NovelToon NovelToon
BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Membasuh Luka dengan Sinar Mentari

BAB 25: Membasuh Luka dengan Sinar Mentari

Pagi di perbukitan Jawa Tengah selalu datang dengan kabut tipis yang menyelimuti perkebunan teh di sekitar villa rahasia Rangga. Suara kicau burung liar dan aroma tanah basah menjadi musik latar yang sangat kontras dengan bunyi mesin rumah sakit yang biasa mereka dengar. Di dalam kamar utama yang jendelanya menghadap langsung ke lembah hijau, Rangga sedang sibuk menyiapkan nampan berisi bubur halus dan obat-obatan.

Ia tidak lagi mengenakan jas mahal atau jam tangan mewah. Pagi ini, ia hanya memakai kaos oblong hitam sederhana dengan lengan yang digulung, memperlihatkan guratan otot yang tampak lelah namun tetap kokoh. Baginya, melayani Arini jauh lebih terhormat daripada memimpin rapat dewan komisaris di gedung pencakar langit Jakarta.

"Pagi, Sayang," sapanya dengan suara rendah yang penuh kelembutan.

Arini, yang duduk bersandar di tumpukan bantal empuk, mencoba membalas dengan senyuman. Wajahnya masih sangat tirus, dan kulitnya masih sepucat kertas, namun ada binar kehidupan di matanya yang tidak pernah ada sebelumnya. Di samping ranjangnya, Ibu Sarahwati sedang duduk di kursi goyang, perlahan-lahan merajut syal wol—sebuah terapi motorik yang disarankan Dokter Bram untuk memulihkan trauma jiwanya.

"Pagi, Ga," bisik Arini. Suaranya sudah mulai memiliki tenaga, tidak lagi serak seperti gesekan amplas.

Rangga duduk di tepi ranjang, meniup bubur panas itu dengan sabar sebelum menyuapkannya ke mulut Arini. Setiap suapan adalah kemenangan kecil bagi mereka. Arini menatap suaminya dengan penuh rasa takjub. Pria yang dulu ia anggap sebagai "pangeran manja" itu kini telah menjadi pelindungnya yang paling tangguh.

"Ibu sudah makan?" tanya Rangga sambil melirik ibu mertuanya.

Ibu Sarahwati menoleh, lalu mengangguk perlahan. "Sudah, Rangga. Maya membawakan roti tadi. Terima kasih, Nak. Terima kasih sudah mengembalikan kami pada cahaya."

Rangga tersenyum getir. "Saya yang harus minta maaf, Bu. Seharusnya saya melakukan ini sejak dulu. Seharusnya saya tidak membiarkan Mama melakukan itu pada Ibu."

Ibu Sarahwati menghentikan rajutannya sejenak. Matanya yang sayu menatap keluar jendela. "Masa lalu adalah lubang hitam, Rangga. Jika kita terus menoleh ke belakang, kita akan jatuh ke dalamnya. Sekarang, yang terpenting adalah kesembuhan Arini. Dia adalah jantungku yang sempat berhenti berdetak selama sepuluh tahun."

Arini meraih tangan ibunya dan tangan Rangga, menyatukannya di atas pangkuannya. Sebuah momen rekonsiliasi yang begitu murni, menghapus dendam yang selama ini membakar hati mereka. Namun, di tengah kedamaian itu, Rangga tahu bahwa badai di Jakarta belum sepenuhnya reda.

Setelah sesi makan pagi selesai, Dokter Bram masuk untuk melakukan pemeriksaan rutin. Ia memeriksa refleks kaki Arini dan tingkat saturasi oksigennya.

"Kondisinya stabil, Rangga. Sangat stabil. Kehadiran Ibunya benar-benar bekerja lebih baik daripada obat-obatan paling mahal sekalipun," ujar Dokter Bram sambil mencatat di papan medisnya. "Tapi, kita harus mulai melakukan fisioterapi ringan. Otot-ototnya sudah terlalu lama tidak digunakan. Dia harus belajar berdiri lagi, berjalan lagi."

Rangga mengangguk mantap. "Saya yang akan membantunya, Dok. Saya tidak ingin orang asing menyentuhnya."

"Itu bagus. Tapi ingat, jangan dipaksa. Prosesnya akan sangat menyakitkan bagi Arini. Tulang-tulangnya masih rapuh akibat efek samping pengobatan kanker."

Begitu Dokter Bram keluar, Rangga menatap Arini dengan penuh semangat. "Siap untuk mencoba berdiri, Sayang?"

Arini tampak ragu. Ketakutan akan rasa sakit dan kegagalan membayangi wajahnya. "Aku... aku takut jatuh, Ga. Kakiku rasanya seperti kapas."

