Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.
Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempatku Pulang
Mobil hitam itu akhirnya berhenti tepat di halaman depan mansion keluarga Atlas.
Naomi menatap bangunan megah di hadapannya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Sudah satu tahun penuh ia tidak menginjakkan kaki di tempat ini, tempat ia tumbuh dewasa, tempat yang seharusnya menjadi rumahnya sejak awal.
Begitu pintu mobil terbuka dan kaki Naomi menjejakkan tanah, barisan pelayan yang telah menunggu langsung membungkuk hormat serempak.
“Selamat datang kembali ke rumah, Nona Naomi.”
Suara itu terdengar antusias, tulus, dan penuh penghormatan. .
Naomi terdiam sejenak. Dadanya terasa hangat, matanya sedikit memanas. Sambutan sederhana itu terasa begitu berbeda dibandingkan suasana di kediaman Elios tempat ia selalu dianggap beban, gadis liar bahkan keberadaannya saja tidak diinginkan.
Di dekat pintu utama mansion, dua sosok yang sangat dikenalnya berdiri menunggu. Nyonya Arumi dengan senyum lembut di wajahnya, dan Tuan Bastian yang berdiri tegak dengan sorot mata hangat. Di samping mereka, seorang gadis muda berdiri dengan dagu sedikit terangkat, wajahnya angkuh. Itu adalah sepupu dari Max.
Naomi sempat menangkap tatapan itu, tetapi ia tidak memedulikannya.
Max sudah lebih dulu turun dari mobil. Tanpa berkata apa pun, ia meraih tangan Naomi dengan lembut, seolah memastikan gadis itu benar-benar pulang. Genggamannya hangat dan tenang, membuat langkah Naomi terasa lebih ringan saat mereka berjalan mendekat.
Begitu melihat Naomi, nyonya Arumi segera menghampiri. Tanpa ragu, ia membuka kedua lengannya.
“Selamat datang kembali ke rumah, sayang,” ucapnya lembut.
Tuan Bastian menyusul, senyumnya tipis namun penuh kelegaan. “Kau akhirnya pulang.”
Naomi tidak mampu menahan diri. Ia langsung memeluk kedua orang tua angkatnya itu. Pelukan yang sudah lama ia rindukan, pelukan yang terasa aman sesuatu yang tak pernah ia dapatkan di keluarga Elios.
“Papa … Mama …” suaranya sedikit bergetar. Ia melepaskan pelukan itu perlahan, lalu tersenyum canggung. “Kenapa harus berlebihan seperti ini?”
Nyonya Arumi mengerutkan kening ringan, lalu menepuk punggung tangan Naomi dengan lembut.
“Berlebihan apa?” ulangnya. “Tidak ada yang berlebihan saat menyambut anak kami pulang ke rumah.”
Tuan Bastian mengangguk setuju. “Kami menunggumu.”
Naomi terdiam. Kata-kata sederhana itu menghantam hatinya lebih keras daripada tuduhan atau hinaan apa pun yang pernah ia terima.
Max melirik Naomi sekilas, lalu berkata pelan, “Ayo masuk.”
Namun nyonya Arumi lebih dulu menarik tangan Naomi.
“Tidak, ikut Mama,” katanya sambil tersenyum. “Kami sudah menyiapkan sesuatu.”
Naomi menurut. Begitu ia melangkah masuk ke dalam mansion, langkahnya langsung terhenti.
Interior mansion itu dihias dengan hangat. Bunga segar tersusun rapi, pita-pita lembut menghiasi tangga, dan di dinding utama tergantung spanduk sederhana bertuliskan.
Selamat Datang Kembali, Naomi.
Naomi menutup mulutnya refleks. “Ini …”
“Kami tidak tahu apa yang kau alami di luar sana,” ujar nyonya Arumi pelan, “tapi di rumah ini, kau selalu diterima.”
Tuan Bastian menambahkan dengan suara tenang, “Tak peduli berapa lama kau pergi, tempatmu tetap ada di sini.”
Naomi menunduk. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.
“Terima kasih,” bisiknya. “Aku … benar-benar pulang sekarang.”
Max berdiri di sampingnya, tak berkata apa pun. Namun sorot matanya lembut, tak ada yang jauh lebih bahagia daripada diriny
Nyonya Arumi tidak memberi Naomi kesempatan untuk berpikir lebih lama. Dengan senyum hangat, ia kembali menarik tangan Naomi menuju ruang makan.
“Ayo, kau pasti lapar,” ujar nyonya Arumi lembut. “Sejak pagi Mama sudah menyiapkan makanan kesukaanmu.”
Naomi sempat tertegun, lalu tertawa kecil. “Ma, aku sudah bukan anak kecil,” katanya pelan, meski matanya berbinar.
“Di mata Mama, kau tetap anak kecil,” balas nyonya Arumi tanpa ragu.
