan Kenzo yang membungkamnya sampai membuat tangan laki-laki itu berdarah.
"Drakula lu ya!"
"IYA! mau apa kamu?!" tantang Kenzie.
"Ck!"
"Lu nanti harus nurut sama gue!" ujar Kenzo langsung meninggalkan dapur.
"Apa! heh!" panggil Kenzie yang tidak dihiraukan oleh Kenzo.
Kenzie mengaduk teh itu dengan sedikit emosi dan mulut terus mengomel tidak jelas.
klau kemaren sampek terjadi...aku pasti kecewa sama dia....
untung aja gagal...tapi aku gak suka kalau si kenzo masih nyium nyium si cewek itu.
sedang kenzi masih ori..belum tersentu...
Karena ada kendala dan saat itu author tidak bisa melanjutkan, akhirnya terpaksa dihapus dulu.
In syaa Allah nanti akan di update lagi, untuk saat ini sekalian mau direvisi dulu dan mau fokus ke judul ini dulu ya 🙏
Terima kasih 😍