Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.
Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.
"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.
"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.
Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.
Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.
Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.
Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.
Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 - Kota yang Tidak Menanyakan Masa Lalu
Nadira turun dari bus dengan langkah pelan, membawa satu koper sedang dan tas ransel yang terlalu penuh untuk seseorang yang bilang dia ingin hidup ringan.
Udara kota itu berbeda. Lebih dingin. Tidak ramai, tapi bukan sepi. Seperti orang yang sedang menunggu, bukan berlari.
"Ini dia." Gumamnya.
Nadira berhenti sejenak di depan halte, menatap jalanan yang belum ia kenal. Tidak ada kenangan di sini. Tidak ada orang yang menatapnya sambil mengingat siapa dia dulu.
Dan itu... melegakan.
Kos barunya berada di gang kecil, dekat kampus riset. Pemilik kos, seorang ibu paruh baya dengan rambut digelung rapi, menyambutnya dengan senyum datar tapi ramah.
"Kamu Nadira?"
"Iya, Bu."
"Masuk. Kamarnya di lantai dua. Kamar mandi dalam."
Nadira mengangguk. "Terima kasih."
"Kalau lapar, warung Bu Sari di ujung gang. Jangan pulang kemalaman." Nasihat sederhana. Tanpa latar belakang. Tanpa ekspektasi.
Nadira naik ke lantai dua, membuka pintu kamarnya. Kecil. Bersih. Jendela menghadap atap rumah tetangga. Dia meletakkan koper. Duduk di ranjang.
"Mulai dari sini." Katanya pelan.
Hari pertama di pusat riset berjalan cepat. Orientasi singkat. Pembagian meja. Perkenalan seperlunya.
"Kamu dari kampus mana?" Tanya seorang rekan, Rendi.
"Dari kota sebelah."
"Oh. Sendirian?"
Nadira tersenyum. "Iya."
Rendi mengangguk. "Bagus. Di sini enak kalau bisa mandiri."
Kalimat itu tidak menghakimi. Hanya fakta. Dan Nadira menyukainya.
***
Sementara itu, di kota lama, Raka berdiri di depan rumah yang sudah lama tidak dia datangi. Rumah orang tuanya. Dia mengetuk pintu dengan ragu.
Ibunya membuka pintu, terdiam sejenak sebelum tersenyum kecil. "Kamu kurusan." Katanya.
Raka mengangguk. "Sedikit."
Masuk ke rumah itu terasa seperti membuka lembaran yang sengaja dia lipat bertahun-tahun.
Ayahnya duduk di ruang tengah, membaca koran. "Kamu pulang." Katanya tanpa menoleh.
"Iya, Yah."
"Duduk." Nada itu tidak dingin. Tapi tidak hangat juga.
Mereka duduk berhadapan.
"Kamu nggak di BEM lagi?" Tanya ayahnya tiba-tiba.
Raka menghela napas. "Tidak."
"Kenapa?"
"Karena aku salah."
Ayahnya menurunkan koran. Menatap Raka lama.
"Kamu jarang ngomong gini." Katanya.
Raka tersenyum pahit. "Aku baru belajar."
***
Di kota baru, Nadira makan malam sendirian di warung kecil.
"Sendiri lagi?" Tanya ibu warung.
Nadira tertawa kecil. "Iya."
"Belum punya teman?"
"Ada. Tapi aku lagi belajar nyaman sendiri."
Ibu itu mengangguk. "Bagus. Banyak orang takut sendirian, padahal itu cuma ruang."
Ruang.
Kata itu menempel di kepala Nadira.
Malam itu, Nadira membuka laptop, membaca materi riset.
Ponselnya berbunyi.
Pesan dari nomor tak dikenal.
[Kamu baik-baik saja?]
Nadira tahu siapa itu.
Raka.
Nadira menatap layar lama. Tidak ada detak panik. Tidak ada rasa ingin menjelaskan, lalu membalas singkat.
[Baik. Semoga kamu juga.]
Tidak lebih.
Dia menutup ponsel.
Raka membaca pesan itu di kamar lamanya.
Ibunya mengetuk pintu.
"Makan." Katanya.
Raka keluar kamar.
Mereka makan bertiga. Sunyi, tapi tidak canggung.
"Aku kerja paruh waktu sekarang." Kata Raka tiba-tiba.
Ayahnya mengangguk. "Bagus."
"Bukan kerja besar."
Ayahnya menatapnya. "Kerja jujur lebih penting dari jabatan."
Raka tersenyum kecil. Kalimat itu terasa seperti izin.
***
Hari-hari Nadira mulai menemukan ritmenya. Pagi riset. Siang membaca. Sore berjalan kaki.
Suatu sore, dia duduk di bangku taman kampus. Seorang pria duduk tidak jauh darinya, membaca buku.
