Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31# LABIRIN BAJA DAN DARAH
Dingin. Itulah hal pertama yang mereka rasakan saat pintu gerbang raksasa itu tertutup rapat, mengunci mereka di dalam jantung Menara Merah. Aula utama ini tidak seperti hutan yang lembap atau tebing yang gersang; tempat ini adalah perpaduan antara teknologi tingkat tinggi dan kengerian arsitektur. Dinding-dindingnya dilapisi logam hitam yang berdenyut dengan kabel-kabel bercahaya merah, menyerupai pembuluh darah raksasa.
Duka masih terasa mencekik. Dasha masih dipapah oleh Tom dan Lily. Wajah Tom tampak mengeras, rahangnya terkatup rapat menahan amarah atas kehilangan Rony. Sementara itu, Lily terus menggenggam tangan Dasha, mencoba menyalurkan kekuatan meskipun matanya sendiri sembab.
"Kita tidak boleh berhenti," bisik Arlo, meski suaranya bergetar. "Rony memberikan nyawanya agar kita bisa berdiri di sini. Jika kita berhenti, pengorbanannya sia-sia."
Mereka mulai melangkah menelusuri lorong utama. Namun, baru beberapa meter berjalan, Naya tiba-tiba berhenti dan mengangkat tangannya. "TUNGGU!"
Di depan mereka, udara tampak bergetar. Ribuan garis laser tipis berwarna merah menyala menyilang di sepanjang lorong, bergerak secara acak namun presisi. Ini adalah jebakan keamanan pertama. Tidak hanya itu, dinding-dinding di sekitar mereka mulai memproyeksikan gambar-gambar holografik—bayangan orang-orang yang telah gugur. Sosok Becca, Leo, dan yang terbaru, Rony, muncul seolah-olah mereka sedang menatap tim dengan tatapan menyalahkan.
"Ini jebakan psikologis," geram Dokter Luz. "Jangan tatap mata mereka! Sistem ini mencoba memanipulasi rasa bersalah kalian agar kalian kehilangan fokus dan terkena laser."
"Sialan! Menara ini benar-benar bermain dengan otak kita!" teriak Finn sambil menutup matanya rapat-rapat.
Cicilia berdiri di barisan tengah, busurnya masih dalam posisi siap. Matanya tajam menatap bayangan Rony yang seolah melambai padanya. Ia menggigit bibirnya hingga berdarah untuk tetap sadar. "Itu bukan mereka. Itu hanya cahaya!" seru Cicilia menguatkan dirinya sendiri.
Tiba-tiba, suara langkah sepatu bot yang berat bergema dari ujung lorong. Bukan monster, melainkan manusia. Pasukan bersenjata lengkap dengan baju zirah taktis berwarna abu-abu gelap muncul. Mereka membawa senapan energi yang moncongnya mulai berpendar biru.
"SUBJEK TERDETEKSI. EKSEKUSI DIMULAI," suara robotik keluar dari helm mereka.
"BERLINDUNG!" raung Rick.
Pasukan itu melepaskan tembakan. Sinar energi menghantam lantai dan dinding, menciptakan ledakan kecil. Arlo dan Rick menerjang maju, menggunakan pilar logam sebagai perlindungan sementara. Tom, dengan kekuatan fisiknya yang luar biasa, memutar kapaknya dan menghantam salah satu tentara yang mencoba mendekati Lily.
Cicilia menunjukkan ketangguhannya. Ia melompat dari balik perlindungan, melepaskan anak panah yang telah dimodifikasi oleh Naya. Anak panah itu meledak di depan barisan pasukan, memberikan celah bagi Zephyr untuk menyelinap masuk dan menghabisi mereka dari jarak dekat dengan belatinya.
Pertempuran berlangsung singkat namun brutal. Dalam beberapa menit, sepuluh pasukan bersenjata itu tergeletak mati di lantai logam. Darah mereka, yang ternyata berwarna merah normal, merembes di sela-sela lantai mesin.
"Mereka manusia..." bisik Selene sambil menatap salah satu tubuh yang terbaring. "Orang-orang dari dunia luar yang menjaga tempat ini."
"Mereka bukan manusia lagi bagi kita. Mereka adalah algojo," sahut Harry dingin sambil memeriksa senjatanya.
Tiba-tiba, suara hentakan kaki yang jauh lebih besar dan banyak terdengar dari lantai atas dan lorong-lorong samping. DEG... DEG... DEG... Suara itu berirama, menandakan pasukan yang jauh lebih besar sedang menyusul mereka.
"Sial! Itu belum semuanya!" teriak Rayden yang mulai panik lagi. "Kita harus sembunyi! Aku tidak mau jadi sate energi!"
"Cepat cari tempat persembunyian!" perintah Arlo sambil menunjuk ke sebuah pintu ruang kontrol yang setengah terbuka di sisi lorong.
Saat yang lain mulai berlari menuju pintu tersebut, Cicilia berhenti sejenak di dekat mayat salah satu pasukan. Dengan gerakan cepat, ia membuang busurnya yang sudah mulai retak dan mengambil senapan energi otomatis milik tentara itu. Ia memeriksa pengaitnya, lalu menyampirkannya di bahu dengan wajah penuh dendam.
"Cici! Cepat!" panggil Tom dari ambang pintu.
Cicilia berlari masuk tepat saat pasukan baru muncul di ujung lorong. Mereka semua masuk ke dalam ruang kontrol yang gelap dan sempit, lalu menutup pintu sepihak. Mereka menahan napas dalam kegelapan. Suara ratusan langkah kaki tentara melewati pintu mereka, bergema seperti detak jantung kematian.
Lira memeluk bahu Rayden agar pemuda itu tidak bersuara, sementara Naya berpegangan erat pada lengan Zephyr. Di dalam kegelapan itu, duka atas Rony kembali menghantam mereka, namun kini mereka memiliki senjata baru di tangan Cicilia dan kemarahan yang lebih besar di dalam hati.
"Kita di dalam sekarang," bisik Arlo di tengah kegelapan. "Dan tidak ada jalan kembali."
Btw semangat terusss min!!