Rangga berdiri dan membentangkan tangannya. "Aku adalah pengaitmu, Rin. Kamu tidak akan jatuh selama aku masih bernapas. Percayalah padaku."

Proses itu dimulai dengan sangat lambat. Rangga menyingkirkan selimut putih yang menutupi kaki kurus Arini. Ia memijat lembut telapak kaki istrinya, memberikan rangsangan agar aliran darah mengalir lebih lancar. Kemudian, ia memposisikan dirinya tepat di depan Arini, memegang kedua ketiaknya dengan hati-hati.

"Satu... dua... tiga..."

Arini mengerang. Saat kakinya menyentuh lantai kayu yang dingin, rasa sakit yang menusuk menjalar dari tumit hingga ke pinggangnya. Wajahnya memerah, keringat dingin mulai membasahi dahinya.

"Sakit, Ga... sakit banget..." rintihnya sambil mencengkeram bahu Rangga dengan kuat.

"Tahan sebentar saja, Rin. Fokus pada mataku. Lihat aku," Rangga terus memberikan dorongan semangat. "Sedikit lagi... tegakkan punggungmu. Kamu hebat, Rin. Kamu pejuang."

Ibu Sarahwati berdiri di sudut ruangan, menutup mulutnya dengan tangan sambil meneteskan air mata. Ia melihat putrinya berjuang melawan keterbatasan fisiknya sendiri.

Tepat saat Arini berhasil berdiri tegak selama tiga detik, kekuatannya habis. Lututnya lemas, dan ia hampir tersungkur jika Rangga tidak segera mendekapnya dengan erat dan membawanya kembali ke dalam pelukan. Rangga menggendongnya kembali ke ranjang, mencium keningnya yang basah oleh keringat.

"Tiga detik yang luar biasa, Rin. Besok kita akan coba lima detik. Lusa kita akan coba satu langkah," bisik Rangga.

Arini menangis di dada Rangga. Bukan tangisan kesedihan, melainkan tangisan keharuan karena ia menyadari bahwa ia tidak lagi berjuang sendirian. "Aku... aku mau sembuh, Ga. Aku mau jalan lagi di sampingmu... aku mau jadi istri yang berguna untukmu."

Malam harinya, setelah Arini dan ibunya tertidur pulas, Rangga melangkah ke ruang kerja daruratnya di lantai bawah. Maya sudah menunggunya dengan tumpukan dokumen hukum dan laporan keuangan terbaru dari Grup Sarah.

"Pak Rangga, ini laporan dari kejaksaan," Maya menyerahkan map hitam. "Ibu Sarah sudah ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan manipulasi wasiat dan penggelapan dana yayasan. Namun, pengacaranya sedang mencoba mengajukan penangguhan penahanan dengan alasan kesehatan."

Rangga membaca dokumen itu dengan teliti. "Dia selalu punya seribu cara untuk melarikan diri. Apa kabar soal dewan komisaris?"

"Mereka sudah mulai goyah, Pak. Setelah video pengakuan penjaga panti jompo itu bocor, citra perusahaan anjlok. Mereka membutuhkan pemimpin baru untuk menyelamatkan saham. Nama Anda sedang diusulkan untuk kembali menjabat sebagai Direktur Utama, bukan lagi sekadar Direktur Operasional."

Rangga menyandarkan punggungnya di kursi kayu tua itu. Menjadi Direktur Utama adalah apa yang selalu diinginkan ibunya untuknya. Tapi sekarang, gelar itu terasa hambar.

"Aku akan mengambil jabatan itu, Maya," ujar Rangga tiba-tiba. "Bukan karena aku haus kekuasaan. Tapi karena aku butuh kendali penuh atas rumah sakit dan pusat penelitian kanker milik perusahaan. Aku ingin memastikan tidak ada lagi 'Arini-Arini' lain yang menderita karena keserakahan keluarga kami."

"Lalu, bagaimana dengan Ibu Sarah, Pak? Beliau meminta bertemu dengan Anda. Hanya berdua."

Rangga terdiam. Pertemuan dengan ibunya adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan. Namun, ia menyadari bahwa ada lingkaran setan yang harus diputus. "Atur pertemuannya di kantor kejaksaan minggu depan. Aku tidak ingin dia tahu lokasi villa ini."

Minggu-minggu berikutnya di villa tersebut diisi dengan rutinitas pemulihan yang penuh cinta. Rangga benar-benar membuktikan ucapannya. Ia menemani Arini setiap langkah. Dari belajar duduk tegak, belajar memegang sendok sendiri, hingga akhirnya Arini bisa melangkah dua kali tanpa bantuan pegangan.

