NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Status: tamat
Genre:Hari Kiamat / Ruang Ajaib / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:389.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.

Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tempatku Pulang

Mobil hitam itu akhirnya berhenti tepat di halaman depan mansion keluarga Atlas.

Naomi menatap bangunan megah di hadapannya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Sudah satu tahun penuh ia tidak menginjakkan kaki di tempat ini, tempat ia tumbuh dewasa, tempat yang seharusnya menjadi rumahnya sejak awal.

Begitu pintu mobil terbuka dan kaki Naomi menjejakkan tanah, barisan pelayan yang telah menunggu langsung membungkuk hormat serempak.

“Selamat datang kembali ke rumah, Nona Naomi.”

Suara itu terdengar antusias, tulus, dan penuh penghormatan. .

Naomi terdiam sejenak. Dadanya terasa hangat, matanya sedikit memanas. Sambutan sederhana itu terasa begitu berbeda dibandingkan suasana di kediaman Elios tempat ia selalu dianggap beban, gadis liar bahkan keberadaannya saja tidak diinginkan.

Di dekat pintu utama mansion, dua sosok yang sangat dikenalnya berdiri menunggu. Nyonya Arumi dengan senyum lembut di wajahnya, dan Tuan Bastian yang berdiri tegak dengan sorot mata hangat. Di samping mereka, seorang gadis muda berdiri dengan dagu sedikit terangkat, wajahnya angkuh. Itu adalah sepupu dari Max.

Naomi sempat menangkap tatapan itu, tetapi ia tidak memedulikannya.

Max sudah lebih dulu turun dari mobil. Tanpa berkata apa pun, ia meraih tangan Naomi dengan lembut, seolah memastikan gadis itu benar-benar pulang. Genggamannya hangat dan tenang, membuat langkah Naomi terasa lebih ringan saat mereka berjalan mendekat.

Begitu melihat Naomi, nyonya Arumi segera menghampiri. Tanpa ragu, ia membuka kedua lengannya.

“Selamat datang kembali ke rumah, sayang,” ucapnya lembut.

Tuan Bastian menyusul, senyumnya tipis namun penuh kelegaan. “Kau akhirnya pulang.”

Naomi tidak mampu menahan diri. Ia langsung memeluk kedua orang tua angkatnya itu. Pelukan yang sudah lama ia rindukan, pelukan yang terasa aman sesuatu yang tak pernah ia dapatkan di keluarga Elios.

“Papa … Mama …” suaranya sedikit bergetar. Ia melepaskan pelukan itu perlahan, lalu tersenyum canggung. “Kenapa harus berlebihan seperti ini?”

Nyonya Arumi mengerutkan kening ringan, lalu menepuk punggung tangan Naomi dengan lembut.

“Berlebihan apa?” ulangnya. “Tidak ada yang berlebihan saat menyambut anak kami pulang ke rumah.”

Tuan Bastian mengangguk setuju. “Kami menunggumu.”

Naomi terdiam. Kata-kata sederhana itu menghantam hatinya lebih keras daripada tuduhan atau hinaan apa pun yang pernah ia terima.

Max melirik Naomi sekilas, lalu berkata pelan, “Ayo masuk.”

Namun nyonya Arumi lebih dulu menarik tangan Naomi.

“Tidak, ikut Mama,” katanya sambil tersenyum. “Kami sudah menyiapkan sesuatu.”

Naomi menurut. Begitu ia melangkah masuk ke dalam mansion, langkahnya langsung terhenti.

Interior mansion itu dihias dengan hangat. Bunga segar tersusun rapi, pita-pita lembut menghiasi tangga, dan di dinding utama tergantung spanduk sederhana bertuliskan.

Selamat Datang Kembali, Naomi.

Naomi menutup mulutnya refleks. “Ini …”

“Kami tidak tahu apa yang kau alami di luar sana,” ujar nyonya Arumi pelan, “tapi di rumah ini, kau selalu diterima.”

Tuan Bastian menambahkan dengan suara tenang, “Tak peduli berapa lama kau pergi, tempatmu tetap ada di sini.”

