NovelToon NovelToon
Istriku Dosen Killer 30+

Istriku Dosen Killer 30+

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Beda Usia / Dosen / Penyesalan Suami / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah
Popularitas:49.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.

Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.

Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.

Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Kaisar melangkah pelan ke arah dapur. Lampu masih menyala, meja makan masih rapi, dan Shelina masih duduk di kursi yang sama dan menatap sayur lodeh yang sudah mulai dingin.

Jejak air mata belum sepenuhnya hilang dari wajahnya.

Kaisar berhenti sejenak, dadanya terasa sesak. Lalu ia menarik kursi di samping Shelina dan duduk. Suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya.

“Aku … lapar.”

Shelina menoleh sekilas. Tak ada senyum, tak ada protes. Ia hanya mengangguk pelan, lalu berdiri. Tangannya mengambil piring, menyendok nasi dan sayur dengan gerakan hati-hati, seolah takut membuat suara terlalu keras. Ia meletakkan piring itu di depan Kaisar, lalu kembali duduk.

Kaisar menatap makanan itu. Aroma sayur lodeh yang familiar membuat tenggorokannya tercekat.

“Shel…” panggilnya lirih, dia menelan ludah, lalu berkata,

“Aku minta maaf. Soal tadi, aku yang ngomong kasar … aku nggak seharusnya marah ke kamu.”

Shelina terdiam beberapa detik. Pandangannya tetap lurus ke depan. Lalu, dengan suara yang pelan dan datar, ia menjawab,

“Aku nggak apa-apa, Kai.” Jawaban itu justru membuat Kaisar lebih sakit.

Ia menoleh, menatap wajah istrinya yang tampak kuat tapi lelah.

“Kamu nangis,” ucapnya pelan.

Shelina menggeleng kecil. “Cuma capek.”

Kaisar mengepalkan jemarinya di atas meja.

“Aku marah bukan ke kamu. Tapi kamu yang kena dan itu salahku.”

Shelina akhirnya menoleh. Tatapan matanya lembut, tapi ada luka yang belum sepenuhnya tertutup.

“Aku cuma … takut kamu menjauh,” katanya jujur.

 “Aku nggak mau berantem sama kamu. Aku masak karena aku pengin kamu pulang ke rumah … ke aku.”

Kalimat itu membuat Kaisar berhenti bernapas sesaat. Ia menggeser kursinya sedikit lebih dekat.

“Aku pulang, Shel. Aku cuma lupa caranya ngomong tanpa nyakitin.”

Shelina menunduk. Kaisar mengangkat tangannya ragu, lalu menyentuh punggung tangan Shelina di atas meja. Sentuhan itu lembut, penuh kehati-hatian dan seolah meminta izin.

“Aku janji,” ucap Kaisar lirih, “aku bakal belajar. Pelan-pelan. Tapi jangan bilang kamu nggak apa-apa kalau sebenarnya kamu sakit.”

Shelina menghela napas panjang. Air matanya kembali menggenang, tapi kali ini ia tak menahannya.

“Aku cuma pengin kamu tetap di sini, Kai.”

Kaisar menggenggam tangannya lebih erat.

“Aku di sini.”

Malam itu, di meja makan yang sederhana, di antara piring yang hampir dingin dan kata-kata yang akhirnya jujur, jarak di antara mereka perlahan menyempit.

Kaisar menatap piringnya lama. Sendok di tangannya tak langsung bergerak. Shelina yang duduk di sampingnya menyadari itu cara Kaisar diam terlalu lama biasanya bukan tanpa sebab.

“Kamu belum makan,” ujar Shelina pelan.

Kaisar menghela napas, lalu menyendok nasi sekali. Ia mengunyah tanpa selera, kemudian meletakkan sendoknya kembali.

“Shel…” panggilnya lirih.

Shelina menoleh. “Hm?”

“Aku … bermasalah di kampus.”

Shelina tak langsung menyela. Ia hanya menunggu, memberi ruang. Itu membuat Kaisar akhirnya berani melanjutkan.