Tuan Bastian berjalan di sisi lain Naomi, sementara Max mengikuti tepat di belakang mereka. Berbeda dengan satu sosok yang sejak tadi terabaikan gadis berwajah angkuh yang berdiri kaku di dekat tangga.
Sejak Naomi datang, tak satu pun dari mereka menoleh ke arahnya. Semua perhatian, semua kata, bahkan semua senyum seolah hanya tertuju pada Naomi. Rahang Selena mengeras. Kukunya menekan telapak tangan sendiri, menahan kesal yang semakin menggunung.
Namun mau tidak mau, ia tetap mengikuti mereka ke meja makan.
Meja makan keluarga Atlas telah tertata rapi. Hidangan hangat berjejer, aromanya menggoda. Begitu duduk, nyonya Arumi langsung sigap mengambilkan sup untuk Naomi.
“Makan ini dulu, jangan langsung yang berat,” katanya khawatir. “Tubuhmu baru pulih.”
Tuan Bastian ikut menambahkan, “Setelah itu baru makan yang lain. Jangan memaksakan diri.”
Naomi tertawa kecil, merasa hangat di dadanya. “Kalian seperti berlomba memperhatikanku,” katanya sambil tersenyum. “Aku jadi sungkan.”
“Tidak perlu sungkan,” jawab Tuan Bastian tenang. “Kau pantas mendapatkannya.”
Max yang sejak tadi diam hanya melirik Naomi sekilas, lalu menggeser piringnya lebih dekat.
“Kalau tidak sanggup, jangan dihabiskan,” katanya singkat.
Naomi mengangguk, senyumnya semakin lebar. Namun kehangatan itu tidak bertahan lama.
“Tapi bukankah ini terlalu berlebihan?”
Suara itu terdengar nyaring dan dingin.
Naomi mendongak. Selena menyandarkan punggungnya ke kursi, menyilangkan tangan di dada. Tatapannya tajam, bibirnya melengkung tipis penuh sindiran.
“Hanya untuk menyambut Naomi saja,” lanjutnya santai, “seolah-olah dia baru pulang dari medan perang.”
Udara di ruang makan langsung berubah.
Senyum Naomi perlahan memudar. Nyonya Arumi terdiam, sendoknya berhenti di udara. Tuan Bastian mengerutkan kening.
Namun sebelum salah satu dari mereka bicara, Max sudah lebih dulu mengangkat kepala.
Tatapannya dingi dan tajam. Mengunci Selena tanpa ampun. “Cukup,” ucap Max datar.
Selena menoleh padanya, terkejut. “Kak Max, aku—”
“Kalau kau tidak bisa menjaga ucapanmu,” potong Max tanpa emosi, “keluar dari meja makan.”
Ruangan itu sunyi seketika.
Selena membelalak. “Kak Max, aku hanya—”
“Keluar!”
Satu kata itu jatuh tanpa ruang untuk tawar-menawar.
Selena membeku. Wajahnya memucat, matanya bergetar antara marah dan malu. Ia melirik nyonya Arumi dan Tuan Bastian, berharap ada yang membelanya. Namun nyonya Arumi hanya menatapnya dengan ekspresi kecewa, sementara Tuan Bastian mengalihkan pandangan.
Dengan gigi terkatup, Selena berdiri. Kursinya bergeser kasar ke belakang.
“Baik,” katanya tajam. “Kalau itu yang kalian mau.”
Ia berbalik dan melangkah pergi dengan langkah cepat, menahan amarah yang hampir meledak.
Keheningan kembali menyelimuti meja makan. Naomi menunduk, jarinya mencengkeram sendok pelan.
“Aku minta maaf,” ucapnya lirih. “Aku tidak bermaksud membuat suasana—”
“Jangan minta maaf,” potong nyonya Arumi lembut. “Kau tidak salah apa pun.”
Tuan Bastian mengangguk. “Yang tidak tahu diri adalah orang yang tidak tahu bersyukur.”
Naomi mengangkat wajahnya perlahan. Ia tersenyum tipis, tetapi jauh di dalam matanya, ada kilatan dingin yang tidak seorang pun sadari. Ia ingat Selena, gadis yang mengincar Max juga.
kedua orang tua dan Kaka Naomi suatu saat hancur dan akan menyesal telah memilih ular seperti Viviane itu
tp kek mana kira2 nnti reaksi max ya klo tau mobil yg baru di beli di rusak carlos hadeh apa g mikir tuh belakangnya naomi ada siapa 🙈🙈🙈
udh di bilang naomi bukan bodoh lagi ehhh masih cari gara2
batu nya sebesara pa ya 🤔🤔🤔
emng msti gtu kl ngsih pljran sm orng dungu....kl prlu,lmpar aja sklian sm orangnya....bkin ksel aja......
hiiiihhhhh.....pgn getok....