Naomi menunduk. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.

“Terima kasih,” bisiknya. “Aku … benar-benar pulang sekarang.”

Max berdiri di sampingnya, tak berkata apa pun. Namun sorot matanya lembut, tak ada yang jauh lebih bahagia daripada diriny

Nyonya Arumi tidak memberi Naomi kesempatan untuk berpikir lebih lama. Dengan senyum hangat, ia kembali menarik tangan Naomi menuju ruang makan.

“Ayo, kau pasti lapar,” ujar nyonya Arumi lembut. “Sejak pagi Mama sudah menyiapkan makanan kesukaanmu.”

Naomi sempat tertegun, lalu tertawa kecil. “Ma, aku sudah bukan anak kecil,” katanya pelan, meski matanya berbinar.

“Di mata Mama, kau tetap anak kecil,” balas nyonya Arumi tanpa ragu.

Tuan Bastian berjalan di sisi lain Naomi, sementara Max mengikuti tepat di belakang mereka. Berbeda dengan satu sosok yang sejak tadi terabaikan gadis berwajah angkuh yang berdiri kaku di dekat tangga.

Sejak Naomi datang, tak satu pun dari mereka menoleh ke arahnya. Semua perhatian, semua kata, bahkan semua senyum seolah hanya tertuju pada Naomi. Rahang Selena mengeras. Kukunya menekan telapak tangan sendiri, menahan kesal yang semakin menggunung.

Namun mau tidak mau, ia tetap mengikuti mereka ke meja makan.

Meja makan keluarga Atlas telah tertata rapi. Hidangan hangat berjejer, aromanya menggoda. Begitu duduk, nyonya Arumi langsung sigap mengambilkan sup untuk Naomi.

“Makan ini dulu, jangan langsung yang berat,” katanya khawatir. “Tubuhmu baru pulih.”

Tuan Bastian ikut menambahkan, “Setelah itu baru makan yang lain. Jangan memaksakan diri.”

Naomi tertawa kecil, merasa hangat di dadanya. “Kalian seperti berlomba memperhatikanku,” katanya sambil tersenyum. “Aku jadi sungkan.”

“Tidak perlu sungkan,” jawab Tuan Bastian tenang. “Kau pantas mendapatkannya.”

Max yang sejak tadi diam hanya melirik Naomi sekilas, lalu menggeser piringnya lebih dekat.

“Kalau tidak sanggup, jangan dihabiskan,” katanya singkat.

Naomi mengangguk, senyumnya semakin lebar. Namun kehangatan itu tidak bertahan lama.

“Tapi bukankah ini terlalu berlebihan?”

Suara itu terdengar nyaring dan dingin.

Naomi mendongak. Selena menyandarkan punggungnya ke kursi, menyilangkan tangan di dada. Tatapannya tajam, bibirnya melengkung tipis penuh sindiran.

“Hanya untuk menyambut Naomi saja,” lanjutnya santai, “seolah-olah dia baru pulang dari medan perang.”

Udara di ruang makan langsung berubah.

Senyum Naomi perlahan memudar. Nyonya Arumi terdiam, sendoknya berhenti di udara. Tuan Bastian mengerutkan kening.

Namun sebelum salah satu dari mereka bicara, Max sudah lebih dulu mengangkat kepala.

Tatapannya dingi dan tajam. Mengunci Selena tanpa ampun. “Cukup,” ucap Max datar.

Selena menoleh padanya, terkejut. “Kak Max, aku—”

“Kalau kau tidak bisa menjaga ucapanmu,” potong Max tanpa emosi, “keluar dari meja makan.”

Ruangan itu sunyi seketika.

Selena membelalak. “Kak Max, aku hanya—”

“Keluar!”

Satu kata itu jatuh tanpa ruang untuk tawar-menawar.

Selena membeku. Wajahnya memucat, matanya bergetar antara marah dan malu. Ia melirik nyonya Arumi dan Tuan Bastian, berharap ada yang membelanya. Namun nyonya Arumi hanya menatapnya dengan ekspresi kecewa, sementara Tuan Bastian mengalihkan pandangan.

