Zafira Amara, belajar bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan indah. Ditinggal Anggara tanpa kabar setelah janji melamar, ia membangun benteng tinggi di hatinya.
Hingga akhirnya datang Aditya Pranata, pengagum rahasia yang mengisi kekosongan itu. Dari teman, menjadi hubungan tanpa status, hingga akhirnya resmi berpacaran.
Namun ironi terjadi, saat status sudah jelas, mereka justru kehilangan esensi. Trauma masa lalu Zafira bertabrakan dengan ketakutan komitmen Aditya.
Di tengah hiruk pikuk Yogyakarta, mereka belajar bahwa tidak semua yang dicintai bisa bertahan. Tidak semua janji bisa ditepati. Dan terkadang, melepaskan adalah bentuk cinta paling tulus meski itu menyakitkan. Sebuah kisah tentang kehilangan, trauma, dan keberanian untuk move on.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berpura-pura Baik
Seminggu setelah Fira menemukan akun Jessica, dia kayak robot yang dipaksa jalan terus walau udah rusak dalem. Dari luar keliatan baik baik aja, senyum ke pelanggan, ngobrol sama Anna, ketawa waktu ada yang lucu. Tapi dalem? Dalemnya berantakan.
Pagi ini ponsel Fira berbunyi. Pesan masuk dari nomor yang udah dia unblock kemarin, karena Ditya terus-terusan kirim pesan dari nomor yang berbeda.
...📩...
Ditya: Pagi Fir. Udah sarapan belum? Hari ini aku ke kafe ya, jam dua. Kangen ngobrol sama kamu.
Fira membaca pesan itu sambil duduk di pinggir kasur. Jantungnya berdetak nggak karuan. Ditya mau ke kafe, berarti mereka bakal ketemu. Berarti dia harus ketemu sama orang yang bikin dia sakit, tapi masih dia sayang.
Tangannya gemetar pas mengetik balesan.
^^^Fira: Oke. Aku tunggu.^^^
Singkat. Dingin. Beda banget sama balesan biasanya yang panjang lebar plus emoticon. Tapi Fira nggak peduli. Dia capek berpura-pura antusias.
***
Jam dua siang, Ditya masuk kafe dengan senyum lebar kayak biasa. Jaket hitam, celana jeans, rambut agak berantakan kayak baru bangun tidur. Dia jalan langsung ke meja pojok kesayangannya, duduk sambil ngangkat tangan ke Fira yang lagi di counter.
Fira senyum tipis, balas lambaian sambil hati nya mencelos. Dia ambil menu, jalan ke meja Ditya dengan langkah berat.
"Hallo, Dit," sapa Fira pelan.
"Hallo Fir," Ditya tersenyum lebar. "Gimana kabar kamu? Udah lama kita nggak ngobrol beneran."
"Baik kok. Kamu?"
"Aku, lumayan. Kerjaan lagi gila-gilaan sih. Deadline bertubi-tubi, bos cerewet, belum lagi..."
Ditya mulai cerita panjang lebar soal kerjaannya yang lagi ribet. Soal project yang mesti kelar seminggu lagi, soal temen kerja yang males, soal presentasi yang bikin dia nervous.
Fira dengerin sambil sesekali mengangguk, dan tersenyum. Ketawa pas Ditya cerita hal lucu. Tapi semuanya palsu. Semuanya dipaksain.
Di dalam hatinya, Fira pengen teriak.
Pengen bilang "Dit, aku tau tentang Jessica!"
Pengen nanya "Apa aku cuma pengganti dia?"
Pengen banget nangis di pelukan Ditya sambil minta penjelasan. Tapi mulutnya cuma bilang "Wah ribet banget ya Dit. Semangat ya."
"Makasih, Fir. Kamu selalu tau cara mengibur aku," kata Ditya sambil senyum tulus.
Senyum itu. Senyum yang dulu bikin Fira jatuh cinta. Sekarang cuma bikin dadanya makin sakit.
"Fir, kamu mau pesen apa buat aku? Kayak biasa aja deh. Americano sama banana cake."
