Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan yang Tertunda
Jam 3.30 sore Rommy dan Tony sudah tiba di Sasana Tinju Cobra yang dipenuhi anak-anak The Executioners. Teriakan-teriakan mereka sangat mengintimidasi Rommy.
“Berani juga kamu datang!” teriak salah satu anggota The Executioners.
Rommy diam saja dan terus melakukan pemanasan.
Salah satu anggota The Executioners mencoba melakukan provokasi dengan melempar sarung tinju yang tidak digunakan ke arah Rommy.
“Siapa yang lempar itu?” Coach Bruno marah lalu berteriak. “Jangan kau rusak sasanaku! Boleh kamu teriakkan semangat, tapi jangan kau rusak barang-barangku!”
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, Axel tidak juga hadir, pendukungnya mulai gelisah.
“Dia takut?” bisik Tony kepada Rommy.
“Kayaknya ini bukan tipikalnya dia,” jawab Rommy pelan. “Mungkin ada sesuatu.”
Rommy melanjutkan pemanasan dengan melakukan shadow boxing ringan di atas ring.
Lalu Sonny mengirim pesan kepada Axel, “Ada di mana lu, bro?”
Tapi tidak ada jawaban.
Kemudian Aryo menelpon Axel, tapi tidak diangkat.
Situasi itu membuat para anggota The Executioners yang tadinya membully Rommy jadi hening dan bertanya-tanya.
Tiba-tiba pintu terbuka, Mauren dan papanya masuk sasana.
“Logan,” sapa Coach Bruno. “Tumben mampir?”
“Aku ke sini tidak ada urusan dengan sasanamu, tapi bocah ini, Rommy, bakatnya sangat menarik aku,” kata papa Mauren dan menolak berjabat tangan dengan Coach Bruno.
“Hahaha. Kau masih sakit hati dengan peristiwa dulu?” tanya Coach Bruno. “Ayo kawan, jaman sudah berubah. Kita sudah sama-sama tua, kita lupakan peristiwa itu.”
Mauren hanya melongo melihatnya. Seumur-umur papanya tidak pernah bersikap seangkuh itu. Papanya Mauren kemudian masuk ke dalam ring diikuti Mauren.
“Mana Axel?” tanya papa Mauren.
“Pada nggak tahu, Om,” jawab Rommy pelan. “Teman-temannya sudah mencoba mengirim pesan dan menelpon tapi nggak ada kabar.”
Di rumah Axel saat jam menunjukkan pukul 3.30, Axel sedang bersiap berangkat ke Sasana Cobra yang hanya beberapa blok dari rumahnya. Seperti biasa, rumah itu terasa panas karena pertikaian papa dan mamanya yang hanya dipicu masalah kecil.
“Ku sudah bilang, kopi itu masih aku minum!” bentak papa Axel. “Kenapa sudah kamu singkirkan?”
“Kamu sering buat rumah ini berantakan,” jawab Mama Axel. “Kalau masih akan diminum, letakkan di tempat yang benar, jangan taruh sembarangan!”
“Kan aku sudah bilang, jangan disingkirin dulu!” kata papa Axel dengan nada keras. “Kayaknya kamu sengaja ya, bikin aku jengkel?”
“Kamu yang sengaja!” jawab Mama Axel. “Kamu anggap aku ini pembantumu!”
Tiba-tiba Papa Axel memegangi dada kirinya dan langsung lunglai, jatuh ke tanah.
“Pa! Ada kenapa pa?” teriak Axel yang sudah bersiap berangkat ke sasana, lalu membatalkannya dan menolong papanya.
Mama Axel juga tak kalah panik, “Pa! Apa yang terjadi? Maafkan kalau aku sering bicara keras.”
Axel sibuk menekan-nekan dada papanya melakukan CPR jantung yang dia pelajari di sekolah. Mama Axel segera menelpon rumah sakit agar segera dikirimkan ambulans dan paramedis.
“Pa, bangun pa,” kata Mama Axel saat menantikan ambulans.
Ambulans harusnya datang sekitar 10 menit, tapi 10 menit itu terasa seperti setahun bagi Axel dan mamanya.
Akhirnya ambulans tiba beserta beberapa paramedis dari rumah sakit, lalu melakukan beberapa tindakan darurat dan kemudian membawa papa Axel pakai tandu ke ambulans.
“Kita bawa ke rumah sakit sekarang,” ujar salah seorang petugas paramedis. “Semoga bisa terselamatkan.”