Dengan gigi terkatup, Selena berdiri. Kursinya bergeser kasar ke belakang.

“Baik,” katanya tajam. “Kalau itu yang kalian mau.”

Ia berbalik dan melangkah pergi dengan langkah cepat, menahan amarah yang hampir meledak.

Keheningan kembali menyelimuti meja makan. Naomi menunduk, jarinya mencengkeram sendok pelan.

“Aku minta maaf,” ucapnya lirih. “Aku tidak bermaksud membuat suasana—”

“Jangan minta maaf,” potong nyonya Arumi lembut. “Kau tidak salah apa pun.”

Tuan Bastian mengangguk. “Yang tidak tahu diri adalah orang yang tidak tahu bersyukur.”

Naomi mengangkat wajahnya perlahan. Ia tersenyum tipis, tetapi jauh di dalam matanya, ada kilatan dingin yang tidak seorang pun sadari. Ia ingat Selena, gadis yang mengincar Max juga.

1
Si Topik
Good Ending.. semua sudah menemukan kebahagiaan 😊
beberapa pergi dg penyesalan dan maaf, dan ada yg berakhir dg ending yg buruk 🙂
Si Topik
aku ngebayangin nya peradaban semi-futuristik
dunia yg baru, kehidupan baru, dan tantangan yg juga baru ☺️
Si Topik
alam mempunyai cara nya sendiri tuk pulih ☺️
Nining Chili
👍
Si Topik
asli, butterfly effect itu Fenomena mengerikan 🥲
kita tidak bisa menebak hal kecil yg keliatan nya sepele, bisa menjadi efek besar dimasa mendatang 🥲🥲
Si Topik
astaga, aku sampai lupa soal kiamat es nya euyy :"-V

ternyata ini gejala awalnya, ku kira lah serangan musuh 😭
Si Topik
Maxim : Tuhan, kalau dia jodoh orang, buatlah orang itu aku ya Tuhan 😭
Husna
heiii... ini bisa kita siapkan dr sekarang....
denger-denger world war 3 bentar lagi walaupun Indonesia katanya tdk masuk sasaran tp pasti kena dampaknya jg...

5 poin ini bisa kita aplikasikan di dunia nyata loh, bisa mulai dr sekarang
Si Topik
yang kata nya sejak Piyik di didik bisnis? nyata nya kosong, sama kek isi kepala nya, kosong 😂😂
tau nya menghamburkan uang, selamat menumpuk hutang Viviane wkwkwk 😂
Si Topik
semoga Naomi tidak luluh dan tidak kembali dg keluarga durjana ini 😐

memaafkan mungkin, tapi untuk kembali, Big No ☺️
Si Topik
penyesalan mah emang selalu belakangan, klo diawal nama nya pendaftaran :-v
Si Topik
wkwkwk kau tidak bisa mengalahkan orang tua sepuh yg kenyang dg berbagai asam garam pengalaman biawak 😂
Si Topik
Yeeeyyy Mamah Arumi mulai memancing awkwkwk 😂😂
Si Topik
biasa nya orang kek gini mesti dipancing dulu biar ketar ketir 🙂
Si Topik
awokwokwok koplak emang 😂😂
Si Topik
nangkep elu lah Tim, apalagi wkwk 😂
Si Topik
apa yg terjadi yaa kalo Volkov tau keterlambatan nya karena ulah Timmy dan bestie2 nya wkwkwk 😂
Si Topik
owalahhh.. maka nya kata si asisten di awal " tuan ingin penyelidikan tidak diketahui Nona Cecilia? "

ternyata oh ternyata ada udang dibalik bakwan ☺️
Si Topik
nama nya penyelidikan ya kali di umbar2 bjirr, tentu dilakukan dgn senyap tanpa terendus :"-v
yakali mau menyelidiki suatu individu, diberi info dulu
Si A : " heeii si B, aku mau menyelidiki kamu.. hati hati yaa "

si B : hohoo baiklah ☺️
Si Topik
terkadang penghianat justru berasal dari orang terdekat yg sudah kenal lama.. 🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!