“Pak Rangga … dia pembimbing skripsiku.”

Shelina mengangguk kecil, ekspresinya netral.

“Hari ini aku dipanggil ke ruangannya. Skripsiku bahkan belum dibaca setengah, tapi dia nyoret hampir semua. Bilang tulisanku kayak sampah dan nggak layak.”

Suara Kaisar menegang di kata terakhir.

Shelina terdiam dan jemarinya mencengkeram ujung meja.

“Dia lempar skripsiku ke muka,” lanjut Kaisar. Rahangnya mengeras.

 “Terus bilang, kalau aku nggak terima, aku bisa tinggal satu semester lagi. Nggak perlu lulus tahun ini.”

Shelina menarik napas tajam.

“Dia … ngomong begitu?”

Kaisar mengangguk. “Di ruangannya, aku berdua dan Aku pengin marah. Pengin balas tetapi aku keinget Kak Aksa. Keinget Mommy dan juga kamu, Aku cuma ambil skripsiku dan keluar.”

Shelina menatap wajah Kaisar lebih lama. Luka di pelipisnya belum sepenuhnya sembuh, dan sekarang ada luka lain yang tak terlihat.

“Kamu kuat,” ucap Shelina pelan. “Bukan karena kamu diam tetapi karena kamu memilih nggak bikin keadaan makin rusak.”

Kaisar tertawa kecil, pahit.

“Aku ngerasa gagal, Shel. Kalau aku nggak lulus tahun ini … Kak Aksa beneran bakal marah besar.”

Shelina menggeser kursinya lebih dekat.

“Dengar aku,” katanya tegas tapi lembut. “Skripsi kamu itu bukan sampah. Dan kamu juga bukan anak bodoh.”

Ia menatap Kaisar lurus.

“Kalau pembimbingmu memperlakukan kamu nggak adil, itu bukan berarti kamu pantas dihina.”

Kaisar menunduk.

“Tapi aku juga salah ... reputasiku di kampus jelek. Berantem, geng kami suka balapan … mungkin dia udah cap aku dari awal.”

Shelina menggeleng.

“Kesalahan masa lalu bukan alasan orang lain merendahkanmu.”

Ia ragu sejenak, lalu berkata,

“Kalau kamu mau … aku bisa bantu. Nggak bantu ngerjain skripsimu. Tapi nemenin kamu, bacain, dengerin, atau cari jalan lain ... ganti pembimbing, atau lapor ke fakultas kalau perlu.”

Kaisar menatap Shelina, terkejut.

“Kamu mau sejauh itu?”

Shelina tersenyum tipis.

“Aku istrimu, Kai. Tempatmu pulang dan termasuk waktu kamu ngerasa paling gagal.”

Kaisar menelan ludah, dadanya terasa penuh.

“Aku takut,” akuinya jujur. “Takut semua ini keburu hancur sebelum aku beneran berubah.”

Shelina meraih tangan Kaisar dan menggenggamnya.

“Kalau kamu jatuh, kita berdiri bersama. Tapi satu syarat.”

“Apa?” tanya Kaisar.

“Jangan tutup diri lagi. Jangan marah sendirian. Aku di sini bukan cuma buat masak buat kamu bukan hanya nunggu kamu.”

Kaisar mengangguk pelan.

“Iya … mulai sekarang aku cerita apapun padmu.”

Malam itu, Kaisar kembali mengangkat sendoknya. Untuk pertama kalinya sejak sore, ia benar-benar makan dan bukan cuma karena lapar, tapi karena merasa nggak sendirian.

Shelina duduk di tepi ranjang dengan punggung tegak, jemarinya saling mengait gugup. Padahal tadi, di meja makan, semuanya terasa biasa saja dan lumayan tenang, hangat, nyaris seperti pasangan normal pada umumnya. Tapi kamar ini berbeda. Sunyi terlalu rapat, lampu temaram terlalu jujur.