Axel dan mamanya lalu ikut ke dalam ambulans ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, mamanya terus menangis dan Axel kemudian memeluknya. Dalam keadaan chaos demikian, Axel sama sekali lupa bahwa dia seharusnya hadir ke Sasana Cobra untuk bertanding tinju melawan Rommy.
Sirene ambulans bunyi meraung-raung, menambah mencekamnya suasana. Sekitar 15 menit mereka sampai di rumah sakit dan petugas rumah sakit sudah siap dengan ranjang rumah sakit lalu membawa papa Axel ke IGD.
Dengan cekatan, dokter jaga di IGD segera melakukan tindakan emergency dan memasang beberapa peralatan di dada papa Axel serta selang infus.
“Suami ibu terkena serangan jantung, tapi sekarang sudah stabil, untuk beberapa saat dia sudah aman,” kata dokter Bram yang menangani papa Axel. “Tapi dia harus menjalani operasi untuk memasang ring jantung.”
Mama Axel hanya bisa menangis mendengar penjelasan itu.
“Untuk melakukan pemasangan ring jantung, kami butuh tanda tangan ibu sesegera mungkin,” kata dr. Bram sambil menyodorkan berkas kepada Mama Axel.
Jam sudah menunjukkan pukul 4.30 sore, dan Axel tidak menunjukkan batang hidungnya di Sasana Cobra.
“Rumahnya tidak jauh dari sini, aku susul dia ke rumahnya,” ujar Sonny.
Sesampainya di rumah Axel, Sonny mendapati rumah tersebut kosong dan terkunci. Sonny coba menelpon Axel, dan dari dalam rumah terdengar suara HP. Rupanya HP Axel ketinggalan karena situasi yang serba panik tadi.
“Axel, di mana lu?” tanya Axel kepada dirinya sendiri. Segera dia balik ke arah Sasana Cobra.
“Nihil,” kata Sonny memberi kabar kepada teman-temannya. “Rumahnya kosong dan terkunci, serta HPnya ketinggalan.”
Para pendukung Axel dari geng The Executioners tampak kecewa dan satu per satu meninggalkan Sasana itu dengan penuh rasa kecewa.
Tidak terkecuali Rommy yang juga segera meninggalkan Sasana Cobra, disusul Mauren dan papanya serta Tony.
Saat perjalanan pulang, terbersit pikiran Rommy untuk mampir ke rumah Axel, apa yang sebenarnya terjadi. Mauren dan papanya juga memutuskan menemani Rommy mampir ke rumah Axel, karena penasaran apa yang terjadi pada Axel.
Setibanya di rumah Axel, rumah itu memang nampak kosong dan terkunci, tapi motor Axel tampak terparkir di halaman rumahnya. Rommy kemudian berkeliling mencari suatu petunjuk di sekitar rumah itu. Dan matanya tertuju pada sebuah kertas kecil berwarna putih tergeletak di rerumputan, dia memungut kertas itu yang ternyata selembar kartu nama bertuliskan “Rumah Sakit Medika Kencana.”
Rommy menunjukkan kartu nama itu kepada papa Mauren.
“Rumah sakit itu tidak terlalu jauh dari sini, ayo kita ke sana,” ajak papa Mauren. “Kalian ikut mobil kami saja.”
Mauren, papanya, Rommy, dan Sonny kemudian masuk ke dalam mobil.
Karena hari Minggu, jalanan ke rumah sakit tidak terlalu macet, dan sekitar 20 menit kemudian mereka tiba di rumah sakit. Lalu mereka langsung menuju ke resepsionis.
“Ya tadi ada pasien sakit jantung atas nama Tuan Raymond Hartawan dilarikan ke IGD,” kata petugas resepsionis.
“Ya, itu nama papa Axel,” kata Rommy.
Segera mereka bergegas ke IGD. Sesampainya di IGD, papa Axel sedang bersiap-siap akan dipindahkan ke ruang ICU.
Dan mereka melihat Axel dan mamanya sedang sibuk mengurus administrasi.
“Axel,” panggil Mauren.
Axel terkejut dan segera menoleh. Ada Mauren, papanya, Tony, dan Rommy!
“Ke… kenapa kalian tahu saya ada di sini?” tanya Axel masih terkejut.
“Rommy menemukan kartu nama Rumah Sakit Medika Kencana tercecer di sini,” jelas Mauren. “Dan kami coba ke sini, dan ternyata benar.”
Axel memandang mereka satu per satu masih dengan pandangan terkejut, Mauren, papanya, Tony, dan Rommy.
Axel menatap Rommy, tapi tiba-tiba terdengar suara dokter memanggil, “Keluarga pak Raymond!” Apa yang akan terjadi selanjutnya?