"Oke. Tunggu sebentar ya."
Fira balik ke counter, bikin pesanan sambil tangan nya gemetar. Anna yang lagi nyuci gelas melihat Fira khawatir.
"Fir, kamu baik-baik aja kan? Dari tadi kamu keliatan pucat."
"Aku baik-baik aja kok, Anna. Cuma agak capek aja."
"Itu kan Ditya di sana? Apa kalian udah baikan?"
Fira diem, nggak menjawab. Dia nggak tau harus bilang apa. Baikan? Apa iya ini baikan? Atau cuma Fira yang kepikiran terlalu dalam, sementara Ditya menganggap semuanya udah oke-oke aja?
Fira membawa pesanan ke meja Ditya, duduk di kursi depan dia sambil mencoba tersenyum.
"Nih, americano sama banana cake kesukaan kamu."
"Makasih Fir. Eh kamu nggak pesen apa-apa? Aku beliin deh."
"Nggak usah, Dit. Aku udah minum tadi."
Bohong. Fira belum minum apa-apa dari pagi. Perutnya mual tiap kali mikirin makan.
Mereka ngobrol lagi. Ditya cerita soal rencana weekend mau main ke Kaliurang bareng Dimas, cerita soal film baru yang pengen dia tonton, cerita soal lagu baru yang lagi dia pelajari di gitar.
Fira cuma dengerin. Sesekali komen "oh gitu" atau "wah seru ya" sambil hatinya menjerit pengen nanya tentang Jessica.
"Fir," panggil Ditya tiba-tiba.
"Iya?"
"Kamu beneran baik-baik aja kan?"
Fira tersentak. "Hah? Iya kok. Memangnya kenapa?"
"Soalnya, kamu keliatan beda. Senyum kamu nggak sampai mata. Kayak ada yang kamu simpan."
Fira ngerasa dadanya sesak. Ditya tau. Dia selalu tau kalau Fira lagi sedih. Tapi kenapa dia nggak tau kalau dia sendiri yang bikin Fira kayak gini?
"Nggak ada apa-apa kok, Dit. Aku cuma lagi capek kerja aja."
"Yakin?"
"Iya."
Bohong, itu semua bohong. Tapi Fira nggak bisa jujur. Soalnya kalau dia jujur, semuanya bakal hancur. Hubungan mereka yang udah rapuh ini bakal bener-bener putus.
Dan Fira belum siap kehilangan Ditya. Walau dia tau, dia harusnya melepaskan Ditya.
"Oke deh kalau kamu bilang gitu. Tapi kalau ada apa-apa, bilang ya, Fir. Aku selalu ada buat kamu."
Selalu ada. Kata-kata itu terasa ironis. Ditya bilang selalu ada, tapi hatinya? Hatinya ada di mana? Masih sama Jessica?
"Iya Dit. Makasih," jawab Fira pelan sambil menunduk.
Satu jam kemudian Ditya pamit pulang. Dia berdiri, pake jaket sambil senyum ke Fira.
"Makasih ya, Fir. Udah mau ngobrol lagi, aku ngerasa lebih baikan sekarang."
"Sama-sama, Dit."
"Besok, aku dateng lagi ya. Miss you."
Ditya jalan keluar kafe sambil melambaikan tangan. Fira membalas lambaian itu, sambil senyum tipis.
Begitu pintu kafe tertutup, senyum Fira langsung ilang. Diganti sama air mata yang udah dia tahan dari tadi. Fira langsung lari ke kamar mandi kafe, masuk ke bilik paling ujung, duduk di kloset sambil nutup muka pake kedua tangan.
Dan dia nangis, nangis yang udah dia tahan selama satu jam terakhir di depan Ditya.
"Kenapa harus sesakit ini," isaknya sambil memeluk lutut. "Kenapa aku harus pura-pura baik-baik aja? Kenapa aku nggak bisa jujur kalo aku sakit? Kenapa nggak bilang. Kalau aku tau tentang Jessica? Dan bilang kalo aku cemburu sama dia?"
