NovelToon NovelToon
Aku Memilih Diam

Aku Memilih Diam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.

On Going || Tayang setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Saat Semua Terbuka

Ruang rapat utama pagi itu penuh sebelum jam mulai. Udara terasa kering. Aroma kopi pahit bercampur wangi parfum mahal. Kursi-kursi berderit pelan ketika para direksi duduk, sebagian menyilangkan tangan, sebagian lagi menatap layar besar dengan rahang kaku.

Aruna berdiri di ujung meja. Tangannya tidak gemetar. Ia sudah melewati fase takut. Calvin berdiri di sampingnya, tenang seperti dinding batu. Tatapannya menyapu ruangan satu per satu. Tidak menantang. Tidak menghindar. Hanya memastikan semua sadar hari ini bukan rapat biasa.

“Mulai,” katanya singkat.

Layar menyala.

Data muncul.

Bukan presentasi dramatis. Hanya angka. Waktu. Jalur transfer. Pola akses. Disusun rapi seperti peta yang perlahan menunjukkan bentuk perang.

Ruangan menjadi sunyi.

Aruna berbicara tanpa meninggikan suara.

“Ini rangkaian manipulasi laporan selama dua tahun terakhir. Dana dialihkan melalui proyek bayangan. Akses sistem digunakan untuk menghapus jejak setelah transfer dilakukan.”

Ia menggeser slide.

Nama itu muncul.

Tidak perlu efek tambahan. Nama itu sendiri sudah cukup berat. Beberapa kepala langsung menoleh ke arah kursi di sisi kiri meja.

Hendra.

Ia tidak berdiri. Tidak juga terlihat panik. Ia tersenyum tipis. “Ini tuduhan serius,” katanya ringan. “Dan sangat berani.”

Aruna menatapnya lurus. “Ini bukan tuduhan.”

Ia menekan satu tombol. Rekaman log digital muncul. Timestamp sinkron. Jejak IP internal. Jalur persetujuan yang dipalsukan.

Calvin melanjutkan, suaranya datar. “Forensik independen sudah memverifikasi metadata. Tidak ada manipulasi dari pihak kami.”

Kata independen menggantung seperti palu.

Hendra menyandarkan punggung. “Dan kalian pikir ini cukup untuk menjatuhkan saya?”

Aruna melangkah satu langkah ke depan. Cahaya dari layar memantul di matanya.

“Kami tidak perlu menjatuhkan Anda,” katanya pelan. “Data yang melakukannya.”

Ruangan terasa menyempit. Salah satu direktur membuka berkas fisik di depannya. Kertas bergesek. Nafas berat terdengar.

“Ini jalur dana ke rekening luar negeri,” gumamnya.

Hendra tidak lagi tersenyum. Ia menatap Calvin.

“Jadi ini permainanmu?”

Calvin tidak berkedip. “Ini pembersihan.”

Sunyi.

Lalu kursi bergeser keras. Hendra berdiri.

“Baik,” katanya pelan. “Kalau kalian ingin perang terbuka… kita lakukan.” Ia meraih ponselnya.

Tapi sebelum ia sempat melangkah keluar, pintu ruang rapat terbuka. Dua perwakilan audit eksternal masuk. Tidak tergesa. Tidak emosional. Profesional.

“Pak Hendra,” salah satu dari mereka berkata tenang, “kami perlu Anda ikut untuk klarifikasi lanjutan.”

Kata klarifikasi terdengar sopan.

Tapi semua orang di ruangan tahu artinya. Untuk sepersekian detik, Hendra menatap Aruna. Tatapan itu tidak lagi tenang. Ada sesuatu yang retak di sana. Bukan takut. Lebih seperti kehilangan kendali.

Ia berjalan keluar tanpa berkata apa-apa lagi.

Pintu tertutup.

Dan untuk pertama kalinya sejak kasus ini dimulai, ruangan terasa lega. Bukan lega bahagia. Lega seperti setelah menahan napas terlalu lama. Rapat berakhir tanpa banyak kata.

Orang-orang keluar dengan langkah pelan, suara mereka rendah, percakapan terpotong-potong. Aruna tetap berdiri di depan layar yang kini gelap.

Tangannya baru terasa dingin sekarang.

Calvin mendekat.

“Sudah selesai,” katanya pelan.

Aruna menggeleng tipis. “Belum.”

Ia menatap kursi kosong tempat Hendra duduk tadi.

“Orang seperti dia tidak jatuh sendirian.”

Kalimat itu bukan dugaan.

Itu insting.

Calvin memahami.

“Kita akan temukan sisanya.”

Aruna mengangguk.

Tapi untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di sana. Membiarkan sunyi masuk ke dalam dada. Membiarkan kenyataan mendarat perlahan. Dua tahun manipulasi. Ratusan keputusan yang tampak normal. Dan semua itu runtuh dalam satu pagi.

...****************...

