NovelToon NovelToon
Vallheart

Vallheart

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / Romansa / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:521
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Riak Kecil di Permukaan Tenang

Lein datang lebih awal seperti biasanya. Aula masih lengang, hanya kristal latihan yang melayang tenang di udara. Ia meletakkan buku catatan di meja dekat jendela, tempat yang cukup terang dan jauh dari pusat keramaian.

Ketika ia kembali dari mengambil alat latihan, meja itu sudah ditempati.

Tiga murid perempuan berdiri di sana.

“Maaf,” ucap Lein pelan. “Aku tadi-

“Meja ini kosong,” potong salah satu dari mereka, seorang gadis berambut merah dengan lambang keluarganya tersemat di jubahnya. Nada suaranya sinis, tapi matanya dingin. “Tidak ada nama di atasnya”

Lein menatap buku catatannya yang kini dipindahkan ke lantai.

“Benar,” katanya tenang. “Aku ingin... ”

“Kau bisa duduk di belakang,” sambung gadis lain sambil tersenyum sinis. “Tempat itu cocok untuk penyihir pendukung sepertimu. ”

Beberapa murid lain mendengar percakapan itu. Ada yang pura-pura tidak tahu, ada pula yang melirik Lein dengan iba karena melihatnya.

“Tidak apa-apa,” kata Lein akhirnya. Ia memungut bukunya dan berjalan ke belakang aula.

Namun masalah tidak berhenti di sana.

Saat latihan dimulai, instruktur meminta murid memusatkan mana ke dalam kristal uji. Lein melakukannya seperti biasa, perlahan, stabil, tanpa lonjakan.

Kristal itu menyala lembut.

“Bagus Lein,” puji instruktur. “Stabilitas yang sangat baik”

Bisikan langsung menyebar.

“Lagi-lagi dia.”

“Mana kecil tapi selalu dipuji”

“Aneh.”

Gadis berambut merah menoleh tajam.

Ketika giliran latihan pasangan, Lein mendapati dirinya tanpa pasangan.

“Sepertinya sudah penuh,” kata salah satu murid sambil menghindari tatapannya.

Grack yang berada di sisi lain aula menoleh, hendak melangkah namun instruktur sudah memanggilnya lebih dulu.

Instruktur akhirnya menghela napas. “Baik. Roselein, kau latihan mandiri saja”

Lein mengangguk kecil.

Ia mengangkat tangannya, menyalurkan mana ke kristal latihan cadangan. Tidak lebih. Tidak kurang.

Kristal itu menyala stabil.

Saat kelas usai, Lein berjalan keluar aula sendirian.

Di lorong, seorang penyihir senior lewat dan berhenti sejenak.

“Roselein,” katanya ramah. “Teruslah berlatih seperti itu. Academy menghargai murid yang disiplin”

Lein menunduk sopan.

Begitu penyihir itu pergi, Lein menghela napas panjang.

“Hari ini,” gumamnya. "Terasa melelahkan”

Raksha menatap bayangannya di jendela lorong.

Manusia benar-benar makhluk yang rumit baginya.

Lein melangkah pergi, kembali ke asrama.

Hari berikutnya.

Lein menyadari ada yang berubah sejak hari itu.

Bukan pada pelajaran, bukan pada jadwal, melainkan pada cara orang-orang memandangnya. Tatapan yang semula hanya penuh rasa ingin tahu kini disertai bisikan.

Semua bermula dari satu nama.

Reyd Aclica.

Pangeran dari kerajaan Risvela. Murid kehormatan Academy Magica. Seseorang yang kehadirannya selalu menarik perhatian, entah ia menginginkannya atau tidak.

Lein bertemu Reyd secara tidak sengaja di perpustakaan sayap barat. Ia tengah membaca buku sejarah kontrak antar-kerajaan,materi, sayangnya tidak berkaitan langsung dengan kutukan jiwa. Reyd berdiri di rak yang sama, mengambil buku dengan sampul biru tua.

“Bagian ini sering terlewat,” kata Reyd tiba-tiba. “Padahal banyak ritual diplomasi lama berakar dari sini”

Nada suaranya tenang, tanpa kesan merendahkan.

Lein mengangguk. “Terima kasih.”

Itu saja yang bisa dia ucapkan sebagai gadis yang lemah, tidak terbiasa dengan tubuhnya. Tidak, wadahnya yang menampung jiwanya yang seharusnya sudah mati.

Keesokan harinya, Lein merasakan tatapan tajam menancap di punggungnya.

Dorna Ginarcis berdiri di seberang aula, tangan terlipat di dada. Rambut merahnya terikat rapi, namun sorot matanya menyala dingin.

“Kau cepat bergaul, Roselein.” kata Dorna ketika akhirnya mendekat. Senyumnya tipis, tidak menyentuh mata. “Pertama para dosen. Sekarang pangeran”

Lein menghela napas pelan. “Aku hanya berbicara padanya saja.”

“Dengan Reyd Aclica,” tekan Dorna. “Tidak semua murid bisa melakukannya”

Raksha merasakan kelelahan yang aneh.

Bukan karena sihir. Bukan karena kutukan. Karena tubuh ini.

“Aku tidak tertarik pada status,” jawab Lein jujur.

Dorna tertawa kecil. “Tentu saja, itu memang cocok untuk perempuan murahan sepertimu.”

Namun tawa itu tidak membawa humor.

Sejak saat itu, masalah-masalah kecil selalu saja bermunculan.

Tempat duduk yang berpindah. Jadwal latihan yang ‘kebetulan’ bertabrakan. Bisikan yang berhenti begitu Lein mendekat. Tidak ada yang cukup besar untuk dilaporkan dan justru itu yang membuatnya menjengkelkan.

Lein duduk sendirian di taman dalam Academy, menatap kolam mana yang memantulkan langit senja.

“Academy ini terasa melelahkan sekali,” gumamnya.

Dulu, ia menghadapi penyihir kuno yang membelokkan hukum realitas. Kini, ia harus menghadapi kehidupan yang membosankan ini.

“Lein”

Suara Reyd terdengar dari belakang. Ia berdiri dengan sikap santai, tidak membawa pengawal, tidak memakai jubah kerajaan... hanya murid Academy seperti yang lainnya.

“Kamu sering sendirian,” katanya. “Apa Academy tidak cocok untukmu?”

Lein menatap kolam itu. “Mungkin. Aku belum terbiasa.”

Reyd tersenyum kecil. “Academy penuh mata. Aku juga menghindarinya jika bisa."

Lein meliriknya sejenak.

Di kejauhan, Dorna berdiri di bawah bayangan pilar, memperhatikan mereka dengan rahang mengeras.

“Aku harus pergi,” katanya.

Reyd mengangguk. “Sampai jumpa, Roselein”

Saat Lein melangkah pergi, Raksha tahu satu hal pasti:

Ia memang mencolok.

Ia memang bosan.

Namun di balik semua itu, Academy Magica tetaplah ladang informasi dan selama ia berada di sini, ia akan memanfaatkannya.

1
Namida Leda
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!