Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Saat Semua Terbuka
Ruang rapat utama pagi itu penuh sebelum jam mulai. Udara terasa kering. Aroma kopi pahit bercampur wangi parfum mahal. Kursi-kursi berderit pelan ketika para direksi duduk, sebagian menyilangkan tangan, sebagian lagi menatap layar besar dengan rahang kaku.
Aruna berdiri di ujung meja. Tangannya tidak gemetar. Ia sudah melewati fase takut. Calvin berdiri di sampingnya, tenang seperti dinding batu. Tatapannya menyapu ruangan satu per satu. Tidak menantang. Tidak menghindar. Hanya memastikan semua sadar hari ini bukan rapat biasa.
“Mulai,” katanya singkat.
Layar menyala.
Data muncul.
Bukan presentasi dramatis. Hanya angka. Waktu. Jalur transfer. Pola akses. Disusun rapi seperti peta yang perlahan menunjukkan bentuk perang.
Ruangan menjadi sunyi.
Aruna berbicara tanpa meninggikan suara.
“Ini rangkaian manipulasi laporan selama dua tahun terakhir. Dana dialihkan melalui proyek bayangan. Akses sistem digunakan untuk menghapus jejak setelah transfer dilakukan.”
Ia menggeser slide.
Nama itu muncul.
Tidak perlu efek tambahan. Nama itu sendiri sudah cukup berat. Beberapa kepala langsung menoleh ke arah kursi di sisi kiri meja.
Hendra.
Ia tidak berdiri. Tidak juga terlihat panik. Ia tersenyum tipis. “Ini tuduhan serius,” katanya ringan. “Dan sangat berani.”
Aruna menatapnya lurus. “Ini bukan tuduhan.”
Ia menekan satu tombol. Rekaman log digital muncul. Timestamp sinkron. Jejak IP internal. Jalur persetujuan yang dipalsukan.
Calvin melanjutkan, suaranya datar. “Forensik independen sudah memverifikasi metadata. Tidak ada manipulasi dari pihak kami.”
Kata independen menggantung seperti palu.
Hendra menyandarkan punggung. “Dan kalian pikir ini cukup untuk menjatuhkan saya?”
Aruna melangkah satu langkah ke depan. Cahaya dari layar memantul di matanya.
“Kami tidak perlu menjatuhkan Anda,” katanya pelan. “Data yang melakukannya.”
Ruangan terasa menyempit. Salah satu direktur membuka berkas fisik di depannya. Kertas bergesek. Nafas berat terdengar.
“Ini jalur dana ke rekening luar negeri,” gumamnya.
Hendra tidak lagi tersenyum. Ia menatap Calvin.
“Jadi ini permainanmu?”
Calvin tidak berkedip. “Ini pembersihan.”
Sunyi.
Lalu kursi bergeser keras. Hendra berdiri.
“Baik,” katanya pelan. “Kalau kalian ingin perang terbuka… kita lakukan.” Ia meraih ponselnya.
Tapi sebelum ia sempat melangkah keluar, pintu ruang rapat terbuka. Dua perwakilan audit eksternal masuk. Tidak tergesa. Tidak emosional. Profesional.
“Pak Hendra,” salah satu dari mereka berkata tenang, “kami perlu Anda ikut untuk klarifikasi lanjutan.”
Kata klarifikasi terdengar sopan.
Tapi semua orang di ruangan tahu artinya. Untuk sepersekian detik, Hendra menatap Aruna. Tatapan itu tidak lagi tenang. Ada sesuatu yang retak di sana. Bukan takut. Lebih seperti kehilangan kendali.
Ia berjalan keluar tanpa berkata apa-apa lagi.
Pintu tertutup.
Dan untuk pertama kalinya sejak kasus ini dimulai, ruangan terasa lega. Bukan lega bahagia. Lega seperti setelah menahan napas terlalu lama. Rapat berakhir tanpa banyak kata.
Orang-orang keluar dengan langkah pelan, suara mereka rendah, percakapan terpotong-potong. Aruna tetap berdiri di depan layar yang kini gelap.
Tangannya baru terasa dingin sekarang.
Calvin mendekat.
“Sudah selesai,” katanya pelan.
Aruna menggeleng tipis. “Belum.”
Ia menatap kursi kosong tempat Hendra duduk tadi.
“Orang seperti dia tidak jatuh sendirian.”
Kalimat itu bukan dugaan.
Itu insting.
Calvin memahami.
“Kita akan temukan sisanya.”
Aruna mengangguk.
Tapi untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di sana. Membiarkan sunyi masuk ke dalam dada. Membiarkan kenyataan mendarat perlahan. Dua tahun manipulasi. Ratusan keputusan yang tampak normal. Dan semua itu runtuh dalam satu pagi.
...****************...
Sore hari, berita mulai bergerak. Judul muncul satu per satu di layar ponsel. Direksi Perusahaan Besar Terseret Dugaan Penggelapan Dana. Notifikasi berdatangan seperti hujan.
Aruna duduk di ruangannya. Cahaya senja masuk melalui jendela, menggores garis emas di meja kayu.
Ia tidak membuka semua pesan. Ia hanya duduk.
Mendengar detak jam. Merasakan udara yang kini terasa lebih ringan dan lebih berbahaya.
Ketukan di pintu.
Calvin masuk tanpa formalitas. Ia tidak membawa laptop. Tidak membawa berkas. Hanya dirinya.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.
Aruna menoleh. Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tapi setelah semua yang terjadi, itu terasa personal.
“Aku masih berdiri,” jawabnya.
Calvin tersenyum tipis.
“Lebih dari itu,” katanya. “Kamu memimpin.”
Aruna menatapnya lama.
“Ini bukan soal memimpin,” katanya pelan. “Ini soal tidak membiarkan kebenaran tenggelam.”
Angin sore masuk melalui celah jendela. Tirai bergerak pelan seperti napas panjang. Calvin melangkah mendekat. Jarak di antara mereka kini lebih kecil dari biasanya.
“Orang-orang mulai percaya lagi,” katanya.
Aruna menghela napas.
“Kepercayaan itu rapuh.”
“Ya,” jawab Calvin. “Tapi hari ini kamu memperbaikinya.”
Tatapan mereka terkunci. Tidak ada sentuhan. Tapi ada sesuatu yang bergerak di udara sebuah pengakuan tanpa kata bahwa mereka sudah melewati lebih dari sekadar konflik kerja. Langkah kaki terdengar di luar. Realitas kembali. Calvin mundur setengah langkah.
“Kita masih punya pekerjaan,” katanya ringan.
Aruna tersenyum kecil. “Selalu.”
Malam turun pelan. Lampu kota menyala seperti bintang buatan. Aruna berdiri di depan jendela ruangannya, memandangi refleksi dirinya sendiri. Hari ini, satu nama jatuh. Besok, mungkin akan ada lagi. Perang belum selesai. Tapi untuk pertama kalinya arahnya jelas. Ia menutup mata sebentar.
Menghirup udara dalam-dalam. Dan saat ia membukanya kembali, sorot matanya tidak lagi ragu.
Ini bukan lagi tentang bertahan. Ini tentang membangun ulang. Dan siapa pun yang mencoba menariknya ke bawah lagi akan menemukan bahwa ia sudah belajar berdiri di tengah badai.
Tanpa goyah.
Ponsel Aruna bergetar pelan di meja. Satu pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan. Ia tidak langsung membukanya. Hanya menatap layar yang menyala, cahaya putihnya memantul di permukaan meja kayu. Akhirnya ia geser notifikasi itu.
“Kamu pikir ini selesai? Hendra hanya bagian kecil.”
Jantungnya tidak melonjak. Tidak lagi. Ia sudah menduga. Ia berdiri, berjalan mendekati jendela. Di bawah sana, kendaraan bergerak seperti aliran cahaya yang tak pernah berhenti. Kota tidak peduli siapa yang jatuh hari ini. Tapi seseorang peduli.
Seseorang yang masih cukup berani untuk mengirim pesan seperti itu.
Aruna mengetik balasan singkat.
Kalau kecil, kenapa kamu masih bersembunyi?
Pesan terkirim.
Tidak ada jawaban.
Hanya tanda “terkirim” yang membeku di layar.
Di belakangnya, pintu terbuka pelan. Calvin masuk, membaca ekspresinya sebelum bertanya.
“Ada apa?”
Aruna menunjukkan layar tanpa banyak kata.
Calvin membaca. Rahangnya menegang, tapi suaranya tetap tenang.
“Bagus,” katanya pelan.
Aruna menoleh. “Bagus?”
“Artinya mereka masih takut.”
Sunyi turun lagi.
Tapi kali ini bukan sunyi yang menekan. Lebih seperti jeda sebelum langkah berikutnya. Aruna mematikan layar ponselnya.
“Kalau ini baru permulaan,” katanya pelan, “aku tidak akan setengah jalan.”
Calvin menatapnya lama.
“Dan aku tidak akan membiarkan kamu berjalan sendirian.”
Di luar, angin malam menggerakkan tirai pelan.
Permainan belum selesai. Ia baru saja berganti level.
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/