Sore hari, berita mulai bergerak. Judul muncul satu per satu di layar ponsel. Direksi Perusahaan Besar Terseret Dugaan Penggelapan Dana. Notifikasi berdatangan seperti hujan.

Aruna duduk di ruangannya. Cahaya senja masuk melalui jendela, menggores garis emas di meja kayu.

Ia tidak membuka semua pesan. Ia hanya duduk.

Mendengar detak jam. Merasakan udara yang kini terasa lebih ringan dan lebih berbahaya.

Ketukan di pintu.

Calvin masuk tanpa formalitas. Ia tidak membawa laptop. Tidak membawa berkas. Hanya dirinya.

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.

Aruna menoleh. Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tapi setelah semua yang terjadi, itu terasa personal.

“Aku masih berdiri,” jawabnya.

Calvin tersenyum tipis.

“Lebih dari itu,” katanya. “Kamu memimpin.”

Aruna menatapnya lama.

“Ini bukan soal memimpin,” katanya pelan. “Ini soal tidak membiarkan kebenaran tenggelam.”

Angin sore masuk melalui celah jendela. Tirai bergerak pelan seperti napas panjang. Calvin melangkah mendekat. Jarak di antara mereka kini lebih kecil dari biasanya.

“Orang-orang mulai percaya lagi,” katanya.

Aruna menghela napas.

“Kepercayaan itu rapuh.”

“Ya,” jawab Calvin. “Tapi hari ini kamu memperbaikinya.”

Tatapan mereka terkunci. Tidak ada sentuhan. Tapi ada sesuatu yang bergerak di udara sebuah pengakuan tanpa kata bahwa mereka sudah melewati lebih dari sekadar konflik kerja. Langkah kaki terdengar di luar. Realitas kembali. Calvin mundur setengah langkah.

“Kita masih punya pekerjaan,” katanya ringan.

Aruna tersenyum kecil. “Selalu.”

Malam turun pelan. Lampu kota menyala seperti bintang buatan. Aruna berdiri di depan jendela ruangannya, memandangi refleksi dirinya sendiri. Hari ini, satu nama jatuh. Besok, mungkin akan ada lagi. Perang belum selesai. Tapi untuk pertama kalinya arahnya jelas. Ia menutup mata sebentar.

Menghirup udara dalam-dalam. Dan saat ia membukanya kembali, sorot matanya tidak lagi ragu.

Ini bukan lagi tentang bertahan. Ini tentang membangun ulang. Dan siapa pun yang mencoba menariknya ke bawah lagi akan menemukan bahwa ia sudah belajar berdiri di tengah badai.

Tanpa goyah.

Ponsel Aruna bergetar pelan di meja. Satu pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan. Ia tidak langsung membukanya. Hanya menatap layar yang menyala, cahaya putihnya memantul di permukaan meja kayu. Akhirnya ia geser notifikasi itu.

“Kamu pikir ini selesai? Hendra hanya bagian kecil.”

Jantungnya tidak melonjak. Tidak lagi. Ia sudah menduga. Ia berdiri, berjalan mendekati jendela. Di bawah sana, kendaraan bergerak seperti aliran cahaya yang tak pernah berhenti. Kota tidak peduli siapa yang jatuh hari ini. Tapi seseorang peduli.

Seseorang yang masih cukup berani untuk mengirim pesan seperti itu.

Aruna mengetik balasan singkat.

Kalau kecil, kenapa kamu masih bersembunyi?

Pesan terkirim.

Tidak ada jawaban.

Hanya tanda “terkirim” yang membeku di layar.

Di belakangnya, pintu terbuka pelan. Calvin masuk, membaca ekspresinya sebelum bertanya.

“Ada apa?”

Aruna menunjukkan layar tanpa banyak kata.

Calvin membaca. Rahangnya menegang, tapi suaranya tetap tenang.

“Bagus,” katanya pelan.

Aruna menoleh. “Bagus?”

“Artinya mereka masih takut.”

Sunyi turun lagi.

Tapi kali ini bukan sunyi yang menekan. Lebih seperti jeda sebelum langkah berikutnya. Aruna mematikan layar ponselnya.

“Kalau ini baru permulaan,” katanya pelan, “aku tidak akan setengah jalan.”

Calvin menatapnya lama.

“Dan aku tidak akan membiarkan kamu berjalan sendirian.”

Di luar, angin malam menggerakkan tirai pelan.

Permainan belum selesai. Ia baru saja berganti level.