"Buku itu bagus." Kata Nadira tanpa sadar.
Pria itu menoleh, tersenyum. "Kamu sudah baca?"
"Belum. Tapi aku tahu isinya berat."
Dia tertawa kecil. "Berat tapi jujur."
Mereka berbincang ringan. Nama pria itu Fajar. Dosen tamu. Tidak banyak basa-basi.
Tidak ada percikan instan. Dan Nadira... tidak mencarinya.
***
Di kota lama, Raka menerima pesan yang membuat dadanya menegang.
Dari Aluna.
[Aku di kota kamu.]
Raka menutup mata, lalu menelepon.
"Kenapa kamu ke sini?" Tanyanya.
"Aku cuma mau bicara." Suara Aluna terdengar lebih tenang dari yang ia duga.
"Sekarang bukan waktu yang tepat."
"Tidak akan pernah tepat." Jawab Aluna. "Aku cuma mau satu kopi."
Raka terdiam. Lalu berkata pelan,
"Oke. Satu jam."
Mereka bertemu di kedai tempat Raka bekerja. Aluna duduk di pojok. Wajahnya lebih tirus. Tidak ada riasan berlebihan.
"Kamu kerja di sini?" Tanyanya.
"Iya."
Aluna tersenyum miris. "Kamu beneran berubah."
Raka menuangkan kopi. "Kamu juga."
Hening.
"Aku nggak minta dibela." Kata Aluna tiba-tiba. "Aku cuma mau minta maaf."
Raka menatapnya. Lama.
"Kenapa sekarang?"
"Karena aku akhirnya sendirian." Jawab Aluna jujur. "Dan ternyata... aku nggak sekuat yang aku pikir."
Raka mengangguk. "Aku harap kamu sembuh."
Aluna menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kamu nggak benci aku?"
Raka menggeleng. "Aku selesai."
Kalimat itu mematahkan sesuatu di wajah Aluna.
Dia tersenyum kecil. "Aku pernah dengar kalimat itu."
***
Di kamar kosnya, Nadira menerima email evaluasi pertamanya. Komentarnya singkat... progres stabil, pendekatan matang.
Dia menutup laptop, menatap jendela. Tidak merasa menang, tapi merasa... tepat.
Ponselnya berbunyi. Kali ini pesan dari Dr. Arvin.
[Semoga kotanya ramah.]
Nadira membalas.
[Belum ramah. Tapi jujur.]
Arvin membalas cepat.
[Itu awal yang baik.]
***
Aluna berdiri di stasiun malam itu. Raka mengantarnya sampai pintu masuk.
"Kamu akan baik-baik saja." Kata Raka.
"Aku nggak yakin." Jawab Aluna.
"Tidak apa-apa."
Aluna menatapnya lama. "Aku nggak akan ganggu hidupmu lagi."
Raka mengangguk. "Terima kasih."
Kereta datang. Aluna naik tanpa menoleh. Bayangannya tertinggal bukan sebagai ancaman, tapi sebagai pengingat bahwa beberapa luka tidak perlu dibalas, cukup dilewati.
***
Di kota baru, Nadira menutup lampu kamarnya. Dia berbaring, menatap langit-langit. Tidak ada cinta baru. Tidak ada luka lama. Hanya ruang bernapas.
Dan untuk pertama kalinya, dia tidak merasa perlu menjadi siapa pun selain dirinya sendiri.
tapi kalau dengan konteks yg berbeda akan lebih banyak yg terluka..
tapi sialnya ini lah yg terjadi di kehidupan realita
yg punya prinsip dan idealisme akan tersingkir kan.
korupsi dan kolusi yg terorganisir dan sialnya kita semua menormalisasikan dan ikut menikmati nya.
kalau mau jujur malah dibilangin nya aneh dan berlebihan.
sebenarnya salahnya dimana?
bales dendam yg epic adalah membuat diri sendiri nyaman dengan hidup kita.
bukan membalas dengan membuta tapi pada ending malah kekosongan yg kita terima
𝐤𝐫𝐧 𝐛𝐫𝐡𝐫𝐩 𝐩𝐝 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚
𝟗𝟗 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐝𝐢𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝟏𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐦𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐡𝐫𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐞 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐧𝐭𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐜𝐤𝐮𝐩, 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐀𝐏𝐀? 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐊𝐀𝐈𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐓𝐔, 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈 𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐂𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐓𝐔.. 𝐭𝐡𝐚𝐭𝐬 𝐬𝐢𝐦𝐩𝐥𝐞 𝐧𝐚𝐝 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐥𝐢𝐧𝐭𝐢𝐫 😭😭🤪🤪
𝐦𝐧𝐞𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐡.... 𝐠𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐪 𝐠𝐤 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 😁😁😁
𝐣𝐝𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐭𝐥𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐞𝐠