Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Peringatan yang Tak Terdengar
Hening.
Kepergian Aaron menyisakan kehampaan yang menyesakkan di dalam toko bunga milik nyonya Lyn. Suara deru mesin mobil yang menjauh terdengar seperti gema kemarahan yang tertinggal, membuat udara di dalam ruangan beraroma berbagai jenis bunga itu terasa berat dan mencekik.
Lunaris merosot kembali ke kursi rotan. Bahunya naik-turun seiring napasnya yang mulai melambat, namun gemetar di tangannya belum juga hilang. Adrenalin yang tadi memuncak saat membentak Aaron kini surut, digantikan oleh rasa lelah yang luar biasa dan denyut nyeri di sekujur tubuhnya—terutama di kaki dan punggungnya yang memar.
"Minumlah dulu, Nak."
Nyonya Lyn akhirnya mendekati Lunaris sembari membawa segelas air hangat. Tangan wanita tua itu sedikit gemetar saat menyodorkan gelas, namun tatapannya penuh kasih sayang keibuan.
Lunaris menerima gelas itu dengan dua tangan, merasakan hangatnya menjalar ke telapak tangannya yang dingin. "Terimakasih, Nyonya Lyn," Cicitnya pelan, suaranya serak. Ia menenggak air itu sedikit demi sedikit, membiarkan kehangatan membasuh tenggorokannya yang kering karena emosi.
Sirius, yang sejak tadi menjadi penonton setia drama manusia ini, hanya berdiri diam di dekat jendela toko. Ia memandang keluar, menatap jalanan yang mulai ramai oleh kendaraan sore hari. Ekspresinya datar, namun ada kepuasan tersembunyi di sudut bibirnya. Ia tidak merasa perlu untuk bicara; kehancuran kecil dalam hubungan persahabatan Lunaris dan Aaron adalah bumbu penyedap yang cukup baginya.
Nyonya Lyn menarik sebuah bangku kayu kecil dan duduk di hadapan Lunaris. Ia menatap gadis itu lekat-lekat, matanya menelusuri wajah Lunaris yang pucat dan sorot mata hijaunya penuh guratan lelah.
"Lunaris," Panggil Nyonya Lyn lembut. "Aku tahu kamu sedang emosi. Aku tahu kamu merasa terpojok. Tapi... kamu tidak bisa menyalahkan Aaron sepenuhnya."
Lunaris mendongak, matanya berkaca-kaca. "Dia sudah bersikap terlalu berlebihan, Nyonya. Dia gak tau apa-apa tapi bersikap seolah dia paling tau segalanya. Aku cuma... aku cuma capek."
"Aku mengerti," Nyonya Lyn mengelus punggung tangan Lunaris. "Tapi coba posisikan dirimu di tempat dia, Nak. Kamu hilang selama dua hari. Dua kali dua puluh empat jam tanpa kabar. Ponselmu mati tanpa bisa dihubungi dan kamu kembali bersama dengan seorang pemuda tidak dikenal. Aaron... dia seperti orang gila mencarimu kemarin."
Nyonya Lyn menghela napas panjang, mengingat bagaimana Aaron datang padanya dengan mata merah dan suara putus asa dua hari lalu.
"Dia takut, Lunaris. Rasa takut kehilangan seseorang yang berharga itu bisa membuat orang bertindak tidak rasional. Dia membentak bukan karena dia marah dan terlalu mengatur, tapi karena dia takut kamu kenapa-napa. Dia takut kamu dimanfaatkan, disakiti, atau dibawa pergi oleh orang jahat. Itu bentuk kepeduliannya, meskipun caranya salah."
Lunaris terdiam, menunduk menatap pantulan dirinya di permukaan air dalam gelas. Rasa bersalah kembali menusuk hatinya. Ia tahu Nyonya Lyn benar. Aaron adalah satu-satunya teman yang peduli padanya setelah ibunya meninggal. Tapi di sisi lain, Lunaris merasa Aaron tidak akan pernah mengerti keputusasaannya.
Aaron adalah anak orang kaya yang terlahir dengan sendok emas dimulutnya, hidup dengan "normal" bahkan sudah terjamin bahkan sejak dia terlahir, dia tidak tahu rasanya diinjak-injak sampai harga diri hancur tak bersisa seperti yang dialami Lunaris.
"Aku tau, Nyonya Lyn... nanti aku minta maaf sama dia," Gumam Lunaris pelan.
"Baguslah kalau begitu," Nyonya Lyn tersenyum tipis, namun senyum itu tidak mencapai matanya. Perlahan, tatapan wanita tua itu bergeser.
Matanya yang tajam dan penuh pengalaman hidup kini tertuju pada sosok jangkung yang berdiri di dekat jendela.
