Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. BELAJAR MENEMBAK
Weekend kali ini terasa berbeda. Tidak ada hiruk-pikuk kota atau bayang-bayang mansion tua Sofia. Sejak kepulangan mereka dari rumah sang ibu, ada kelembutan baru yang menyusup di antara Dipta dan Keyla. Dipta mulai sering meletakkan tablet kerjanya hanya untuk mendengarkan Keyla bercerita tentang dosennya yang membosankan, sementara Keyla mulai berani menyentuh lengan Dipta tanpa gemetar ketakutan.
Pagi itu, di meja makan penthouse, Keyla menyesap kopinya sambil menatap layar televisi yang masih menampilkan sisa-sisa film aksi yang ia tonton semalam. Karakter wanitanya begitu tangguh, memegang senjata dengan tatapan tajam yang mematikan.
"Dipta," panggil Keyla tiba-tiba.
Dipta mendongak dari koran digitalnya. "Ya?"
"Aku ingin liburan weekend ini. Tapi aku tidak mau ke pantai atau mall."
Dipta menaikkan sebelah alisnya, tertarik. "Lalu? Kau mau ke mana? Pegunungan?"
Keyla menggigit bibir bawahnya, matanya berbinar nakal. "Aku ingin berlatih menembak. Bisakah kau membawaku ke tempat latihan tembak?"
Dipta tertegun. Gelas kopi yang baru saja akan menyentuh bibirnya tertahan di udara. Ia menatap istrinya yang tampak lugu itu dengan ekspresi tercengang. "Menembak? Dari mana pikiran itu datang, Keyla?"
"Film semalam," jawab Keyla jujur. "Kelihatannya keren. Aku ingin tahu rasanya memegang senjata dan mengenai sasaran. Kau bisa, kan?"
Dipta terdiam cukup lama. Tatapannya mendalam, seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu yang sangat rahasia. Akhirnya, sebuah senyum tipis—senyum yang mengandung misteri—muncul di wajahnya. "Aku bisa membawamu. Tapi bukan ke tempat umum. Kau tidak akan suka keramaian dan instruktur yang berisik."
"Lalu ke mana?"
"Siapkan pakaianmu. Sesuatu yang nyaman untuk bergerak. Kita berangkat sekarang."
***
Perjalanan kali ini jauh lebih lama. Mereka meninggalkan perbatasan Jakarta, memasuki wilayah yang semakin terpencil. Hutan pinus yang lebat mulai mengepung jalanan aspal yang hanya muat untuk dua mobil. Keyla mulai merasa was-was.
"Dipta, ini jauh sekali. Di mana tempat latihannya?"
"Sabar, Sayang. Kita hampir sampai."
Mobil melambat saat menghadapi sebuah gerbang besi hitam raksasa yang tingginya mungkin mencapai empat meter. Di atas gerbang itu tidak ada papan nama, hanya kawat berduri yang dialiri listrik. Saat mobil Dipta mendekat, kamera pengawas di sisi gerbang bergerak mengikuti mereka.
Klik.
Gerbang terbuka perlahan. Begitu mobil masuk, Keyla spontan menutup mulutnya dengan tangan. Ia merasa seperti masuk ke dalam set film aksi yang ia tonton semalam, atau mungkin lebih menyeramkan.
Di sepanjang jalan menuju mansion, berdiri pria-pria dengan pakaian serba hitam, lengkap dengan senjata laras panjang yang tersampir di bahu mereka. Begitu mobil Dipta lewat, mereka semua secara serentak menundukkan kepala dengan hormat yang sangat dalam.
Mansion di hadapan mereka sangat megah, bergaya Gothic modern yang dominan warna abu-abu gelap dan hitam. Letaknya tepat di depan sebuah danau buatan yang airnya tampak hitam pekat, memantulkan bayangan hutan di sekelilingnya.
"Dipta..." suara Keyla bergetar. "Tempat apa ini? Siapa mereka? Apakah kau... seorang mafia?"