Saar Fira tengah menangis, pintu kamar mandi tiba-tiba di ketuk dari luar
"Fira? Fir, kamu di dalem?" suara Anna dari luar.
Fira cepet-cepet mengusap air mata, mencoba berdiri tapi kakinya lemes.
"Iya, Anna. Tunggu sebentar."
"Fir, kamu nangis ya? Suara kamu serak banget. Buka pintunya Fir, please."
Fira membuka pintu bilik dengan mata yang sembab, pipi basah, dan Anna langsung memeluk dia erat.
"Astaga, Fira! Kamu kenapa? Kenapa kamu nangis kayak gini?"
"Aku capek Anna," isak Fira di pelukan Anna. "Aku capek jika harus berpura-pura baik. Capek tersenyum, padahal dalemnya hancur. Capek sayang sama orang yang mungkin, nggak pernah bener-bener sayang sama aku."
Anna mengelus punggung Fira pelan, nggak ngerti apa yang terjadi tapi dia tau, bahwa Fira lagi sakit banget.
"Fir, kamu mau cerita? Aku akan dengerin kok."
Fira mengelengkan kepalanya, sambil masih menangis.
"Nggak sekarang, Anna. Aku cuma butuh nangis dulu, buat mengeluarkan semua yang aku pendem."
"Oke Fir. Nangis yang puas. Aku di sini, dan nggak akan kemana-mana."
Dan Fira menangis di pelukan Anna, sampe nggak ada air mata lagi yang keluar. Nangis sampe matanya perih, tenggorokannya sakit, bahkan sampai kepalanya terasa pusing.
Setelah agak tenang, Fira keluar dari kamar mandi dengan wajah kusut. Anna ngasih tissue sama sebotol air minum.
"Fira, kamu yakin nggak mau cerita?"
Fira duduk di kursi belakang kafe, minum air sambil melihat lantai.
"Anna, kamu pernah nggak, merasa bahwa kamu jadi pilihan kedua?"
Anna diem sebentar. "Pernah, waktu aku SMA dulu."
"Sakit nggak?"
"Sakit banget, Fir. Rasanya, kayak kamu cuma bayangan dari orang lain. Kayak kamu nggak pernah cukup."
Fira mengangguk pelan sambil air mata turun lagi.
"Itu yang aku rasakan sekarang, Anna. Aku merasa, bahwa aku cuma pengganti. Aku cuma pelarian dia, dari orang yang dia beneran sayang."
"Ini soal Ditya, kan?"
Fira mengangguk pelan.
"Fira, kamu harus bicara sama dia. Jangan dipendem terus, nanti kamu yang sakit sendiri."
"Tapi aku takut, Anna. Aku takut kalau ternyata bener, kalau ternyata dia bilang 'iya kamu cuma pengganti'. Dan aku nggak kuat jika harus denger itu."
Anna menggenggam tangan Fira erat.
"Fir, dengerin aku. Kamu lebih kuat dari yang kamu pikir. Dan kamu berhak tau kebenaran. Berhak dapet kepastian. Jangan nyiksa diri sendiri, dengan pertanyaan yang nggak bakal terjawab."
"Sampai kapan aku harus pura-pura nggak tau, Anna." bisik Fira pelan. "Sampai kapan aku harus senyum di depan dia, padahal aku pengen nangis? Sampai kapan aku harus nahan semua rasa sakit ini sendirian?"
Anna nggak bisa jawab. Dia cuma peluk Fira lagi sambil mengelus rambutnya pelan.
Dan Fira nangis lagi, nangis karena dia tau, dia nggak bisa terus-terusan kayak gini. Karena cepat atau lambat, dia harus konfrontasi dengan Ditya.
Tapi satu hal yang Fira tau, dia nggak bisa terus berpura-pura bahwa dia baik-baik saja. Nggak bisa terus tersenyum, padahal dalemnya mati. Cepat atau lambat, dia harus bertanya. Harus tau kebenarannya, walaupun kebenaran itu, akan membuat Fira hancur, bahkan mungkin akan lebih sakit lagi.
jadilah wanita teges jng terlalu bucin ma laki. fira Cinta sendirian 🤣