Sirius.
Merasakan tatapan itu, Sirius menoleh perlahan. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap balik Nyonya Lyn dengan sorot mata perak yang tenang namun menghanyutkan.
Tidak ada rasa takut atau canggung di sana, hanya dominasi murni.
Wajah Nyonya Lyn mengeras. Tangannya kembali bergerak refleks menyentuh kalung ruby di balik kerah bajunya, mencari perlindungan dari aura gelap yang dipancarkan pemuda itu.
"Tapi, Lunaris..." Suara Nyonya Lyn berubah, lebih rendah dan serius. "Tentang dia... Pemuda yang kamu bawa pulang ini."
Lunaris menoleh, mengikuti arah pandang Nyonya Lyn. "Kenapa dengan Sirius?"
"Siapa dia sebenarnya, Nak?" Tanya Nyonya Lyn mendesak. "Kamu bilang dia menolongmu. Tapi Nyonya punya firasat buruk. Sangat buruk tentangnya."
"Apa maksud nyonya? Nyonya Lyn tidak perlu khawatir... Sirius, dia cuma orang asing yang kebetulan nolong aku, Nyonya," Lunaris berbohong lagi, kali ini lebih lancar meski jantungnya berdebar. "Dia baik kok. Dia bahkan yang udah ngobatin kakiku yang sakit." Ucap Lunaris sembari memperlihatkan kakinya yang tidak terlapisi kaos kaki.
Memang benar, bengkaknya sudah tidak separah yang terakhir nyonya Lyn lihat sebelum gadis itu hilang. Warna lebam keunguannya sudah sedikit lebih baik.
Tapi tetap saja nyonya Lyn tidak bisa membiarkan Lunaris berdekatan dengan Sirius.
"Baik?" Nyonya Lyn mendengus pelan, matanya menyipit menatap Sirius yang kini tersenyum tipis—senyum yang bagi Nyonya Lyn terlihat seperti seringai serigala yang siap menerkam domba. "Penampilan bisa menipu, Lunaris. Iblis pun bisa menyamar menjadi malaikat terang jika dia mau. Ada sesuatu yang... salah darinya. Matanya... auranya... itu tidak terlihat seperti aura manusia biasa."
Lunaris tersentak. Nyonya Lyn selalu memiliki intuisi yang tajam, kadang terlalu tajam. Namun, darimana nyonya Lyn bisa beranggapan seperti itu? Seakan wanita tua itu tau siapa Sirius sebenarnya.
"Nyonya, tolong jangan mulai," potong Lunaris cepat, berusaha terdengar tegas. "Sirius gak bahaya. Nyonya sama Aaron sama aja, terlalu overthinking. Aku tau apa yang aku lakuin. Aku sadar siapa yang aku ajak jalan."
Ya, aku sadar aku sedang berjalan bersama monster. Tapi setidaknya monster ini menawarkan kekuatan, bukan sekadar rasa kasihan, batin Lunaris miris.
"Kamu tidak mengerti, Nak," Nyonya Lyn mencengkeram tangan Lunaris lebih erat, matanya memancarkan ketakutan yang nyata. "Ada hal-hal di dunia ini yang sebaiknya tidak kita sentuh. Ada kegelapan yang jika sudah menempel, tidak akan pernah bisa lepas. Pemuda itu... dia seperti membawa kematian di langkah kakinya. Aku bisa merasakannya. Tolong, dengarkan aku kali ini saja. Jauhi dia."
Sirius di sudut ruangan terkekeh pelan. Sangat pelan, tapi di telinga Nyonya Lyn yang peka, suara itu terdengar seperti geraman peringatan.
Lunaris melepaskan tangannya dari genggaman Nyonya Lyn perlahan. Ia berdiri, meski kakinya protes kesakitan.
"Sudahlah, Nyonya Lyn. Aku hargai kekhawatiran Nyonya, tapi aku beneran gakpapa," Kata Lunaris final. Ia tidak ingin membahas ini lebih lanjut. Ia lelah, sakit, dan hanya ingin tidur di kasurnya sendiri. "Aku mau pulang sekarang. Badanku sakit semua, aku butuh istirahat."
Nyonya Lyn menatap Lunaris dengan pandangan nanar. Ia melihat keras kepala yang sama seperti ibu Lunaris dulu. Dan di balik keras kepala itu, Nyonya Lyn melihat sesuatu yang lebih menakutkan: kepasrahan.
"Lunaris..."
"Ayo, Sirius," Panggil Lunaris tanpa menoleh lagi pada Nyonya Lyn, takut pertahanannya runtuh jika melihat wajah wanita tua itu lebih lama.