Dipta menghentikan mobil tepat di depan lobi. Ia mematikan mesin, lalu menoleh ke arah Keyla. Ia meraih tangan Keyla yang dingin dan mencium punggung tangannya.
"Ini adalah salah satu properti pribadiku, Keyla. Tempat ini tidak terdaftar di peta manapun. Orang-orang itu adalah tim keamananku, mereka dilatih untuk situasi yang paling buruk sekalipun," Dipta menjelaskan dengan nada yang sangat tenang, seolah memiliki pasukan bersenjata adalah hal yang lumrah. "Jika kau bosan dengan penthouse, kau bisa tinggal di sini. Di sini kau akan aman dari siapa pun. Termasuk dari dunia luar."
Pintu mobil dibukakan oleh seorang pria bertubuh kekar yang juga mengenakan pakaian hitam. Keyla melangkah keluar dengan kaki yang lemas. Di dalam mansion, suasana tidak kalah megah namun terasa dingin. Ada beberapa pelayan perempuan yang mengenakan seragam rapi, mereka bertugas mengurus mansion dan menyiapkan makanan untuk para pengawal yang berjaga di barak luar.
"Tuan Besar, semuanya sudah siap di lapangan," lapor salah satu pria yang tampaknya adalah kepala keamanan di sana.
Dipta menatap Keyla. "Bagaimana? Kau mau istirahat dulu? Minum teh atau makan siang? Kau tampak pucat."
Keyla menggeleng cepat. Rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya. "Tidak. Aku ingin melihat lapangan tembaknya sekarang."
Dipta terkekeh rendah. "Baiklah, kalau itu maumu."
Dipta tidak langsung membawa Keyla ke lapangan terbuka. Ia justru menuntunnya ke sebuah bangunan beton di samping mansion yang tampak seperti bungker. Pintu bajanya terbuka setelah Dipta menempelkan telapak tangannya pada pemindai biometrik.
Begitu masuk, Keyla merasa dunianya berputar. Itu bukan sekadar ruang penyimpanan. Itu adalah gudang produksi dan gudang senjata. Di rak-rak besi yang berjejer rapi, ada ratusan senjata api dari berbagai jenis—mulai dari pistol kecil, senapan serbu, hingga sniper rifle dengan lensa jarak jauh. Di sudut lain, beberapa pria sedang sibuk merakit bagian-bagian senjata dengan ketelitian yang luar biasa.
"Dipta... apa pekerjaanmu sebenarnya?" tanya Keyla dengan suara tercekat. "Kau bilang kau pengusaha properti dan perbankan."
"Aku memang pengusaha, Keyla," jawab Dipta sambil mengambil sebuah pistol semi-otomatis dan memeriksanya dengan ahli. "Tapi Mahendra Group juga memegang lisensi pertahanan dan keamanan. Kami memproduksi senjata untuk kontrak pemerintah dan keamanan swasta elit. Apa yang kau lihat di sini adalah bagian dari bisnis yang tidak pernah muncul di laporan tahunan bursa saham."
Keyla menatap Dipta dengan pandangan baru. Pria di depannya bukan hanya kaya dan berkuasa; ia adalah penguasa di balik layar. Ia adalah pria yang memegang kendali atas hidup dan mati banyak orang.
*
Dipta memberikan Keyla sebuah setelan khusus—rompi pelindung ringan dan penutup telinga. Keyla mengganti pakaiannya dan menguncir rambutnya tinggi-tinggi menjadi high ponytail. Saat ia keluar dari ruang ganti, Dipta yang sedang berbicara dengan instruktur langsung terdiam.
Keyla tampak sangat berbeda. Baju hitam ketat itu membentuk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Wajahnya yang lugu kontras dengan peralatan menembak yang ia kenakan. Ia tampak seperti "Istri Mafia" sungguhan—cantik, elegan, namun berbahaya.
