Zavian Hersa mengira jalannya menuju keseriusan cinta dengan Grace akan semulus adiknya. Namun, realitas menghantam keras. Perbedaan status yang mencolok antara putra mahkota Hersa Group dan wakil ketua Gangster Blackrats menciptakan jurang yang lebar. Zavian, yang dihantui ketakutan kehilangan Grace seperti saat ia hampir kehilangan Nalea, berubah menjadi pria yang sangat posesif. Ia mencoba "menjinakkan" Grace dengan kemewahan dan perlindungan ketat, namun bagi Grace, perlindungan itu adalah penjara.
Kekosongan kepemimpinan sementara di Blackrats setelah Nalea fokus pada pendidikannya memicu gejolak di dunia bawah. Musuh-musuh lama dan baru mulai mengincar kekuasaan Blackrats. Teror silih berganti menghantui, mulai dari sabetan senjata tajam, pertumpahan darah, hingga pengorbanan nyawa.
Akankah cinta mereka bertahan di tengah pertumpahan darah dan tuntutan status sosial, ataukah mereka memilih jalan masing-masing dan merelakan cinta sejatinya?
NB: JANGAN SALFOK COVERNYA YAA😂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbukanya Tabir
Tiga hari telah berlalu dengan penuh kedamaian di kediaman Hersa. Grace mulai bisa berjalan tanpa bantuan, dan Zavian pun kembali bergelut dengan bisnisnya. Namun, di balik kesibukannya mengembangkan lini energi terbarukan, pikiran Zavian tak pernah lepas dari map cokelat milik Tuan Hadi.
Ponsel di atas meja kerjanya bergetar. Sebuah nomor asing muncul di layar.
"Halo, dengan Zavian Hersa di sini."
"Selamat siang, Tuan Zavian. Ini dari bagian laboratorium DNA. Hasil tes khusus yang Anda minta atas nama sampel 'A' dan 'B' sudah keluar dan bisa diambil sekarang," suara petugas di seberang sana terdengar sangat formal.
Jantung Zavian berdegup kencang. Tanpa menunggu lama, ia membatalkan semua rapat sore itu. "Saya segera ke sana."
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, tangan Zavian mencengkeram kemudi dengan sangat kuat. Ia teringat foto tua itu. Jika dugaannya benar, maka konstelasi hubungan antara keluarga Hadi dan Hersa akan berubah secara drastis.
Sesampainya di laboratorium, Zavian menerima amplop putih yang tersegel rapat. Ia membawanya ke dalam mobil, tidak ingin membukanya di tempat umum. Dengan napas yang tertahan, ia merobek segel amplop tersebut.
Matanya menyapu barisan angka dan istilah medis yang rumit, hingga pandangannya terpaku pada kesimpulan di bagian paling bawah:
"Probability of Paternal/Biological Relationship: 99.99%."
Tubuh Zavian bersandar lemas di kursi mobil. Dunianya seolah berputar. Hasil tes DNA itu menyatakan dengan mutlak bahwa sampel dari Tuan Besar Hadi dan sampel rambut Grace yang ia ambil diam-diam memiliki hubungan darah langsung.
Grace adalah Althea. Putri bungsu Tuan Hadi yang selama lima belas tahun ini dianggap telah tiada.
Zavian merasakan campuran emosi yang sangat kompleks di dadanya. Ada rasa senang yang luar biasa karena Grace ternyata memiliki keluarga kandung yang sangat menyayanginya, setidaknya dari sisi Tuan Hadi. Namun, di sisi lain, kecemasan yang hebat mulai merayapi pikirannya.
Jika Grace adalah Althea, maka secara hukum dan silsilah, status Grace jauh lebih tinggi daripada dirinya di dunia aristokrasi bisnis. Grace adalah pewaris sah dari imperium Blue Diamond Corp yang nilainya triliunan rupiah. Grace adalah bibi dari Andreas, dan ia adalah ancaman terbesar bagi seorang pewaris
"Grace... Althea..." gumam Zavian lirih.
Zavian menyadari bahwa pengungkapan ini adalah pedang bermata dua. Jika ia memberitahu Grace sekarang, Grace mungkin akan bahagia menemukan identitasnya, namun keselamatannya akan berada dalam bahaya yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Keluarga Hadi adalah sarang ular, dan memasukkan Grace kembali ke sana sama saja dengan melemparkannya ke lubang buaya.
Namun, ia tidak mungkin menyimpan rahasia sebesar ini selamanya. Grace berhak tahu siapa dirinya sebenarnya. Zavian memandangi hasil tes itu dengan tatapan nanar. Ia baru saja melamar seorang pengawal yatim piatu, namun takdir ternyata memberinya seorang putri tunggal dari keluarga besar.
"Apa yang harus kulakukan?" Zavian bertanya pada kesunyian di dalam mobilnya. Ia tahu, langkah selanjutnya yang ia ambil akan menentukan apakah Grace akan mendapatkan kebahagiaannya sebagai Althea, atau tetap hidup dalam ketenangan sebagai Grace Hersa.
...****************...
Kantor Pusat Blue Diamond Corp – 10.00 WIB
Zavian melangkah menyusuri lobi perusahaan Blue Diamond dengan ekspresi yang sangat terkontrol. Di dalam tas kerjanya, hasil tes DNA itu tersimpan rapi, sebuah rahasia yang sanggup mengguncang gedung pencakar langit tempat ia berdiri sekarang. Namun, Zavian memutuskan untuk mengunci informasi itu rapat-rapat. Ia harus memastikan kondisi internal keluarga Hadi benar-benar aman sebelum "sang putri bungsu" dikembalikan ke sarangnya.