1
bunga JK
semangat teruskah berkarya nya😊👍
Serena Khanza: iya kak 💪🏻💪🏻
semangat berkarya juga kak 😊💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
suka bab ini. semangat terus torr 💯
Serena Khanza: Terima kasih 🤍
total 1 replies
MARDONI
Hati jadi TEgang banget!! 😰✨ Aruna masuk kantor dan semua orang liatnya beda dari biasanya, langsung merasain tekanannya yang bikin napas jadi sesak! Dia dipanggil ke ruang rapat, ketemu Calvin sama manajemennya, ikutan deg-degan banget!! 😣 Aruna jawabnya cermat banget karena takut nyeret orang lain yang tidak bersalah, Calvin bilang butuh fakta bukan asumsi tapi malah jadi tertarik sama jawaban Aruna, SUPER PENASARAN NIH APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA!! 😱 Semoga Aruna bisa kuat dan menemukan jalan keluar ya authorrr!!
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia membaca ceritanya kak..
semangat aruna 💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
calvin kan ceo ya tor, kenapa dia gak cut aja aruna yg udah ketahuan gak netral?
maaf kalo aku salah tangkep 🙇‍♀️
Serena Khanza: iya gpp kak 😊
total 1 replies
PrettyDuck
orang2 takut di audit sama aruna /Facepalm/
MARDONI
Wahhh seru banget deh bab ini!!! 😍 Pas Aruna masuk kantor aja udah bisa rasain suasana yang aneh banget, semua orang nunjuk-nunjuk bahkan Rina juga canggung pas ngomongin investigasi. Trus pas dia buka amplop Calvin dan ketemu nama-nama orang yang dikenalnya langsung bikin deg-degan! Kalvin yang bilang menjadikannya pusat bukan umpan tuh bikin penasaran banget, apalagi pas dapet pesan ancaman dari nomor tidak dikenal dan rasanya diawasi banyak orang 😱 Akhirnya Aruna yang mulai mikir apakah orang yang suruh dia diam bakal biarin dia sendirian atau nggak... Aduh authorrr bikin aku suka banget, gak sabar tunggu bab selanjutnya deh!!! 💖
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak 🤩😊
total 1 replies
MARDONI
Ceritanya makin ke sini makin bikin penasaran! Alurnya rapi, konfliknya kuat, dan emosinya dapet banget. Setiap update selalu terasa berisi dan nggak asal. Salut sama author yang konsisten dan totalitas ngembangin cerita. Semangat terus ya, ditunggu kelanjutan ceritanya! 💪📖🔥
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak..
total 1 replies
MARDONI
Pas Aruna masuk ke ruangan Calvin dan suasana langsung jadi tegang banget, aku juga ikutan napasnya jadi pelan-pelan deh! Pas Calvin kasih laporan revisinya dan nanya ada yang janggal nggak, hati aku langsung berdebar-debar kayak Aruna juga 😰 Dan pas Calvin nanya tentang orang yang bakal kena akibatnya, padahal Aruna tahu cerita tentang anaknya yang sering sakit dan cicilan rumahnya... duh bikin hati jadi terasa sesak banget! Ternyata Calvin aja tahu ya kalau Aruna mungkin tahu lebih banyak dari yang dia tunjukin 😱 Pas dia kasih amplop danunjukin Aruna buat investigasi, aku juga ikutan bingung kayak Aruna—terima aja berarti harus hadapi kebohongan yang dia jaga, tapi nolak aja pasti jadi mencurigakan! Dan kalimat terakhir Calvin yang bilang "pastikan kau siap menanggungnya" tuh bikin merinding banget!! 😨 Dan akhirnya Aruna sadar kalau diamnya bukan lagi pilihan... tungguin kelanjutan banget deh author!! Semangat terus ya, cerita kamu bikin aku gabisa berhenti baca!! 🥰❤️
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak
total 1 replies
Serena Khanza
kadang diam bukan berarti lemah, dia sedang menghitung
PrettyDuck
bagus torrr.
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
PrettyDuck
terus kenapa dia memilih diam??
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
MARDONI
😣💔 sumpah aku ikut sesak duduk bareng Aruna di ruang rapat itu… dinginnya suasana, tatapan orang-orang, dan momen saat semua mata mengarah ke dia tuh bikin jantung deg-degan. Waktu Calvin ngumumin Proyek Eastbay dihentikan, rasanya sudah kebayang bakal ada satu orang yang dikorbankan, dan pas Aruna akhirnya bilang “tidak ada keberatan”… duh, itu bukan lega, itu perih 😭 dia tahu kebenaran tapi tetap memilih diam demi ibunya, demi bertahan. Dan tatapan Calvin setelah rapat itu, sunyi tapi berat apalagi pas dia manggil nama Aruna dan nyuruh masuk ke ruangannya, aku langsung ngerasa ini bukan sekadar urusan kerja lagi. Bagian Aruna sendirian di lift tuh bikin hati jatuh, kayak… satu keputusan kecil tapi dampaknya bakal panjang banget. Aku ikut takut, ikut tegang, dan nggak bisa berhenti mikir: diamnya Aruna hari ini pasti akan ditagih suatu saat nanti 🥀
Serena Khanza: Terima kasih sudah membaca 🤍 nikmati prosesnya pelan-pelan ya.. ke depannya akan semakin menegangkan lagi kak..
total 1 replies
PrettyDuck
kalo kata aku mah jujur aja arunaa.
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/
Serena Khanza: “tidak semua kebenaran perlu diucapkan oleh orang yang akan paling hancur karenanya.”
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!