Dipta merasa tenggorokannya kering. Ia berjalan mendekati Keyla di area lapangan tembak yang luas, yang dikelilingi oleh barisan pengawal di sisi-sisinya.
"Kau..." Dipta menggantung kalimatnya. Matanya menyapu tubuh Keyla dari atas ke bawah. "Kau jauh lebih indah daripada sasaran tembak manapun di sini."
Keyla tersipu, namun ia mencoba tetap fokus. "Ajari aku, Dipta."
Dipta berdiri di belakang Keyla, merapatkan tubuhnya. Ia memegang tangan Keyla, membantunya mengangkat pistol. "Tahan napasmu, fokus pada titik merah itu. Rasakan beratnya di tanganmu. Senjata ini adalah bagian dari dirimu, jangan takut padanya."
Keyla bisa merasakan deru napas Dipta di lehernya. Aroma maskulin suaminya bercampur dengan aroma logam senjata, menciptakan sensasi yang aneh di perutnya.
Dor!
Keyla tersentak saat peluru pertama meluncur. Ia meleset, tapi adrenalinnya terpacu.
"Lagi," bisik Dipta.
Keyla menembak lagi. Dan lagi. Dipta terus berada di belakangnya, tangan besarnya membimbing setiap gerakan Keyla. Namun, lama-kelamaan, fokus Dipta mulai goyah. Ia tidak lagi melihat papan sasaran. Ia hanya melihat helai rambut Keyla yang tertiup angin, tengkuk lehernya yang mulus, dan bibir Keyla yang terkatup rapat karena konsentrasi.
Dipta memutar tubuh Keyla dengan cepat hingga punggung Keyla bersandar pada meja peralatan. Pistol yang tadi dipegang Keyla sudah diamankan oleh Dipta dalam sekejap.
"Dipta? Ada apa?" tanya Keyla terengah-engah.
Dipta tidak menjawab dengan kata-kata. Matanya yang gelap kini penuh dengan gairah yang tak tertahankan. Ia melihat bagaimana istrinya tampak begitu memukau dalam dunianya yang gelap ini. Tanpa peringatan, Dipta menyambar bibir Keyla.
Ciuman itu kasar, penuh tuntutan, dan sarat akan kepemilikan. Dipta mencumbu Keyla di tengah lapangan terbuka itu, di bawah terik matahari dan di hadapan puluhan pengawalnya yang masih berjaga.
Keyla terkejut, namun ia segera terlarut dalam sentuhan Dipta. Ia melingkarkan tangannya di leher Dipta, mengabaikan keberadaan orang lain di sana.
Para pengawal yang berpakaian hitam itu, dengan profesionalisme yang tinggi, secara serentak memalingkan pandangan mereka. Mereka tidak berani menatap adegan intim majikannya. Tanpa perlu diberi perintah, sang kepala keamanan memberi isyarat tangan. Satu per satu, para penjaga itu berbalik dan berjalan meninggalkan area lapangan tembak, memberikan ruang privat bagi sang penguasa Mahendra dan ratunya.
Di tengah kesunyian hutan dan luasnya lapangan tembak, hanya ada suara napas mereka yang memburu. Dipta melepaskan ciumannya sejenak, menatap mata Keyla yang sayu.
"Kau adalah satu-satunya senjata yang bisa melumpuhkanku tanpa perlu peluru, Keyla,"
***
Bersambung...
mahasiswa normal, apakah kau pernah jadi mahasiswa normal, Dipta ? melihat sikapmu yakin kau tak pernah jadi mahasiswa normal atau bahkan lbh parah, tak pernah kuliah
Dipta, gunakan hati & otakmu, bisa kan ? kalau kau ingin Keyla menurut, perlakukan dia dg baik, dg pendekatan hati pasti timbal baliknya juga baik
ayo Dipta buktikan, dirimu manusia baik" atau kakek moyangnya iblis dg perilakumu