Pintu kamar mandi terbuka. Kaisar keluar dengan handuk melilit pinggang, rambutnya masih basah. Ia melirik Shelina sekilas, lalu berhenti.

“Kok belum tidur?” tanyanya, nada suaranya rendah, agak hati-hati.

Shelina menelan ludah dan dia menatap sprei, lalu memberanikan diri mengangkat wajah.

“Kamu … aku pernah bilang,” ucapnya pelan, nyaris bergetar. “Kalau … tawaran itu masih berlaku.”

Kaisar membeku sepersekian detik. Tatapannya kembali ke Shelina dan kali ini lebih dalam, bukan terkejut, melainkan memastikan.

“Maksud kamu?” tanyanya, suaranya melembut. Shelina mengangguk kecil, pipi dan telinganya memanas.

“Kalau kamu mau … kita bisa mulai. Malam ini.” Ia menarik napas panjang. “Aku malu, Kai bilang gini, tapi aku juga … mau belajar membuka hati.”

Kaisar melangkah mendekat perlahan, menjaga jarak seolah takut membuatnya mundur. Ia berhenti di depan Shelina, lalu berlutut agar sejajar dengan wajahnya.

“Kamu nggak perlu maksa,” katanya lembut. “Aku nggak pernah mau memaksa hal itu,"

Shelina menggeleng, matanya berkaca-kaca tapi tegas.

“Aku nggak maksa diri. Aku cuma … pengin percaya.”

Kaisar mengangkat tangannya, menunggu izin. Shelina mengangguk, sentuhannya singgah di punggung tangan Shelina dan itu terasa hangat.

“Kalau kita mulai,” ujar Kaisar lirih, "Aku bisa pastikan aku akan memulainya dengan pelan-pelan,"

Shelina tersenyum kecil. Gugupnya belum hilang, tapi ada rasa aman yang pelan-pelan tumbuh. Ia meraih tangan Kaisar, menggenggamnya balik.

“Malam ini,” katanya, hampir berbisik, “kita pelan-pelan aja.”

Keduanya tersenyum canggung.

1
Rahmat Zakaria
jeng jeng siapa kah yang datang hayo kalau aku tebak itu momy kaisar
Nata Abas
bagus
Aidil Kenzie Zie
yang datang Momy Kirana atau abg Aksa
ngatun Lestari
siapa kah yg datang.....
Teh Euis Tea
amira ga nikah lg thor?
trs sepupunya yg bawa amira nikah ga thor?
jd penasaran sm kisah mereka
nuraeinieni
betul tuh yg di bilang bu amira,anggap saja shel lagi cuti sampai kai wisuda,,atau jadi ibu rumah tangga shell,tunggu suami pulang kerja.
nuraeinieni
apa mommy kinara yg datang
Naufal Affiq
apa aksa yang datang kak
Teh Euis Tea
ouhhh amira ibu kandungnya aska ternyata pemilik yayasan
nuraeinieni
wah ternyata amira mama nya aska.
Meila Azr
aduh pantesan kaisar telpon momy ternyata ha Riko salah cari lawan
Oma Gavin
harusnya sudah tidak ada lagi dendam amira sudah bisa menerima kirana yg merawat aska
Naufal Affiq
amira kan mama nya aska
Riska Nianingsih
Amira ibunya Aska bukan????
Aisyah Alfatih: iya, ibu kandung.
total 1 replies
nuraeinieni
memikirkan kemungkinan yg terjadi tdk apa2,,,tapi hadapi dulu,baru tau keputusan yg kepala yayasan berikan,biar kalian bisa ambil langkah.
nuraeinieni
mantap tuh kaisar,jawaban yg tepat,,,
kasian dirimu rico,niat hati ingin menjatuhkan kaisar dan shelin,kamu sendiri yg ketakutan,takut ketahuan kesalahanmu.
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Naufal Affiq
lanjut kak
Naufal Affiq
rasakan riko,kau pikir kau menang dalam masalah,gak ada larangan mahasiswa nikah sama dosennya,ngerti kan Riko yang ku maksud
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!