NovelToon NovelToon
Kupilih Dirimu

Kupilih Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 29 Harga yang Harus Dibayar

Malam itu angin terasa lebih berat.

Bukan cuma dingin.

Tapi seperti membawa kabar buruk.

Bagas berdiri di bawah lampu jalan yang redup.

Pipit duduk di bangku semen, diam, memeluk dirinya sendiri.

Dan mobil hitam itu datang lagi.

Tidak pakai basa-basi.

Pria berjas abu-abu turun, membuka pintu belakang.

“Bapak ingin bicara sekarang. Ini kesempatan terakhir.”

Bagas menatap Pipit.

Pipit menggeleng pelan.

Tapi kali ini… Bagas tidak langsung menolak.

Bukan karena ia setuju.

Tapi karena ia lelah jadi tidak punya pilihan.

Di dalam ruangan itu lagi.

Pria paruh baya yang sama duduk santai.

“Jadi kamu datang.”

Bagas berdiri tegak.

“Saya dengar dulu.”

Pria itu tersenyum tipis.

“Proyek pembangunan kawasan industri. Nilainya besar. Kamu jadi konsultan eksekusi. Komisi miliaran.”

Miliaran.

Kata itu seperti suara dari masa lalu.

Masa saat hidupnya masih utuh.

“Tapi syaratnya tetap sama,” lanjut pria itu pelan.

“Istrimu datang. Menyelesaikan urusan lama. Klarifikasi.”

Bagas menatap tajam.

“Klarifikasi apa?”

Pria itu membuka map tipis.

Foto-foto lama.

Dokumen.

Surat peringatan.

“Dulu istrimu keluar dari perusahaan dengan tuduhan manipulasi data.”

Bagas membeku.

“Apa?”

Pria itu tersenyum.

“Tentu saja kasus itu kami tutup. Tapi dokumennya masih ada.”

Tangannya mengetuk meja pelan.

“Kalau dia mau datang, minta maaf, dan bersikap kooperatif… semua bersih.”

Kooperatif.

Kata halus untuk sesuatu yang tidak bersih.

Bagas merasakan tenggorokannya kering.

“Kalau tidak?”

“Dokumen ini bisa tersebar. Media sosial kejam, kamu tahu itu.”

Senyum tipis.

Santai.

Seperti sedang menawar harga barang.

Di luar gedung, Pipit berdiri gelisah.

Saat Bagas keluar, wajahnya berbeda.

Lebih keras.

“Apa yang dia bilang?”

Bagas diam.

“Mas?”

“Mereka punya dokumen lama.”

Pipit langsung pucat.

“Mas…”

“Mereka bilang kamu manipulasi data.”

Air mata Pipit jatuh.

“Itu fitnah.”

“Kenapa kamu tidak pernah cerita?”

“Karena aku tidak mau kamu lihat aku sebagai beban.”

Beban.

Kata itu lagi.

Bagas mengusap wajahnya.

“Aku sudah dituduh gagal. Sekarang istriku dituduh curang.”

Pipit memegang tangannya.

“Mas, jangan ambil proyek itu.”

“Kalau aku tidak ambil, kita makan apa?”

Sunyi.

Dan untuk pertama kalinya—

Nada suara Bagas terdengar retak oleh tekanan.

Belum selesai.

Keesokan harinya, kabar itu entah bagaimana bocor.

Bu Marni datang ke mushola.

Dengan langkah penuh kemenangan.

“Wah, romantis ya tinggal di sini.”

Bagas berdiri.

“Ada apa lagi?”

Bu Marni tersenyum tajam.

“Kamu belum tahu? Di grup keluarga sudah tersebar.”

Ia mengangkat ponsel.

Foto lama Pipit di kantor.

Disertai caption:

“Ternyata istri si gagal dulu dipecat karena manipulasi.”

Pipit mematung.

Bu Marni melanjutkan tanpa jeda.

“Pantas saja karier kamu hancur. Istrimu bawa sial dan reputasi jelek.”

Setiap kata seperti cabai ditabur di luka.

Bagas menatap tajam.

“Cukup.”

Tapi Bu Marni belum selesai.

“Kamu itu lelaki gagal yang bahkan tidak bisa memilih pasangan dengan benar. Sudah miskin, dapat istri bermasalah pula. Kombinasi lengkap untuk hancur.”