Sirius menegakkan tubuhnya, melangkah santai mendekati Lunaris. "Sesuai perintahmu, Tuan Putri," Jawabnya dengan nada mengejek yang halus.
Lunaris berjalan tertatih menuju pintu keluar toko.
Nyonya Lyn ikut berdiri, ingin menahan mereka, tapi langkahnya terhenti saat Sirius berhenti tepat di ambang pintu, sementara Lunaris sudah melangkah keluar lebih dulu.
Suasana di dalam toko berubah drastis dalam hitungan detik. Udara menjadi dingin, seolah musim dingin tiba-tiba menyerbu masuk. Bunga-bunga di dalam vas —mawar, lili, anyelir— tampak layu, kelopaknya merunduk seolah ketakutan.
Sirius berbalik perlahan menghadap Nyonya Lyn.
Tidak ada lagi senyum ramah palsu atau ekspresi bosan. Wajah pemuda itu kini dingin, agung, dan mengerikan. Mata abu-abunya berkilat dengan cahaya perak yang tidak manusiawi, pupilnya memanjang vertikal seperti hewan buas sekejap sebelum kembali normal.
Nyonya Lyn membeku di tempatnya. Suaranya tercekat di tenggorokan. Kakinya seolah dipaku ke lantai. Ia tahu... ia benar-benar tahu makhluk apa yang berdiri di depannya ini.
Sirius memiringkan kepalanya, menatap wanita tua itu dengan rasa kasihan yang merendahkan.
"Matamu masih sangat tajam seperti dulu untuk mengetahui apapun." Ujar Sirius pelan. Suaranya bergema, bukan hanya di telinga, tapi langsung di dalam kepala Nyonya Lyn. "Tapi sayangnya, matamu datang terlambat."
Nyonya Lyn memberanikan diri, meski seluruh tubuhnya gemetar hebat. "Jauhi dia... Iblis," desisnya lemah. "Jangan bawa dia ke dalam kegelapanmu."
Sirius tersenyum. Senyum yang indah namun mematikan, senyum yang menjanjikan kehancuran.
"Aku tidak membawanya, bukan aku yang memanggilnya. Dia sendiri yang datang padaku," Bisik Sirius, mendekatkan jari telunjuknya ke bibir sendiri. "Dan kau harus tahu satu hal tentang manusia..."
Sirius melangkah mundur, satu kakinya sudah berada di luar toko, namun tatapannya masih mengunci Nyonya Lyn.
"Sebesar apapun usahamu, sekuat apapun doa atau jimatmu..." Sirius melirik sekilas ke arah kalung ruby di leher Nyonya Lyn dengan tatapan meremehkan. "...kau tidak akan pernah bisa menghentikan jiwa yang sudah terlanjur putus asa dan memilih untuk hancur."
DEG.
Jantung Nyonya Lyn serasa berhenti berdetak. Kata-kata itu menghantamnya telak. Bukan ancaman fisik, melainkan kebenaran pahit tentang kondisi jiwa Lunaris yang sebenarnya.
"Selamat sore, Jeslyn Gale," Tutup Sirius sopan, lalu berbalik dan melangkah keluar, menyusul Lunaris yang sudah menunggu di trotoar.
Pintu toko tertutup perlahan.
Kring...
Lonceng berbunyi lirih, menyisakan Nyonya Lyn yang jatuh terduduk di lantai tokonya sendiri. Air mata menetes dari sudut matanya yang keriput. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: Tidak seharusnya dia menantang iblis kuno seperti Sirius. Dan sekarang ia sedang melihat awal dari sebuah tragedi, atau mungkin tragedi yang akan segera terulang kembali.
Dan ia tidak memiliki kekuatan apa pun untuk menghentikannya.
"Maafkan aku, Lunaris... Aku gagal melindungimu," Isaknya pelan di tengah keheningan toko bunga yang kini terasa seperti makam.
Sementara itu di luar toko, Lunaris berdiri gak jauh dari toko.
Lunaris menoleh saat Sirius berjalan mendekat. "Lo ngomong apa sama Nyonya Lyn? Kok lama?"
Sirius kembali memasang wajah santainya, menyisir rambut depannya ke belakang. "Hanya berpamitan dengan sopan. Bukankah orang tua harus diperlakukan dengan hormat, kan? Itu salah satu adab manusia 'kan?"
Lunaris mengernyit curiga, "Lucu dengan perkataan itu keluar dari mulut monster gak jelas kaya Lo." Ucap Lunaris, tapi ia terlalu lelah untuk bertanya lebih lanjut.
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah Lunaris yang hanya berjarak beberapa blok lagi, diiringi langit sore yang mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan, seolah menjadi pertanda akan datangnya malam yang panjang.