"Zavian! Tepat waktu seperti biasa," sapa Tuan Besar Hadi yang sudah menunggu di lobi utama bersama jajaran direksi.
Zavian menjabat tangan pria tua itu dengan rasa hormat yang kini bercampur dengan emosi aneh. Ia menatap wajah Hadi, mencari kemiripan dengan Grace, dan ia menemukannya pada garis rahang yang tegas itu. "Selamat pagi, Tuan Hadi. Terima kasih atas sambutannya."
Tuan Hadi mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan kening berkerut. "Di mana Andreas? Kenapa dia tidak ada di sini untuk menyambut tamunya?"
Miller, yang berdiri sedikit di belakang, segera maju dan membungkuk. "Mohon maaf, Tuan Besar. Tuan Andreas sedang keluar sejak pagi tadi. Beliau sedang turun langsung ke lapangan untuk mencari informasi mengenai supplier bahan baku alternatif yang baru."
Hadi mendengus, tampak tidak puas namun tidak ingin mempermalukan cucunya di depan Zavian. "Turun ke lapangan atau sedang melarikan diri? Baiklah, Zavian, mari. Sambil menunggu cucuku yang sibuk itu, biarkan aku menunjukkan padamu bagaimana dapur Blue Diamond bekerja. Aku ingin kau melihat potensi yang bisa kita sinergikan."
Hadi mengajak Zavian berkeliling, menunjukkan divisi-divisi utama perusahaan. Zavian mendengarkan dengan seksama, namun pikirannya terus bekerja. Ia melihat bagaimana Paman Gio mengawasi mereka dari kejauhan dengan tatapan penuh selidik. Zavian sadar, di perusahaan ini, musuh bukan hanya dari luar, tapi juga dari dalam.
Pintu ruangan Andreas terbanting keras. Andreas masuk dengan napas memburu dan wajah merah padam. Ia melempar tas kulitnya ke atas sofa hingga isinya nyaris berhamburan.
"Sialan! Semuanya tidak berguna!" maki Andreas pada kekosongan ruangan.
Ia baru saja mengunjungi tiga supplier besar, dan hasilnya nol. Tidak ada yang memiliki bahan baku dengan standar kemurnian tinggi yang dibutuhkan Blue Diamond. Semua stok berkualitas tinggi sudah dipesan oleh perusahaan lain, atau memang sengaja ditahan untuk menekan harga.
Andreas duduk di meja kerjanya, menopang kepalanya dengan kedua tangan. Rasanya kepalanya seperti sedang tertindih batu besar yang siap meremukkannya kapan saja. Jika dalam dua hari ia tidak mendapatkan bahan baku itu, Kakek benar-benar akan menyerahkan posisinya kepada Paman Gio.
Tok... tok...
"Tuan, Anda sudah kembali?" Miller masuk dengan langkah hati-hati, membawa sebuah tablet di tangannya.
"Kau lihat sendiri kan? Aku kembali dengan tangan kosong! Jangan tanya lagi!" bentak Andreas tanpa mengangkat kepalanya.
"Tuan, ada hal penting yang harus Anda ketahui. Tuan Zavian sedang berada di gedung ini sekarang, beliau sedang berkeliling bersama Tuan Besar Hadi," lapor Miller.
Andreas tertawa sinis, suara tawanya terdengar getir. "Zavian? Mantan tunangan Grace itu? Untuk apa dia ke sini? Mau pamer kesuksesan di depan Kakek? Tidak penting! Suruh dia pergi setelah urusannya selesai. Aku tidak punya waktu untuk meladeni orang sombong seperti dia."
Miller menarik napas panjang, ia mendekat ke meja Andreas. "Bagaimana hasilnya tadi, Tuan?"
"Buruk! Semuanya sampah! Mereka menawarkan bahan kualitas rendah dengan harga selangit. Mereka tahu kita sedang terjepit," Andreas meluapkan kekesalannya, ia meninju meja kayu jati itu dengan frustrasi.
Miller mengulurkan tabletnya ke depan wajah Andreas. "Mungkin Anda harus melihat ini, Tuan. Saya baru saja mendapatkan laporan dari tim analis pasar."
"Apa lagi ini?" Andreas menyambar tablet itu dengan kasar.
Di layar tablet tersebut, terpampang profil sebuah perusahaan bernama PT Andalas Prima. Perusahaan itu baru saja meresmikan kantor cabang lokalnya di Bogor bulan lalu, namun mereka memiliki jaringan logistik yang luar biasa kuat dan, yang paling penting, mereka memegang kontrak eksklusif untuk distribusi bahan baku kimia tingkat tinggi dari Jerman, bahan baku yang sama persis dengan yang dibutuhkan Blue Diamond.
"PT Andalas Prima? Kenapa aku baru dengar nama ini? Kamu yakin mereka punya stok?" tanya Andreas, matanya mulai berbinar melihat secercah harapan.
"Saya sangat yakin, Tuan. Mereka adalah pemain baru yang sangat agresif. Namun..." Miller menggantung kalimatnya, ragu untuk melanjutkan.