Orang-orang sekitar mulai memperhatikan.

Beberapa berbisik.

Beberapa memandang Pipit dengan tatapan berbeda.

Tatapan curiga.

Tatapan jijik.

Pipit menunduk.

Tubuhnya gemetar.

Bagas berdiri di depannya.

Melindungi.

“Keluar dari sini.”

Bu Marni tertawa kecil.

“Kenapa? Malu? Kamu yang harusnya malu.”

Ia mendekat sedikit, suaranya lebih rendah tapi lebih tajam.

“Kalau mau bersih, suruh istrimu datang dan minta maaf. Jangan keras kepala. Lelaki itu harus realistis. Jangan bodoh demi harga diri.”

Harga diri.

Kata itu dilempar seperti batu.

Setelah Bu Marni pergi, suasana mushola sunyi.

Pipit duduk perlahan.

“Mas… kamu percaya aku?”

Bagas menatapnya lama.

Dan di situlah pembaca ikut menahan napas.

Karena kepercayaan itu sedang diuji.

“Aku percaya,” ucapnya akhirnya.

Tapi wajahnya masih penuh konflik.

Karena percaya bukan berarti tidak takut.

Sore itu, pria berjas abu-abu kembali muncul.

Ia berdiri beberapa meter dari mereka.

“Waktu kalian tinggal sedikit.”

Bagas menatapnya.

“Kalian sengaja sebarkan itu?”

Pria itu tidak menyangkal.

“Tekanan membuat orang cepat mengambil keputusan.”

Pipit berdiri.

“Saya tidak akan datang.”

Pria itu tersenyum tipis.

“Kamu pikir kamu masih punya reputasi untuk dijaga?”

Kalimat itu menusuk lebih dalam dari hinaan Bu Marni.

Bagas mengepalkan tangan.

“Jangan bicara begitu pada istri saya.”

Pria itu menatap Bagas datar.

“Kamu lelaki yang sudah kehilangan rumah, keluarga, pekerjaan, nama, dan hampir kehilangan kepercayaan pada istrimu. Jangan bicara seolah kamu masih punya posisi.”

Sunyi.

Hening yang memekakkan.

Karena kalimat itu benar-benar menelanjangi kondisi Bagas.

Pipit memegang tangan Bagas.

“Mas, lebih baik kita jatuh bersih daripada bangkit dengan kotor.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi berat.

Karena di depan mereka ada uang.

Ada jalan keluar cepat.

Ada kemungkinan bangkit.

Tapi ada harga.

Dan harga itu adalah membuka luka lama Pipit di hadapan orang yang dulu mencoba menjebaknya.

Malam turun.

Bagas duduk sendirian lagi.

Kali ini pikirannya lebih liar.

Kalau ia ambil proyek itu—

Ia bisa lunasi utang.

Bisa sewa rumah lagi.

Bisa membuat semua orang diam.

Tapi ia harus membawa istrinya kembali ke tempat yang pernah menghancurkannya.

Dan mungkin—

Mengorbankan sesuatu yang lebih dari sekadar reputasi.

Ia menatap langit.

Untuk pertama kalinya…

Ia benar-benar berdiri di persimpangan.

Bukan soal miskin atau kaya.

Tapi soal siapa dirinya sebenarnya.

Lelaki yang menjual harga diri demi bangkit.

Atau lelaki yang rela tetap diinjak demi menjaga orang yang ia cintai.

Dan di kejauhan, Bu Marni menerima pesan singkat:

“Tekanan sudah maksimal. Mereka hampir patah.”

Ia tersenyum puas.

“Bagus. Biar dia tahu rasanya jadi bukan siapa-siapa.”

Ternyata…

Ini bukan cuma soal proyek.

Ini permainan.

Dan Bagas adalah bidaknya.

1
Mas Bagus
tenang kak, hidup adalah perjuangan.. tetep semangat...
partini
buset dah ini di gempur dari samping atas bawah macam udah jatuh tertimpa tangga plus pohonnya
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid
partini
berjuang bersama istri dari O,kamu sekolah kan udah pernah pegang kendali biar pun gagal so jadi kan itu pelajaran yg akan menuju kesuksesan buktikan kamu mampu ,ada istri yg full support tapi nanti udah sukses mendua cari lobang lain is no good maaf bacanya loncat thor
Mas Bagus: siap...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!