Ada satu sore di mana Rangga membawa Arini ke balkon menggunakan kursi roda. Di sana, mereka menatap matahari terbenam yang menyinari hamparan kebun teh.

"Ga," panggil Arini pelan.

"Iya, Sayang?"

"Apa kamu menyesal? Menghancurkan namamu sendiri, menyeret ibumu ke penjara, hanya untuk wanita penyakitan seperti aku?"

Rangga berlutut di depan kursi roda Arini, menggenggam kedua tangannya yang kini mulai terasa lebih berisi. "Rin, dengarkan aku baik-baik. Nama besar Adiguna tidak ada artinya jika dibangun di atas air mata orang lain. Dan kamu bukan wanita penyakitan. Kamu adalah hidupku. Tanpamu, aku mungkin masih menjadi Rangga yang sombong, hampa, dan tidak tahu arti perjuangan."

Rangga mengeluarkan kotak kaca kecil berisi uang kusam yang selalu ia bawa. Ia membukanya dan mengambil lembaran uang sepuluh ribu rupiah yang paling lecek.

"Uang ini adalah harta paling berharga yang pernah kuhasilkan. Uang ini mengajarkanku bahwa sepuluh ribu yang didapat dari keringat jujur jauh lebih berharga daripada sepuluh miliar hasil manipulasi. Kamu yang memberiku pelajaran itu, Rin. Jadi, jangan pernah tanya apakah aku menyesal."

Arini menarik kepala Rangga dan mencium keningnya. Di bawah langit yang mulai menggelap, mereka merasa dunia milik mereka berdua. Tidak ada lagi ketakutan akan Ibu Sarah, tidak ada lagi ketakutan akan kemiskinan.

Namun, tepat saat kedamaian itu terasa sempurna, Dokter Bram masuk dengan ekspresi wajah yang serius. Ia membawa hasil laboratorium terbaru Arini yang dikirim dari laboratorium pusat di Jakarta.

"Rangga, kita harus bicara di luar," ujar Dokter Bram.

Jantung Rangga berdegup kencang. Ia mengikuti dokter itu ke ruang tengah dengan perasaan was-was.

"Ada apa, Dok? Apakah kankernya kembali?"

Dokter Bram menggeleng, namun wajahnya tidak menunjukkan kegembiraan. "Bukan kankernya. Tapi efek samping dari operasi dekompresi saraf bulan lalu. Ada tanda-tanda atrofi pada saraf optiknya. Rangga, tekanan di otaknya waktu itu mungkin telah merusak jalur penglihatannya secara permanen."

Rangga terpaku. "Maksud Dokter?"

"Arini... ada kemungkinan besar dia akan kehilangan penglihatannya secara bertahap dalam beberapa bulan ke depan. Ini adalah harga yang harus dibayar karena dia bertahan hidup dari pendarahan otak yang begitu hebat waktu itu."

Dunia Rangga seolah runtuh sekali lagi. Mengapa takdir begitu kejam? Setelah memberikan harapan, setelah menyatukan kembali keluarga yang hancur, kini Arini terancam akan buta?

Rangga menoleh ke arah balkon, di mana Arini masih duduk menatap matahari terbenam dengan senyum yang begitu damai—senyum yang mungkin tidak akan pernah bisa melihat cahaya lagi dalam waktu dekat.

Rangga mengepalkan tinjunya, air mata penyesalan dan amarah membuncah di matanya. Ia bersumpah dalam hati, jika Arini harus kehilangan penglihatannya, maka ia akan menjadi mata bagi istrinya. Ia akan mendeskripsikan setiap warna, setiap bentuk, dan setiap indahnya dunia sampai napasnya berakhir.

"Jangan beritahu dia dulu, Dok," bisik Rangga dengan suara yang pecah. "Biarkan dia menikmati matahari ini sedikit lebih lama."

Malam itu, di tengah keindahan perbukitan, sebuah kesedihan baru mulai merayap masuk ke dalam villa rahasia tersebut. Perjuangan Rangga belum berakhir. Babak baru yang lebih gelap telah menanti, di mana cinta mereka akan diuji dalam kegelapan yang sesungguhnya.

1
falea sezi
ya uda end aja
falea sezi
lanjut
falea sezi
berasa baca trailer
falea sezi
astaga/Sob//Sob//Scowl//Scowl/ Thor g da apa keajaiban misal arini pindah jiwa ke tubuh lain
falea sezi
nyesek baca kisah ini beri keajaiban donk thor/Sob//Sob//Sob//Sob/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!